Skip to Content

Kaitan Kehilangan Gigi & Kadar Kolesterol Darah

September 13, 2026 by
Carigi Indonesia

Kaitan Kehilangan Gigi & Kadar Kolesterol Darah

Kaitan Kehilangan Gigi & Kadar Kolesterol Darah

Gigi Ompong dan Kolesterol Ternyata Berkaitan — dan Kuncinya Mungkin Ada di Piring Makan

Kebanyakan orang menganggap kehilangan gigi sekadar masalah gigi — soal senyum dan kemampuan mengunyah. Tapi sebuah tinjauan ilmiah yang merangkum puluhan penelitian selama beberapa dekade menemukan sesuatu yang mengejutkan: orang yang kehilangan lebih banyak gigi cenderung memiliki profil kolesterol yang lebih buruk — kolesterol "baik" lebih rendah, kolesterol "jahat" lebih tinggi. Apa penyebabnya? Penjelasan yang paling masuk akal justru sederhana: ketika sulit mengunyah, pola makan pun ikut memburuk. Namun ada satu catatan penting — para ilmuwan baru bisa memastikan keduanya BERKAITAN, bukan bahwa yang satu menyebabkan yang lain. Bisa jadi, kehilangan gigi hanyalah "penanda" dari gaya hidup yang secara keseluruhan kurang sehat. Meski begitu, temuan ini menjadi pengingat kuat bahwa kesehatan mulut dan kesehatan tubuh jauh lebih terhubung daripada yang kita kira.

Kehilangan Gigi: Lebih dari Sekadar Masalah Senyum

Kehilangan gigi umumnya adalah akibat akhir dari penyakit gusi (periodontitis) yang parah atau trauma, dan makin sering terjadi seiring bertambahnya usia. Dalam dunia kedokteran gigi, ada ambang yang sering dipakai: seseorang perlu mempertahankan setidaknya 20 gigi untuk bisa mengunyah dengan baik. Bila jumlahnya turun di bawah itu, fungsi mengunyah mulai terganggu. Kondisi paling ekstrem adalah ompong total (kehilangan seluruh gigi asli), yang dialami hampir seperlima orang berusia lanjut.

Selama ini, dampak kehilangan gigi dilihat sebatas kesulitan makan dan estetika. Tinjauan ini mencoba melihat lebih jauh: adakah kaitannya dengan kondisi kesehatan di dalam tubuh — khususnya kolesterol?

Kolesterol Baik dan Buruk: Penyegaran Singkat

Sebelum masuk ke temuan, mari kita segarkan sedikit. "Kolesterol" sebenarnya bukan satu hal tunggal. Ada kolesterol HDL yang sering disebut "kolesterol baik" karena membantu membersihkan pembuluh darah. Ada kolesterol LDL, si "kolesterol jahat", yang bila berlebih menumpuk di pembuluh darah. Ada pula trigliserida, sejenis lemak dalam darah yang kadar tingginya juga tidak sehat.

Kondisi ketika keseimbangan ini terganggu — HDL terlalu rendah, LDL dan trigliserida terlalu tinggi — disebut dislipidemia, dan merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit metabolik dan jantung. Inilah "profil kolesterol yang buruk" yang menjadi fokus penelitian.

Apa yang Dilakukan Para Peneliti

Dua peneliti dari Shanghai Jiao Tong University dan Peking University, Tiongkok, melakukan sebuah tinjauan pemetaan (scoping review). Penting untuk memahami jenis penelitian ini: alih-alih melakukan satu eksperimen, tinjauan pemetaan mengumpulkan dan memetakan bukti dari banyak penelitian yang sudah ada untuk melihat gambaran besar dan pola yang muncul.

Para peneliti menyisir empat basis data ilmiah besar, mencakup literatur dari tahun 1968 hingga September 2025. Dari sekian banyak artikel, mereka menganalisis 23 penelitian yang secara langsung mengukur kehilangan gigi sekaligus kadar kolesterol pada orang dewasa. Satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: jenis tinjauan ini bertujuan memetakan kaitan, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.

Temuan Utama: Makin Banyak Gigi Hilang, Makin Buruk Kolesterol

Hasilnya cukup konsisten. Dari 23 penelitian, mayoritas (16 di antaranya) menemukan kaitan yang bermakna antara kehilangan gigi yang lebih banyak dan profil kolesterol yang lebih buruk — ditandai dengan HDL (kolesterol baik) yang lebih rendah, serta LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida yang lebih tinggi.

Yang lebih menarik, muncul pola "dosis-respons": semakin banyak gigi yang hilang, semakin buruk pula profil kolesterolnya, secara bertahap. Dengan kata lain, ini bukan sekadar perbedaan antara "punya gigi" dan "ompong", melainkan tampak seperti gradasi — makin sedikit gigi tersisa, makin tidak sehat gambaran kolesterolnya.

Mengapa Bisa Terkait? Tiga Kemungkinan Penjelasan

Di sinilah bagian yang paling menarik. Para peneliti mengajukan tiga jalur yang mungkin menjelaskan kaitan ini.

1. Jalur nutrisi (penjelasan utama). Inilah dugaan yang paling kuat dan paling masuk akal. Ketika kehilangan banyak gigi, seseorang jadi sulit mengunyah makanan yang keras dan berserat — seperti buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Akibatnya, ia cenderung beralih ke makanan yang lebih lunak, olahan, dan berlemak. Perubahan pola makan inilah yang perlahan memperburuk kolesterol: kekurangan serat mengganggu pembuangan kolesterol lewat usus, sementara asupan lemak jenuh yang meningkat mendorong produksi kolesterol jahat.

2. Jalur peradangan. Kehilangan gigi sering mencerminkan penyakit gusi kronis. Bakteri pada gusi yang meradang dapat memicu peradangan menyeluruh di tubuh, yang diduga mengganggu kemampuan kolesterol baik (HDL) dalam menjalankan fungsi pelindungnya.

3. Jalur "faktor risiko bersama". Ini penjelasan yang paling jujur sekaligus paling perlu diperhatikan. Bisa jadi, kehilangan gigi bukanlah penyebab kolesterol buruk, melainkan sekadar penanda dari sekumpulan kebiasaan yang kurang sehat — seperti pola makan buruk, merokok, dan kurangnya perhatian pada kesehatan. Faktor-faktor inilah yang secara bersamaan merusak gigi sekaligus kolesterol. Menariknya, salah satu penelitian menemukan bahwa kaitan gigi–kolesterol justru menghilang setelah faktor gaya hidup diperhitungkan — mengisyaratkan bahwa gigi mungkin hanya "ikut terseret", bukan menjadi biang keladinya.

Memperbaiki Gigi dan Hubungan Dua Arah

Tinjauan ini juga menemukan petunjuk menarik soal pemulihan. Pada orang yang kehilangan sebagian gigi lalu memakai gigi tiruan sebagian, terlihat perbaikan pada kadar kolesterolnya — kemungkinan karena kemampuan mengunyah yang pulih memungkinkan pola makan yang lebih sehat. Namun, perbaikan ini tidak konsisten terlihat pada pengguna gigi tiruan lengkap (ompong total), yang diduga karena gigi tiruan lengkap belum sepenuhnya mengembalikan efisiensi mengunyah gigi asli. Beberapa bukti menunjukkan gigi tiruan berbasis implan justru lebih baik dalam memperbaiki kualitas makan.

Selain itu, hubungan ini tampaknya dua arah. Bukan hanya kehilangan gigi yang berkaitan dengan kolesterol buruk; sebaliknya, profil kolesterol yang buruk juga teridentifikasi sebagai salah satu faktor risiko kehilangan gigi di kemudian hari. Keduanya seolah saling memengaruhi.

Catatan Penting: Ini Kaitan, Bukan Sebab-Akibat

Bagian ini wajib dibaca agar tidak salah menyimpulkan — dan justru di sinilah kejujuran ilmiah tinjauan ini.

  • Ini adalah tinjauan pemetaan (scoping review), yang bertujuan memetakan bukti, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat. Para penulisnya sendiri secara tegas menyatakan bahwa hasil ini menunjukkan kaitan, dan tidak bisa menyimpulkan bahwa kehilangan gigi menyebabkan kolesterol buruk (atau sebaliknya).

  • Tidak dilakukan penilaian mutu formal terhadap penelitian-penelitian yang dirangkum, dan desain studinya beragam. Ini konsekuensi wajar dari jenis tinjauan pemetaan, tetapi membuat kesimpulannya bersifat gambaran umum.

  • Kaitannya tidak universal. Meski mayoritas menemukan hubungan, sebagian penelitian (5 dari 23) justru tidak menemukan kaitan yang bermakna.

  • Seperti dibahas di atas, kaitan ini bisa jadi dipengaruhi faktor gaya hidup bersama, sehingga kehilangan gigi belum tentu menjadi penyebab langsung.

Dengan kata lain, temuan ini adalah petunjuk yang menarik dan patut ditindaklanjuti, bukan vonis bahwa gigi ompong pasti membawa kolesterol tinggi.

Kesimpulan: Merawat Gigi Adalah Bagian dari Menjaga Kesehatan Tubuh

Pesan utama tinjauan ini menyegarkan cara kita memandang kesehatan mulut. Kehilangan gigi ternyata berkaitan dengan profil kolesterol yang lebih buruk — kemungkinan besar karena kesulitan mengunyah mengubah pola makan menjadi kurang sehat, dengan kemungkinan tambahan dari peradangan dan gaya hidup. Meski hubungan sebab-akibatnya belum bisa dipastikan, kaitannya cukup konsisten untuk menjadi bahan renungan.

Bagi masyarakat awam, intinya sederhana: kesehatan mulut bukan urusan yang terpisah dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Menjaga gigi tetap sehat dan utuh — lewat perawatan rutin ke dokter gigi, kebersihan mulut yang baik, dan pola makan bergizi — bisa jadi memberi manfaat yang melampaui sekadar senyum yang indah. Dan bagi yang sudah kehilangan gigi, mengembalikan kemampuan mengunyah (misalnya dengan gigi tiruan atau implan yang sesuai) sambil tetap menjaga pola makan sehat, patut dipertimbangkan bersama dokter. Bagi dunia kesehatan, penelitian ini menjadi pengingat untuk tidak memandang mulut sebagai organ yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari kesehatan metabolik yang utuh.

Referensi

Wan, K., & Wan, K. (2026). The association between tooth loss and serum cholesterol levels in adults: a scoping review. BMC Oral Health, 26, 62. 

DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-025-07431-y

Carigi Indonesia September 13, 2026
Share this post
Tags
Archive
Efek Sikat Interdental & Asam pada Enamel Gigi