Skip to Content

Gigi Tiruan Cetak 3D vs Konvensional

June 10, 2026 by
Carigi Indonesia

Gigi Tiruan Cetak 3D vs Konvensional

Gigi Tiruan Cetak 3D vs Konvensional

Gigi Tiruan Cetak 3D vs Konvensional: Mana yang Lebih Nyaman untuk Pasien?

Teknologi Baru dalam Pembuatan Gigi Tiruan

Kehilangan seluruh gigi atau edentulisme masih menjadi masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan pada kelompok lanjut usia. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga kemampuan berbicara, mengunyah makanan, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Selama puluhan tahun, gigi tiruan lengkap konvensional berbahan akrilik menjadi pilihan utama untuk rehabilitasi pasien yang kehilangan seluruh giginya. Namun, perkembangan teknologi digital dalam kedokteran gigi kini menghadirkan alternatif baru, yaitu gigi tiruan yang dibuat menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing).

Teknologi ini menawarkan proses pembuatan yang lebih modern dan efisien. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah gigi tiruan cetak 3D dapat memberikan kenyamanan dan fungsi yang sama baiknya dengan gigi tiruan konvensional?

Sebuah penelitian klinis terbaru mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan membandingkan kualitas hidup terkait kesehatan mulut dan kemampuan mengunyah pada pengguna kedua jenis gigi tiruan tersebut.

Mengapa Gigi Tiruan Cetak 3D Menarik untuk Diteliti?

Pembuatan gigi tiruan secara konvensional memerlukan beberapa tahapan klinis dan laboratorium yang cukup panjang. Selain itu, bahan akrilik yang digunakan dapat mengalami penyusutan selama proses pengerasan, sehingga berpotensi memengaruhi ketepatan pas gigi tiruan.

Di sisi lain, teknologi 3D printing memungkinkan pembuatan gigi tiruan berdasarkan desain digital yang sangat presisi. Metode ini juga dinilai lebih efisien karena dapat mengurangi limbah bahan dan mempermudah reproduksi atau pembuatan ulang gigi tiruan jika diperlukan.

Meski demikian, keberhasilan suatu gigi tiruan tidak hanya ditentukan oleh teknologi pembuatannya, tetapi juga oleh pengalaman pasien saat menggunakannya. Oleh karena itu, para peneliti berfokus pada dua aspek penting: kualitas hidup pasien dan kemampuan mengunyah.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian ini melibatkan 20 pasien berusia 55–75 tahun yang telah kehilangan seluruh giginya dan belum pernah menggunakan gigi tiruan sebelumnya.

Setiap peserta memperoleh dua jenis gigi tiruan:

  • Gigi tiruan lengkap konvensional.

  • Gigi tiruan lengkap hasil cetak 3D berbahan resin berbasis dimetakrilat.

Penelitian menggunakan desain crossover, yaitu setiap pasien mencoba kedua jenis gigi tiruan secara bergantian. Dengan metode ini, setiap peserta menjadi pembanding bagi dirinya sendiri sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih akurat.

Kualitas hidup terkait kesehatan mulut dievaluasi menggunakan kuesioner OHIP-EDENT (Oral Health Impact Profile for Edentulous Patients), yang mengukur berbagai aspek seperti kenyamanan, kemampuan makan, rasa percaya diri, hingga interaksi sosial.

Sementara itu, kemampuan mengunyah dinilai menggunakan permen karet dua warna. Semakin baik kedua warna bercampur setelah dikunyah, semakin baik pula efisiensi pengunyahan pasien.

Hasil Penelitian: Keduanya Sama-Sama Memberikan Manfaat

Kualitas Hidup Pasien Meningkat Secara Signifikan

Sebelum mendapatkan gigi tiruan, banyak peserta mengalami kesulitan saat makan, berbicara, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Setelah menggunakan gigi tiruan, baik konvensional maupun cetak 3D, kualitas hidup pasien meningkat secara signifikan. Keluhan yang berkaitan dengan fungsi mulut, kenyamanan, maupun aspek psikologis berkurang secara nyata.

Menariknya, peneliti tidak menemukan perbedaan yang bermakna antara kedua jenis gigi tiruan. Artinya, pasien merasakan peningkatan kualitas hidup yang hampir sama baiknya, baik menggunakan gigi tiruan konvensional maupun gigi tiruan hasil cetak 3D.

Kemampuan Mengunyah Juga Setara

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kemampuan mengunyah meningkat pada kedua kelompok selama masa penggunaan gigi tiruan.

Ketika dibandingkan secara langsung, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara gigi tiruan konvensional dan gigi tiruan cetak 3D dalam hal efisiensi pengunyahan. Meskipun pada beberapa pengukuran gigi tiruan konvensional menunjukkan nilai sedikit lebih baik, perbedaannya tidak cukup besar untuk dianggap bermakna secara klinis.

Temuan ini menunjukkan bahwa gigi tiruan cetak 3D mampu memberikan fungsi pengunyahan yang sebanding dengan gigi tiruan konvensional.

Adaptasi Pasien Berperan Penting

Peneliti juga mengamati bahwa tingkat kenyamanan dan kemampuan mengunyah cenderung membaik seiring waktu pada kedua jenis gigi tiruan.

Hal ini menunjukkan bahwa proses adaptasi pasien memiliki peran penting. Semakin lama seseorang menggunakan gigi tiruan, semakin baik tubuh dan otot-otot rongga mulut menyesuaikan diri terhadap keberadaan prostesis tersebut.

Apa Makna Temuan Ini?

Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa teknologi pencetakan 3D memiliki potensi besar dalam bidang prostodonsia modern.

Meskipun gigi tiruan konvensional masih menjadi standar yang sangat baik, gigi tiruan cetak 3D terbukti mampu memberikan tingkat kepuasan, kualitas hidup, dan kemampuan mengunyah yang setara.

Selain itu, teknologi digital menawarkan sejumlah keuntungan tambahan, seperti proses produksi yang lebih efisien, kemudahan penyimpanan data digital, serta kemungkinan pembuatan ulang gigi tiruan dengan lebih cepat apabila diperlukan.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa gigi tiruan lengkap hasil cetak 3D dapat menjadi alternatif yang andal bagi gigi tiruan konvensional. Kedua jenis gigi tiruan sama-sama mampu meningkatkan kualitas hidup pasien yang kehilangan seluruh giginya dan memberikan kemampuan mengunyah yang sebanding.

Seiring berkembangnya teknologi digital dalam kedokteran gigi, penggunaan gigi tiruan cetak 3D berpotensi menjadi pilihan yang semakin populer tanpa mengurangi kenyamanan maupun fungsi yang dirasakan pasien.

Referensi 

Emera RMK, Al Sultani ZF, Mahanna FF. Comparison of patients’ oral health-related quality of life and chewing efficiency between conventional and 3D-printed complete dentures: A crossover clinical trial. Journal of Dental Research, Dental Clinics, Dental Prospects. 2025;19(4):233–241. DOI: 10.34172/joddd.025.44430.

Carigi Indonesia June 10, 2026
Share this post
Tags
Archive
Dosis Antibiotik Pasien Osteoporosis