Skip to Content

Kehilangan Gigi dan Gangguan Tidur: Adakah Kaitannya?

October 7, 2026 by
Carigi Indonesia

Kehilangan Gigi dan Gangguan Tidur: Adakah Kaitannya?

Kehilangan Gigi dan Gangguan Tidur: Adakah Kaitannya?

Kehilangan Gigi dan Tidur yang Terganggu: Adakah Kaitannya?

Sebuah studi terhadap lebih dari 5.000 orang dewasa di Chili menemukan bahwa orang yang kehilangan banyak gigi—terutama yang ompong total—lebih sering mendengkur dan mengantuk di siang hari. Petunjuknya mungkin terletak pada bagaimana kehilangan gigi mengubah struktur rahang dan saluran napas. Namun sebagai studi pengamatan, temuan ini menunjukkan kaitan, bukan sebab-akibat.

Kita semakin sering mendengar bahwa kesehatan mulut berkaitan dengan kesehatan seluruh tubuh—dari jantung hingga otak. Tapi bagaimana dengan tidur? Mungkinkah kehilangan gigi juga memengaruhi kualitas istirahat kita di malam hari? Pertanyaan ini masih jarang diteliti, meski keduanya sama-sama penting bagi kesehatan.

Sekelompok peneliti dari Universidad de los Andes dan beberapa universitas lain di Chili mencoba menjawabnya dengan menganalisis data survei kesehatan nasional. Hasil kajian mereka diterbitkan dalam jurnal BMC Oral Health pada 2026, dan mengungkap kaitan yang menarik antara jumlah gigi seseorang dan pola tidurnya.

Konteks: Kaitan Mulut, Napas, dan Tidur

Kehilangan gigi telah dikaitkan dengan berbagai penyakit sistemik, tetapi hubungannya dengan gangguan tidur masih menjadi wilayah yang kurang dieksplorasi. Padahal, tidur yang buruk—baik terlalu sedikit maupun terganggu kualitasnya—berkaitan dengan beragam masalah kesehatan.

Yang menarik, ada alasan biologis mengapa kedua hal ini bisa saling terkait. Mulut dan saluran napas atas kita saling berdekatan, sehingga perubahan pada struktur mulut—seperti yang terjadi setelah kehilangan gigi—secara teori dapat memengaruhi cara kita bernapas saat tidur. Inilah yang mendorong para peneliti untuk menyelidiki: apakah kehilangan gigi berkaitan dengan lama tidur (berapa jam seseorang tidur) maupun kualitas tidur (seperti mendengkur dan mengantuk di siang hari)?

Apa yang Dilakukan Peneliti

Penelitian ini memanfaatkan data dari Survei Kesehatan Nasional Chili 2016–2017, yang mencakup lebih dari 5.000 orang dewasa. Para peneliti mengelompokkan kondisi gigi para peserta berdasarkan jumlah gigi yang tersisa: mulai dari gigi yang masih berfungsi (20 gigi atau lebih), kehilangan gigi sedang (10–19 gigi), kehilangan gigi berat (1–9 gigi), hingga ompong total (tidak bergigi).

Kemudian, mereka menilai dua aspek tidur. Pertama, lama tidur—dikelompokkan menjadi kurang (di bawah 7 jam), cukup (7–8 jam), dan berlebihan (lebih dari 8 jam). Kedua, kualitas tidur—dinilai melalui pertanyaan tentang mendengkur, jeda napas saat tidur, mengantuk di siang hari, dan kelelahan saat bangun pagi. Yang penting, peneliti juga memperhitungkan berbagai faktor lain yang bisa memengaruhi tidur, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, kebiasaan merokok, diabetes, depresi, berat badan, dan konsumsi alkohol.

Hasilnya: Lebih Banyak Mendengkur dan Mengantuk

Temuan yang paling konsisten berkaitan dengan kualitas tidur. Orang yang ompong total maupun yang mengalami kehilangan gigi berat ternyata lebih sering mendengkur dan lebih sering mengantuk di siang hari dibandingkan mereka yang giginya masih berfungsi. Kaitan ini tetap bertahan bahkan setelah berbagai faktor lain diperhitungkan.

Bagaimana dengan lama tidur? Di sini temuannya lebih bernuansa. Pada awalnya, orang yang ompong total tampak lebih mungkin mengalami tidur berlebihan. Namun, setelah seluruh faktor lain diperhitungkan, kaitan ini melemah dan tidak lagi bermakna secara statistik. Artinya, hubungan antara kehilangan gigi dan lama tidur kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Yang menarik, orang dengan kehilangan gigi justru cenderung lebih kecil kemungkinannya mengalami kurang tidur. Secara keseluruhan, gambaran yang muncul adalah: kehilangan gigi lebih berkaitan dengan kualitas tidur yang terganggu—terutama mendengkur dan rasa kantuk di siang hari.

Mengapa Bisa Terkait?

Para peneliti menawarkan dua penjelasan yang menarik. Yang pertama bersifat anatomis. Ketika seseorang kehilangan banyak gigi, struktur wajah dan rahangnya berubah: tinggi wajah berkurang, rahang bawah cenderung berputar ke atas, dan lidah menjadi relatif lebih besar dibanding ruang yang tersedia. Perubahan ini dapat mempersempit ruang di belakang tenggorokan dan saluran napas atas—yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan mendengkur, bahkan henti napas saat tidur (sleep apnea), serta menurunkan kadar oksigen dan mengganggu kualitas tidur. Ini adalah mekanisme yang cukup masuk akal secara biologis.

Penjelasan kedua berkaitan dengan kesehatan mental. Kehilangan gigi telah dikaitkan dengan depresi, yang juga memengaruhi pola tidur. Selain itu, kehilangan gigi dapat menurunkan rasa percaya diri—faktor yang turut berperan dalam kesejahteraan seseorang secara menyeluruh.

Apa Artinya untuk Kita

Bagi kita, penelitian ini menambah satu alasan lagi mengapa menjaga kesehatan gigi itu penting—kali ini berkaitan dengan kualitas tidur. Kehilangan gigi, terutama dalam jumlah banyak, tampaknya berkaitan dengan gangguan tidur seperti mendengkur dan rasa kantuk di siang hari, yang bila berlanjut dapat memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup.

Temuan ini juga membuka kemungkinan menarik: jika perubahan struktur mulut akibat kehilangan gigi berperan dalam gangguan tidur, maka mengganti gigi yang hilang (misalnya dengan gigi tiruan) berpotensi membantu—meski hal ini belum dibuktikan dalam penelitian ini dan masih perlu diteliti lebih lanjut.

Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana kehilangan gigi pada usia dewasa dan lanjut usia masih umum terjadi. Kesadaran bahwa kesehatan mulut dapat berkaitan dengan kualitas tidur—dan pada akhirnya kesehatan secara keseluruhan—dapat mendorong perhatian yang lebih besar terhadap perawatan dan penggantian gigi yang hilang.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya—dan ini penting untuk membacanya dengan tepat.

Keterbatasan terbesarnya adalah bahwa penelitian ini bersifat potong-lintang—memotret kondisi pada satu titik waktu. Desain ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat maupun menentukan arahnya: apakah kehilangan gigi yang menyebabkan gangguan tidur, ataukah keduanya dipengaruhi faktor lain. Selain itu, data tentang tidur dikumpulkan melalui laporan diri peserta, bukan melalui pemeriksaan tidur lengkap (polisomnografi) yang merupakan standar emas—sehingga ada kemungkinan bias dalam pelaporan. Terakhir, meski banyak faktor telah diperhitungkan, pengaruh dari faktor-faktor lain yang tak terukur tetap tidak bisa sepenuhnya disingkirkan. Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini merupakan langkah awal yang menjanjikan, dan perlu diteliti lebih lanjut.

Kesimpulan

Studi ini menemukan bahwa orang dengan kehilangan gigi berat dan ompong total lebih mungkin mengalami tidur berlebihan, mendengkur, dan mengantuk di siang hari—dengan kaitan yang paling konsisten pada kualitas tidur. Meski belum membuktikan sebab-akibat, temuan ini menyiratkan bahwa kesehatan mulut dan kualitas tidur mungkin saling terhubung, kemungkinan melalui perubahan pada struktur rahang dan saluran napas.

Pesan yang bisa dibawa pulang: menjaga gigi tetap sehat dan utuh bukan hanya soal mengunyah atau penampilan, tetapi mungkin juga berkaitan dengan bagaimana kita beristirahat di malam hari. Sebuah pengingat lagi bahwa mulut kita bukanlah bagian yang terpisah—melainkan terhubung erat dengan kesehatan tubuh secara menyeluruh, hingga ke kualitas tidur kita.

Referensi

Portalier Dublé N, Celis Sersen A, Celis-Dooner J, dkk. Tooth loss as a factor associated with deterioration of quality and increase in sleep duration: analysis of the 2016–2017 Chilean National Health Survey. BMC Oral Health. 2026;26:1719. 

DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-026-08776-8

Carigi Indonesia October 7, 2026
Share this post
Tags
Archive
Periodontitis Agresif di Usia Muda: Gigi Masih Bisa Selamat