Skip to Content

Kehilangan Gigi pada Demensia & Risiko Kematian

August 14, 2026 by
Carigi Indonesia

Kehilangan Gigi pada Demensia & Risiko Kematian

Kehilangan Gigi pada Demensia & Risiko Kematian

Kehilangan Gigi pada Penyandang Demensia: Benarkah Berkaitan dengan Risiko Kematian dan Penurunan Kognitif?

Kesehatan Mulut dan Demensia: Adakah Hubungannya?

Seiring bertambahnya usia harapan hidup, jumlah orang yang hidup dengan demensia diperkirakan terus meningkat. Demensia tidak hanya memengaruhi kemampuan mengingat, berbahasa, dan memecahkan masalah, tetapi juga dapat berdampak pada kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk menjaga kesehatan mulut.

Di sisi lain, kehilangan gigi merupakan salah satu tanda kesehatan mulut yang kurang baik. Kehilangan gigi dapat mengganggu kemampuan mengunyah, mengubah pilihan makanan, hingga berpotensi menyebabkan masalah gizi. Sejumlah penelitian sebelumnya bahkan menemukan adanya hubungan antara kesehatan mulut yang buruk dengan demensia.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan: apakah kehilangan gigi pada orang yang sudah mengalami demensia juga berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi atau penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti dari Karolinska Institutet dan sejumlah institusi di Swedia melakukan penelitian berbasis data registri nasional.

Menelusuri Data Ribuan Pasien Demensia di Swedia

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Dental Research ini menggunakan desain studi kohort berbasis registri. Peneliti menggabungkan beberapa sumber data kesehatan nasional Swedia, termasuk data kesehatan gigi, diagnosis demensia, penggunaan obat, penyakit penyerta, serta informasi sosial ekonomi.

Sebanyak 3.361 orang yang baru didiagnosis demensia antara tahun 2010 hingga 2013 masuk dalam analisis. Para peserta kemudian diikuti hingga akhir 2018, dengan median masa pemantauan sekitar 5,6 tahun.

Berdasarkan jumlah gigi yang masih dimiliki ketika didiagnosis demensia, peserta dibagi menjadi tiga kelompok:

  • Kehilangan gigi berat: kurang dari 10 gigi tersisa.

  • Kehilangan gigi sedang: 10–19 gigi tersisa.

  • Kelompok pembanding: 20 gigi atau lebih.

Peneliti kemudian melihat dua hal utama: risiko kematian karena sebab apa pun dan perubahan kemampuan kognitif dari waktu ke waktu. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE), yaitu alat yang umum digunakan untuk menilai fungsi kognitif.

Sekilas, Kehilangan Gigi Tampak Berkaitan dengan Risiko Kematian

Pada analisis awal, orang dengan kehilangan gigi berat maupun sedang memang terlihat memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan mereka yang masih memiliki setidaknya 20 gigi.

Kelompok dengan kurang dari 10 gigi memiliki risiko kematian sekitar 40% lebih tinggi, sedangkan kelompok dengan 10–19 gigi sekitar 29% lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan 20 gigi atau lebih.

Namun, angka tersebut berubah setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain yang juga dapat memengaruhi risiko kematian, seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendapatan, pendidikan, dan penyakit penyerta.

Setelah penyesuaian tersebut, hubungan antara kehilangan gigi dan kematian tidak lagi bermakna secara statistik. Pada kelompok dengan kehilangan gigi berat, misalnya, adjusted hazard ratio adalah 1,12 dengan interval kepercayaan 95% sebesar 0,97–1,28.

Dengan kata lain, kehilangan gigi pada saat diagnosis demensia tidak terbukti secara independen meningkatkan risiko kematian dalam penelitian ini.

Penurunan Fungsi Kognitif Juga Tidak Berbeda

Bagaimana dengan fungsi kognitif?

Selama masa pemantauan, skor MMSE memang mengalami penurunan pada seluruh kelompok. Namun, ketika faktor-faktor lain diperhitungkan, tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam kecepatan penurunan fungsi kognitif berdasarkan jumlah gigi yang tersisa.

Kelompok dengan kurang dari 10 gigi mengalami perubahan skor MMSE tahunan sebesar sekitar −1,26 poin, sementara kelompok dengan 10–19 gigi sekitar −1,50 poin dan kelompok dengan 20 gigi atau lebih sekitar −1,42 poin.

Setelah penyesuaian, perbedaannya tidak signifikan secara statistik.

Artinya, penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa kehilangan gigi membuat penurunan fungsi kognitif pada penyandang demensia berlangsung lebih cepat.

Mengapa Hasilnya Berbeda dengan Dugaan Awal?

Hasil penelitian ini menarik karena penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya hubungan antara kehilangan gigi dan demensia. Secara biologis, terdapat beberapa kemungkinan mekanisme yang membuat kesehatan mulut berpotensi berkaitan dengan fungsi otak.

Kehilangan gigi dapat mengurangi kemampuan mengunyah dan mengubah jenis makanan yang dikonsumsi. Kondisi tersebut berpotensi berkaitan dengan asupan nutrisi yang kurang baik. Berkurangnya rangsangan sensorik dari aktivitas mengunyah juga pernah dikaitkan dengan perubahan fungsi otak dalam penelitian eksperimental pada hewan.

Namun, hubungan antara kesehatan mulut dan demensia sangat kompleks. Kehilangan gigi juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk penyakit penyerta, kondisi sosial ekonomi, kebiasaan merokok, akses terhadap pelayanan kesehatan gigi, serta kemampuan seseorang dalam mempertahankan kebersihan mulut.

Karena itu, menemukan hubungan antara dua kondisi tidak otomatis berarti bahwa salah satunya menjadi penyebab langsung yang lain.

Salah Satu Kekuatan Penelitian: Data Nasional yang Besar

Salah satu keunggulan penelitian ini adalah penggunaan beberapa registri kesehatan nasional Swedia. Data tersebut memungkinkan peneliti mengikuti kondisi kesehatan peserta dalam jangka panjang sekaligus mempertimbangkan berbagai faktor demografis dan klinis.

Peneliti juga menggunakan data rekam medis gigi yang dikumpulkan dalam praktik pelayanan sehari-hari, sehingga dapat mengurangi risiko bias dari proses pengumpulan data khusus untuk penelitian.

Meski demikian, penelitian ini tetap memiliki keterbatasan. Misalnya, data mengenai kebiasaan merokok tidak tersedia, informasi mengenai penggunaan gigi tiruan juga terbatas, dan data mengenai kehilangan perlekatan klinis yang penting dalam penilaian penyakit periodontal tidak tersedia dalam registri yang digunakan.

Selain itu, masa tindak lanjut mungkin belum cukup panjang untuk menangkap hubungan yang kompleks antara kesehatan mulut, perkembangan demensia, dan kondisi kesehatan lainnya.

Bukan Berarti Kesehatan Mulut Tidak Penting pada Demensia

Temuan ini perlu dibaca secara hati-hati.

Penelitian ini tidak mengatakan bahwa kesehatan mulut tidak penting bagi penyandang demensia. Yang ditemukan adalah bahwa kehilangan gigi, ketika diukur pada saat diagnosis demensia, tidak terbukti secara independen meningkatkan risiko kematian ataupun mempercepat penurunan fungsi kognitif setelah berbagai faktor diperhitungkan.

Justru, kesehatan mulut tetap menjadi aspek yang penting karena merupakan salah satu bagian kesehatan yang relatif dapat dimodifikasi. Pada orang dengan demensia, kemampuan menjaga kebersihan mulut dan mengakses pelayanan gigi dapat menurun seiring perkembangan penyakit. Kondisi tersebut membuat dukungan dari keluarga, pengasuh, maupun tenaga kesehatan menjadi semakin penting.

Peneliti juga menyoroti bahwa pemerintah Swedia telah memasukkan kesehatan gigi sebagai bagian dari strategi nasional penanganan demensia 2025–2028. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya perhatian terhadap kesehatan mulut sebagai bagian dari perawatan menyeluruh bagi penyandang demensia.

Kesimpulan: Hubungan yang Masih Perlu Terus Diteliti

Studi berbasis registri nasional Swedia ini memberikan pesan penting: kehilangan gigi pada orang yang baru didiagnosis demensia tidak terbukti secara independen berkaitan dengan peningkatan risiko kematian maupun penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat.

Temuan tersebut berbeda dari dugaan awal peneliti dan menunjukkan bahwa hubungan antara kesehatan mulut dan demensia kemungkinan jauh lebih kompleks daripada sekadar jumlah gigi yang tersisa.

Penelitian lebih lanjut dengan periode pengamatan yang lebih panjang dan data yang lebih lengkap masih diperlukan untuk memahami apakah kesehatan mulut berperan langsung dalam prognosis demensia, atau lebih tepat dipandang sebagai penanda dari kondisi kesehatan, nutrisi, peradangan sistemik, maupun akses terhadap pelayanan kesehatan.

Yang jelas, kesehatan mulut tetap tidak boleh diabaikan dalam perawatan orang dengan demensia. Menjaga kebersihan mulut, mempertahankan fungsi mengunyah, dan memastikan akses terhadap perawatan gigi tetap menjadi bagian penting dari pendekatan kesehatan yang menyeluruh.

Referensi 

Mohammadi M, Holmer J, Imberg H, Albrektsson H, Eriksdotter M, Buhlin K. Tooth Loss in Individuals with Dementia: A Swedish Register-Based Cohort Study. Journal of Dental Research. 2026;105(1):149–155. DOI: 10.1177/00220345251384633

Carigi Indonesia August 14, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kehilangan Gigi Sisi Memengaruhi Sendi Rahang TMJ