Skip to Content

Kaitan Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut & Bau Mulut Anak

September 15, 2026 by
Carigi Indonesia

Kaitan Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut & Bau Mulut Anak

Kaitan Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut & Bau Mulut Anak

Sering Bernapas Lewat Mulut, Anak Lebih Rentan Bau Mulut

Sebuah studi terhadap 232 anak usia 2–6 tahun di Arab Saudi menemukan bahwa balita dan anak prasekolah yang terbiasa bernapas lewat mulut lebih dari dua kali lebih mungkin mengalami bau mulut dibanding mereka yang bernapas lewat hidung. Menariknya, jenis kelamin tidak berpengaruh sama sekali.

Sebagai orang tua, mungkin Anda pernah memperhatikan napas si kecil terasa kurang segar, meski giginya rajin disikat. Kita cenderung langsung menduga penyebabnya adalah makanan atau gigi berlubang. Tetapi ada satu faktor yang sering luput dari perhatian: cara anak bernapas. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan bernapas lewat mulut—bukan hidung—ternyata berkaitan erat dengan munculnya bau mulut pada anak-anak kecil.

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Taibah University di Madinah, Arab Saudi, dan diterbitkan dalam jurnal Pediatric Health, Medicine and Therapeutics (penerbit Dove Medical Press) pada 2026. Fokusnya adalah kelompok usia yang selama ini jarang diteliti: anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun—usia prasekolah, ketika struktur wajah dan rahang sedang aktif berkembang.

Konteks: Mengapa Cara Bernapas Bisa Memengaruhi Napas

Bernapas lewat mulut adalah kondisi yang jauh lebih umum daripada yang kita kira—diperkirakan terjadi pada sekitar 5% hingga 75% populasi anak. Berbeda dengan bernapas lewat hidung, udara yang masuk lewat mulut tidak tersaring dan tidak dihangatkan dengan baik. Namun kaitannya dengan bau mulut sebenarnya berpusat pada satu hal yang sederhana: air liur.

Air liur (saliva) yang sebagian besar terdiri dari air memiliki peran penting sebagai "pembersih alami" mulut. Ia membantu melawan bakteri, melindungi jaringan mulut, dan menekan produksi zat-zat berbau. Nah, ketika seorang anak terbiasa bernapas dengan mulut terbuka, air liur lebih cepat menguap dan mulut menjadi kering. Mulut yang kering kehilangan kemampuan membersihkan dirinya sendiri, sehingga bakteri lebih leluasa mengurai sisa-sisa sel dan menghasilkan senyawa belerang yang mudah menguap—biang bau mulut yang khas itu.

Selain memicu bau mulut, kebiasaan bernapas lewat mulut dalam jangka panjang juga bisa memengaruhi posisi gigi dan bentuk rahang, karena otot-otot wajah menyesuaikan diri dengan pola pernapasan yang baru. Inilah sebabnya para peneliti menekankan pentingnya meneliti anak-anak usia dini: pada rentang usia ini, deteksi dan penanganan sejak awal dapat membantu melindungi kesehatan mulut mereka ke depannya.

Apa yang Dilakukan Peneliti

Penelitian ini berjenis potong-lintang (cross-sectional)—memotret kondisi anak-anak pada satu titik waktu untuk mencari kaitan antar-faktor. Sebanyak 232 anak usia 2–6 tahun yang berkunjung ke klinik gigi anak diikutsertakan, lalu dibagi menjadi dua kelompok: pernapas hidung dan pernapas mulut.

Untuk menentukan pola bernapas anak, peneliti tidak sekadar menebak. Mereka melakukan pemeriksaan klinis serta dua uji sederhana: uji cermin (meletakkan cermin di bawah lubang hidung untuk melihat embun napas) dan uji menahan air di mulut (anak diminta menahan air dengan bibir tertutup selama tiga menit tanpa menelan). Seluruh pemeriksaan diawasi langsung oleh seorang dokter spesialis THT, sehingga hasilnya lebih dapat dipercaya.

Yang penting, bau mulut di sini diukur secara objektif menggunakan alat pendeteksi napas—bukan sekadar bertanya kepada anak atau orang tuanya. Dengan begitu, peneliti bisa menjawab pertanyaan intinya: apakah anak yang bernapas lewat mulut memang lebih sering mengalami bau mulut dibanding yang bernapas lewat hidung? Dan apakah jenis kelamin ikut berperan?

Hasilnya: Pernapas Mulut Lebih dari Dua Kali Lebih Rentan

Dari 232 anak, hampir setengahnya—sekitar 45%—terdeteksi memiliki bau mulut. Namun temuan yang paling menonjol muncul ketika peneliti membandingkan kedua kelompok.

Anak-anak yang bernapas lewat mulut ternyata lebih dari dua kali lebih mungkin mengalami bau mulut dibanding anak yang bernapas lewat hidung (sekitar 2,4 kali lipat). Kaitan ini bermakna secara statistik, artinya kecil kemungkinannya terjadi hanya karena kebetulan. Untuk memberi gambaran, dari seluruh anak yang terdeteksi memiliki bau mulut, hampir 60% di antaranya adalah pernapas mulut.

Temuan penting lainnya: jenis kelamin tidak berpengaruh. Tidak ada perbedaan bermakna antara anak laki-laki dan perempuan, baik dalam kecenderungan bernapas lewat mulut maupun dalam munculnya bau mulut. Dengan kata lain, bau mulut pada anak sama-sama bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan—yang lebih menentukan adalah cara mereka bernapas, bukan gendernya.

Mengapa Bernapas Lewat Mulut Memicu Bau Mulut

Penjelasan di balik temuan ini cukup logis dan berpusat pada mekanisme yang tadi disinggung. Ketika mulut terus terbuka saat bernapas, air liur menguap dan mulut menjadi kering. Air liur yang berkurang membuat kemampuan mulut membersihkan dirinya sendiri menurun drastis. Akibatnya, bakteri berkembang lebih subur dan menghasilkan lebih banyak senyawa belerang yang menimbulkan bau. Singkatnya: mulut terbuka → mulut kering → napas kurang segar.

Apa Artinya untuk Orang Tua

Bagi orang tua, temuan ini menawarkan cara pandang baru terhadap masalah bau mulut pada anak. Jika napas si kecil terasa kurang segar padahal kebersihan mulutnya terjaga, ada baiknya memperhatikan bagaimana ia bernapas—apakah mulutnya sering terbuka saat diam, tidur mendengkur, atau tampak kesulitan bernapas lewat hidung. Bau mulut, dalam konteks ini, bisa menjadi salah satu petunjuk yang mengarahkan perhatian ke kebiasaan bernapasnya.

Karena kebiasaan bernapas lewat mulut sering berkaitan dengan persoalan lain seperti hidung tersumbat, alergi, atau pembesaran amandel, memeriksakannya ke dokter gigi anak maupun dokter THT bisa menjadi langkah yang bijak. Menangani akar masalahnya sejak dini tidak hanya berpotensi menyegarkan napas anak, tetapi juga mendukung perkembangan wajah dan rahangnya yang sedang berlangsung.

Konteks ini terasa relevan bagi Indonesia, di mana kesadaran akan kesehatan gigi dan mulut anak masih terus perlu ditingkatkan. Pesannya sederhana namun berguna: memperhatikan cara anak bernapas bisa menjadi bagian dari menjaga kesehatan mulutnya secara menyeluruh—sesuatu yang mudah luput karena terkesan sepele.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya, dan ini penting agar kita tidak menarik kesimpulan berlebihan.

Pertama, desain potong-lintang tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak maupun menentukan urutan kejadian mana yang lebih dulu—meski mekanisme "mulut kering" memberikan penjelasan yang masuk akal. Kedua, para peserta hanya diambil dari klinik gigi di satu wilayah, sehingga hasilnya belum tentu mewakili semua anak. Ketiga, penelitian ini belum memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin ikut berperan, seperti kebersihan mulut, lapisan lidah, kondisi sosial-ekonomi, atau masalah tidur.

Karena itu, para peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan desain yang mengikuti anak dari waktu ke waktu, melibatkan kelompok yang lebih besar dan beragam, serta memperhitungkan faktor-faktor tambahan tersebut—termasuk menguji apakah memperbaiki pola bernapas benar-benar dapat mengurangi bau mulut.

Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak usia 2–6 tahun yang bernapas lewat mulut lebih rentan mengalami bau mulut dibanding anak yang bernapas lewat hidung, sementara jenis kelamin tidak berpengaruh. Temuan ini menyoroti pentingnya memperhatikan pola bernapas anak—bukan hanya kebersihan giginya—ketika menilai persoalan bau mulut.

Pesan yang bisa dibawa pulang: sesuatu yang tampak sepele seperti "anak bernapas lewat mulut" ternyata bisa berdampak pada kesehatan mulutnya. Dengan mengenali dan menangani kebiasaan ini sejak dini, orang tua dan tenaga kesehatan dapat membantu menjaga napas si kecil tetap segar sekaligus mendukung tumbuh kembangnya secara sehat.

Referensi

Bahammam SA. Relationship Between Halitosis and Mouth Breathing Among Pediatric Population: Exploring the Contributing Factors. Pediatric Health, Medicine and Therapeutics. 2026;17:569391. 

DOI: https://doi.org/10.2147/PHMT.S569391

Carigi Indonesia September 15, 2026
Share this post
Tags
Archive
Fakta Halitosis: Bau Mulut, Stres, dan Kualitas Tidur