Semakin Banyak Gigi yang Hilang, Semakin Berat Beban di Pembuluh Darah?
Sebuah tinjauan sistematis terhadap 13 penelitian dan 6.680 pasien menemukan bahwa orang dengan aterosklerosis—penyumbatan pembuluh darah—rata-rata kehilangan tiga gigi lebih banyak dibanding orang tanpa penyakit tersebut. Tapi apakah ini berarti gigi ompong "menyebabkan" penyakit jantung? Jawabannya jauh lebih menarik daripada sekadar ya atau tidak.
Selama ini kita cenderung memisahkan urusan mulut dari urusan jantung. Gigi berlubang atau gusi bermasalah dianggap urusan dokter gigi, sementara tekanan darah dan penyumbatan pembuluh darah adalah wilayah dokter jantung. Namun tubuh manusia tidak bekerja dalam kotak-kotak terpisah. Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa apa yang terjadi di dalam mulut bisa berkaitan erat dengan kesehatan seluruh tubuh—termasuk pembuluh darah kita.
Sebuah tim peneliti dari Universidad del Valle di Kolombia baru saja merangkum bukti-bukti tersebut dalam sebuah kajian menyeluruh. Studi mereka, yang diterbitkan di jurnal Evidence-Based Dentistry (bagian dari Springer Nature) pada 2026, mengajukan satu pertanyaan sederhana namun penting: adakah kaitan antara aterosklerosis dan kehilangan gigi pada orang dewasa?
Konteks: Dua Masalah yang Ternyata "Bertetangga"
Untuk memahami penelitian ini, mari kita kenali dulu dua pemainnya.
Aterosklerosis adalah kondisi ketika lemak menumpuk di dinding pembuluh darah, membentuk plak yang lama-kelamaan mempersempit dan mengeraskan arteri. Prosesnya didorong oleh peradangan kronis. Jika plak ini pecah atau menyumbat total, akibatnya bisa fatal: serangan jantung atau stroke. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip dalam studi ini, penyakit jantung dan pembuluh darah akibat aterosklerosis merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia.
Kehilangan gigi, di sisi lain, paling sering disebabkan oleh penyakit gusi (periodontitis). Tetapi bukan itu saja—gigi berlubang (karies), infeksi di ujung akar gigi, hingga trauma juga bisa berujung pada tanggalnya gigi. Yang menarik, sebagian besar penyebab ini memiliki satu kesamaan: peradangan dan infeksi.
Di sinilah jembatan antara mulut dan pembuluh darah mulai terlihat. Bakteri dari mulut yang bermasalah bisa masuk ke aliran darah, menempel di dinding pembuluh, dan diduga ikut memicu pembentukan plak. Salah satu bakteri utama penyebab gigi berlubang, Streptococcus mutans, bahkan dalam beberapa penelitian laboratorium terbukti mampu merusak lapisan dalam pembuluh darah. Peradangan yang dipicu kondisi mulut juga melepaskan zat-zat kimia yang mendorong proses penyumbatan pembuluh. Dengan latar belakang inilah para peneliti menduga: jika mulut dan pembuluh darah berbagi "musuh" yang sama, mungkin kehilangan gigi dan aterosklerosis pun saling berkaitan.
Apa yang Dilakukan Peneliti
Penelitian ini bukan percobaan baru terhadap pasien, melainkan sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis—metode yang mengumpulkan, menyaring, dan menggabungkan hasil dari banyak penelitian yang sudah ada menjadi satu kesimpulan yang lebih kuat. Anggap saja seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzle dari berbagai peneliti di seluruh dunia untuk melihat gambaran besarnya.
Prosesnya dilakukan dengan sangat ketat. Peneliti menyisir empat basis data ilmiah besar (PubMed, Scopus, Web of Science, dan LILACS) dan menemukan 390 artikel dari pencarian database, ditambah puluhan lagi dari sumber lain. Setelah menyingkirkan duplikat dan menyaringnya lewat kriteria yang ketat—dinilai oleh dua peneliti secara independen agar objektif—akhirnya tersisa 13 penelitian yang layak dianalisis.
Total, penelitian-penelitian itu mencakup 6.680 pasien dengan usia rata-rata sekitar 65 tahun, yang berasal dari sembilan negara: Brasil, Belanda, Tiongkok, Turki, Amerika Serikat, Jepang, Korea, Meksiko, dan India. Peneliti lalu membandingkan dua kelompok—mereka yang memiliki aterosklerosis versus mereka yang tidak—dan mengukur dua hal: rata-rata jumlah gigi yang hilang, serta jumlah orang yang mengalami kehilangan gigi parah (didefinisikan sebagai hilangnya 20 gigi atau lebih). Kualitas setiap penelitian juga dinilai secara cermat untuk memastikan kesimpulannya bisa dipercaya.
Hasilnya: Rata-Rata Tiga Gigi Lebih Banyak yang Hilang
Inilah temuan utamanya. Setelah semua data digabungkan, orang dengan aterosklerosis rata-rata kehilangan 3 gigi lebih banyak dibanding orang tanpa aterosklerosis (tepatnya 3,08 gigi). Angka ini secara statistik bermakna, artinya kecil kemungkinannya terjadi hanya karena kebetulan.
Namun ada satu kejutan yang penting. Ketika peneliti khusus melihat kasus kehilangan gigi parah (20 gigi atau lebih), perbedaan antara kedua kelompok tidak lagi bermakna secara statistik. Dengan kata lain, aterosklerosis tampak berkaitan dengan "kehilangan lebih banyak gigi" secara umum, tetapi bukti untuk mengaitkannya dengan kondisi ompong yang parah masih lemah. Ini nuansa yang jujur dan penting—dan kita akan bahas alasannya di bagian batasan penelitian.
Temuan menarik lainnya: kelompok dengan aterosklerosis juga cenderung memikul lebih banyak faktor risiko kesehatan lain. Mereka lebih banyak yang merokok, lebih tinggi angka tekanan darah tingginya (sekitar 58% berbanding 50% pada kelompok tanpa aterosklerosis), lebih banyak yang mengidap diabetes (sekitar 24% berbanding 19%), dan cenderung memiliki berat badan berlebih. Pola ini memperkuat gambaran bahwa aterosklerosis, penyakit mulut, dan gangguan pembuluh darah sama-sama tumbuh subur di atas kondisi tubuh yang sarat peradangan.
Mengapa Keduanya Bisa Saling Terkait?
Para peneliti menjelaskan beberapa kemungkinan mekanisme yang menghubungkan kehilangan gigi dan aterosklerosis. Benang merahnya adalah peradangan yang meluas ke seluruh tubuh.
Diabetes dan obesitas, misalnya, sama-sama memicu resistensi insulin dan peradangan kronis yang mempercepat kerusakan pembuluh darah. Tekanan darah tinggi menimbulkan tekanan mekanis pada dinding pembuluh, memicu stres oksidatif yang melemahkan fungsi pembuluh dan mempercepat pembentukan plak. Asap rokok menghasilkan senyawa berbahaya yang merusak lapisan pembuluh darah dan mendorong terbentuknya "sel busa"—langkah awal penyumbatan. Semua faktor ini, ditambah kemungkinan masuknya bakteri mulut ke aliran darah, menciptakan lingkungan yang sama-sama merugikan bagi kesehatan gigi maupun jantung.
Penting: Ini "Kaitan", Bukan "Sebab-Akibat"
Bagian ini adalah kunci untuk membaca penelitian ini dengan benar, dan para penelitinya sendiri sangat menekankannya.
Menemukan kaitan (asosiasi) tidak sama dengan membuktikan sebab-akibat. Fakta bahwa orang dengan aterosklerosis cenderung punya lebih sedikit gigi tidak berarti kehilangan gigi menyebabkan penyakit pembuluh darah, atau sebaliknya. Ada penjelasan lain yang sama masuk akalnya: mungkin keduanya sekadar berbagi akar yang sama—peradangan, pola hidup, merokok, diabetes—sehingga muncul bersamaan tanpa yang satu menyebabkan yang lain.
Bahkan bisa jadi ada faktor ketiga yang berperan. Orang dengan kondisi kesehatan yang secara umum buruk, keterbatasan ekonomi, atau akses yang sulit ke layanan gigi, bisa saja kehilangan gigi karena alasan-alasan tersebut—bukan karena aterosklerosisnya. Karena itu, para peneliti menegaskan bahwa kehilangan gigi tidak bisa diperlakukan sebagai alat prediksi atau sebagai akibat langsung dari aterosklerosis. Yang lebih tepat, kehilangan gigi mungkin berperan sebagai salah satu penanda yang muncul berbarengan dengan beban penyakit pembuluh darah dan faktor-faktor risiko sistemik lainnya.
Apa Artinya untuk Kita
Meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat, penelitian ini membawa pesan yang sangat relevan bagi kehidupan sehari-hari: kesehatan mulut bukan urusan yang terpisah dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kondisi gigi dan gusi bisa menjadi cermin—dan mungkin salah satu sinyal dini—dari apa yang sedang terjadi di dalam tubuh kita.
Bagi dunia kesehatan, temuan ini mendukung gagasan untuk memasukkan pemeriksaan kesehatan mulut ke dalam penilaian risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Dokter gigi pun berpeluang memainkan peran yang lebih besar: bukan sekadar merawat gigi, tetapi juga membantu mengenali pasien yang mungkin perlu perhatian lebih terhadap kesehatan pembuluh darahnya.
Konteks ini terasa dekat dengan Indonesia. Kehilangan gigi pada usia dewasa dan lanjut usia masih menjadi persoalan yang lazim di negara kita, sementara penyakit jantung dan stroke termasuk penyebab kematian tertinggi. Jika menjaga kesehatan mulut—rajin menyikat gigi, mengobati gigi berlubang sejak dini, dan memeriksakan gigi secara rutin—dapat berjalan seiring dengan menjaga kesehatan jantung, maka pendekatan yang menyatukan keduanya berpotensi memberi manfaat ganda bagi kesehatan masyarakat.
Catatan Penting: Batasan Penelitian
Sebagai kajian yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya, dan ini penting agar kita tidak menarik kesimpulan berlebihan.
Pertama, tingkat kepastian buktinya tergolong sangat rendah. Sebagian besar penelitian yang dirangkum berjenis potong-lintang (cross-sectional)—yaitu memotret kondisi pada satu titik waktu. Desain seperti ini pada dasarnya tidak bisa membuktikan mana yang lebih dulu terjadi, sehingga tidak mampu menetapkan sebab-akibat.
Kedua, penelitian-penelitian yang digabungkan sangat beragam dalam metode dan populasinya, sehingga sulit dibandingkan secara apel-ke-apel. Ketiga, untuk kasus kehilangan gigi parah, hanya ada empat penelitian yang tersedia—terlalu sedikit untuk menghasilkan kesimpulan yang kokoh, dan inilah salah satu sebab mengapa kaitannya menjadi tidak bermakna. Keempat, tidak satu pun penelitian yang mencatat alasan pasien kehilangan gigi, padahal informasi itu penting untuk memahami hubungannya dengan aterosklerosis.
Karena itu, hasil penelitian ini sebaiknya dibaca sebagai petunjuk awal yang menjanjikan, bukan sebagai kata akhir. Para peneliti menyerukan perlunya studi lanjutan dengan desain yang lebih kuat—yang mampu mengikuti pasien dari waktu ke waktu dan mengendalikan berbagai faktor pengganggu—untuk menjawab pertanyaan ini secara lebih meyakinkan.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan adanya kaitan antara kehilangan gigi dan aterosklerosis pada orang dewasa, yang kemungkinan besar bersumber dari faktor-faktor risiko yang sama: peradangan, gangguan metabolik, dan pola hidup. Namun bukti yang ada belum cukup untuk menyatakan bahwa yang satu menyebabkan yang lain.
Pesan yang bisa kita bawa pulang sederhana namun kuat: mulut yang sehat adalah bagian dari tubuh yang sehat. Merawat gigi dan gusi bukan sekadar demi senyum yang menawan, tetapi juga bisa menjadi salah satu bentuk investasi bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah kita. Dan bagi para peneliti, kehilangan gigi layak dilirik ke depan sebagai kemungkinan penanda yang mengiringi risiko kesehatan sistemik—sebuah pengingat bahwa segala sesuatu di dalam tubuh kita, hingga ke gigi terkecil, saling terhubung.
Referensi
Velasco-Ceballos JD, Varela JP, Baena-Caldas GP, Rodríguez ML, Moreno-Drada JA. Association between atherosclerosis and tooth loss in adult patients: systematic review and meta-analysis. Evidence-Based Dentistry. 2026;27.