Skip to Content

Implan Gigi Pasien Kemoterapi Keamanan & Survival

August 12, 2026 by
Carigi Indonesia

Implan Gigi Pasien Kemoterapi Keamanan & Survival

Implan Gigi Pasien Kemoterapi Keamanan & Survival

Implan Gigi pada Pasien yang Menjalani Kemoterapi: Apakah Tetap Aman dan Bertahan Lama?

Kemoterapi dan tantangan perawatan implan gigi

Implan gigi merupakan salah satu pilihan untuk menggantikan gigi yang hilang. Dalam kondisi ideal, implan dapat bertahan dalam jangka panjang karena menyatu dengan tulang rahang melalui proses yang disebut osseointegrasi.

Namun, bagaimana jika pasien yang membutuhkan implan juga sedang menjalani kemoterapi?

Kemoterapi bekerja dengan menyerang sel yang berkembang cepat untuk menghambat pertumbuhan kanker. Sayangnya, efek terapi ini juga dapat memengaruhi jaringan sehat, termasuk jaringan yang berperan dalam penyembuhan dan pembentukan tulang. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan apakah kemoterapi dapat meningkatkan risiko kegagalan implan gigi.

Pertanyaan inilah yang menjadi fokus penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Oral Health pada 2026.

Apa yang dilakukan peneliti?

Penelitian ini merupakan studi observasional yang membandingkan dua kelompok.

Kelompok pertama terdiri dari 25 pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi dan telah memiliki implan gigi. Kelompok kedua merupakan 28 individu sehat secara sistemik yang juga telah menjalani perawatan implan.

Pasien dalam kelompok kemoterapi rata-rata berusia 69,6 tahun dan sedang mendapatkan kombinasi 5-fluorouracil dan carboplatin dalam tiga siklus. Jenis kanker yang ditemukan antara lain kanker kolorektal, pankreas, payudara metastatik, dan ovarium.

Peneliti kemudian mengevaluasi kondisi implan melalui pemeriksaan klinis dan radiografis. Beberapa parameter yang dinilai meliputi jumlah plak di sekitar implan, perdarahan, kedalaman probing, serta perubahan tulang di sekitar implan.

Hasilnya cukup mengejutkan: kondisi jaringan relatif serupa

Dari sisi kondisi jaringan di sekitar implan, hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kemoterapi dan kelompok sehat.

Nilai indeks plak, perdarahan, kedalaman probing, maupun kehilangan tulang di sekitar implan relatif serupa pada kedua kelompok.

Artinya, pada implan yang masih berfungsi, kondisi jaringan di sekitarnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan hanya karena pasien sedang menjalani kemoterapi.

Namun, ketika peneliti melihat berapa banyak implan yang berhasil bertahan dan tetap berfungsi, perbedaannya menjadi lebih jelas.

Tingkat keberlangsungan implan lebih rendah pada pasien kemoterapi

Dalam kelompok pasien yang menjalani kemoterapi, 15 dari 25 implan tetap berfungsi, sehingga tingkat survival implan tercatat sebesar 60%.

Sebaliknya, pada kelompok kontrol, seluruh implan yang dievaluasi tetap berfungsi, dengan tingkat survival 100%. Perbedaan ini secara statistik bermakna dengan nilai P<0,001.

Menariknya, kegagalan implan pada kelompok kemoterapi terjadi sebelum implan digunakan untuk menopang gigi, yaitu dalam waktu sekitar 12 minggu setelah pemasangan. Implan tersebut tidak berhasil mengalami osseointegrasi dengan baik.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa tantangan utama mungkin bukan semata-mata kondisi jaringan di sekitar implan yang sudah berfungsi, tetapi kemampuan implan untuk berhasil menyatu dengan tulang pada fase awal penyembuhan.

Mengapa kemoterapi dapat memengaruhi keberhasilan implan?

Peneliti menjelaskan bahwa keberhasilan implan membutuhkan proses penyembuhan dan integrasi antara permukaan implan dengan tulang.

Kemoterapi dapat memengaruhi berbagai proses biologis yang mendukung penyembuhan tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti secara khusus menyoroti 5-fluorouracil yang diketahui dapat menghambat proliferasi fibroblas serta memengaruhi sel-sel yang berperan dalam pembentukan tulang.

Meski demikian, penelitian ini tidak dapat memastikan bahwa kemoterapi merupakan satu-satunya penyebab kegagalan implan. Faktor lain seperti kondisi tulang, suplai darah, status nutrisi, obat-obatan lain, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan juga mungkin berperan.

Ada sisi positif: kemoterapi bukan berarti implan sama sekali tidak boleh dilakukan

Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa kemoterapi tidak dianggap sebagai kontraindikasi absolut untuk pemasangan implan gigi.

Dengan kata lain, hasil penelitian tidak berarti bahwa semua pasien kanker yang menjalani kemoterapi pasti tidak dapat menggunakan implan.

Namun, dokter gigi perlu mempertimbangkan bahwa risiko kegagalan dapat lebih tinggi, terutama pada fase awal penyatuan implan dengan tulang. Keputusan perawatan perlu mempertimbangkan kondisi pasien, jenis dan terapi kanker, kondisi tulang, status kesehatan umum, serta waktu yang tepat untuk melakukan tindakan.

Penelitian ini masih memiliki keterbatasan

Hasil penelitian perlu dibaca dengan hati-hati karena jumlah pasien relatif kecil. Selain itu, enam pasien kanker yang awalnya tercatat dalam database telah meninggal sebelum pemeriksaan lanjutan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan survivorship bias, karena pasien yang dapat mengikuti pemeriksaan lanjutan kemungkinan merupakan pasien dengan kondisi yang relatif lebih baik.

Durasi fungsi implan juga berbeda antara kedua kelompok. Implan pada kelompok kemoterapi rata-rata telah berfungsi sekitar 2,4 tahun, sedangkan kelompok kontrol sekitar 5,7 tahun. Karena periode pengamatan tidak sama, kemungkinan munculnya komplikasi jangka panjang belum dapat dibandingkan secara optimal.

Peneliti juga mengakui bahwa data mengenai dosis, durasi, jenis, dan waktu pemberian kemoterapi terhadap pemasangan implan belum terdokumentasi secara konsisten. Karena itu, penelitian lanjutan dengan jumlah pasien lebih besar dan pemantauan jangka panjang masih diperlukan.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang sedang menjalani kemoterapi masih mungkin mendapatkan perawatan implan gigi, tetapi memiliki risiko kegagalan implan yang lebih tinggi dibandingkan individu sehat.

Pada implan yang berhasil bertahan dan berfungsi, kondisi jaringan di sekitarnya tidak menunjukkan perbedaan bermakna dibandingkan kelompok sehat. Namun, tingkat survival keseluruhan implan pada kelompok kemoterapi hanya 60%, dibandingkan 100% pada kelompok kontrol.

Karena itu, kemoterapi sebaiknya tidak dipandang sebagai larangan mutlak untuk pemasangan implan, tetapi sebagai faktor yang perlu dipertimbangkan secara serius dalam perencanaan perawatan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui bagaimana jenis kanker, regimen kemoterapi, kondisi tulang, serta waktu pemasangan implan memengaruhi keberhasilan jangka panjang.

Referensi 

Almeslet AS, Ajwa NM, Aljudaibi SM, Alkhalaf MA, Divakar DD. Survival of dental implants in patients undergoing chemotherapy: an observational study. BMC Oral Health. 2026;26:101. DOI: 10.1186/s12903-025-06927-x

Carigi Indonesia August 12, 2026
Share this post
Tags
Archive
Terapi HAART HIV dan Manifestasi Oral