Hubungan Kesehatan Mulut dengan Menopause

Menopause Tak Hanya Soal Haid: Mulut Kering, Lidah Terasa Terbakar, hingga Gusi Bermasalah
Menopause dikenal dengan gejala seperti hot flashes, sulit tidur, dan perubahan suasana hati. Namun ada perubahan lain yang jarang dibicarakan: perubahan di dalam mulut. Sebuah penelitian di India yang membandingkan 60 perempuan pada tiga tahap kehidupan, yaitu sebelum, menjelang, dan sesudah menopause, menemukan bahwa keluhan mulut kering dialami 85% perempuan pascamenopause, dibandingkan 25% perempuan yang belum menopause. Perempuan pascamenopause juga lebih banyak mengalami lidah terasa terbakar, perubahan rasa, dan kerusakan gusi.
Ketika Hormon Berubah, Mulut Ikut Terdampak
Menopause adalah masa ketika haid berhenti secara permanen karena indung telur tidak lagi aktif. Masa ini didahului oleh perimenopause, yaitu masa peralihan ketika haid mulai tidak teratur.
Pada masa ini, kadar hormon estrogen menurun. Selain memengaruhi sistem reproduksi, estrogen juga berperan penting menjaga kesehatan mulut, antara lain menjaga kelembapan dan ketahanan lapisan dalam mulut, mengatur produksi air liur, dan menjaga kestabilan gusi serta tulang penyangga gigi.
Ketika estrogen menurun, perempuan dapat mengalami:
berkurangnya air liur dan keluhan mulut kering,
air liur menjadi lebih asam,
sindrom mulut terbakar, yaitu rasa panas atau perih di lidah dan mulut tanpa penyebab yang terlihat,
perubahan rasa,
dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit gusi.
Keluhan-keluhan ini juga bisa membuat perempuan enggan atau kesulitan menjaga kebersihan mulut. Mulut yang kering, perih, atau terasa tidak nyaman bisa membuat menyikat gigi dan membersihkan sela gigi menjadi kurang efektif. Akibatnya, plak lebih mudah menumpuk dan penyakit gusi bisa makin berat.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Departemen Penyakit Mulut dan Radiologi, Ranjeet Deshmukh Dental College and Research Centre, Nagpur, India, yang dipimpin Tapasya Karemore, memeriksa 60 perempuan yang dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing 20 orang:
Sebelum menopause: usia 21–40 tahun, haid masih teratur (rata-rata usia 32 tahun),
Perimenopause: usia 41–51 tahun, haid tidak teratur (rata-rata usia 45 tahun),
Pascamenopause: usia 45–65 tahun, tidak haid selama minimal 2 tahun (rata-rata usia 58 tahun).
Perempuan yang menjalani terapi hormon, mengonsumsi obat psikiatri, merokok, minum alkohol, atau memiliki penyakit kronis yang tidak berkaitan dengan menopause tidak diikutsertakan.
Setiap peserta menjalani pemeriksaan:
Air liur: jumlah air liur dan tingkat keasamannya (pH).
Keluhan mulut kering dan rasa terbakar di mulut melalui kuesioner dan skala penilaian.
Kemampuan merasakan manis, asin, asam, dan pahit.
Kesehatan gusi: jumlah plak, kedalaman celah gusi, kerusakan jaringan penyangga gigi, dan perdarahan gusi.
Lapisan dalam mulut: tanda infeksi jamur, peradangan lidah, dan perubahan lain.
Peneliti juga mencatat tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta skor depresi dan kecemasan, untuk melihat apakah kondisi mulut berkaitan dengan kesehatan tubuh dan jiwa.
Hasilnya
1. Air liur berkurang dan makin asam
Jumlah air liur menurun jelas dari kelompok sebelum menopause ke kelompok pascamenopause. Air liur juga menjadi lebih asam, dengan pH turun dari sekitar 6,78 menjadi 6,12.
Keluhan mulut kering meningkat tajam:
25% pada perempuan sebelum menopause,
65% pada perempuan perimenopause,
85% pada perempuan pascamenopause.
Peneliti menyebut gangguan air liur ini sebagai "pemicu awal" masalah mulut lainnya. Air liur yang sedikit dan asam membuat gigi lebih mudah berlubang, mulut lebih rentan infeksi jamur, dan makan, menelan, serta berbicara terasa tidak nyaman.
2. Lidah terasa terbakar dan rasa berubah
Sebanyak 60% perempuan pascamenopause mengalami rasa terbakar di mulut yang tergolong cukup berat.
Sekitar 70% perempuan pascamenopause mengalami perubahan kemampuan merasakan, terutama rasa manis dan asin.
Infeksi jamur di mulut dan peradangan lidah lebih sering ditemukan pada perempuan perimenopause dan pascamenopause.
Perubahan rasa ini bisa berdampak pada pola makan. Peneliti menduga, perempuan yang sulit merasakan manis atau asin mungkin cenderung menambah gula atau makan makanan olahan, yang dapat meningkatkan risiko gigi berlubang dan penyakit gusi.
3. Gusi makin bermasalah
Kesehatan gusi memburuk dari kelompok sebelum menopause ke kelompok pascamenopause:
Plak meningkat dari skor sekitar 0,92 menjadi 1,64.
Kerusakan jaringan penyangga gigi meningkat dari sekitar 1,2 mm menjadi 3,9 mm.
Perdarahan gusi saat diperiksa ditemukan pada 26% perempuan sebelum menopause, dibandingkan 72% perempuan pascamenopause.
Peneliti menjelaskan dua sebab yang saling memperkuat. Pertama, berkurangnya estrogen membuat jaringan penyangga gigi lebih lemah dan peradangan lebih mudah terjadi. Kedua, keluhan seperti mulut kering, perubahan rasa, dan rasa terbakar dapat membuat perempuan menyikat gigi lebih jarang atau kurang efektif.
4. Kaitan dengan kesehatan tubuh dan jiwa
Perempuan pascamenopause juga memiliki tekanan darah lebih tinggi, gula darah yang lebih sering tidak normal, dan kolesterol yang kurang baik. Skor depresi dan kecemasan juga lebih tinggi pada perempuan perimenopause dan pascamenopause.
Peneliti menemukan bahwa kondisi mulut yang lebih buruk, seperti air liur sedikit, plak banyak, dan kerusakan gusi lebih berat, berkaitan dengan kolesterol yang kurang baik, gula darah dan tekanan darah yang lebih tinggi, serta skor depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.
Peneliti menduga peradangan di gusi bisa ikut memperburuk risiko penyakit jantung dan metabolik. Keluhan mulut seperti bau mulut, gigi goyang, rasa sakit, dan keterbatasan makan juga bisa menurunkan rasa percaya diri dan memperburuk suasana hati. Namun peneliti sendiri menegaskan bahwa kaitan ini tidak boleh dilebih-lebihkan, karena penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan sebab-akibat.
Catatan Penting
Hasil penelitian ini perlu ditafsirkan dengan hati-hati:
Jumlah peserta sangat kecil, hanya 20 orang per kelompok, dan berasal dari satu rumah sakit pendidikan gigi di India.
Usia ketiga kelompok sangat berbeda, dari rata-rata 32 tahun hingga 58 tahun. Banyak perubahan, seperti kerusakan gusi, tekanan darah, dan kolesterol, juga terjadi seiring bertambahnya usia. Penelitian ini tidak memisahkan pengaruh usia dari pengaruh menopause, sehingga belum bisa dipastikan berapa banyak perubahan yang benar-benar akibat menopause. (Catatan ini merupakan tambahan redaksi.)
Kebiasaan menjaga kebersihan mulut tidak diukur secara langsung. Meski judul jurnal menyebut peran kebersihan mulut, penelitian ini tidak mencatat seberapa sering atau bagaimana peserta menyikat gigi. Kaitan antara keluhan mulut dan kebiasaan menyikat gigi merupakan dugaan peneliti, bukan hasil pengukuran. (Catatan ini merupakan tambahan redaksi.)
Hanya mengamati satu waktu, sehingga tidak bisa diketahui mana yang terjadi lebih dulu: kondisi mulut yang buruk memengaruhi kesehatan tubuh dan jiwa, atau sebaliknya.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan pada masa perimenopause dan pascamenopause lebih banyak mengalami berkurangnya air liur, air liur yang lebih asam, mulut kering, perubahan rasa, rasa terbakar di mulut, dan kerusakan gusi. Kondisi ini dapat membuat menjaga kebersihan mulut lebih sulit, sehingga mulut makin rentan terhadap penyakit.
Para peneliti menyarankan agar kesehatan mulut menjadi bagian penting dari perawatan menopause, antara lain melalui:
pemeriksaan mulut rutin di klinik menopause untuk mendeteksi dini mulut kering, radang gusi, dan perubahan lapisan mulut,
perawatan yang disesuaikan, seperti pasta gigi berfluoride tinggi, obat kumur tanpa alkohol, perangsang air liur, atau air liur buatan,
konsultasi pola makan bagi perempuan yang mengalami perubahan rasa, agar tidak berlebihan mengonsumsi makanan manis,
serta kerja sama antara dokter gigi, dokter kandungan, dan psikolog.