Skip to Content

Kebiasaan Mouth Breathing dan Stres Remaja

August 6, 2026 by
Carigi Indonesia

Kebiasaan Mouth Breathing dan Stres Remaja

Experience unparalleled comfort, cutting-edge design, and performance-enhancing
technology with this latest innovation, crafted to elevate every athlete's journey.

Kebiasaan Mouth Breathing dan Stres Remaja

Bukan Sekadar Kebiasaan: Bernapas Lewat Mulut Ternyata Berkaitan dengan Tingkat Stres pada Anak Muda

Pernahkah Anda menyadari seseorang yang sering membuka mulut saat beristirahat atau tidur? Banyak orang menganggap kebiasaan tersebut hanya persoalan sepele. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan bernapas melalui mulut dan sulit menutup bibir dengan rileks mungkin memiliki dampak yang lebih luas, termasuk berkaitan dengan kesehatan mental.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di BMC Oral Health tahun 2026 menemukan bahwa orang dewasa muda yang mengalami mouth breathing (bernapas melalui mulut) dan incompetent lip seal (kesulitan mempertahankan bibir tetap tertutup saat rileks) cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Menariknya, hubungan tersebut tidak terjadi secara langsung, tetapi melalui berbagai keluhan pada rongga mulut, seperti bibir kering dan bau mulut.

Bernapas Lewat Mulut dan Bibir yang Sulit Menutup Bukan Hal yang Sama

Meski sering muncul bersamaan, bernapas melalui mulut dan bibir yang sulit menutup sebenarnya merupakan dua kondisi yang berbeda.

Incompetent lip seal (ILS) adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mempertahankan bibir tetap tertutup secara alami saat sedang beristirahat tanpa menggunakan tenaga otot tambahan. Sementara itu, mouth breathing (MB) adalah kebiasaan bernapas melalui mulut, baik saat beraktivitas maupun ketika tidur.

Selama ini kedua kondisi tersebut telah diketahui berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan mulut, seperti susunan gigi yang tidak normal, penyakit gusi, gigi berlubang, hingga gangguan tidur. Namun, bagaimana kaitannya dengan stres pada orang dewasa muda masih jarang diteliti. Itulah yang menjadi fokus penelitian ini.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti melibatkan 567 mahasiswa di Jepang berusia 18–27 tahun. Seluruh peserta mengisi kuesioner mengenai kondisi kesehatan mulut, kebiasaan sehari-hari, gejala pada hidung, serta tingkat stres psikologis.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh, para peneliti menggunakan kombinasi beberapa metode analisis statistik dan kecerdasan buatan (machine learning), sehingga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berkaitan dengan stres sekaligus melihat hubungan antarberbagai kondisi kesehatan mulut dan hidung. Karena penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional), hasilnya menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.

Mulut Terbuka Saat Tidur Menjadi Salah Satu Tanda Penting

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 28,6% peserta melaporkan memiliki tanda-tanda kebiasaan bernapas melalui mulut atau bibir yang sulit menutup.

Saat model kecerdasan buatan menganalisis faktor-faktor yang paling berkaitan dengan stres tinggi, beberapa indikator yang paling menonjol adalah:

  • tidur dengan mulut terbuka,

  • mulut sering terbuka pada siang hari,

  • hidung tersumbat saat tidur, dan

  • bibir yang sering terasa kering.

Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan bernapas dan kondisi rongga mulut dapat menjadi petunjuk awal untuk mengidentifikasi individu yang memiliki risiko stres lebih tinggi. Namun, peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut lebih cocok digunakan sebagai alat skrining awal, bukan sebagai diagnosis klinis.

Bibir Kering Menjadi "Jembatan" Menuju Stres

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa hubungan antara kebiasaan bernapas melalui mulut dan stres ternyata sebagian besar terjadi secara tidak langsung.

Penyakit pada hidung dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kesulitan menutup bibir dan bernapas melalui mulut. Kebiasaan tersebut kemudian memicu berbagai keluhan, terutama bibir kering, yang akhirnya berkaitan dengan meningkatnya tingkat stres.

Dengan kata lain, bukan sekadar kebiasaan membuka mulut yang berhubungan dengan stres, tetapi rasa tidak nyaman yang ditimbulkannya—seperti bibir kering, bau mulut, maupun gangguan kesehatan mulut lainnya—yang diduga menjadi perantara munculnya beban psikologis.

Mengapa Hal Ini Penting?

Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa kesehatan mulut tidak dapat dipisahkan dari kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan mental.

Gangguan sederhana yang sering kali diabaikan, seperti mulut yang terus terbuka saat beristirahat atau bibir yang mudah kering, ternyata dapat menjadi bagian dari rangkaian kondisi yang berkaitan dengan stres. Oleh karena itu, pemeriksaan dini terhadap fungsi pernapasan melalui hidung dan kemampuan menutup bibir dapat menjadi langkah preventif yang penting, terutama sejak masa kanak-kanak.

Peneliti juga menekankan perlunya kolaborasi antara dokter gigi, dokter anak, dan dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan (THT) agar gangguan fungsi mulut dan pernapasan dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara menyeluruh.

Penelitian Ini Masih Memiliki Keterbatasan

Walaupun melibatkan jumlah peserta yang cukup besar dan menggunakan pendekatan analisis yang komprehensif, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.

Seluruh data diperoleh melalui kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta sehingga bergantung pada persepsi masing-masing individu. Selain itu, karena menggunakan desain penelitian potong lintang, hasilnya belum dapat membuktikan bahwa bernapas melalui mulut menyebabkan stres. Penelitian lanjutan yang mengikuti peserta dalam jangka panjang masih diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan bernapas melalui mulut dan kesulitan mempertahankan bibir tetap tertutup berkaitan dengan tingkat stres yang lebih tinggi pada orang dewasa muda. Hubungan tersebut terutama terjadi melalui berbagai keluhan pada rongga mulut, khususnya bibir kering, yang berperan sebagai penghubung antara gangguan fungsi mulut dan kondisi psikologis.

Temuan ini mengingatkan bahwa kesehatan mulut bukan hanya soal gigi dan gusi, tetapi juga dapat berkaitan dengan kualitas hidup dan kesehatan mental. Mengenali gangguan fungsi mulut sejak dini berpotensi membantu menjaga kesehatan secara lebih menyeluruh.

Referensi 

Kaihara Y, Nagamine M, Hasegawa R, Inada E, Nogami Y, Kiyokawa Y, Murakami D, Saitoh I. Associations of incompetent lip seal and mouth breathing with stress in Japanese young adults: roles of oral function and nasal health. BMC Oral Health. 2026;26:661. https://doi.org/10.1186/s12903-026-08030-1.

Carigi Indonesia August 6, 2026
Share this post
Tags
Archive
Hubungan Penyakit Rematik dan Kesehatan Mulut