Skip to Content

Hamil Tua dan Menopause: Air Liur Berkurang, Mulut Lebih Rentan

October 26, 2026 by
Carigi Indonesia

Hamil Tua dan Menopause: Air Liur Berkurang, Mulut Lebih Rentan

Hamil Tua dan Menopause: Air Liur Berkurang, Mulut Lebih Rentan

Hamil Tua dan Menopause, Dua Masa Ketika Air Liur Berkurang dan Mulut Lebih Rentan

Sepanjang hidupnya, tubuh perempuan mengalami naik-turun hormon: saat haid, masa subur, hamil, hingga menopause. Sebuah penelitian di India membandingkan air liur dan kebersihan mulut 80 perempuan pada empat tahap tersebut. Hasilnya, perempuan yang sedang hamil trimester ketiga dan perempuan yang sudah menopause memiliki air liur sekitar separuh lebih sedikit, air liur yang lebih asam, dan kebersihan mulut yang jauh lebih buruk dibandingkan perempuan dengan siklus haid normal. Pada kedua kelompok ini, tidak satu pun peserta memiliki kebersihan mulut yang tergolong baik.

Air Liur, Pelindung Mulut yang Sering Dilupakan

Air liur sering dianggap sepele, padahal perannya sangat penting bagi kesehatan mulut. Air liur:

  • membasahi dan melicinkan makanan agar mudah dikunyah dan ditelan,

  • membersihkan sisa makanan dan bakteri dari permukaan gigi,

  • menetralkan asam yang dihasilkan bakteri setelah makan,

  • dan membantu memperbaiki lapisan email gigi yang mulai terkikis.

Ketika jumlah air liur berkurang atau air liur menjadi terlalu asam, gigi lebih mudah berlubang, gusi lebih mudah meradang, dan mulut lebih rentan terhadap infeksi.

Hormon Perempuan dan Kesehatan Mulut

Hormon estrogen dan progesteron diketahui memengaruhi jaringan di dalam mulut, termasuk gusi dan kelenjar ludah. Beberapa contohnya:

  • Menjelang dan saat haid, sebagian perempuan mengalami gusi yang lebih mudah meradang.

  • Saat hamil, kadar hormon yang tinggi dikaitkan dengan radang gusi kehamilan, gigi berlubang, dan benjolan pada gusi.

  • Saat menopause, penurunan estrogen dapat menyebabkan mulut kering dan meningkatkan risiko penyakit gusi.

Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya hanya meneliti satu tahap saja. Sangat jarang ada penelitian yang membandingkan beberapa tahap hormonal sekaligus dengan cara pengukuran yang sama.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari A.J. Institute of Dental Sciences di Mangalore dan Manipal College of Dental Sciences, India, yang dipimpin Ashwini S. Colaco dan Arun Mayya, memeriksa 80 perempuan sehat yang dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing 20 orang:

Kelompok

Keterangan

Rata-rata usia

Masa subur (pertengahan siklus)

Hari ke-12 hingga ke-16 siklus haid, sebagai kelompok pembanding

sekitar 29 tahun

Sedang haid

Tiga hari pertama haid

sekitar 26 tahun

Hamil trimester ketiga

Sedang menjalani pemeriksaan kehamilan rutin

sekitar 26 tahun

Menopause

Usia 45 tahun ke atas, tidak haid minimal 12 bulan

sekitar 55 tahun

Perempuan dengan penyakit seperti diabetes, yang sedang minum antibiotik atau obat yang memengaruhi air liur, atau yang memiliki keluhan mulut kering tidak diikutsertakan.

Setiap peserta menjalani pemeriksaan:

  1. Jumlah air liur yang keluar dengan sendirinya (tanpa dirangsang) selama 5 menit. Pengambilan dilakukan pada pagi hari antara pukul 9 dan 12, dan peserta diminta tidak makan, minum, atau menyikat gigi minimal satu jam sebelumnya.

  2. Tingkat keasaman (pH) air liur menggunakan kertas indikator pH.

  3. Kebersihan mulut oleh seorang dokter gigi terlatih, menggunakan indeks yang mengukur jumlah sisa makanan, plak, dan karang gigi. Hasilnya dikelompokkan menjadi baik, sedang, atau buruk.

Karena kelompok menopause jauh lebih tua, peneliti memperhitungkan faktor usia dalam analisis.

Hasilnya

1. Air liur berkurang sekitar separuh

Perempuan pada masa subur dan saat haid menghasilkan air liur sekitar 0,83–0,91 mL per menit. Sebaliknya, perempuan hamil trimester ketiga dan perempuan menopause hanya menghasilkan sekitar 0,43–0,46 mL per menit, atau kira-kira separuhnya.

Jumlah air liur pada perempuan hamil dan perempuan menopause hampir sama. Begitu pula antara perempuan pada masa subur dan saat haid.

2. Air liur lebih asam

Air liur perempuan pada masa subur dan saat haid berada pada pH sekitar 7,6, yang tergolong netral hingga sedikit basa. Pada perempuan hamil, pH air liur turun menjadi sekitar 6,9, dan pada perempuan menopause sekitar 6,6, atau lebih asam.

Peneliti juga menemukan bahwa semakin sedikit air liur, semakin asam pula air liurnya. Hal ini masuk akal, karena air liur mengandung zat penetral asam. Bila air liur sedikit, kemampuannya menetralkan asam juga berkurang.

3. Kebersihan mulut jauh berbeda

Perbedaan paling mencolok terlihat pada kebersihan mulut:

Kelompok

Baik

Sedang

Buruk

Masa subur

90%

10%

0%

Sedang haid

95%

5%

0%

Hamil trimester ketiga

0%

15%

85%

Menopause

0%

20%

80%

Tidak ada satu pun perempuan hamil maupun menopause dalam penelitian ini yang memiliki kebersihan mulut yang baik.

4. Usia bukan satu-satunya penjelasan

Setelah usia diperhitungkan, perbedaan antarkelompok tetap terlihat. Peneliti juga menyoroti bahwa perempuan hamil, yang usianya sebaya dengan kelompok masa subur dan haid, sama-sama menunjukkan air liur yang sedikit dan kebersihan mulut yang buruk seperti perempuan menopause. Menurut peneliti, hal ini menunjukkan bahwa kondisi hormonal, bukan semata usia, kemungkinan berperan besar.

Mengapa Hamil dan Menopause Berdampak Serupa?

Menariknya, kehamilan dan menopause berada pada dua kondisi hormonal yang berlawanan. Saat hamil, kadar estrogen dan progesteron sangat tinggi, sedangkan saat menopause kadarnya sangat rendah. Namun keduanya menunjukkan dampak yang mirip pada air liur.

Peneliti menduga, kelenjar ludah memiliki reseptor hormon. Perubahan hormon yang ekstrem ke arah mana pun dapat mengganggu kerja kelenjar ludah.

Selain faktor hormon, ada faktor sehari-hari yang mungkin ikut berperan:

  • Pada kehamilan: mual, muntah, keinginan makan tertentu, dan rasa lelah dapat membuat ibu hamil sulit menjaga kebersihan mulut. Gusi yang lebih sensitif dan mudah berdarah juga bisa membuat enggan menyikat gigi. Sebagian ibu hamil bahkan menghindari ke dokter gigi karena khawatir tidak aman.

  • Pada menopause: mulut kering, perubahan kepadatan tulang rahang, serta obat-obatan seperti obat tekanan darah tinggi atau antidepresan dapat memperparah keluhan.

Catatan Penting dari Peneliti

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan:

  • Hanya mengamati satu waktu, sehingga belum bisa membuktikan bahwa perubahan hormon menyebabkan perubahan air liur dan kebersihan mulut.

  • Hanya ibu hamil trimester ketiga yang diteliti, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk awal kehamilan.

  • Alat ukur sederhana. pH diukur dengan kertas indikator, yang kurang presisi dibandingkan alat pH digital.

  • Faktor lain tidak diukur, seperti kebiasaan menyikat gigi, pola makan, kunjungan ke dokter gigi, kondisi sosial ekonomi, stres, dan obat-obatan. Faktor-faktor ini bisa ikut memengaruhi hasil.

Ada pula beberapa hal yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Usia kelompok menopause sangat berbeda. Kelompok menopause rata-rata berusia 55 tahun, sementara kelompok lain sekitar 26–29 tahun, tanpa ada usia yang tumpang tindih. Dalam kondisi seperti ini, perhitungan statistik sulit benar-benar memisahkan pengaruh usia dari pengaruh menopause. Perbandingan yang lebih adil terlihat pada kelompok ibu hamil, yang usianya sebaya dengan kelompok pembanding.

  • Jumlah peserta kecil, hanya 20 orang per kelompok, dan berasal dari satu rumah sakit. Perbedaan kebersihan mulut yang sangat tajam (90–95% baik dibandingkan 0% baik) juga perlu dikonfirmasi oleh penelitian lain yang lebih besar.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan pada trimester ketiga kehamilan dan masa menopause memiliki air liur yang lebih sedikit, air liur yang lebih asam, dan kebersihan mulut yang lebih buruk dibandingkan perempuan dengan siklus haid normal. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gigi berlubang dan penyakit gusi.

Para peneliti menyarankan pentingnya kerja sama antara dokter kandungan dan dokter gigi. Dokter kandungan diharapkan mengingatkan ibu hamil dan perempuan menjelang menopause untuk menjaga kebersihan mulut dan merujuk ke dokter gigi bila ada keluhan. Sebaliknya, dokter gigi perlu memperhatikan kondisi hormonal pasiennya.

Bagi ibu hamil, pesannya: memeriksakan gigi saat hamil itu aman dan penting. Tetap sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, bersihkan sela gigi, dan bila sering muntah, berkumurlah dengan air setelahnya. Sampaikan kepada dokter gigi bahwa Anda sedang hamil agar perawatan bisa disesuaikan. Menjaga kesehatan mulut ibu juga penting bagi kehamilan, karena penyakit gusi yang berat pernah dikaitkan dengan kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah.

Bagi perempuan yang memasuki menopause, jangan abaikan keluhan mulut kering atau gusi yang mudah berdarah. Minum air putih yang cukup, jaga kebersihan mulut, dan periksakan gigi secara rutin. Dokter gigi dapat menyarankan produk untuk membantu mengatasi mulut kering bila diperlukan.

Referensi

Colaco AS, Rai A, Mayya A, Chatra A, Acharya SR. Impact of hormonal phases on salivary characteristics and oral hygiene in women: a cross-sectional comparative study. BMC Oral Health. 2026;26:50. 

DOI: https://doi.org/10.1186/s12903-025-07284-5

Carigi Indonesia October 26, 2026
Share this post
Tags
Archive
Hubungan Kesehatan Mulut dengan Menopause