Skip to Content

Hambatan Kunjungan Gigi Ibu Hamil Riset

July 10, 2026 by
Carigi Indonesia

Hambatan Kunjungan Gigi Ibu Hamil Riset

Hambatan Kunjungan Gigi Ibu Hamil Riset

Ibu Hamil Masih Jarang ke Dokter Gigi, Padahal Bisa Melindungi Ibu dan Bayi

Tinjauan global menemukan hambatan terbesar bukan hanya biaya, tetapi juga mitos, rasa takut, dan kurangnya dukungan tenaga kesehatan

Kehamilan merupakan masa ketika tubuh mengalami banyak perubahan, termasuk pada kesehatan rongga mulut. Perubahan hormon selama kehamilan membuat ibu lebih rentan mengalami radang gusi (gingivitis), penyakit periodontal, hingga gigi berlubang. Sayangnya, kesehatan gigi dan mulut masih sering terabaikan dalam pemeriksaan kehamilan rutin.

Padahal, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kesehatan mulut yang buruk selama kehamilan berkaitan dengan meningkatnya risiko kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, preeklamsia, diabetes gestasional, bahkan dapat meningkatkan risiko penularan bakteri penyebab karies dari ibu kepada anak setelah lahir.

Sebuah systematic review terbaru yang diterbitkan pada tahun 2026 mencoba menjawab pertanyaan penting: mengapa banyak ibu hamil tidak memanfaatkan layanan kesehatan gigi, dan apa yang dapat mendorong mereka untuk melakukannya?

Menggabungkan Bukti dari 55 Penelitian di 24 Negara

Peneliti melakukan tinjauan sistematis menggunakan pendekatan mixed-methods, yaitu menggabungkan hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif agar memperoleh gambaran yang lebih utuh.

Sebanyak 55 penelitian dari 24 negara dianalisis, terdiri atas:

  • 37 penelitian kuantitatif

  • 17 penelitian kualitatif

  • 1 penelitian mixed-methods

Secara keseluruhan, penelitian tersebut melibatkan berbagai latar belakang budaya, ekonomi, dan sistem pelayanan kesehatan, sehingga memberikan gambaran global mengenai perilaku ibu hamil dalam memanfaatkan layanan kesehatan gigi.

Analisis dilakukan menggunakan Andersen's Behavioral Model of Health Services Use, sebuah kerangka yang menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor individu, lingkungan sosial, sistem pelayanan kesehatan, serta kebutuhan kesehatan yang dirasakan.

Mitos dan Kekhawatiran Menjadi Hambatan Terbesar

Salah satu temuan paling konsisten adalah masih banyak ibu hamil yang percaya bahwa perawatan gigi dapat membahayakan janin.

Berbagai tindakan seperti pencabutan gigi, penggunaan anestesi lokal, pembersihan karang gigi, maupun foto rontgen gigi sering dianggap tidak aman selama kehamilan. Akibatnya, banyak ibu memilih menunda perawatan meskipun mengalami keluhan.

Keyakinan tersebut umumnya berasal dari informasi yang keliru, pengalaman negatif sebelumnya, rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan gigi, maupun pengaruh budaya dan lingkungan sekitar.

Rasa takut terhadap perawatan gigi juga menjadi alasan yang sering ditemukan dalam berbagai negara.

Biaya dan Sistem Pelayanan Masih Menjadi Kendala

Selain faktor individu, hambatan juga berasal dari sistem pelayanan kesehatan.

Beberapa masalah yang paling sering ditemukan antara lain:

  • biaya perawatan gigi yang dianggap mahal;

  • tidak adanya asuransi atau jaminan pembiayaan untuk pelayanan gigi selama kehamilan;

  • sulitnya akses ke dokter gigi, terutama di daerah pedesaan;

  • minimnya rujukan dari dokter kandungan atau bidan;

  • masih adanya dokter gigi yang ragu memberikan perawatan kepada ibu hamil karena khawatir terhadap risiko hukum atau kurangnya pelatihan khusus.

Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan gigi tidak hanya dipengaruhi oleh keinginannya sendiri, tetapi juga oleh dukungan dari sistem kesehatan.

Kesehatan Gigi Sering Dianggap Bukan Prioritas

Banyak ibu hamil mengaku lebih memprioritaskan keluhan kehamilan lain dibandingkan kesehatan gigi.

Rasa mual, kelelahan, pekerjaan, mengurus anak, hingga berbagai aktivitas sehari-hari membuat pemeriksaan gigi sering ditunda.

Sebagian besar baru mencari pertolongan ketika rasa sakit sudah cukup berat, misalnya saat gigi sakit hebat, gusi berdarah terus-menerus, atau terjadi pembengkakan.

Artinya, kunjungan ke dokter gigi masih lebih banyak bersifat mengobati daripada mencegah.

Budaya dan Lingkungan Ikut Memengaruhi Keputusan

Di beberapa negara, terdapat anggapan bahwa selama hamil sebaiknya menghindari berbagai tindakan medis, termasuk perawatan gigi.

Bahkan, keputusan ibu sering dipengaruhi oleh anggota keluarga, orang tua, atau tokoh masyarakat yang menyarankan agar tidak berobat ke dokter gigi selama kehamilan.

Hal ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan sebaiknya tidak hanya ditujukan kepada ibu hamil, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat agar informasi yang benar dapat diterima secara lebih luas.

Apa yang Membuat Ibu Hamil Lebih Mau ke Dokter Gigi?

Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan ibu hamil memanfaatkan layanan kesehatan gigi.

Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • tingkat pendidikan yang lebih tinggi;

  • memiliki pekerjaan dan kondisi ekonomi yang lebih baik;

  • tinggal di daerah perkotaan dengan akses layanan yang lebih mudah;

  • pernah memiliki pengalaman positif saat berobat ke dokter gigi;

  • memahami pentingnya kesehatan gigi selama kehamilan.

Selain itu, dukungan tenaga kesehatan terbukti memiliki pengaruh yang sangat besar.

Ketika dokter kandungan, bidan, atau tenaga kesehatan lain memberikan edukasi, meyakinkan bahwa perawatan gigi aman, serta memberikan rujukan ke dokter gigi, ibu hamil menjadi jauh lebih bersedia menjalani pemeriksaan.

Sebaliknya, tanpa adanya arahan dari tenaga kesehatan, banyak ibu beranggapan bahwa pemeriksaan gigi memang tidak diperlukan selama kehamilan.

Perlunya Integrasi Pelayanan Kesehatan Gigi dalam Perawatan Kehamilan

Berdasarkan seluruh bukti yang dikumpulkan, peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan gigi pada ibu hamil memerlukan pendekatan yang menyeluruh.

Tidak cukup hanya meningkatkan pengetahuan ibu, tetapi juga perlu memperbaiki sistem pelayanan kesehatan melalui:

  • integrasi pemeriksaan kesehatan gigi dalam pelayanan antenatal;

  • peningkatan kolaborasi antara dokter gigi, dokter kandungan, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya;

  • perluasan pembiayaan atau asuransi untuk perawatan gigi selama kehamilan;

  • pelatihan tenaga kesehatan agar lebih percaya diri memberikan edukasi maupun perawatan kepada ibu hamil;

  • penyusunan materi edukasi yang mempertimbangkan budaya dan kondisi masyarakat setempat.

Kesimpulan

Kehamilan bukanlah alasan untuk menghindari perawatan gigi. Justru pada masa inilah kesehatan rongga mulut menjadi bagian penting dari kesehatan ibu dan calon bayi.

Tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa rendahnya kunjungan ibu hamil ke dokter gigi dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari mitos, rasa takut, keterbatasan biaya, budaya, hingga kurangnya dukungan dari tenaga kesehatan.

Dengan memperkuat edukasi, memperbaiki sistem rujukan, serta mengintegrasikan pelayanan kesehatan gigi ke dalam pemeriksaan kehamilan rutin, semakin banyak ibu hamil dapat memperoleh perawatan yang aman, tepat waktu, dan bermanfaat bagi kesehatan dirinya maupun buah hati.

Referensi

Subramaniam L, Balachandran P, Janakiram C. Barriers and facilitators of oral health care utilization among pregnant women: a mixed-methods systematic review. Systematic Reviews. 2026;15:182. https://doi.org/10.1186/s13643-026-03151-8

Carigi Indonesia July 10, 2026
Share this post
Tags
Archive
Ketahanan Restorasi Pasca Perawatan Saluran Akar