Skip to Content

Keamanan Perawatan Saluran Akar pada Ibu Hamil

September 7, 2026 by
Carigi Indonesia

Keamanan Perawatan Saluran Akar pada Ibu Hamil

Keamanan Perawatan Saluran Akar pada Ibu Hamil

Tahu Penting, Tetap Ditunda: Mengapa Banyak Ibu Hamil Ragu Menjalani Perawatan Saluran Akar

Hampir semua ibu hamil sepakat bahwa infeksi gigi harus segera diobati. Namun sebuah survei terhadap 130 ibu hamil di Türkiye menemukan kenyataan yang bertolak belakang: banyak yang menahan sakit gigi tanpa obat pereda nyeri, dan tiga dari empat perempuan yang membutuhkan perawatan saluran akar memilih menundanya hingga setelah melahirkan — padahal perawatan itu sebenarnya tergolong aman dilakukan selama kehamilan. Studi ini menyoroti satu jurang penting: antara apa yang diketahui dan apa yang benar-benar dilakukan.

Ketika Sakit Gigi Datang di Tengah Kehamilan

Bayangkan seorang ibu hamil terbangun tengah malam karena gigi yang berdenyut hebat. Naluri pertama yang muncul sering kali sama: "Tahan dulu saja, nanti diobati setelah bayinya lahir." Keputusan ini terasa wajar — didorong oleh rasa khawatir agar tidak ada tindakan medis yang membahayakan janin.

Tetapi menunda bisa berarti berbulan-bulan menahan nyeri sambil membiarkan infeksi diam-diam membesar. Dan yang menarik, keputusan menunda itu sering kali berpijak pada sebuah kesalahpahaman. Sebuah penelitian terbaru mencoba memotret secara jujur bagaimana ibu hamil sesungguhnya menyikapi masalah gigi mereka — dan apa yang ditemukan cukup menggugah.

Mulut yang Ikut Berubah Saat Hamil

Kehamilan bukan hanya soal perut yang membesar. Perubahan hormon dan fisiologis yang menyertainya juga berdampak pada rongga mulut. Ibu hamil lebih rentan mengalami gusi meradang (gingivitis), gigi berlubang, mulut kering, hingga gigi yang sedikit goyang. Kondisi-kondisi ini bisa menimbulkan nyeri, rasa tidak nyaman, dan menurunkan kualitas hidup.

Yang lebih penting, kesehatan mulut ibu ternyata tidak berhenti di mulut. Sejumlah penelitian mengaitkan penyakit gusi dan beban bakteri mulut yang tinggi selama kehamilan dengan komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan preeklamsia. Karena itu, menjaga kesehatan gigi dan menangani masalahnya secara tepat waktu menjadi bagian penting dari perawatan kehamilan.

Di sinilah perawatan saluran akar — dalam istilah medis disebut perawatan endodontik — berperan. Prosedur ini dibutuhkan untuk mengatasi nyeri dan infeksi yang berasal dari bagian dalam gigi (pulpa) dan jaringan di sekitar ujung akarnya. Bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa perawatan ini dapat dilakukan dengan aman selama kehamilan selama prosedur standar dan tindakan pencegahan yang tepat dijalankan.

Apa yang Dilakukan Para Peneliti

Untuk menggali sikap ibu hamil, tim peneliti dari beberapa fakultas kedokteran gigi di Istanbul, Türkiye, menyusun sebuah kuesioner daring berisi 18 pertanyaan. Survei ini disebarkan lewat WhatsApp ke komunitas dukungan kehamilan yang beranggotakan ibu hamil dari berbagai daerah di Türkiye.

Dari 500 undangan yang disebar, 130 ibu hamil mengisi kuesioner secara lengkap (tingkat respons sekitar 26 persen). Rata-rata usia peserta adalah 32 tahun. Mayoritas (77,69%) sedang menjalani kehamilan pertama, hampir semuanya berada di trimester kedua atau ketiga, dan sebagian besar berpendidikan universitas ke atas. Kuesioner ini juga diuji keandalannya dan memperoleh skor yang tergolong baik.

Satu hal penting dari desain studi ini: peserta sengaja tidak diberi informasi edukatif apa pun tentang perawatan gigi selama kehamilan sebelum mengisi survei. Tujuannya agar jawaban yang terekam benar-benar mencerminkan pengetahuan dan keyakinan mereka apa adanya. Peneliti menanyakan kebiasaan periksa gigi, pengalaman sakit gigi, penggunaan obat pereda nyeri maupun antibiotik, serta pandangan mereka soal keamanan rontgen gigi, bius lokal, dan perawatan saluran akar selama hamil.

Hasil: Jurang Antara "Tahu" dan "Bertindak"

Inilah temuan inti yang membuat studi ini menarik. Ketika ditanya soal keyakinan, ibu hamil menunjukkan kesadaran yang tinggi. Namun ketika dilihat dari tindakan nyata, gambarannya berubah drastis.

Beberapa angka kuncinya:

  • Kebiasaan periksa gigi menurun tajam saat hamil. Sebelum kehamilan, 46,92% peserta rutin memeriksakan gigi. Selama kehamilan, angkanya turun menjadi hanya 26,15%.

  • Sebanyak 92,31% peserta percaya bahwa sakit gigi dan infeksi gigi memang perlu diobati selama kehamilan.

  • Namun, hanya 3,85% yang benar-benar menjalani perawatan saluran akar selama hamil.

  • Sekitar 16,92% mengaku mengalami sakit gigi yang parah selama kehamilan.

Kesenjangan itu terlihat paling jelas pada kelompok yang paling membutuhkan tindakan. Dari 33 perempuan yang mengaku saat ini memiliki gigi yang membutuhkan perawatan saluran akar:

  • 72,73% — atau hampir tiga dari empat — berencana menunda perawatan sampai setelah melahirkan.

  • Hampir separuhnya, 48,48%, sama sekali tidak memakai obat pereda nyeri selama kehamilan — memilih menahan rasa sakit.

Dengan kata lain, mencari tahu dan menyadari pentingnya kesehatan gigi ternyata tidak otomatis berujung pada penerimaan pengobatan. Banyak ibu hamil paham bahwa infeksi harus diatasi, tetapi tetap memilih menunda ketika giliran mereka sendiri tiba.

Ketakutan yang Sering Salah Sasaran: Bius dan Rontgen

Apa yang membuat begitu banyak ibu hamil ragu? Jawabannya sebagian besar terletak pada kekhawatiran terhadap dua prosedur yang lazim menyertai perawatan gigi: bius lokal dan rontgen (foto sinar-X).

  • Hanya 50% peserta yang menganggap bius lokal aman digunakan selama kehamilan.

  • Hanya 23,08% yang percaya bahwa rontgen gigi aman bila dilakukan dengan pelindung apron timbal — artinya, 76,92% menganggapnya tidak aman.

Soal waktu yang dianggap aman untuk perawatan saluran akar, jawabannya pun terbelah. Kelompok terbesar (37,69%) menilai trimester kedua sebagai jendela paling aman — sebuah keyakinan yang sebenarnya cukup selaras dengan anjuran klinis. Namun hampir sebanyak itu pula, 36,15%, meyakini perawatan saluran akar tidak pernah aman di tahap kehamilan mana pun. Hanya 20% yang menganggapnya aman sepanjang kehamilan.

Di sinilah letak persoalannya: kekhawatiran itu, meski manusiawi, sering kali tidak sejalan dengan bukti ilmiah terkini. Menurut pedoman yang dikutip dalam studi ini — termasuk dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) — prosedur gigi yang memerlukan bius lokal dapat dilakukan dengan aman selama kehamilan bila diberikan dalam dosis yang dianjurkan. Lidokain dengan epinefrin, misalnya, dianggap sebagai bius pilihan karena profil keamanannya yang baik. Begitu pula rontgen gigi: dengan teknik modern dan pelindung yang tepat, prosedur ini dinilai aman dan tetap menjadi bagian penting dari diagnosis. Singkatnya, banyak ketakutan yang beredar sudah tidak sesuai dengan apa yang dikatakan bukti.

Siapa yang Paling Ragu?

Studi ini juga menelusuri faktor apa yang berkaitan dengan sikap ibu hamil. Beberapa pola muncul, meski perlu dibaca dengan hati-hati:

  • Ibu yang sudah beberapa kali hamil cenderung lebih mungkin mengunjungi dokter gigi dibandingkan yang baru hamil pertama kali.

  • Ibu yang lebih tua cenderung lebih mungkin memakai obat pereda nyeri saat sakit gigi, dan lebih mungkin menganggap rontgen aman.

  • Ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung lebih mungkin memandang rontgen dan bius lokal sebagai hal yang aman.

Yang menarik, meski mayoritas peserta berpendidikan tinggi, kekhawatiran terhadap keamanan prosedur gigi tetap muncul. Ini memberi pesan penting: pendidikan tinggi saja belum tentu cukup untuk menghapus rasa takut. Para peneliti mengaitkan hal ini dengan kerangka perilaku kesehatan yang menyebutkan bahwa tindakan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh persepsi risiko dan hambatan yang mereka rasakan.

Ada pula temuan halus lainnya: di antara mereka yang butuh perawatan saluran akar, justru ibu yang tidak sedang menahan nyeri hebat yang paling mungkin menunda tindakan. Dengan kata lain, rasa sakit sering menjadi pendorong terakhir yang membuat sebagian ibu akhirnya bersedia dirawat.

Catatan Penting: Apa yang Belum Bisa Dijawab

Seperti semua penelitian, studi ini punya keterbatasan yang perlu disikapi dengan jujur — apalagi karena akan dibaca khalayak umum.

Peserta direkrut lewat metode convenience sampling dari komunitas daring, dengan tingkat respons yang tergolong rendah (26%). Artinya, ibu hamil yang aktif di komunitas online mungkin berbeda tingkat kesadarannya dibanding populasi ibu hamil pada umumnya, sehingga hasilnya belum tentu bisa digeneralisasi ke semua orang.

Kelompok yang paling menjadi sorotan — 33 perempuan yang butuh perawatan saluran akar — jumlahnya kecil, sehingga temuan pada kelompok ini sebaiknya dibaca sebagai awal/eksploratif, bukan kesimpulan final. Selain itu, karena bersifat cross-sectional (memotret satu titik waktu), studi ini hanya bisa menunjukkan kaitan, bukan hubungan sebab-akibat. Data pun berasal dari laporan pribadi peserta, yang tidak selalu mencerminkan kondisi klinis gigi mereka yang sebenarnya. Terakhir, studi ini tidak menilai apakah para ibu sudah menerima informasi atau nasihat dari dokter gigi maupun dokter kandungan mereka — padahal faktor ini bisa sangat memengaruhi keputusan.

Kesimpulan: Menutup Jurang dengan Informasi yang Tepat

Pesan utama studi ini kuat dan relevan: sebagian besar ibu hamil ragu mencari perawatan gigi dan menunda perawatan saluran akar bukan karena tidak sadar pentingnya, melainkan karena rasa takut dan kesalahpahaman soal keamanan prosedur. Jurang antara "tahu" dan "bertindak" inilah yang perlu dijembatani.

Kabar baiknya, jurang ini bisa dipersempit. Komunikasi yang jelas dan berbasis bukti — bukan hanya dari dokter gigi, tetapi juga dari dokter dan bidan yang menangani kehamilan — dapat membantu meluruskan miskonsepsi. Mengintegrasikan pemeriksaan kesehatan mulut ke dalam layanan prenatal rutin, serta memberikan edukasi tentang keamanan, waktu yang tepat, dan pentingnya perawatan, berpotensi mendorong ibu hamil untuk tidak lagi menunda secara otomatis.

Intinya, bagi ibu hamil, perawatan gigi yang memang diperlukan — termasuk perawatan saluran akar — pada umumnya aman dilakukan dengan tindakan pencegahan yang tepat. Menahan sakit atau membiarkan infeksi membesar justru menyimpan risikonya sendiri. Langkah paling bijak bukanlah menunggu sampai setelah melahirkan, melainkan berkonsultasi sejak dini dengan tenaga kesehatan yang tepat.

Referensi

Atav, A., Gunes, A., Ovsay, E., & Topbaş, C. (2026). Evaluation of Pregnant Women's Perspectives on Root Canal Treatment: A Cross-Sectional Study. Healthcare, 14(9), 1138. DOI: https://doi.org/10.3390/healthcare14091138

Carigi Indonesia September 7, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kerangka Kerja Pelatihan Rontgen Gigi Tenaga Radiografi