Kehilangan Gigi, Fungsi Kognitif, dan Depresi Lansia
September 28, 2026by
Carigi Indonesia
Kehilangan Gigi, Fungsi Kognitif, dan Depresi Lansia
Kehilangan Gigi dan Depresi pada Lansia: Ternyata Daya Pikir Menjadi Penghubungnya
Sudah lama diketahui bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan depresi pada usia lanjut. Sebuah studi terhadap 11.000 orang dewasa di Tiongkok kini berusaha mengungkap mengapa: sekitar 62% dari kaitan itu tampaknya berjalan melalui penurunan fungsi otak. Sebuah pengingat bahwa kesehatan mulut, pikiran, dan suasana hati saling terhubung erat.
Kesehatan mulut, ternyata, tak berhenti di mulut. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kondisi gigi kita berkaitan dengan kesehatan tubuh—bahkan hingga ke otak dan suasana hati. Salah satu kaitan yang menarik perhatian adalah antara kehilangan gigi dan depresi pada usia lanjut. Hubungan ini sudah lama diketahui, tetapi satu pertanyaan besar masih menggantung: mengapa keduanya bisa saling terkait?
Untuk menelusurinya, sekelompok peneliti dari Tiongkok menganalisis data kesehatan puluhan ribu orang. Hasil kajian mereka diterbitkan dalam jurnal BMC Oral Health pada 2025, dan mengungkap sebuah "mata rantai" yang selama ini kurang diperhatikan: fungsi otak.
Konteks: Kaitan Rumit antara Gigi, Otak, dan Suasana Hati
Depresi adalah persoalan kesehatan yang serius, terutama pada lansia—secara global, ratusan juta orang mengalaminya. Pada usia lanjut, depresi tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan lain.
Di sisi lain, kehilangan gigi dikenal sebagai faktor risiko untuk banyak penyakit kronis pada lansia—termasuk penurunan fungsi otak (kognitif) dan depresi. Bahkan, sebuah penelitian menyebutkan bahwa dampak kehilangan sepuluh gigi atau lebih sebanding dengan dampak yang dialami penderita gangguan depresi berat.
Yang menarik, penurunan daya pikir dan depresi sering muncul bersamaan dan tampaknya saling memengaruhi: gejala depresi dapat memperburuk daya ingat, dan sebaliknya, penurunan daya ingat dapat mempercepat gejala depresi. Melihat keterkaitan yang rumit ini, para peneliti mengajukan sebuah hipotesis: mungkinkah fungsi otak menjadi "jembatan" yang menghubungkan kehilangan gigi dengan depresi? Dengan kata lain, apakah kehilangan gigi berkaitan dengan menurunnya fungsi otak, yang lalu berujung pada depresi?
Apa yang Dilakukan Peneliti
Untuk menjawabnya, para peneliti menganalisis data dari China Health and Retirement Longitudinal Study (CHARLS)—sebuah survei besar dan representatif terhadap penduduk paruh baya dan lansia di Tiongkok. Dari data tahun 2018, mereka menganalisis 11.000 partisipan dengan usia rata-rata sekitar 61 tahun.
Dari data tersebut, peneliti menilai tiga hal: kehilangan gigi (apakah seseorang telah kehilangan seluruh giginya atau tidak), fungsi kognitif (mencakup orientasi, daya ingat, kemampuan berhitung, dan kemampuan visual-spasial), serta gejala depresi (diukur dengan kuesioner baku). Mereka lalu menggunakan sebuah metode statistik bernama analisis mediasi—yang secara sederhana bertujuan menjawab: dari keseluruhan kaitan antara kehilangan gigi dan depresi, seberapa besar bagian yang "berjalan melalui" penurunan fungsi otak?
Hasilnya: Daya Pikir Menjelaskan Sebagian Besar Kaitan
Temuan pertama menegaskan yang sudah diduga: kehilangan gigi memang berkaitan secara bermakna dengan depresi. Kaitan ini tetap kuat bahkan setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, penyakit kronis, kebiasaan merokok, dan lainnya.
Namun temuan yang paling menarik adalah tentang perannya fungsi otak. Analisis menunjukkan bahwa fungsi kognitif menjelaskan sekitar 61,6% dari keseluruhan kaitan antara kehilangan gigi dan depresi. Artinya, sebagian besar hubungan antara kehilangan gigi dan depresi tampaknya tidak berjalan langsung, melainkan melalui penurunan fungsi otak. Kehilangan gigi berkaitan dengan menurunnya daya pikir, dan penurunan daya pikir inilah yang tampaknya menjadi jalur utama menuju gejala depresi.
Ini adalah studi pertama yang mencoba mengukur secara kuantitatif peran fungsi otak sebagai "penghubung" dalam jalur ini.
Mengapa Bisa Terkait?
Para peneliti menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan—meski perlu ditegaskan bahwa ini masih berupa dugaan yang butuh penelitian lebih lanjut.
Salah satu gagasan yang menarik adalah bahwa aktivitas mengunyah merangsang otak. Ketika seseorang kehilangan giginya, kemampuan mengunyah berkurang, dan stimulasi ke otak pun berkurang—yang seiring waktu dapat memengaruhi fungsi kognitif. Selain itu, kehilangan gigi diduga berkaitan dengan peradangan dan perubahan pada sistem saraf yang dapat mengganggu bagian-bagian otak tertentu. Kesulitan mengunyah dan berbicara akibat kehilangan gigi juga dapat memengaruhi kemampuan berkomunikasi, yang pada gilirannya berdampak pada fungsi berpikir dan kehidupan sosial. Kombinasi faktor-faktor inilah yang mungkin menjelaskan mengapa kehilangan gigi, penurunan daya pikir, dan depresi saling terkait.
Apa Artinya untuk Kita
Bagi kita, penelitian ini menggarisbawahi sebuah pesan penting: kesehatan mulut adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan otak dan kesehatan mental, terutama pada usia lanjut. Merawat gigi bukan sekadar soal bisa makan dengan nyaman atau tampil percaya diri, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan menjaga ketajaman pikiran dan kesejahteraan emosional.
Temuan ini mendukung pendekatan perawatan yang menyeluruh bagi para lansia—yang tidak memisahkan kesehatan gigi dari kesehatan tubuh dan jiwa. Menjaga kesehatan mulut melalui perawatan gigi yang rutin, serta mengganti gigi yang hilang bila memungkinkan, bisa menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kualitas hidup di usia senja.
Konteks ini sangat relevan bagi Indonesia, yang populasi lansianya terus bertambah. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memasuki usia lanjut, memahami bahwa merawat gigi juga berarti merawat pikiran dan suasana hati dapat mendorong perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mulut para lansia.
Catatan Penting: Batasan Penelitian
Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya—dan ini sangat penting untuk membacanya dengan tepat.
Keterbatasan terbesarnya adalah bahwa penelitian ini bersifat potong-lintang, yaitu memotret kondisi pada satu titik waktu. Desain ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat maupun menentukan urutan kejadian—sehingga tidak bisa dipastikan apakah kehilangan gigi yang menyebabkan penurunan daya pikir dan depresi, atau sebaliknya, atau ketiganya dipengaruhi faktor lain. Mengingat penurunan daya pikir dan depresi diketahui saling memengaruhi, hubungan ini kemungkinan bersifat dua arah dan kompleks.
Selain itu, sejumlah partisipan tidak disertakan karena data yang tidak lengkap, sehingga hasilnya mungkin kurang mewakili kelompok yang paling rentan. Faktor lain seperti status gizi—yang bisa memengaruhi fungsi otak maupun suasana hati—juga tidak diperhitungkan. Para peneliti menegaskan perlunya penelitian lanjutan yang mengikuti partisipan dari waktu ke waktu untuk memastikan arah dan hubungan sebab-akibatnya.
Kesimpulan
Studi ini menemukan bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan lebih tingginya gejala depresi pada orang dewasa paruh baya dan lansia—dengan penurunan fungsi otak menjelaskan sekitar 62% dari kaitan tersebut. Meski belum bisa membuktikan sebab-akibat, temuan ini menyiratkan bahwa pengaruh kesehatan mulut terhadap kesehatan mental tidak selalu langsung, melainkan sebagian besar melibatkan jalur kognitif.
Pesan yang bisa dibawa pulang: gigi, otak, dan suasana hati kita ternyata saling terhubung, terutama seiring bertambahnya usia. Merawat kesehatan mulut bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk turut menjaga pikiran dan kesejahteraan emosional di usia senja—sebuah pengingat lagi bahwa tubuh kita bekerja sebagai satu kesatuan yang utuh.
Referensi
Huang SJ, Hu ZL, Qian YX, Xin MZ, Teng BH, Jin L. The mediating role of cognitive function in the association between tooth loss and depressive symptoms: a cross-sectional study. BMC Oral Health. 2025;25:1811. DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-025-07200-x