Skip to Content

Gigi Tanggal Dipengaruhi Genetik? Ini Hasil Studi Kembar China

October 12, 2026 by
Carigi Indonesia

Gigi Tanggal Dipengaruhi Genetik? Ini Hasil Studi Kembar China

Gigi Tanggal Dipengaruhi Genetik? Ini Hasil Studi Kembar China

Gigi Tanggal, Salah Siapa? Studi pada Pasangan Kembar di China Ungkap Peran Besar Faktor Genetik

Selama ini kehilangan gigi sering dianggap murni akibat kebiasaan—kurang rajin sikat gigi, jarang periksa ke dokter gigi, atau suka merokok. Namun sebuah studi unik yang melibatkan ratusan pasangan kembar di Qingdao, China, menunjukkan bahwa faktor keturunan ternyata memegang peranan yang jauh lebih besar dari yang banyak orang kira.

Penelitian yang dipublikasikan di International Dental Journal (2026) ini dilakukan oleh tim peneliti dari Qingdao Stomatological Hospital dan Qingdao University, China. Dengan memanfaatkan desain penelitian klasik berbasis studi kembar (twin study), para peneliti berhasil memperkirakan seberapa besar kontribusi gen dibandingkan faktor lingkungan dalam menentukan apakah seseorang akan kehilangan giginya seiring bertambahnya usia.

Kenapa Studi Kembar? Dan Kenapa Topik Ini Penting?

Kehilangan gigi pada usia paruh baya dan lanjut usia bukan sekadar masalah kosmetik. Berbagai penelitian terdahulu telah mengaitkannya dengan peningkatan risiko penyakit jantung, demensia, diabetes, bahkan risiko kematian yang lebih tinggi secara keseluruhan. Di China sendiri, berdasarkan survei kesehatan mulut nasional terbaru, sekitar 84,4% orang dewasa mengalami kerusakan susunan gigi, dan hanya 13,8% yang masih memiliki gigi asli lengkap.

Pertanyaannya: mengapa sebagian orang bisa mempertahankan giginya hingga usia lanjut, sementara yang lain kehilangan banyak gigi lebih cepat? Apakah ini murni soal kebiasaan dan gaya hidup, atau ada peran faktor keturunan di baliknya?

Di sinilah studi kembar menjadi metode yang elegan untuk menjawabnya. Logikanya sederhana: kembar identik (monozigotik/MZ) berbagi 100% materi genetik yang sama, sedangkan kembar non-identik (dizigotik/DZ) hanya berbagi sekitar 50% materi genetik—sama seperti saudara kandung biasa. Jika suatu kondisi kesehatan jauh lebih mirip pada pasangan kembar identik dibandingkan kembar non-identik, itu menjadi petunjuk kuat bahwa faktor genetik berperan penting dalam kondisi tersebut.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Peneliti merekrut data dari Qingdao Twin Registry, basis data pasangan kembar berbasis populasi pertama di China yang telah berdiri sejak 1998. Dari basis data ini, didapatkan 377 pasangan kembar lengkap (240 pasangan kembar identik dan 137 pasangan kembar non-identik) berusia 40 tahun ke atas, dengan usia median sekitar 50 tahun.

Status zigositas (apakah kembar identik atau tidak) dipastikan menggunakan teknologi penanda DNA dengan tingkat akurasi 99,9%—bukan sekadar berdasarkan penampilan fisik. Jumlah gigi yang hilang pada setiap partisipan dinilai langsung oleh dokter gigi melalui pemeriksaan klinis, laporan pasien, dan rekam medis, dengan mengecualikan gigi yang hilang akibat trauma kecelakaan atau pencabutan untuk keperluan ortodonti (behel), karena penelitian ini ingin fokus pada kehilangan gigi "alami" akibat penyakit seperti karies dan gusi, bukan sebab lain.

Untuk keperluan analisis statistik, jumlah gigi yang hilang dikelompokkan menjadi tiga kategori: tidak kehilangan gigi sama sekali, kehilangan 1–8 gigi, dan kehilangan 9 gigi atau lebih. Peneliti kemudian menggunakan model statistik khusus (disebut structural equation modeling) untuk menghitung proporsi variasi kehilangan gigi yang bisa dijelaskan oleh faktor genetik versus faktor lingkungan, setelah memperhitungkan usia dan jenis kelamin.

Temuan Utama: Gen Berperan Lebih Besar dari Dugaan

1. Kemiripan kehilangan gigi jauh lebih tinggi pada kembar identik

Hasil pertama yang mencolok: tingkat kemiripan kondisi kehilangan gigi antar pasangan kembar identik (skor korelasi 0,67) lebih dari dua kali lipat dibandingkan pasangan kembar non-identik (skor korelasi 0,25). Pola ini menjadi indikasi kuat adanya pengaruh genetik yang signifikan terhadap kehilangan gigi.

2. Sekitar 56,5% variasi kehilangan gigi dijelaskan oleh faktor genetik

Setelah melalui analisis statistik yang lebih mendalam dan dengan memperhitungkan usia serta jenis kelamin, peneliti menemukan bahwa sekitar 56,51% variasi kehilangan gigi antarindividu dapat dijelaskan oleh faktor genetik aditif (warisan gen dari orang tua), sementara sisanya, 43,49%, dijelaskan oleh faktor lingkungan unik—yaitu pengalaman hidup yang berbeda-beda pada tiap individu, seperti kebiasaan menyikat gigi, pola makan, kebiasaan merokok, akses ke perawatan gigi, dan sebagainya.

Sebagai pembanding, sebuah studi kembar serupa yang dilakukan di Denmark sebelumnya hanya menemukan angka heritabilitas (pewarisan genetik) sebesar 36% untuk jumlah gigi yang tersisa. Artinya, pada populasi China yang diteliti ini, peran faktor genetik tampak lebih besar dibandingkan temuan pada populasi Eropa. Peneliti menduga perbedaan ini bisa jadi berkaitan dengan perbedaan frekuensi variasi gen antar kelompok etnis yang berbeda, meski penjelasan pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

3. Masih belum jelas apakah efeknya "aditif" atau "dominan"

Dalam ilmu genetika, ada beberapa cara gen bisa saling berinteraksi memengaruhi suatu sifat—salah satunya bersifat "aditif" (efek gen saling menjumlah secara proporsional) dan "dominan" (satu varian gen bisa menutupi pengaruh varian lainnya). Penelitian ini sebenarnya menemukan bahwa kedua jenis model tersebut (model aditif dan model dominan) sama-sama cocok dengan data yang ada, dengan perbedaan yang sangat tipis dan rentang kepercayaan statistik yang saling tumpang tindih. Karena itu, peneliti dengan jujur menyampaikan bahwa ukuran sampel penelitian ini belum cukup besar untuk benar-benar memastikan apakah pola pewarisannya aditif atau dominan—namun yang jelas, kedua model tersebut sama-sama menunjukkan bahwa faktor genetik memang berperan penting, dengan estimasi kontribusi berkisar 56–58%.

4. Faktor lingkungan spesifiknya masih misteri

Meski faktor lingkungan terbukti menyumbang sekitar 43% dari variasi kehilangan gigi, penelitian ini belum bisa memastikan faktor lingkungan spesifik apa saja yang paling berperan—apakah itu kebiasaan merokok, pola makan, frekuensi sikat gigi, atau akses terhadap layanan kesehatan gigi. Ini menjadi salah satu arah penelitian lanjutan yang disarankan oleh tim peneliti.

Apa Artinya Bagi Kita?

Temuan ini bukan berarti kehilangan gigi adalah "takdir" yang tidak bisa diubah. Justru sebaliknya: dengan mengetahui bahwa hampir separuh dari variasi kehilangan gigi tetap dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang bisa dikendalikan—seperti kebiasaan menyikat gigi, pola makan, kebiasaan merokok, dan rutin periksa ke dokter gigi—setiap orang masih memiliki ruang besar untuk menjaga kesehatan giginya, terlepas dari "warisan genetik" yang dimilikinya.

Di sisi lain, bagi orang yang punya riwayat keluarga dengan masalah gigi yang parah (misalnya orang tua atau saudara kandung yang kehilangan banyak gigi di usia relatif muda), temuan ini bisa menjadi alasan tambahan untuk lebih proaktif menjaga kesehatan gigi sejak dini, karena mereka mungkin memiliki predisposisi genetik yang membuat gigi mereka lebih rentan.

Kekuatan dan Keterbatasan Penelitian

Salah satu kekuatan utama desain studi kembar adalah kemampuannya mengontrol banyak faktor perancu secara alami: pasangan kembar memiliki usia yang identik, berbagi lingkungan rahim yang sama saat masih janin, dan umumnya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang serupa. Ini membuat perbandingan antara kembar identik dan non-identik menjadi cara yang relatif bersih untuk mengisolasi pengaruh genetik.

Namun, peneliti juga mengakui beberapa keterbatasan penting:

  • Potensi bias ingatan (recall bias), karena sebagian data kehilangan gigi diperoleh dari laporan retrospektif partisipan sendiri, meski telah diverifikasi dengan rekam medis dan pemeriksaan dokter gigi.

  • Ukuran sampel yang masih tergolong moderat, sehingga membatasi presisi hasil, khususnya dalam membedakan model genetik aditif versus dominan.

  • Populasi penelitian hanya berasal dari satu kota (Qingdao), sehingga hasilnya belum tentu bisa digeneralisasi untuk seluruh populasi China yang jauh lebih beragam secara geografis dan etnis.

  • Seperti studi kembar klasik lainnya, penelitian ini mengandalkan asumsi bahwa kembar identik dan non-identik sama-sama dipengaruhi oleh lingkungan bersama dalam tingkat yang setara (equal environments assumption). Jika asumsi ini tidak sepenuhnya benar, estimasi heritabilitas yang dihasilkan berpotensi sedikit bias, meski penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bias ini umumnya kecil.

Kesimpulan

Studi kembar skala besar pertama di China ini mengungkap bahwa kehilangan gigi pada usia paruh baya dan lanjut usia bukan semata-mata soal kebiasaan sehari-hari, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh faktor genetik—diperkirakan menyumbang lebih dari separuh variasi antarindividu. Temuan ini menjadi kontribusi penting karena sebelumnya, data heritabilitas kehilangan gigi hampir seluruhnya berasal dari populasi Barat, sementara populasi China—dengan latar belakang genetik dan gaya hidup yang berbeda—belum pernah diteliti secara khusus.

Ke depannya, pemahaman yang lebih baik tentang kombinasi faktor genetik dan lingkungan ini diharapkan dapat membantu pengembangan strategi pencegahan kehilangan gigi yang lebih personal dan tepat sasaran, sekaligus mendorong penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi gen-gen spesifik dan faktor lingkungan konkret yang paling berperan dalam menjaga kesehatan gigi seumur hidup.

Sumber Artikel Asli:

Wang, Y., Tian, X., Wang, W., Wang, T., Li, J., Wang, W., Hou, F., & Zhang, D. (2026). Genetic and Environmental Influences on Tooth Loss: A Twin Study of Middle-Aged and Older Adults in Qingdao, China. International Dental Journal, 76, 109760. 

DOI: https://doi.org/10.1016/j.identj.2026.109760

Carigi Indonesia October 12, 2026
Share this post
Tags
Archive
Gigi Tanggal dan Perkembangan Demensia: Hasil Studi Swedia