Kehilangan Gigi pada Demensia & Risiko Kematian

Kehilangan Gigi pada Penyandang Demensia: Benarkah Berkaitan dengan Risiko Kematian dan Penurunan Kognitif?
Kesehatan Mulut dan Demensia: Adakah Hubungannya?
Seiring bertambahnya usia harapan hidup, jumlah orang yang hidup dengan demensia diperkirakan terus meningkat. Demensia tidak hanya memengaruhi kemampuan mengingat, berbahasa, dan memecahkan masalah, tetapi juga dapat berdampak pada kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk menjaga kesehatan mulut.
Di sisi lain, kehilangan gigi merupakan salah satu tanda kesehatan mulut yang kurang baik. Kehilangan gigi dapat mengganggu kemampuan mengunyah, mengubah pilihan makanan, hingga berpotensi menyebabkan masalah gizi. Sejumlah penelitian sebelumnya bahkan menemukan adanya hubungan antara kesehatan mulut yang buruk dengan demensia.
Hal inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan: apakah kehilangan gigi pada orang yang sudah mengalami demensia juga berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi atau penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti dari Karolinska Institutet dan sejumlah institusi di Swedia melakukan penelitian berbasis data registri nasional.
Menelusuri Data Ribuan Pasien Demensia di Swedia
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Dental Research ini menggunakan desain studi kohort berbasis registri. Peneliti menggabungkan beberapa sumber data kesehatan nasional Swedia, termasuk data kesehatan gigi, diagnosis demensia, penggunaan obat, penyakit penyerta, serta informasi sosial ekonomi.
Sebanyak 3.361 orang yang baru didiagnosis demensia antara tahun 2010 hingga 2013 masuk dalam analisis. Para peserta kemudian diikuti hingga akhir 2018, dengan median masa pemantauan sekitar 5,6 tahun.
Berdasarkan jumlah gigi yang masih dimiliki ketika didiagnosis demensia, peserta dibagi menjadi tiga kelompok:
Kehilangan gigi berat: kurang dari 10 gigi tersisa.
Kehilangan gigi sedang: 10–19 gigi tersisa.
Kelompok pembanding: 20 gigi atau lebih.