Hubungan Jumlah Gigi dan Kualitas Tidur Lansia

Tak Disangka, Jumlah Gigi Asli Berpengaruh pada Kualitas Tidur Lansia
Bayangkan seorang kakek berusia 70-an tahun yang belakangan sering mengeluh susah tidur. Malamnya gelisah, tidurnya tidak pernah benar-benar pulas, dan paginya bangun dengan badan lelah. Keluarganya mungkin mencurigai berbagai hal kopi yang diminum sore hari, pikiran yang menumpuk, atau kasur yang sudah tak lagi nyaman. Tapi ada satu kemungkinan yang jarang sekali terlintas: jangan-jangan sebagian penyebabnya justru ada di dalam mulut, tepatnya pada berapa banyak gigi asli yang masih ia miliki.
Terdengar mengada-ada? Sebuah penelitian terbaru yang terbit di International Dental Journal justru menemukan bahwa kaitan itu nyata. Setelah menganalisis data hampir 6.000 lansia, para peneliti menyimpulkan bahwa semakin banyak gigi asli yang bertahan, cenderung semakin baik pula kualitas tidur seseorang di usia senja dan nyeri pada sendi rahang diam-diam ikut berperan sebagai salah satu "penghubung" di antara keduanya.
Mengapa Urusan Gigi Bisa Nyambung ke Urusan Tidur?
Selama ini, banyak orang menganggap kesehatan mulut sebagai urusan yang berdiri sendiri sekadar soal gigi berlubang atau napas segar. Padahal, mulut jauh lebih terhubung dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan daripada yang kita kira.
Proses mengunyah, misalnya, bergantung pada kerja sama yang harmonis antara tiga hal: gigi, otot-otot pengunyah, dan sendi rahang atau yang dalam istilah medis disebut sendi temporomandibular (TMJ) engsel kecil di depan telinga yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak. Ketika sebagian gigi hilang, keseimbangan ini terganggu. Kemampuan mengunyah menurun, dan beban pada sendi rahang bisa berubah. Nyeri pada sendi rahang sendiri dikenal cenderung memburuk pada malam hari, sehingga berpotensi mengusik tidur.
Penelitian-penelitian sebelumnya sebenarnya sudah memberi petunjuk bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan tidur yang lebih buruk. Namun, bagaimana persisnya kedua hal itu saling terhubung masih menjadi teka-teki. Nah, di sinilah studi ini mencoba mengisi celah tersebut dengan bertanya: mungkinkah nyeri sendi rahang menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan gigi yang hilang dengan tidur yang terganggu?
Apa yang Dilakukan Para Peneliti?
Untuk menjawabnya, tim peneliti tidak melakukan percobaan di laboratorium, melainkan menggali data dari survei berskala besar bernama China Health and Longevity Longitudinal Survey (CLHLS) sebuah studi jangka panjang yang memantau kesehatan lansia di Tiongkok.
Dari data itu, mereka menganalisis 5.941 orang lansia. Untuk tiap peserta, peneliti mencatat tiga hal utama:
Jumlah gigi asli yang masih tersisa.
Kualitas tidur, yang dinilai lewat skor tertentu. Yang perlu diingat: pada skala ini, angka yang lebih rendah justru berarti tidur yang lebih baik.
Ada-tidaknya nyeri pada sendi rahang (TMJ).