Skip to Content

Kecemasan Dental pada Perokok

July 3, 2026 by
Carigi Indonesia

Kecemasan Dental pada Perokok

Kecemasan Dental pada Perokok


Perokok Lebih Rentan Takut ke Dokter Gigi? Ini Faktor-Faktor yang Berperan

Penelitian Baru Ungkap Hubungan antara Merokok, Stres, dan Kecemasan saat Perawatan Gigi

Banyak orang merasa cemas atau takut ketika harus pergi ke dokter gigi. Namun, bagi perokok, rasa takut ini ternyata bisa menjadi masalah yang lebih besar. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di BMC Oral Health menemukan bahwa perokok dengan tingkat stres tinggi, ketergantungan nikotin yang lebih berat, kesehatan gigi yang buruk, dan pengalaman nyeri saat perawatan gigi cenderung mengalami ketakutan dan kecemasan yang lebih tinggi terhadap perawatan gigi.

Temuan ini penting karena rasa takut terhadap dokter gigi dapat membuat seseorang menunda atau bahkan menghindari perawatan, sehingga masalah kesehatan mulut menjadi semakin parah.

Mengapa Perokok Lebih Berisiko?

Merokok diketahui meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan mulut, mulai dari penyakit gusi, karies gigi, hingga kanker mulut. Karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut, perokok juga lebih sering merasakan nyeri atau ketidaknyamanan saat menjalani perawatan gigi.

Pengalaman yang tidak menyenangkan ini dapat menciptakan sebuah "lingkaran setan". Seseorang yang takut ke dokter gigi cenderung menunda kunjungan. Akibatnya, kondisi gigi dan mulut semakin memburuk dan membutuhkan perawatan yang lebih kompleks serta berpotensi lebih menyakitkan. Pengalaman tersebut kemudian memperkuat rasa takut, sehingga pasien semakin enggan datang kembali ke dokter gigi.

Meskipun sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi dibandingkan bukan perokok, faktor-faktor yang mendasari kondisi ini belum banyak diteliti.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Penelitian ini melibatkan 424 perokok dewasa yang menjalani perawatan di dua klinik pendidikan kedokteran gigi di Boston, Amerika Serikat, antara tahun 2020 hingga 2024.

Para peserta diminta mengisi berbagai kuesioner mengenai:

  • Karakteristik demografis, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.

  • Riwayat merokok dan tingkat ketergantungan nikotin.

  • Kondisi psikologis, termasuk tingkat stres dan gejala depresi.

  • Kondisi kesehatan gigi dan mulut serta pengalaman nyeri saat pembersihan gigi.

  • Tingkat ketakutan dan kecemasan terhadap perawatan gigi menggunakan instrumen Index of Dental Anxiety and Fear (IDAF-C).

Sebagian besar peserta penelitian memiliki kondisi kesehatan mulut yang kurang baik. Sekitar tiga perempat responden menilai kesehatan gigi dan mulut mereka berada pada kategori "buruk" atau "sedang".

Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Ketakutan ke Dokter Gigi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor memiliki hubungan yang kuat dengan kecemasan dan ketakutan terhadap perawatan gigi.

1. Nyeri Saat Pembersihan Gigi

Peserta yang sering merasakan nyeri saat pembersihan gigi memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Pengalaman rasa sakit tampaknya menjadi salah satu pemicu utama munculnya rasa takut terhadap perawatan gigi.

2. Kondisi Kesehatan Gigi yang Buruk

Mereka yang menilai kesehatan gigi dan mulutnya buruk juga cenderung lebih takut berkunjung ke dokter gigi. Kemungkinan, kondisi gigi yang bermasalah membuat pasien khawatir akan memerlukan tindakan yang menyakitkan atau kompleks.

3. Tingkat Stres yang Tinggi

Stres umum dalam kehidupan sehari-hari ternyata berkaitan erat dengan kecemasan dental. Semakin tinggi tingkat stres yang dirasakan seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia mengalami rasa takut terhadap perawatan gigi.

4. Ketergantungan Nikotin

Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin tinggi tingkat ketergantungan seseorang terhadap nikotin, semakin tinggi pula tingkat kecemasan dan ketakutan terhadap perawatan gigi.

Sebaliknya, faktor seperti keinginan untuk berhenti merokok atau kepercayaan diri untuk berhenti merokok tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kecemasan dental.

Bagaimana dengan Faktor Demografis?

Pada awal analisis, perempuan dan individu dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah tampak memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

Namun, setelah peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain seperti stres, kondisi kesehatan mulut, nyeri, dan ketergantungan nikotin, pengaruh jenis kelamin dan pendidikan menjadi jauh lebih kecil dan tidak lagi signifikan.

Artinya, faktor-faktor yang dapat diubah—seperti mengelola stres, mengurangi nyeri saat perawatan, memperbaiki kesehatan mulut, dan membantu pasien mengurangi ketergantungan nikotin—mungkin lebih penting untuk ditangani dibandingkan karakteristik demografis.

Apa Makna Temuan Ini?

Penelitian ini memberikan pesan penting bagi tenaga kesehatan gigi dan mulut. Ketakutan terhadap dokter gigi pada perokok bukan hanya masalah psikologis semata, tetapi juga berkaitan dengan pengalaman nyeri, kondisi kesehatan mulut, dan kebiasaan merokok itu sendiri.

Pendekatan yang lebih ramah, pengendalian nyeri yang baik, edukasi kesehatan mulut, serta dukungan untuk berhenti merokok berpotensi membantu mengurangi kecemasan pasien dan meningkatkan kepatuhan terhadap kunjungan ke dokter gigi.

Dengan meningkatnya kunjungan rutin ke dokter gigi, masalah kesehatan mulut dapat dideteksi dan ditangani lebih dini, sehingga kualitas hidup pasien juga dapat meningkat.

Kesimpulan

Perokok dengan tingkat stres tinggi, ketergantungan nikotin yang lebih berat, kondisi kesehatan gigi yang buruk, dan pengalaman nyeri saat perawatan gigi lebih rentan mengalami ketakutan dan kecemasan terhadap perawatan gigi.

Temuan ini menunjukkan bahwa upaya mengurangi kecemasan dental pada perokok perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada rasa takut itu sendiri, tetapi juga pada pengelolaan stres, peningkatan kesehatan mulut, pengendalian nyeri, dan dukungan berhenti merokok.

Referensi 

Hart NJ, Goodman MS, Park H, Endrighi R, Jurasic MM, Cabral HJ, Borrelli B. Factors associated with dental fear and anxiety among smokers in urban dental clinics: a cross-sectional analysis. BMC Oral Health. 2026;26:263.

DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-026-07682-3


Carigi Indonesia July 3, 2026
Share this post
Tags
Archive
Akses Bedah Gigi Anak Autisme