Kaitan Kehilangan Gigi dan Degradasi Struktur Otak
September 4, 2026by
Carigi Indonesia
Kaitan Kehilangan Gigi dan Degradasi Struktur Otak
Ketika Gigi Tanggal, Apa yang Terjadi pada Otak?
Studi jangka panjang para peneliti Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) menemukan bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan menurunnya integritas "jaringan kabel" penghubung di otak—sebuah kaitan yang bertahan hingga lebih dari satu dekade. Tetapi, apakah ini berarti sebab-akibat?
Kita tahu bahwa kehilangan gigi mengganggu kemampuan mengunyah dan rasa percaya diri. Tetapi mungkinkah gigi yang tanggal juga berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih dalam—kesehatan otak kita?
Selama ini, sejumlah penelitian telah mengaitkan kehilangan gigi dengan penurunan fungsi kognitif dan demensia pada lansia. Namun sebagian besar hanya berupa "potret sesaat". Kini, sekelompok peneliti dari NIH mencoba menggali lebih jauh: apa yang sebenarnya terjadi pada struktur otak seiring bertambahnya gigi yang hilang? Hasil studi mereka diterbitkan di Journal of Dentistry.
Konteks: Gigi, Otak, dan Penuaan
Seiring bertambahnya usia, kesehatan mulut cenderung menurun. Kehilangan gigi sendiri umumnya merupakan akumulasi dari berbagai hal sepanjang hidup—penyakit gusi atau gigi berlubang yang tak tertangani. Yang menarik, banyak studi menemukan bahwa kehilangan gigi kerap berjalan seiring dengan menurunnya daya ingat dan meningkatnya risiko demensia.
Mengapa bisa terkait? Para ilmuwan menduga beberapa jalur: gizi yang memburuk akibat sulit mengunyah, bakteri dari mulut yang menyebar ke aliran darah, peradangan kronis, hingga gangguan pembuluh darah. Namun, bukti yang ada sebelumnya kebanyakan bersifat sesaat dan berskala kecil, sehingga belum jelas apakah kehilangan gigi benar-benar mendahului kemunduran otak dari waktu ke waktu.
Untuk memahami hasil studi ini, ada satu konsep kunci yang perlu dipahami: materi putih otak (white matter). Jika bagian "abu-abu" otak adalah pusat pemrosesan, maka materi putih adalah jaringan kabelnya—serat-serat saraf yang menghubungkan berbagai wilayah otak agar bisa saling "berbicara". Ketika kualitas kabel ini menurun, sinyal antar-bagian otak melambat atau terganggu, dan hal ini merupakan ciri umum penyakit-penyakit neurodegeneratif.
Apa yang Dilakukan Peneliti
Para peneliti memanfaatkan data dari Baltimore Longitudinal Study of Aging—salah satu studi penuaan terpanjang di dunia, yang berjalan sejak 1958. Sebanyak 375 peserta (rata-rata berusia sekitar 65 tahun) diikutsertakan.
Untuk setiap peserta, jumlah gigi yang hilang dihitung (dari total 28 gigi, di luar gigi bungsu)—dengan rata-rata kehilangan sebanyak 3 gigi. Yang membuat studi ini istimewa adalah pemantauannya: kondisi otak setiap peserta dipindai berulang kali menggunakan MRI canggih selama hingga 12 tahun. Selain memindai ukuran otak dan kerusakan yang terlihat, mereka juga menggunakan teknik khusus bernama DTI (diffusion tensor imaging)—metode yang mampu mendeteksi kerusakan halus pada "kabel" otak, bahkan sebelum kerusakan itu tampak sebagai luka nyata.
Tak hanya itu. Untuk menguji dugaan bahwa peradangan adalah biang penghubungnya, para peneliti juga mengukur berbagai penanda peradangan dalam darah peserta.
Hasilnya: Sebuah Kaitan yang Bertahan Lama
Potret sesaat: gigi hilang berkaitan dengan otak yang menyusut di area kunci. Pada satu titik waktu, peserta dengan lebih banyak gigi yang hilang cenderung memiliki volume otak lebih kecil di area yang terkait daya ingat—seperti hippocampus dan entorhinal cortex, wilayah yang justru paling terdampak pada penyakit Alzheimer. Mereka juga menunjukkan lebih banyak kerusakan pada materi putih di bagian dalam otak. Namun, temuan ini bersifat "potret", bukan ramalan—artinya, tidak berarti gigi yang hilang akan mempercepat penyusutan otak ke depannya.
Temuan utama: kaitan yang berlanjut dari waktu ke waktu. Inilah bagian paling baru dari penelitian ini. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak gigi yang hilang, semakin cepat pula menurunnya integritas materi putih di dua wilayah penting: corpus callosum (jembatan saraf yang menghubungkan belahan otak kiri dan kanan) serta corona radiata (berkas serat berbentuk kipas yang menghubungkan bagian dalam otak dengan lapisan luarnya). Kedua wilayah ini berperan penting dalam menyatukan fungsi sensorik, motorik, dan proses berpikir.
Ternyata bukan (hanya) soal peradangan. Peserta dengan lebih banyak gigi hilang memang menunjukkan tanda peradangan yang lebih tinggi, seperti jumlah sel darah putih. Namun ketika para peneliti memperhitungkan faktor peradangan ini dalam analisis, kaitan antara kehilangan gigi dan kemunduran materi putih tetap ada. Dengan kata lain, peradangan saja tidak cukup menjelaskan hubungan tersebut—masih ada mekanisme lain yang belum terungkap.
Penting: Kaitan Belum Tentu Sebab-Akibat
Di sinilah kehati-hatian diperlukan. Temuan ini menunjukkan adanya kaitan, bukan bukti bahwa kehilangan gigi menyebabkan kemunduran otak. Para peneliti sendiri menekankan beberapa kemungkinan lain.
Bisa jadi hubungannya berjalan sebaliknya: orang yang otaknya mulai rentan mungkin lebih sulit menjaga kebersihan mulut dan mengakses perawatan gigi, sehingga giginya lebih mudah tanggal. Atau, keduanya sama-sama dipengaruhi faktor bersama seperti kondisi sosial-ekonomi dan gaya hidup. Menentukan "mana yang lebih dulu" masih memerlukan penelitian lanjutan.
Apa Artinya untuk Kita
Meski belum membuktikan sebab-akibat, studi ini memperkuat gambaran yang semakin jelas: kesehatan mulut dan kesehatan otak saling terhubung. Menjaga gigi tetap sehat dan utuh berpotensi menjadi salah satu bagian dari strategi merawat otak di usia lanjut—sebuah alasan tambahan, di luar senyum dan kemampuan mengunyah, untuk tidak mengabaikan kesehatan gigi.
Lebih dari itu, karena kondisi gigi mudah diamati, jumlah gigi yang hilang berpotensi menjadi penanda sederhana yang membantu mengenali risiko kesehatan otak sejak dini.
Catatan Penting: Batasan Penelitian
Para penulis mengakui beberapa keterbatasan. Peserta studi ini cenderung lebih sehat daripada populasi umum, sehingga dampaknya mungkin justru lebih kuat di masyarakat luas. Jumlah peserta juga tergolong moderat, yang membatasi kekuatan statistik. Selain itu, sekadar menghitung jumlah gigi yang hilang merupakan gambaran kasar yang belum menangkap seluruh aspek penyakit gigi. Dan sekali lagi, desain studi ini belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat.
Kendati begitu, kekuatan utama penelitian ini terletak pada pemantauan jangka panjangnya (hingga 12 tahun) serta pemindaian otak yang menyeluruh dan mendetail.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan menurunnya integritas materi putih otak secara bertahap selama lebih dari satu dekade—independen dari faktor peradangan. Meski belum membuktikan sebab-akibat, temuan ini menambah bukti kuat bahwa merawat kesehatan mulut mungkin merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Pesannya sederhana namun menggugah: apa yang terjadi di dalam mulut kita, boleh jadi, tak berhenti di mulut saja.
Referensi
Tian Q, Qi X, Greig EE, Landman BA, Davatzikos C, Resnick SM, Wu B, Ferrucci L. Tooth loss is associated with subsequent brain white matter degradation up to over a decade. Journal of Dentistry. 2026;171:106732. DOI: https://doi.org/10.1016/j.jdent.2026.106732