Kebiasaan Mouth Breathing dan Stres Remaja
Experience unparalleled comfort, cutting-edge design, and performance-enhancing
technology with this latest innovation, crafted to elevate every athlete's journey.

Bukan Sekadar Kebiasaan: Bernapas Lewat Mulut Ternyata Berkaitan dengan Tingkat Stres pada Anak Muda
Pernahkah Anda menyadari seseorang yang sering membuka mulut saat beristirahat atau tidur? Banyak orang menganggap kebiasaan tersebut hanya persoalan sepele. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan bernapas melalui mulut dan sulit menutup bibir dengan rileks mungkin memiliki dampak yang lebih luas, termasuk berkaitan dengan kesehatan mental.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di BMC Oral Health tahun 2026 menemukan bahwa orang dewasa muda yang mengalami mouth breathing (bernapas melalui mulut) dan incompetent lip seal (kesulitan mempertahankan bibir tetap tertutup saat rileks) cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Menariknya, hubungan tersebut tidak terjadi secara langsung, tetapi melalui berbagai keluhan pada rongga mulut, seperti bibir kering dan bau mulut.
Bernapas Lewat Mulut dan Bibir yang Sulit Menutup Bukan Hal yang Sama
Meski sering muncul bersamaan, bernapas melalui mulut dan bibir yang sulit menutup sebenarnya merupakan dua kondisi yang berbeda.
Incompetent lip seal (ILS) adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mempertahankan bibir tetap tertutup secara alami saat sedang beristirahat tanpa menggunakan tenaga otot tambahan. Sementara itu, mouth breathing (MB) adalah kebiasaan bernapas melalui mulut, baik saat beraktivitas maupun ketika tidur.
Selama ini kedua kondisi tersebut telah diketahui berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan mulut, seperti susunan gigi yang tidak normal, penyakit gusi, gigi berlubang, hingga gangguan tidur. Namun, bagaimana kaitannya dengan stres pada orang dewasa muda masih jarang diteliti. Itulah yang menjadi fokus penelitian ini.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti melibatkan 567 mahasiswa di Jepang berusia 18–27 tahun. Seluruh peserta mengisi kuesioner mengenai kondisi kesehatan mulut, kebiasaan sehari-hari, gejala pada hidung, serta tingkat stres psikologis.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh, para peneliti menggunakan kombinasi beberapa metode analisis statistik dan kecerdasan buatan (machine learning), sehingga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berkaitan dengan stres sekaligus melihat hubungan antarberbagai kondisi kesehatan mulut dan hidung. Karena penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional), hasilnya menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.
Mulut Terbuka Saat Tidur Menjadi Salah Satu Tanda Penting
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 28,6% peserta melaporkan memiliki tanda-tanda kebiasaan bernapas melalui mulut atau bibir yang sulit menutup.
Saat model kecerdasan buatan menganalisis faktor-faktor yang paling berkaitan dengan stres tinggi, beberapa indikator yang paling menonjol adalah:
tidur dengan mulut terbuka,
mulut sering terbuka pada siang hari,
hidung tersumbat saat tidur, dan
bibir yang sering terasa kering.