Karang Gigi Berusia Ratusan Tahun Ungkap Bakteri Mulut Orang Jepang Zaman Edo, termasuk Jejak Tradisi Menghitamkan Gigi

Karang Gigi Berusia Ratusan Tahun Ungkap Bakteri Mulut Orang Jepang Zaman Edo
Karang gigi yang tidak dibersihkan ternyata bisa bertahan ratusan bahkan ribuan tahun, lengkap dengan DNA bakteri yang pernah hidup di mulut pemiliknya. Para peneliti di Jepang memanfaatkan “kapsul waktu” ini untuk meneliti karang gigi dari kerangka manusia zaman Edo (abad ke-17 hingga ke-19).
Hasil penelitian yang terbit di Scientific Reports tahun 2026 ini menunjukkan bahwa:
- bakteri mulut orang Jepang zaman Edo berbeda jelas dari orang Jepang masa kini,
- ada perbedaan antara Jepang daratan dan Okinawa,
- satu mikroba yang berkaitan dengan penyakit gusi terbagi menjadi dua kelompok yang tampaknya berkaitan dengan jenis kelamin,
- semua perempuan yang diketahui mempraktikkan ohaguro, tradisi menghitamkan gigi, membawa kelompok mikroba yang sama.
Karang Gigi, Arsip Kesehatan dari Masa Lalu
Tubuh manusia dihuni kumpulan mikroba yang disebut mikrobioma, termasuk di mulut. Keseimbangannya berkaitan dengan kesehatan gigi dan gusi, dan dipengaruhi gaya hidup seperti pola makan dan penggunaan antibiotik. Para ilmuwan menduga modernisasi telah mengubah mikroba di tubuh manusia dibandingkan nenek moyang kita.
Karang gigi adalah plak yang mengeras, dan di dalamnya DNA bakteri terperangkap serta bisa bertahan sangat lama. Dengan teknologi pembacaan DNA modern, peneliti dapat merekonstruksi bakteri apa saja yang dahulu hidup di mulut seseorang. Selama ini, sebagian besar penelitian semacam ini dilakukan di Eropa dan Amerika Utara, sedangkan penelitian pada orang Jepang kuno masih sangat sedikit.
Mengapa Zaman Edo?
Zaman Edo (sekitar 1600–1868) dinilai cocok untuk diteliti karena:
- Jepang menutup diri dari dunia luar (sakoku), sehingga pengaruh asing sangat terbatas,
- perjalanan antarwilayah dibatasi, sehingga perbedaan antardaerah lebih mudah terlihat,
- masanya relatif baru, sehingga DNA bakteri lebih terawat.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Tim peneliti dari University of Tokyo, Toho University School of Medicine, dan sejumlah lembaga lain di Jepang menganalisis:
| Sampel | Keterangan |
|---|---|
| 118 karang gigi kuno | Sebagian besar zaman Edo, dari situs pemakaman di Tokyo, Saitama, Yamanashi, Fukuoka, dan Okinawa |
| 9 karang gigi orang Jepang masa kini | Dari Niigata, semuanya dengan penyakit gusi sedang hingga berat |
| Data penelitian sebelumnya | Zaman Jomon (sekitar 1000 SM), orang Spanyol masa kini, orang Italia kuno, dan Neanderthal |
DNA dibaca secara menyeluruh. Karena sampel kuno bisa tercemar mikroba dari tanah, peneliti hanya menganalisis bakteri yang dikenal sebagai penghuni mulut. Mereka lalu membandingkan komposisi bakteri antarzaman, antardaerah, dan antarkelompok sosial, serta menelusuri “silsilah” beberapa jenis bakteri.
Apa Hasilnya?
1. Bakteri mulut zaman dulu berbeda dari masa kini
Mikroba Methanobrevibacter oralis, yang berkaitan dengan penyakit gusi, jauh lebih banyak ditemukan pada sampel kuno dan tidak terdeteksi pada sampel orang Jepang masa kini dalam penelitian ini.
Peneliti juga menemukan perbedaan pada gen bakteri pengolah pati. Mereka menduga perubahan ke pola makan modern yang kaya pati olahan ikut mengubah komposisi bakteri mulut.
2. Jepang daratan dan Okinawa berbeda
Bakteri mulut orang zaman dulu di Jepang daratan (Honshu dan Kyushu) sedikit berbeda dari orang di Okinawa, kemungkinan karena gaya hidup yang berbeda.
Perbandingan antara kelas sosial atas (daimyo dan hatamoto, kalangan bangsawan dan samurai berpangkat) dengan kelas lain, serta antara orang kota dan desa, tidak konsisten dan hilang ketika analisis dibatasi pada sampel berkualitas data lebih baik.
3. Jejak zaman Jomon
Beberapa jenis bakteri dari zaman Jomon, masa masyarakat pemburu-peramu, membentuk “garis keturunan” tersendiri yang berbeda dari zaman Edo. Peneliti menduga perubahan ini berkaitan dengan kedatangan pendatang dari daratan Asia sekitar abad ke-10 SM yang membawa budaya bertani padi, sehingga pola makan dan gaya hidup ikut berubah.
4. Mikroba penyakit gusi terbelah dua dan berkaitan dengan jenis kelamin
Methanobrevibacter oralis ternyata terbagi menjadi dua kelompok genetik:
| Kelompok | Lebih sering ditemukan pada |
|---|---|
| Klad A | Laki-laki |
| Klad B | Perempuan |
Pada sepasang ayah dan anak perempuan, mikroba sang ayah masuk ke kelompok “laki-laki”, sedangkan mikroba putrinya masuk ke kelompok “perempuan”. Kedua kelompok ini diperkirakan mulai berpisah sekitar awal Masehi.
5. Jejak tradisi menghitamkan gigi (ohaguro)
Ohaguro adalah tradisi menghitamkan gigi yang banyak dilakukan perempuan dewasa, terutama yang sudah menikah, pada zaman Edo. Ramuannya terbuat dari larutan besi yang dicampur tanin dari serbuk empedu tumbuhan.
Peneliti menemukan bahwa semua sampel perempuan yang sebelumnya diketahui memiliki jejak ohaguro membawa mikroba dari klad B. Mikroba di kelompok ini juga memiliki perubahan khas pada gen yang berkaitan dengan besi.
Peneliti menduga ramuan ohaguro yang kaya besi menciptakan lingkungan mulut khusus yang menguntungkan kelompok mikroba tertentu. Bila benar, ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana budaya manusia dapat memengaruhi evolusi mikroba di dalam mulut.
Catatan Penting
Keterbatasan yang diakui peneliti:
- Hasil analisis bisa berubah tergantung kriteria data, karena DNA kuno mudah rusak dan tercemar.
- Database bakteri mulut sebagian besar disusun dari populasi Barat, sehingga keragaman bakteri orang Jepang kuno mungkin belum tergambar sepenuhnya.
- Banyak sampel tidak diketahui jenis kelaminnya, sehingga kaitan mikroba dan jenis kelamin perlu ditafsirkan hati-hati.
Catatan redaksi:
- Kaitan dengan ohaguro masih berupa dugaan. Jejak ohaguro tidak dicatat secara sistematis pada setiap sampel, hanya pada beberapa sampel yang sebelumnya dilaporkan.
- Kaitan dengan jenis kelamin berada di batas bermakna. Hasilnya bermakna dengan satu metode analisis, tetapi sedikit di atas batas bermakna dengan metode lain.
- Sampel orang Jepang masa kini sangat sedikit, hanya 9 orang dan semuanya dengan penyakit gusi, sehingga belum mewakili orang Jepang modern secara umum.
- Ini penelitian sejarah dan evolusi, bukan penelitian cara merawat gigi. Temuan ini tidak berarti menghitamkan gigi bermanfaat bagi kesehatan mulut.
Pesan Praktis
Di balik penelitian sejarah ini ada pesan sederhana: karang gigi bisa bertahan sangat lama dan menjadi tempat bersarangnya bakteri, termasuk bakteri penyebab penyakit gusi.
- Karang gigi tidak bisa hilang hanya dengan menyikat gigi. Bersihkan secara rutin ke dokter gigi.
- Sikat gigi dua kali sehari dan bersihkan sela gigi agar plak tidak sempat mengeras menjadi karang gigi.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa karang gigi kuno dapat membuka jendela ke masa lalu. Bakteri mulut orang Jepang zaman Edo berbeda dari orang Jepang masa kini, ada perbedaan antara Jepang daratan dan Okinawa, dan beberapa jenis bakteri menunjukkan perubahan “garis keturunan” sejak zaman Jomon. Satu mikroba yang berkaitan dengan penyakit gusi bahkan terbagi menjadi dua kelompok yang tampaknya berkaitan dengan jenis kelamin, dan mungkin dengan tradisi menghitamkan gigi. Menurut para peneliti, temuan ini menegaskan bahwa budaya, pola makan, dan sejarah manusia ikut membentuk mikroba di dalam tubuh kita.
Referensi
- Kuriyama Y, Mizuno F, Yamada T, Kumagai M, Tanaka M, Naka I, dkk. Insights into demographic and cultural influences on the oral microbiome from historical Japanese dental calculus. Scientific Reports. 2026;16:17522. https://doi.org/10.1038/s41598-026-55286-2