Bukan Hanya Nyeri Sendi: Penyakit Rematik Ternyata Juga Berdampak Besar pada Kesehatan Mulut
Penelitian Ungkap Pentingnya Kolaborasi Dokter dan Dokter Gigi dalam Merawat Pasien Rematik
Ketika mendengar kata rematik, kebanyakan orang langsung membayangkan nyeri sendi, jari yang kaku, atau kesulitan bergerak. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Kanada menunjukkan bahwa dampak penyakit rematik ternyata tidak berhenti pada persendian. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan mulut dan gigi, bahkan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti makan, berbicara, dan menjaga kebersihan gigi.
Sayangnya, kebutuhan kesehatan mulut pasien rematik masih sering terabaikan. Padahal, banyak penderita yang harus menghadapi berbagai tantangan saat menyikat gigi, menjalani perawatan di dokter gigi, hingga mencari informasi yang tepat mengenai kondisi mereka.
Mengapa Penyakit Rematik Berpengaruh pada Mulut?
Penyakit rematik merupakan kelompok penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi dan jaringan tubuh lainnya. Beberapa jenis yang paling sering ditemui antara lain rheumatoid arthritis, lupus, sindrom Sjögren, juvenile idiopathic arthritis, dan systemic sclerosis.
Selain gejala pada sendi, penyakit-penyakit tersebut juga sering menimbulkan berbagai masalah di rongga mulut. Mulai dari mulut kering, sariawan berulang, gusi mudah berdarah, penyakit periodontal, kesulitan membuka mulut, hingga gangguan sendi rahang. Beberapa obat yang digunakan untuk mengendalikan penyakit rematik juga dapat menimbulkan efek samping pada mulut, sehingga memperburuk kondisi pasien.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu menggali pengalaman langsung dari para peserta melalui wawancara mendalam.
Sebanyak sembilan pasien perempuan berusia 57–73 tahun yang hidup dengan berbagai penyakit rematik diwawancarai bersama tiga tenaga kesehatan yang terdiri dari seorang reumatolog dewasa, seorang reumatolog anak, dan seorang dokter gigi spesialis kedokteran mulut.
Melalui analisis tematik, peneliti berusaha memahami bagaimana pasien memandang kesehatan mulut mereka, tantangan yang dihadapi selama menjalani perawatan, serta harapan mereka terhadap sistem pelayanan kesehatan di masa depan.
Tantangan Pasien Ternyata Lebih Besar dari yang Dibayangkan
Hampir seluruh peserta melaporkan memiliki lebih dari satu masalah kesehatan mulut.
Keluhan yang paling sering muncul adalah gusi berdarah, gusi sensitif, mulut kering, gigi mudah rusak, sariawan, kesulitan mengunyah, hingga keterbatasan membuka mulut akibat gangguan sendi rahang.
Tidak hanya itu, banyak pasien juga mengaku kesulitan selama menjalani perawatan gigi. Duduk terlalu lama di kursi perawatan menyebabkan nyeri leher dan tubuh, membuka mulut dalam waktu lama terasa melelahkan, bahkan beberapa tindakan harus dibagi menjadi beberapa kali kunjungan agar tetap nyaman dijalani.
Menjaga Kebersihan Mulut Membutuhkan Kreativitas
Aktivitas sederhana seperti menyikat gigi ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian pasien rematik.
Kekakuan sendi tangan membuat mereka kesulitan memegang sikat gigi biasa. Karena itu, banyak yang beralih menggunakan sikat gigi elektrik, gagang sikat yang lebih besar, benang gigi khusus, water flosser, hingga berbagai produk pelembap mulut untuk mengatasi mulut kering.
Menariknya, beberapa peserta juga menyampaikan bahwa alat kebersihan gigi sebaiknya dirancang lebih ramah bagi penyandang keterbatasan fisik sekaligus lebih ramah lingkungan, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Selain penggunaan alat bantu, pasien juga melakukan berbagai penyesuaian dalam kehidupan sehari-hari, seperti lebih banyak minum air, memilih makanan yang lebih lembut atau lembap, serta menghindari makanan yang memperparah keluhan mulut kering.
Informasi yang Dibutuhkan Masih Sangat Terbatas
Banyak pasien mengaku harus mencari informasi sendiri mengenai hubungan antara penyakit rematik dan kesehatan mulut.
Sumber informasi mereka beragam, mulai dari dokter, dokter gigi, internet, hingga komunitas pasien. Namun, mereka juga menyadari bahwa informasi di internet belum tentu dapat dipercaya sehingga berharap tersedia sumber edukasi resmi yang mudah dipahami.
Para peserta mengusulkan berbagai bentuk edukasi, seperti brosur, media sosial, website resmi rumah sakit, seminar, hingga pusat layanan yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan dalam satu sistem. Yang paling penting, informasi tersebut harus konsisten, mudah diakses, dan berbasis bukti ilmiah.
Dokter dan Dokter Gigi Perlu Lebih Sering Bekerja Sama
Temuan penting lainnya adalah perlunya perubahan cara pelayanan kesehatan diberikan kepada pasien rematik.
Baik pasien maupun tenaga kesehatan sama-sama menilai komunikasi antarprofesi masih kurang. Tidak jarang dokter, dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainnya bekerja secara terpisah sehingga informasi mengenai kondisi pasien tidak tersampaikan secara optimal.
Para tenaga kesehatan juga mengakui bahwa pembahasan mengenai kesehatan mulut belum menjadi bagian yang cukup besar dalam pendidikan maupun praktik sehari-hari. Mereka mengusulkan adanya kolaborasi yang lebih erat melalui model pelayanan multidisiplin agar pasien memperoleh penanganan yang lebih menyeluruh.
Perawatan Berpusat pada Pasien Menjadi Kunci
Peneliti menilai bahwa pasien rematik memerlukan pelayanan yang tidak hanya berfokus pada penyakit utamanya, tetapi juga mempertimbangkan kesehatan mulut sebagai bagian dari kualitas hidup.
Model pelayanan yang melibatkan dokter reumatologi, dokter gigi, dental hygienist, terapis okupasi, dan tenaga kesehatan lainnya dinilai berpotensi meningkatkan koordinasi pelayanan, memperkuat edukasi pasien, sekaligus membantu mencegah komplikasi kesehatan mulut yang sering dialami kelompok ini.
Selain itu, hubungan yang saling percaya antara pasien dan tenaga kesehatan dinilai sangat penting agar pasien merasa lebih nyaman, lebih aktif menyampaikan keluhan, dan lebih mampu mengelola kondisi kesehatannya sendiri.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dengan penyakit rematik menghadapi tantangan yang nyata dalam menjaga kesehatan mulut maupun saat menjalani perawatan gigi. Hambatan tersebut tidak hanya berasal dari gejala penyakit, tetapi juga dari keterbatasan akses pelayanan, kurangnya edukasi, serta minimnya koordinasi antarprofesi kesehatan.
Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan pengembangan pedoman perawatan kesehatan mulut yang berbasis bukti, penyediaan materi edukasi yang mudah dipahami, serta penerapan model pelayanan multidisiplin yang melibatkan berbagai profesi kesehatan. Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, kualitas hidup pasien rematik diharapkan dapat meningkat secara menyeluruh.
Referensi
Stavropoulou C, Protudjer JLP, Billedeau C, Hitchon CA. Exploring oral health care needs of Canadians with rheumatic diseases: a qualitative study. Canadian Journal of Dental Hygiene. 2026;60(2):103–112.