Skip to Content

Gusi Berdarah Saat Haid? Hormon Bisa Memengaruhi Kesehatan Gusi

October 26, 2026 by
Carigi Indonesia

Gusi Berdarah Saat Haid? Hormon Bisa Memengaruhi Kesehatan Gusi

Gusi Berdarah Saat Haid? Hormon Bisa Memengaruhi Kesehatan Gusi

Gusi Berdarah Saat Haid? Hanya 1 dari 5 Perempuan Muda Tahu Hormon Bisa Memengaruhi Gusi

Banyak perempuan pernah mengalami gusi lebih mudah berdarah, sariawan, atau mulut terasa tidak nyaman menjelang atau saat haid. Namun sedikit yang menyadari bahwa keluhan ini bisa berkaitan dengan perubahan hormon. Sebuah survei terhadap 400 perempuan muda di India menemukan bahwa meski sekitar dua pertiga memiliki pengetahuan haid yang baik, hanya 18,8% yang memahami hubungan siklus haid dengan kesehatan mulut. Mereka yang kurang memahami hubungan ini ternyata memiliki gusi yang lebih meradang dan kebersihan mulut yang lebih buruk.

Hormon Haid dan Gusi

Selama siklus haid, kadar hormon estrogen dan progesteron naik-turun setiap bulan. Hormon-hormon ini tidak hanya bekerja di rahim. Reseptornya juga ditemukan di gusi, kelenjar ludah, sendi rahang, dan lapisan dalam mulut.

Estrogen dan progesteron dapat melebarkan pembuluh darah di gusi dan membuatnya lebih mudah bocor. Kedua hormon ini juga dapat mengubah jenis bakteri di sekitar gusi serta memengaruhi daya tahan jaringan gusi. Akibatnya, pada sebagian perempuan, terutama yang sudah memiliki radang gusi, keluhan berikut bisa muncul atau memburuk menjelang dan saat haid:

  • gusi bengkak, merah, dan mudah berdarah saat menyikat gigi atau membersihkan sela gigi,

  • sariawan,

  • perubahan rasa,

  • mulut terasa kering,

  • dan nyeri di sekitar rahang.

Kondisi radang gusi yang berkaitan dengan haid ini dikenal sebagai gingivitis menstruasi. Keluhannya umumnya ringan dan sementara. Namun bila terus berulang setiap bulan selama bertahun-tahun, terutama pada gusi yang sudah bermasalah, hal ini dapat ikut berperan dalam berkembangnya penyakit gusi.

Masalahnya, banyak perempuan tidak tahu hubungan ini. Mereka jarang menceritakan keluhan mulut terkait haid kepada dokter gigi dan tidak menyesuaikan cara merawat mulut selama haid.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Departemen Kedokteran Gigi, Patna Medical College & Hospital, Bihar, India, yang dipimpin Subhash Kumar dan Vaibhava Raaj, melakukan survei pada Desember 2025 hingga Maret 2026.

Pesertanya adalah 400 perempuan berusia 18–30 tahun yang datang ke poliklinik gigi sebuah rumah sakit pemerintah, dengan usia rata-rata sekitar 24 tahun. Perempuan yang sedang hamil atau menyusui, menggunakan kontrasepsi hormonal, memiliki PCOS atau gangguan hormon lain, atau mengonsumsi obat yang dapat memengaruhi gusi tidak diikutsertakan.

Penelitian terdiri dari dua bagian:

1. Kuesioner dalam bahasa Inggris dan Hindi, mencakup:

  • pengetahuan tentang haid, misalnya siklus haid, peran hormon, dan kebersihan saat haid,

  • kepercayaan dan tabu seputar haid,

  • pemahaman tentang hubungan haid dan kesehatan mulut,

  • serta keluhan mulut yang pernah dialami saat haid.

2. Pemeriksaan mulut oleh seorang dokter gigi untuk menilai tingkat radang gusi dan kebersihan mulut, yaitu banyaknya sisa makanan, plak, dan karang gigi. Sebisa mungkin, pemeriksaan dilakukan pada hari ke-5 hingga ke-12 siklus haid, ketika pengaruh hormon terhadap gusi relatif kecil.

Hasilnya

1. Tahu tentang haid, tetapi tidak tahu kaitannya dengan mulut

Sebanyak 67,5% peserta memiliki pengetahuan yang baik tentang haid. Namun hanya 18,8% yang memiliki pemahaman baik tentang hubungan haid dengan kesehatan mulut. Hampir separuh peserta (47%) tergolong memiliki pemahaman yang buruk.

Beberapa temuan rinci:

  • Hanya 28,5% yang tahu bahwa hormon dapat memengaruhi gusi.

  • Hanya 34% yang tahu bahwa gusi bisa lebih mudah berdarah saat haid.

  • Hanya 11,3% yang pernah mendengar istilah gingivitis menstruasi.

  • Hanya 6,5% yang pernah membicarakan keluhan mulut terkait haid dengan dokter gigi.

Sumber informasi haid terbanyak berasal dari ibu atau keluarga (54%), sedangkan dari sekolah atau guru hanya sekitar 14%.

2. Tabu haid masih kuat

Banyak peserta masih memegang kepercayaan tradisional tentang haid:

  • 67% setuju bahwa perempuan tidak boleh mengunjungi tempat ibadah saat haid,

  • 56% setuju bahwa haid tidak boleh dibicarakan secara terbuka,

  • 49% setuju bahwa perempuan sebaiknya menghindari olahraga saat haid,

  • 46% menganggap haid sebagai sesuatu yang tidak bersih,

  • 38% percaya perlu pantangan makanan tertentu saat haid.

3. Keluhan mulut saat haid cukup umum

Banyak peserta mengaku mengalami keluhan di mulut saat haid, meski tidak menyadari kaitannya dengan hormon:

  • 44% mengalami gusi berdarah saat menyikat gigi,

  • 32% mengalami sariawan,

  • 24% merasakan nyeri atau tidak nyaman di mulut,

  • 18% merasakan mulut kering,

  • 14% mengalami perubahan rasa.

Yang perlu diperhatikan, 27% peserta mengaku lebih jarang menyikat gigi saat haid. Peneliti menduga hal ini bisa disebabkan rasa tidak enak badan, nyeri perut, dan kelelahan selama haid. Sebagian perempuan juga mungkin mengira gusi berdarah adalah tanda harus mengurangi menyikat gigi, padahal justru menandakan peradangan yang perlu dibersihkan dengan lebih baik.

4. Kurang paham, gusi lebih meradang

Perempuan dengan pemahaman yang buruk tentang hubungan haid dan kesehatan mulut memiliki skor radang gusi rata-rata sekitar 1,54, dibandingkan sekitar 0,87 pada mereka yang pemahamannya baik. Radang gusi tingkat sedang hingga berat ditemukan pada:

  • 71,3% perempuan dengan pemahaman buruk,

  • 45,3% perempuan dengan pemahaman sedang,

  • 24% perempuan dengan pemahaman baik.

Kebersihan mulut mereka juga lebih buruk. Setelah faktor kebersihan mulut, pendidikan, usia, dan keteraturan haid diperhitungkan, pemahaman yang baik tetap berkaitan dengan gusi yang lebih sehat.

Peneliti menduga, perempuan yang tahu bahwa gusinya lebih rentan saat haid akan lebih termotivasi menjaga kebersihan mulut dan tidak mengurangi menyikat gigi selama haid.

5. Faktor lain yang berpengaruh

  • Perempuan dengan tabu haid yang lebih kuat cenderung memiliki gusi yang lebih meradang.

  • Perempuan dengan haid tidak teratur memiliki radang gusi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan haid teratur. Peneliti menduga haid tidak teratur bisa menjadi tanda gangguan hormon yang belum terdiagnosis.

  • Perempuan dari daerah pedesaan memiliki pemahaman yang lebih rendah dibandingkan perempuan dari perkotaan.

  • Hanya 23% peserta yang rutin ke dokter gigi minimal setahun sekali.

Catatan Penting

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan:

  • Hanya mengamati satu waktu, sehingga tidak bisa dipastikan bahwa kurangnya pemahaman menyebabkan gusi lebih meradang.

  • Peserta dari satu rumah sakit di Bihar, sehingga hasilnya belum tentu mewakili perempuan di daerah lain.

  • Keluhan mulut saat haid berdasarkan ingatan peserta, sehingga bisa kurang akurat.

  • Pemeriksaan hanya dilakukan sekali, padahal perubahan gusi sepanjang siklus haid idealnya diamati berulang kali.

  • Tidak semua peserta bisa diperiksa pada fase siklus haid yang sama.

Ada juga beberapa hal yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Ada data yang tidak konsisten. Syarat penelitian menyebut peserta harus memiliki siklus haid yang teratur, tetapi hasil penelitian melaporkan 76 peserta (19%) dengan haid tidak teratur.

  • Pemahaman bisa mewakili banyak hal. Perempuan yang lebih paham tentang kesehatan mulut kemungkinan juga lebih peduli kesehatan secara umum, lebih sering ke dokter gigi, atau memiliki akses layanan kesehatan yang lebih baik. Meski sebagian faktor sudah diperhitungkan, hubungan ini belum tentu sepenuhnya karena pengetahuan itu sendiri.

  • Proses penerbitan sangat cepat. Naskah direvisi dan diterima pada hari yang sama. Hal ini tidak berarti hasilnya salah, tetapi temuan ini sebaiknya dipandang sebagai temuan awal.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara pengetahuan umum tentang haid dan pemahaman tentang pengaruhnya terhadap kesehatan mulut di kalangan perempuan muda. Kurangnya pemahaman ini berkaitan dengan gusi yang lebih meradang, kebersihan mulut yang lebih buruk, dan jarangnya keluhan mulut terkait haid disampaikan kepada dokter gigi.

Para peneliti menyarankan agar edukasi kesehatan haid dipadukan dengan edukasi kesehatan mulut, misalnya di sekolah dan layanan kesehatan, terutama bagi perempuan di daerah pedesaan. Dokter gigi juga disarankan untuk menanyakan keteraturan haid saat mencatat riwayat kesehatan pasien.

Bagi perempuan, pesannya: jangan kurangi menyikat gigi saat haid. Justru menjelang dan saat haid, gusi bisa lebih sensitif dan mudah meradang, sehingga kebersihan mulut perlu dijaga lebih baik. Sikat gigi dua kali sehari dengan lembut menggunakan sikat berbulu halus, bersihkan sela gigi, dan bila gusi sering berdarah, bengkak, atau muncul sariawan berulang setiap bulan, ceritakan kepada dokter gigi. Tidak perlu malu membicarakan haid dengan dokter gigi, karena informasi ini membantu dokter memahami kondisi gusi Anda.

Referensi

Kumar S, Fatima Q, Priya P, Imran M, Raaj V, Sinha A. Linking knowledge, belief and awareness of menstrual cycle with oral health in young India women. Bioinformation. 2026;22(5):2993–2999. 

DOI: https://doi.org/10.6026/973206300222993

Carigi Indonesia October 26, 2026
Share this post
Tags
Archive
Hamil Tua dan Menopause: Air Liur Berkurang, Mulut Lebih Rentan