Skip to Content

Inovasi Tekstur Makanan untuk Disfagia & Keamanan Menelan

March 5, 2026 by
Carigi Indonesia

Inovasi Tekstur Makanan untuk Disfagia & Keamanan Menelan

Mekanisme menelan dan modifikasi tekstur makanan untuk penderita disfagia

Memikirkan Ulang Tekstur Makanan untuk Disfagia: Metode Sensorik Baru untuk Meningkatkan Keamanan Menelan

Pendekatan terstruktur untuk mengevaluasi makanan bertekstur modifikasi berdasarkan perilaku oral yang nyata

Menelan adalah proses kompleks yang biasanya dilakukan secara otomatis oleh sebagian besar orang. Namun, bagi individu dengan disfagia orofaringeal (oropharyngeal dysphagia/OD), makan dapat menjadi aktivitas yang sulit secara fisik dan bahkan berbahaya. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Texture Studies memperkenalkan metode evaluasi sensorik terstruktur yang dirancang untuk meningkatkan keamanan dan kesesuaian makanan dengan tekstur yang dimodifikasi (texture-modified foods/TMFs) bagi kelompok ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Jaime Paniagua dan rekan-rekan ini mengusulkan protokol standar yang meniru cara orang dengan disfagia memproses makanan di dalam mulut. Tujuannya adalah menjembatani pengetahuan klinis tentang proses menelan dengan ilmu sensorik pangan serta pengembangan produk makanan.

Memahami Disfagia Orofaringeal

Disfagia orofaringeal adalah kondisi kesulitan mengunyah dan memindahkan makanan secara aman dari mulut ke tenggorokan. Kondisi ini sering dialami oleh:

  • Lansia

  • Individu dengan gangguan neurologis seperti stroke atau penyakit Parkinson

  • Pasien dengan kelemahan otot (sarkopenia)

  • Individu yang menjalani pengobatan kanker atau perawatan jangka panjang di rumah sakit

Ketika mekanisme menelan terganggu, makanan atau cairan dapat masuk ke saluran napas alih-alih ke esofagus. Hal ini meningkatkan risiko tersedak dan pneumonia aspirasi.

Untuk mengurangi risiko tersebut, makanan biasanya dimodifikasi teksturnya, misalnya menjadi makanan halus (puree), dilunakkan, atau cairannya dikentalkan. Kerangka kerja dari International Dysphagia Diet Standardisation Initiative (IDDSI) menyediakan klasifikasi internasional untuk tingkat tekstur makanan dan cairan bagi penderita disfagia.

Namun, meskipun IDDSI telah menentukan kategori tekstur, masih terbatas panduan mengenai bagaimana mengevaluasi makanan tersebut dengan metode sensorik yang terstruktur dan dapat direproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti membentuk panel ahli multidisipliner yang terdiri dari:

  • 5 spesialis analisis sensorik

  • 3 ahli pengembangan produk makanan untuk disfagia

  • 1 terapis wicara dan bahasa dengan pengalaman klinis

Mereka mengevaluasi 32 produk makanan komersial, yang terdiri dari:

  • 24 produk yang secara khusus dipasarkan untuk penderita kesulitan menelan

  • 8 makanan komersial biasa (seperti yogurt, mousse, smoothie, flan, hummus, dan custard) sebagai pembanding

Berbeda dengan sesi pencicipan makanan biasa, para panelis melakukan tugas oral yang disimulasikan (emulated oral tasks). Tugas ini dirancang untuk meniru cara penderita disfagia memproses makanan di dalam mulut.

Tugas tersebut meliputi:

  • Menahan makanan di dalam mulut selama 10 detik

  • Menggerakkan makanan ke kanan dan kiri menggunakan lidah

  • Menekan makanan ke langit-langit mulut

  • Melepaskan makanan dari permukaan rongga mulut

  • Menelan dan menilai apakah ada sisa makanan yang tertinggal

Setiap atribut dinilai menggunakan Visual Analog Scale (VAS) sepanjang 15 cm, sehingga persepsi subjektif dapat diubah menjadi nilai yang dapat diukur.

Enam Atribut Tekstur Penting yang Diidentifikasi

Melalui evaluasi terstruktur dan konsensus para ahli, peneliti mengidentifikasi enam atribut sensorik utama yang memengaruhi keamanan proses menelan:

  1. Kekerasan (Hardness)

    Besarnya gaya yang diperlukan untuk memecah makanan menjadi bolus yang aman ditelan.

  2. Kerapuhan/kemudahan pecah (Fracturability)

    Sejauh mana makanan pecah menjadi fragmen serta apakah ukuran fragmen tersebut tetap aman.

  3. Kelekatan (Adhesiveness)

    Kecenderungan makanan menempel pada langit-langit mulut, lidah, atau jaringan rongga mulut.

  4. Kemudahan mengalir (Flowability)

    Kecepatan dan kemudahan makanan bergerak melalui tenggorokan.

  5. Residu (Residue)

    Adanya sisa makanan yang tertinggal di mulut atau tenggorokan setelah menelan.

  6. Variabilitas intraoral (Intraoral variability)

    Perubahan tekstur makanan di dalam mulut akibat suhu atau saliva, misalnya mencair atau menjadi lebih encer.

Salah satu temuan penting adalah adanya variasi tekstur yang cukup besar di antara produk komersial yang dipasarkan untuk penderita disfagia. Beberapa produk bahkan memiliki karakteristik tekstur yang berpotensi menyulitkan proses menelan secara aman. Hal ini menunjukkan pentingnya alat evaluasi yang lebih baik.

Mengapa Meniru Perilaku Oral Penting?

Orang dengan disfagia sering mengembangkan strategi kompensasi saat makan, seperti:

  • Menggunakan lidah untuk menghancurkan makanan вместо gigi

  • Menahan makanan lebih lama di dalam mulut

  • Menelan berulang kali

  • Mengelola produksi saliva yang berubah

Dengan meniru perilaku ini selama evaluasi sensorik, panelis dapat menilai produk makanan dalam kondisi yang lebih mendekati situasi nyata penderita disfagia. Hal ini membuat evaluasi menjadi lebih bermakna secara fungsional dibandingkan pengujian tekstur konvensional.

Pendekatan ini menghubungkan tiga bidang penting:

  • Fisiologi menelan secara klinis

  • Ilmu sensorik

  • Pengembangan produk makanan

Dengan demikian, tekstur makanan tidak hanya dinilai sebagai sifat fisik, tetapi juga sebagai faktor fungsional yang memengaruhi keamanan menelan.

Aplikasi Praktis

Formulir evaluasi sensorik yang diusulkan dalam penelitian ini dirancang untuk digunakan oleh:

  • Terapis wicara dan bahasa

  • Ahli gizi

  • Pengasuh pasien

  • Teknolog pangan

  • Institusi layanan kesehatan

  • Industri makanan

Karena tidak memerlukan peralatan medis yang kompleks, metode ini dapat digunakan di rumah sakit, fasilitas perawatan jangka panjang, bahkan di rumah. Metode ini juga melengkapi kerangka kerja IDDSI dengan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana makanan berperilaku selama proses oral.

Keterbatasan Penelitian

Sebagai studi awal (proof-of-concept), penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan:

  • Panel ahli relatif kecil (9 orang).

  • Evaluasi dilakukan oleh individu tanpa disfagia yang hanya meniru gejala.

  • Tidak dilakukan pemeriksaan fisiologis langsung seperti videofluoroskopi atau elektromiografi.

Penelitian selanjutnya perlu melibatkan pasien dengan disfagia orofaringeal secara langsung serta mengintegrasikan pengukuran klinis untuk memvalidasi hubungan antara skor sensorik dan keamanan menelan yang sebenarnya.

Kesimpulan

Penelitian ini memperkenalkan metodologi evaluasi sensorik baru yang dirancang untuk mencerminkan pola pemrosesan makanan di dalam mulut pada penderita disfagia orofaringeal.

Dengan mendefinisikan enam atribut tekstur utama dan menyusun penilaian berdasarkan tugas oral yang disimulasikan, metode ini:

  • Meningkatkan objektivitas dalam evaluasi makanan bertekstur modifikasi

  • Memperkuat keterkaitan antara praktik klinis dan pengembangan produk makanan

  • Mendukung rekomendasi diet yang lebih aman dan personal

  • Mendorong pengembangan variasi makanan yang lebih beragam dan dapat diterima

Secara keseluruhan, pendekatan ini merupakan langkah menjanjikan untuk meningkatkan keamanan makan sekaligus kualitas hidup bagi individu dengan disfagia.

Referensi Artikel

Paniagua, J., Murillo-Arbizu, M. T., Insausti, K., Urtasun del Castillo, L., Uriarte Ajona, M., Beriain, M. J., & Ibañez, F. C. (2026).

A sensory method to evaluate food texture for oropharyngeal dysphagia by emulating oral tasks. Journal of Texture Studies, 57, e70071.

DOI: https://doi.org/10.1111/jtxs.70071


Carigi Indonesia March 5, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kaitan Bakteri Mulut, Stres Oksidatif, dan Autisme