Skip to Content

Indikasi Bedah Ekstraksi Gigi Bungsu Impaksi

October 2, 2026 by
Carigi Indonesia

Indikasi Bedah Ekstraksi Gigi Bungsu Impaksi

Indikasi Bedah Ekstraksi Gigi Bungsu Impaksi

Kapan Gigi Bungsu Perlu Dicabut? Dan Bagaimana dengan yang Tak Bermasalah?

Gigi bungsu bawah yang terbenam adalah gigi yang paling sering mengalami impaksi. Sebuah studi terhadap 120 pasien di Irak menemukan bahwa alasan pencabutan yang paling umum bukanlah rasa sakit, melainkan gigi berlubang—sering pada gigi tetangganya. Studi ini juga menyentuh sebuah perdebatan yang belum usai: perlukah mencabut gigi bungsu yang tidak menimbulkan keluhan?

Bagi banyak orang, pertanyaan "apakah gigi bungsu saya perlu dicabut?" adalah dilema yang tak asing. Gigi bungsu—terutama yang di rahang bawah dan terbenam (impaksi)—memang kerap menjadi sumber masalah. Namun, kapan sebenarnya gigi ini perlu diangkat? Dan bagaimana jika gigi bungsu tersebut tidak menimbulkan keluhan apa pun—apakah tetap sebaiknya dicabut?

Untuk menjawabnya, dua peneliti dari University of Sulaimani, Irak, menelaah data nyata dari klinik bedah mulut mereka. Hasil kajian ini diterbitkan dalam jurnal BioMed Research International pada 2026, dan memberikan gambaran menarik tentang alasan-alasan di balik pencabutan gigi bungsu—sekaligus menyentuh perdebatan yang masih berlangsung di dunia kedokteran gigi.

Konteks: Gigi yang Paling Sering Terbenam

Gigi bungsu (geraham ketiga) adalah gigi yang paling sering terbenam—diperkirakan sekitar 37% orang mengalaminya, dan mayoritas terjadi di rahang bawah. Kondisi ini sedikit lebih umum pada perempuan, dan bentuk yang paling sering adalah gigi yang tumbuh miring ke depan. Penyebabnya beragam, mulai dari kurangnya ruang di rahang hingga perubahan pola makan modern (makanan yang lebih lunak membuat rahang kurang berkembang, sehingga ruang untuk gigi bungsu berkurang).

Gigi bungsu yang terbenam kerap dikaitkan dengan sejumlah masalah: perikoronitis (peradangan atau infeksi pada gusi di sekitar gigi yang tumbuh sebagian), gigi berlubang pada gigi bungsu atau gigi tetangganya, gigi berjejal, hingga kerusakan pada akar gigi di sebelahnya. Namun, tidak semua gigi bungsu yang terbenam menimbulkan masalah—dan di sinilah muncul perdebatan: apakah gigi bungsu yang "diam" dan tidak bergejala sebaiknya tetap dicabut sebagai tindakan pencegahan, atau justru dibiarkan saja?

Apa yang Dilakukan Peneliti

Penelitian ini adalah sebuah studi potong-lintang—memotret kondisi pada satu periode waktu. Para peneliti menelaah 120 pasien yang datang ke klinik bedah mulut untuk mencabut gigi bungsu bawah yang terbenam, selama paruh pertama tahun 2025. Mayoritas pasien adalah perempuan, dan sebagian besar berusia 16–25 tahun.

Peneliti kemudian mencatat alasan di balik setiap pencabutan—apakah karena keluhan tertentu, atau justru sebagai tindakan pencegahan pada pasien tanpa gejala. Mereka juga menggunakan pemindaian tiga dimensi untuk menilai posisi gigi dan kedekatannya dengan gigi tetangga maupun saraf.

Hasilnya: Berlubang, Bukan Sakit, Jadi Alasan Utama

Temuan yang mungkin mengejutkan: alasan paling umum pencabutan gigi bungsu ternyata bukan rasa sakit, melainkan gigi berlubang. Karies (gigi berlubang)—baik pada gigi bungsu itu sendiri maupun pada gigi geraham tetangganya—menjadi alasan tersering (sekitar 40,7% kasus). Berikutnya adalah perikoronitis yang berulang (sekitar 28,8%).

Mengapa gigi berlubang begitu dominan? Ini masuk akal: gigi bungsu yang terbenam atau tumbuh miring sangat sulit dibersihkan, sehingga sisa makanan dan plak mudah terjebak—baik di gigi bungsu maupun di sela antara gigi bungsu dan gigi tetangganya. Akibatnya, kedua gigi tersebut rentan berlubang.

Temuan menarik lainnya: sekitar 26,7% pasien datang tanpa keluhan sama sekali, hanya untuk pemeriksaan. Selain itu, posisi gigi ternyata berpengaruh pada keputusan pencabutan—gigi yang miring ke depan atau terbenam mendatar lebih sering dicabut (termasuk sebagai pencegahan), sementara gigi yang tumbuh tegak lebih sering dibiarkan dan dipantau saja.

Perdebatan: Mencabut Gigi Bungsu yang Sehat?

Inilah bagian yang paling menarik dan masih diperdebatkan: bagaimana dengan gigi bungsu yang tidak bergejala—apakah perlu dicabut sebagai pencegahan?

Penting untuk diketahui bahwa pedoman kesehatan di beberapa negara—seperti pedoman NICE di Inggris—justru menganjurkan untuk tidak mencabut gigi bungsu yang sehat dan tanpa gejala secara rutin, dengan alasan belum ada bukti kuat yang mendukungnya. Di sisi lain, dalam praktik nyata (seperti pada studi ini), pencabutan pencegahan tetap dilakukan pada sebagian kasus tertentu. Dalam penelitian ini, alasan tersering untuk mencabut gigi tanpa gejala adalah kedekatan gigi bungsu dengan gigi tetangganya (yang berisiko menyebabkan gigi berlubang atau kerusakan akar), serta kesulitan membersihkannya.

Para peneliti juga menyoroti pertimbangan usia: mencabut gigi bungsu pada usia yang lebih tua cenderung memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi, sehingga bila pencabutan memang diperlukan, melakukannya lebih dini mungkin lebih aman. Namun mereka juga menegaskan sisi sebaliknya—mencabut gigi yang sebenarnya tidak bermasalah dapat memaparkan pasien pada risiko operasi yang tidak perlu. Dengan kata lain, ini adalah keputusan yang harus ditimbang secara hati-hati, kasus per kasus.

Apa Artinya untuk Kita

Bagi kita, penelitian ini membawa beberapa pesan yang berguna. Pertama, gigi bungsu yang terbenam memang rentan menimbulkan masalah—terutama gigi berlubang, justru karena sulit dibersihkan. Ini menegaskan pentingnya menjaga kebersihan area gigi bungsu dan memeriksakannya secara rutin.

Kedua, dan yang paling penting: keputusan mencabut gigi bungsu—terutama yang tanpa keluhan—bukanlah sesuatu yang otomatis. Ini adalah keputusan yang sebaiknya diambil bersama dokter gigi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor: posisi gigi (miring, mendatar, atau tegak), kedekatannya dengan gigi tetangga dan saraf, usia pasien, risiko operasi, serta kondisi masing-masing individu. Tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua orang—baik "harus dicabut" maupun "harus dibiarkan".

Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana pencabutan gigi bungsu adalah salah satu tindakan bedah mulut yang paling umum. Kesadaran bahwa keputusan ini bersifat individual—dan bahwa gigi bungsu tanpa keluhan pun perlu dievaluasi secara cermat, bukan sekadar dicabut atau dibiarkan begitu saja—dapat membantu pasien mengambil keputusan yang lebih tepat bersama dokternya.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya.

Penelitian ini dilakukan di satu klinik pada populasi tertentu di Irak, sehingga pola praktik dan temuannya belum tentu berlaku sama di tempat lain. Sebagai studi potong-lintang, ia menggambarkan pola dan alasan pencabutan yang terjadi, tetapi bukan membuktikan pendekatan mana yang paling tepat. Yang terpenting, perdebatan mengenai pencabutan pencegahan gigi bungsu tanpa gejala masih belum tuntas secara ilmiah—dan penelitian ini lebih memperlihatkan pertimbangan yang ada, alih-alih memberikan jawaban final.

Kesimpulan

Studi ini menyimpulkan bahwa meski sebagian gigi bungsu yang terbenam dapat tetap "diam" tanpa gejala, sebagian lainnya dapat menimbulkan berbagai masalah—terutama gigi berlubang, perikoronitis, dan kerusakan akar gigi tetangga. Para peneliti menekankan bahwa penanganannya sebaiknya mengutamakan kualitas hidup pasien, dengan keputusan yang disesuaikan secara individual berdasarkan kondisi kesehatan, situasi masing-masing, dan tingkat toleransi terhadap risiko.

Pesan yang bisa dibawa pulang: pertanyaan "cabut atau tidak" untuk gigi bungsu tidak memiliki jawaban tunggal. Yang terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter gigi, memahami kondisi gigi kita sendiri, serta menimbang manfaat dan risikonya secara seimbang. Sebuah pengingat bahwa keputusan medis yang bijak selalu bersifat personal—disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang.

Referensi

Aloosi SN, Muhammad Amin NA. Evaluating the Indications of Surgical Extraction of Impacted Lower Third Molar in the Oral Surgery Clinic, College of Dentistry, University of Sulaimani. BioMed Research International. 2026;2026:9750143. 

DOI: https://doi.org/10.1155/bmri/9750143

Carigi Indonesia October 2, 2026
Share this post
Tags
Archive
Simulasi Cetak 3D Pelatihan Bedah Mulut