
Kadar Zat Besi dalam Air Liur dan Risiko Infeksi Jamur Mulut
Pelajaran Penting dari Pasien Oral Lichen Planus yang Menjalani Terapi Steroid
Penggunaan kortikosteroid topikal merupakan terapi utama untuk mengendalikan nyeri dan peradangan pada oral lichen planus (OLP), penyakit inflamasi kronis pada rongga mulut. Namun di balik manfaatnya, terapi ini menyimpan risiko yang cukup sering muncul: infeksi jamur Candida di mulut.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di BMC Oral Health mengungkap faktor biologis yang mungkin berperan dalam masalah ini—yakni kadar zat besi (iron) dalam air liur.
Oral Lichen Planus dan Masalah Infeksi Sekunder
OLP dapat menyebabkan sensasi terbakar, nyeri hebat, hingga luka terbuka di rongga mulut, sehingga mengganggu makan, berbicara, dan menelan. Untuk meredakan gejala, dokter gigi sering meresepkan kortikosteroid topikal.
Sayangnya, obat ini juga dapat menurunkan daya tahan lokal di mulut, sehingga Candida, jamur yang sebenarnya bisa hidup normal di rongga mulut, berubah menjadi patogen oportunistik dan memicu kandidiasis oral. Jika infeksi ini muncul, gejala OLP bisa semakin berat dan pengobatan menjadi lebih rumit.
Apa yang Diteliti dalam Studi Ini?
Penelitian ini melibatkan 68 pasien OLP yang menjalani terapi steroid topikal, serta 34 individu sehat sebagai kelompok pembanding. Pasien OLP dibagi menjadi dua kelompok:
Pasien OLP dengan riwayat kandidiasis oral
Pasien OLP tanpa riwayat kandidiasis oral
Peneliti mengumpulkan air liur tanpa rangsangan dari seluruh partisipan untuk:
Mengukur kadar zat besi dalam air liur
Mengidentifikasi dan menghitung kolonisasi Candida
Menilai laju aliran saliva
Hasil Utama: Zat Besi dan Candida Saling Berkaitan
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup jelas:
Kadar zat besi saliva paling tinggi ditemukan pada pasien OLP yang memiliki riwayat kandidiasis oral
Kelompok ini juga menunjukkan jumlah koloni Candida yang jauh lebih banyak dibandingkan pasien OLP tanpa riwayat infeksi dan individu sehat
Sebagian besar jamur yang ditemukan adalah Candida albicans, spesies yang paling sering menyebabkan infeksi jamur mulut
Menariknya, meskipun pasien OLP tanpa riwayat kandidiasis juga memiliki kadar zat besi saliva yang sedikit lebih tinggi dibandingkan individu sehat, jumlah Candida mereka tidak meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh masih mampu mengendalikan pertumbuhan jamur selama keseimbangan sistem imun dan lingkungan mulut tetap terjaga.
Mengapa Zat Besi Penting?
Zat besi merupakan unsur esensial bagi manusia—namun juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme seperti jamur. Dalam kondisi tertentu, kadar zat besi yang tinggi justru dapat “memberi makan” Candida, sehingga jamur tumbuh lebih cepat dan lebih agresif.
Normalnya, tubuh memiliki mekanisme pertahanan yang disebut nutritional immunity, yaitu membatasi ketersediaan zat besi bagi patogen. Namun pada pasien OLP yang menjalani terapi steroid dan memiliki riwayat infeksi jamur, mekanisme ini tampaknya tidak bekerja optimal.
Peran Air Liur Tidak Bisa Diabaikan
Penelitian ini juga menemukan bahwa laju aliran saliva pada pasien OLP lebih rendah dibandingkan individu sehat. Padahal, air liur mengandung berbagai zat antimikroba alami dan berfungsi membersihkan rongga mulut.
Kombinasi aliran saliva yang menurun, kadar zat besi yang tinggi, dan penekanan imunitas lokal akibat steroid menciptakan kondisi ideal bagi Candida untuk berkembang.
Makna Klinis bagi Praktik Kedokteran Gigi
Temuan ini menegaskan bahwa kandidiasis oral pada pasien OLP bukan sekadar efek samping biasa, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara terapi, lingkungan mulut, dan faktor biologis seperti zat besi.
Bagi dokter gigi, hasil ini membuka peluang untuk:
Memantau risiko infeksi jamur sejak dini
Memberikan edukasi kebersihan mulut yang lebih intensif
Mempertimbangkan evaluasi faktor saliva pada pasien OLP jangka panjang