Skip to Content

Hubungan Jumlah Gigi dan Kualitas Tidur Lansia

July 26, 2026 by
Carigi Indonesia

Hubungan Jumlah Gigi dan Kualitas Tidur Lansia

Hubungan Jumlah Gigi dan Kualitas Tidur Lansia

Tak Disangka, Jumlah Gigi Asli Berpengaruh pada Kualitas Tidur Lansia

Bayangkan seorang kakek berusia 70-an tahun yang belakangan sering mengeluh susah tidur. Malamnya gelisah, tidurnya tidak pernah benar-benar pulas, dan paginya bangun dengan badan lelah. Keluarganya mungkin mencurigai berbagai hal kopi yang diminum sore hari, pikiran yang menumpuk, atau kasur yang sudah tak lagi nyaman. Tapi ada satu kemungkinan yang jarang sekali terlintas: jangan-jangan sebagian penyebabnya justru ada di dalam mulut, tepatnya pada berapa banyak gigi asli yang masih ia miliki.

Terdengar mengada-ada? Sebuah penelitian terbaru yang terbit di International Dental Journal justru menemukan bahwa kaitan itu nyata. Setelah menganalisis data hampir 6.000 lansia, para peneliti menyimpulkan bahwa semakin banyak gigi asli yang bertahan, cenderung semakin baik pula kualitas tidur seseorang di usia senja dan nyeri pada sendi rahang diam-diam ikut berperan sebagai salah satu "penghubung" di antara keduanya.

Mengapa Urusan Gigi Bisa Nyambung ke Urusan Tidur?

Selama ini, banyak orang menganggap kesehatan mulut sebagai urusan yang berdiri sendiri sekadar soal gigi berlubang atau napas segar. Padahal, mulut jauh lebih terhubung dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan daripada yang kita kira.

Proses mengunyah, misalnya, bergantung pada kerja sama yang harmonis antara tiga hal: gigi, otot-otot pengunyah, dan sendi rahang atau yang dalam istilah medis disebut sendi temporomandibular (TMJ) engsel kecil di depan telinga yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak. Ketika sebagian gigi hilang, keseimbangan ini terganggu. Kemampuan mengunyah menurun, dan beban pada sendi rahang bisa berubah. Nyeri pada sendi rahang sendiri dikenal cenderung memburuk pada malam hari, sehingga berpotensi mengusik tidur.

Penelitian-penelitian sebelumnya sebenarnya sudah memberi petunjuk bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan tidur yang lebih buruk. Namun, bagaimana persisnya kedua hal itu saling terhubung masih menjadi teka-teki. Nah, di sinilah studi ini mencoba mengisi celah tersebut dengan bertanya: mungkinkah nyeri sendi rahang menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan gigi yang hilang dengan tidur yang terganggu?


Apa yang Dilakukan Para Peneliti?

Untuk menjawabnya, tim peneliti tidak melakukan percobaan di laboratorium, melainkan menggali data dari survei berskala besar bernama China Health and Longevity Longitudinal Survey (CLHLS) sebuah studi jangka panjang yang memantau kesehatan lansia di Tiongkok.

Dari data itu, mereka menganalisis 5.941 orang lansia. Untuk tiap peserta, peneliti mencatat tiga hal utama:

  • Jumlah gigi asli yang masih tersisa.

  • Kualitas tidur, yang dinilai lewat skor tertentu. Yang perlu diingat: pada skala ini, angka yang lebih rendah justru berarti tidur yang lebih baik.

  • Ada-tidaknya nyeri pada sendi rahang (TMJ).

Yang membuat studi ini cukup teliti, para peneliti tidak sekadar membandingkan angka mentah. Mereka menggunakan metode statistik yang memperhitungkan berbagai faktor lain yang bisa ikut memengaruhi tidur seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan hidup, dan penyakit-penyakit yang diderita. Tujuannya agar hasil yang muncul benar-benar mencerminkan kaitan gigi tidur, bukan sekadar kebetulan karena faktor lain.

Selain itu, mereka melakukan yang disebut analisis mediasi. Ini adalah cara statistik untuk menguji apakah suatu faktor berperan sebagai "batu loncatan" dalam sebuah rantai sebab-akibat. Dalam konteks ini: apakah jalur dari "gigi yang berkurang" menuju "tidur yang lebih buruk" sebagian melewati "nyeri sendi rahang"?

Apa yang Mereka Temukan?

Beberapa gambaran awal dari para peserta sudah cukup menarik. Rata-rata, para lansia ini hanya memiliki sekitar 10 gigi asli jauh di bawah 28 hingga 32 gigi yang normalnya dimiliki orang dewasa. Artinya, secara rata-rata mereka telah kehilangan sebagian besar giginya. Sementara itu, sekitar 7 dari setiap 100 lansia mengalami nyeri pada sendi rahang.

Lalu, apa temuan intinya?

Pertama, semakin banyak gigi asli, semakin baik kualitas tidurnya. Analisis menunjukkan bahwa jumlah gigi yang lebih banyak berkaitan dengan tidur yang lebih nyenyak, dan kaitan ini bermakna secara statistik. Perlu jujur diakui: perbedaan untuk setiap satu gigi memang tergolong kecil. Namun, bila diakumulasikan bayangkan selisih belasan gigi antara seseorang yang giginya masih relatif lengkap dan seseorang yang giginya tinggal sedikit pengaruhnya menjadi jauh lebih berarti.

Kedua, nyeri sendi rahang jelas berkaitan dengan tidur yang lebih buruk. Lansia yang mengalami nyeri TMJ cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih rendah, dan kaitan ini bahkan lebih kuat dibanding sekadar soal jumlah gigi.

Peran "Perantara" Nyeri Rahang

Di sinilah temuan paling baru dari studi ini muncul. Lewat analisis mediasi, para peneliti menemukan bahwa nyeri sendi rahang memang menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan kehilangan gigi dengan tidur yang terganggu tetapi bukan satu-satunya.

Secara angka, nyeri sendi rahang menjelaskan sekitar 11,5% dari keseluruhan kaitan antara jumlah gigi dan kualitas tidur. Dengan kata lain, sebagian kecil dari alasan mengapa gigi yang berkurang berkaitan dengan tidur yang lebih buruk memang berjalan lewat jalur "gigi hilang → nyeri rahang → tidur terganggu".

Namun, sisanya yang jauh lebih besar sekitar 88,5% berjalan lewat jalur lain yang tidak melalui nyeri rahang. Ini menandakan bahwa gigi asli tampaknya mempengaruhi kualitas tidur melalui berbagai mekanisme sekaligus, dan nyeri rahang hanyalah salah satu potongan dari gambaran besar yang lebih rumit.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Sekilas, kaitan antara gigi dan tidur mungkin terdengar seperti fakta unik yang menarik saja. Tapi bagi kesehatan lansia, temuan ini punya makna praktis.

Tidur yang berkualitas adalah salah satu pilar kesehatan di usia lanjut mempengaruhi suasana hati, daya tahan tubuh, fungsi otak, hingga risiko berbagai penyakit. Selama ini, ketika seorang lansia mengalami gangguan tidur, perhatian biasanya langsung tertuju pada obat tidur, kebiasaan tidur, atau kondisi psikologis. Studi ini menawarkan sudut pandang tambahan yang sering terlewat: kondisi mulut juga layak diperiksa.

Ada dua "tuas" yang bisa ditindaklanjuti dari temuan ini. Yang pertama adalah mempertahankan gigi asli selama mungkin lewat perawatan gigi rutin, pencegahan gigi berlubang dan penyakit gusi, serta pengobatan sedini mungkin sebelum gigi harus dicabut. Yang kedua adalah menangani nyeri sendi rahang bila keluhan itu muncul, alih-alih menganggapnya sekadar pegal biasa.

Dengan kata lain, menjaga kesehatan gigi dan rahang bukan hanya soal bisa mengunyah dengan nyaman atau tampil percaya diri bisa jadi ia juga ikut berkontribusi pada tidur yang lebih nyenyak di usia senja.




Catatan Penting: Ini Hubungan, Belum Tentu Sebab-Akibat

Sebelum menarik kesimpulan terlalu jauh, ada beberapa hal yang perlu ditempatkan secara jujur.

Studi ini bersifat observasional artinya ia menemukan adanya kaitan, tetapi tidak serta-merta membuktikan bahwa gigi yang hilang menyebabkan tidur menjadi buruk. Bisa jadi ada faktor-faktor lain yang saling mempengaruhi. Selain itu, sebagaimana diakui di atas, pengaruh untuk setiap satu gigi memang kecil dalam ukuran absolut; yang lebih bermakna adalah pola keseluruhannya. Data tidur pun bersifat laporan mandiri dari peserta, dan penelitian ini dilakukan pada populasi lansia di satu negara, sehingga hasilnya perlu dikonfirmasi lebih lanjut di kelompok masyarakat yang berbeda.

Meski begitu, temuannya selaras dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang mengaitkan kehilangan gigi dengan tidur yang lebih buruk. Pesan praktisnya sederhana dan tidak berlebihan: merawat gigi dan sendi rahang adalah bagian dari merawat kualitas tidur dan kesehatan tubuh secara menyeluruh meski tentu saja tidak menggantikan pemeriksaan langsung ke dokter gigi atau tenaga medis bila Anda atau orang tua Anda mengalami gangguan tidur yang mengganggu.

Intinya, lain kali jika ada lansia di sekitar Anda yang sulit tidur, jangan hanya melihat ke bantal dan kasurnya. Sesekali, tak ada salahnya juga menengok ke dalam mulutnya.

Sumber Artikel Asli & Referensi

Judul: Natural Tooth Count and Sleep Quality in Older Adults: The Mediating Effect of Temporomandibular Joint Pain

Penulis: Jingting Pi, Zhi Wang, Lin Song, Xia Deng, Xiaoli He, Deping Sun

Jurnal: International Dental Journal, 2025, Vol. 75, No. 5, Artikel 100947 (akses terbuka/open access)

DOI: 10.1016/j.identj.2025.100947

Sumber data penelitian: China Health and Longevity Longitudinal Survey (CLHLS).

Carigi Indonesia July 26, 2026
Share this post
Tags
Archive
Evaluasi AI Diagnosa Komplikasi Rahang MRONJ