Penyakit Gusi dan Kanker Usus Besar: Kaitannya Nyata, Mekanismenya Masih Menjadi Teka-Teki
Penyakit gusi dikaitkan dengan lebih dari 50 penyakit—termasuk kanker usus besar. Sebuah studi di Slovenia menyelidiki apakah merawat gusi memengaruhi peradangan pada pasien kanker usus, dan apakah bakteri mulut bisa ditemukan di jaringan tumor. Hasilnya belum menemukan keduanya—tetapi justru itu memperlihatkan betapa rumitnya hubungan ini.
Sudah semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa kesehatan mulut tak terpisahkan dari kesehatan seluruh tubuh. Salah satu kaitan yang paling menarik perhatian—sekaligus paling mengejutkan—adalah antara penyakit gusi dan kanker usus besar. Meski letak mulut dan usus berjauhan, keduanya diduga terhubung melalui benang merah yang sama: peradangan dan bakteri.
Untuk menelusuri hubungan ini lebih dalam, sekelompok peneliti dari University Medical Centre Ljubljana dan Institute of Oncology Ljubljana, Slovenia, melakukan sebuah studi klinis. Hasilnya diterbitkan dalam jurnal Radiology and Oncology pada 2025. Dan seperti yang akan kita lihat, temuannya justru menggarisbawahi betapa banyak yang masih belum kita pahami tentang hubungan ini.
Konteks: Ketika Masalah di Mulut Berkaitan dengan Kanker Usus
Mari kita kenali dulu dua pemainnya. Penyakit gusi (periodontal) adalah peradangan kronis pada jaringan penyangga gigi, dipicu oleh ketidakseimbangan bakteri dalam plak. Ini bukan masalah sepele: menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 19% penduduk dunia—lebih dari satu miliar orang—mengalami penyakit gusi yang parah. Yang lebih mengkhawatirkan, penyakit gusi dikaitkan dengan lebih dari 50 kondisi lain, mulai dari penyakit jantung, diabetes, hingga kanker.
Sementara itu, kanker usus besar (kolorektal) merupakan jenis kanker paling umum ketiga di dunia—dengan lebih dari 1,9 juta kasus baru pada 2022—dan menjadi penyebab kematian akibat kanker terbanyak kedua. Salah satu faktor yang diketahui berperan dalam perkembangannya, selain merokok, obesitas, dan usia, adalah peradangan kronis.
Di sinilah jembatan antara gusi dan usus mulai terlihat. Bakteri dari mulut yang bermasalah—terutama dua jenis bernama Fusobacterium nucleatum dan Porphyromonas gingivalis—diduga dapat menyebar ke usus, baik melalui aliran darah maupun melalui saluran pencernaan, lalu mengubah keseimbangan bakteri di area usus besar. Yang penting untuk dicatat: kaitan ini bukan sekadar dugaan. Sebuah tinjauan sistematis besar sebelumnya menemukan bahwa penyakit gusi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar hingga 44%. Pertanyaan besarnya justru adalah: bagaimana mekanismenya, dan apakah merawat gusi bisa memberi manfaat?
Apa yang Dilakukan Peneliti
Untuk menjawab itu, para peneliti mengajukan dua pertanyaan spesifik. Pertama, apakah merawat penyakit gusi dapat memengaruhi tingkat peradangan (diukur lewat penanda dalam darah bernama protein C-reaktif, atau CRP) pada pasien kanker usus? Kedua, apakah kedua bakteri mulut tadi bisa ditemukan langsung di jaringan tumor usus?
Penelitian ini melibatkan dua kelompok pasien kanker usus besar: satu kelompok (10 pasien) yang menjalani perawatan gusi menyeluruh sebelum operasi kanker, dan satu kelompok pembanding (9 pasien) yang tidak menjalani perawatan gusi. Peneliti mengukur kadar CRP dalam darah pada beberapa titik waktu—saat pemeriksaan awal, setelah operasi, dan saat kontrol—lalu membandingkannya antar-kelompok. Mereka juga mengambil sampel bakteri dari gusi pasien sekaligus dari jaringan tumor untuk dibiakkan (dikultur). Perlu dicatat, karena alasan etis—tidak mungkin sengaja membiarkan gusi pasien tanpa perawatan—penelitian ini tidak diacak secara penuh.
Hasilnya: Belum Menemukan Kaitan Langsung
Temuan penelitian ini bersifat "nihil"—yang justru menarik untuk dicermati.
Untuk peradangan, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik dalam kadar CRP antara kelompok yang dirawat gusinya dan yang tidak, baik sebelum operasi, sesudah operasi, maupun saat kontrol. Dengan kata lain, dalam penelitian ini, perawatan gusi tidak tampak memengaruhi tingkat peradangan pada pasien kanker usus.
Untuk bakteri, hasilnya lebih menarik lagi. Peneliti berhasil menemukan bakteri tersebut di gusi para pasien—Fusobacterium nucleatum ditemukan pada gusi seluruh 10 pasien, dan Porphyromonas gingivalis pada separuh pasien. Namun, kedua bakteri itu sama sekali tidak dapat diisolasi dari jaringan tumor usus para pasien. Jadi, meski bakteri jelas ada di mulut, mereka tidak terdeteksi di lokasi kanker.
Mengapa Hasilnya Bisa "Nihil"?
Inilah bagian yang paling penting untuk dipahami—dan para penelitinya sendiri sangat jujur soal ini. Hasil "nihil" ini tidak berarti bahwa kaitan antara penyakit gusi dan kanker usus terbantahkan. Ada beberapa alasan kuat yang menjelaskan mengapa penelitian ini tidak menemukan apa yang dicarinya.
Pertama, dan yang paling utama, jumlah pesertanya sangat kecil (hanya 10 dan 9 pasien)—terlalu sedikit untuk menangkap perbedaan yang mungkin sebenarnya ada. Kedua, para pasien menerima antibiotik sebelum operasi, yang kemungkinan besar telah membunuh bakteri sebelum sampel tumor diambil—sehingga wajar jika bakteri hidup tak lagi bisa dibiakkan. Ketiga, metode yang digunakan adalah kultur (biakan bakteri), yang meski dianggap "standar emas", memiliki keterbatasan dalam menumbuhkan bakteri tertentu. Menariknya, penelitian-penelitian lain yang menggunakan metode molekuler yang lebih sensitif (seperti PCR) justru berhasil menemukan bakteri tersebut di jaringan kanker usus. Bahkan sebuah studi lain menemukan kemiripan genetik antara bakteri di mulut dan di tumor pasien yang sama—petunjuk kuat bahwa bakteri memang bisa berpindah dari mulut ke usus.
Keempat, para pasien dalam studi ini tidak dalam kondisi sehat secara umum—mereka mengidap kanker dan setidaknya satu penyakit sistemik lain yang turut memengaruhi kadar CRP. Padahal, penelitian sebelumnya yang menunjukkan perawatan gusi dapat menurunkan CRP dilakukan pada orang yang secara umum sehat. Ini bisa menjelaskan mengapa efeknya tidak terlihat di sini.
Apa Artinya untuk Kita
Bagi kita, penelitian ini membawa dua pesan sekaligus. Yang pertama: kaitan antara kesehatan gusi dan kesehatan tubuh secara keseluruhan tetap nyata dan layak diperhatikan. Kaitan penyakit gusi dengan kanker usus (dan puluhan penyakit lain) sudah didukung banyak bukti; studi ini tidak mengubah gambaran besar itu, melainkan sekadar belum berhasil menangkap mekanismenya dengan metode yang digunakan.
Yang kedua: penelitian ini adalah contoh nyata betapa rumitnya membuktikan sebuah mekanisme dalam ilmu kedokteran. Menemukan kaitan statistik (misalnya "risiko naik 44%") jauh lebih mudah daripada memastikan bagaimana dan mengapa kaitan itu terjadi. Dibutuhkan penelitian yang lebih besar, dengan metode yang lebih sensitif, untuk menjawabnya.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana penyakit gusi masih sangat umum sementara kesadaran akan hubungannya dengan kesehatan tubuh secara menyeluruh masih perlu ditingkatkan. Terlepas dari teka-teki mekanismenya, menjaga kesehatan gusi—lewat kebersihan mulut yang baik dan pemeriksaan rutin—tetap merupakan investasi berharga bagi kesehatan, karena manfaatnya sudah terbukti untuk banyak hal.
Catatan Penting: Batasan Penelitian
Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini sangat terbuka soal keterbatasannya, dan ini kunci untuk membacanya dengan benar.
Keterbatasan terbesarnya adalah jumlah peserta yang sangat kecil dan tidak adanya pengacakan pada kelompok pembanding (yang datanya sebagian diambil secara retrospektif dari rekam medis). Selain itu, penggunaan antibiotik sebelum operasi dan metode kultur yang kurang sensitif kemungkinan besar memengaruhi hasil deteksi bakteri. Para peneliti sendiri menyarankan agar penelitian selanjutnya melibatkan jumlah pasien yang lebih besar, menyertakan kelompok pembanding dengan gusi yang sehat, serta menggunakan metode molekuler yang lebih akurat untuk mendeteksi bakteri di jaringan kanker.
Kesimpulan
Studi ini, dengan segala keterbatasannya, tidak menemukan kaitan langsung antara perawatan gusi dan kanker usus besar—baik dari sisi peradangan maupun keberadaan bakteri di jaringan tumor. Namun, penting untuk dibaca dengan tepat: ini bukan bukti bahwa hubungan keduanya tidak ada, melainkan cerminan bahwa penelitian ini belum mampu menangkapnya.
Pesan yang bisa dibawa pulang: kaitan antara mulut dan tubuh itu nyata, tetapi memahaminya secara utuh adalah perjalanan panjang yang masih berlangsung. Dan sembari para ilmuwan terus mencari jawaban, satu hal tetap masuk akal untuk dilakukan—merawat kesehatan gusi kita, karena manfaatnya bagi kesehatan secara keseluruhan sudah tidak diragukan lagi.
Referensi
Potocnik Rebersak U, Brecelj E, Schara R. The influence of periodontal disease and periodontal treatment on colorectal cancer. Radiology and Oncology. 2025;59(4):589–596.