Gigi Tanggal dan Perkembangan Demensia: Hasil Studi Swedia

Giginya Banyak Tanggal, Apakah Demensia akan Lebih Cepat Memburuk? Ini Jawaban dari Studi Besar di Swedia
Selama ini banyak penelitian mengaitkan gigi yang banyak tanggal dengan risiko demensia. Tapi begitu seseorang sudah terdiagnosis demensia, apakah jumlah gigi yang tersisa bisa menjadi "alat prediksi" seberapa cepat kondisinya akan memburuk, atau bahkan seberapa besar risiko kematiannya? Sebuah studi kohort skala besar di Swedia mencoba menjawabnya—dan hasilnya cukup mengejutkan.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Dental Research (2026) ini dilakukan oleh tim peneliti dari Karolinska Institutet bersama University of Gothenburg dan University of Helsinki. Studi ini memanfaatkan data dari beberapa registri nasional Swedia yang saling terhubung, mencakup lebih dari 3.300 orang yang baru terdiagnosis demensia.
Kenapa Topik Ini Penting?
Demensia adalah kondisi penurunan fungsi otak yang progresif—mempengaruhi daya ingat, bahasa, kemampuan memecahkan masalah, hingga orientasi ruang dan waktu. Diperkirakan 5–7% orang berusia di atas 60 tahun di dunia mengalami kondisi ini, dan jumlahnya diprediksi terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia global. Sayangnya, sampai saat ini belum ada pengobatan yang benar-benar bisa menghentikan progresivitas demensia—obat-obatan yang ada hanya meredakan gejala.
Di sisi lain, kesehatan mulut, khususnya jumlah gigi yang tersisa, telah lama diduga berkaitan dengan kesehatan otak. Gigi yang banyak tanggal dapat mengganggu fungsi mengunyah dan mengubah pola makan seseorang. Pada penelitian hewan, berkurangnya aktivitas mengunyah bahkan terbukti dapat memengaruhi daya ingat, diduga karena berkurangnya rangsangan sensorik dari rongga mulut ke otak. Gigi yang tanggal juga bisa memicu kekurangan gizi dan isolasi sosial—dua hal yang sama-sama dikenal sebagai faktor risiko demensia.
Pertanyaannya: pada orang yang sudah terdiagnosis demensia, apakah jumlah gigi yang tersisa bisa menjadi penanda (indikator prognosis) seberapa cepat kondisinya memburuk, atau seberapa besar risiko kematiannya?
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Peneliti menggabungkan data dari empat registri kesehatan nasional Swedia, yakni:
SKaPa — registri kualitas data gigi dan penyakit periodontal yang mencatat kondisi gigi pasien secara otomatis dari rekam medis klinik gigi di seluruh Swedia.
SveDem — registri nasional untuk pasien demensia.
Registri Obat Resep Nasional dan Registri Pasien Nasional — mencatat data penyakit penyerta dan pengobatan.
Data sosial ekonomi dari basis data ketenagakerjaan dan asuransi kesehatan nasional.
Dari penggabungan data ini, peneliti mengidentifikasi 3.361 orang yang baru terdiagnosis demensia antara tahun 2010–2013, kemudian diikuti perkembangannya hingga akhir 2018 (rata-rata masa pengamatan 5,6 tahun).
Partisipan dikelompokkan berdasarkan jumlah gigi asli yang tersisa saat pertama kali terdiagnosis demensia:
Kehilangan gigi parah (STL): kurang dari 10 gigi tersisa (469 orang)
Kehilangan gigi sedang (MTL): 10–19 gigi tersisa (798 orang)
Kelompok acuan: 20 gigi atau lebih (2.094 orang)
Peneliti kemudian mengamati dua hal utama: risiko kematian (dianalisis dengan metode statistik Cox dan Poisson) dan penurunan fungsi kognitif dari waktu ke waktu, yang diukur lewat skor tes kognitif standar bernama Mini Mental State Examination (MMSE). Seluruh analisis juga disesuaikan (adjusted) dengan memperhitungkan faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendapatan, pendidikan, dan tingkat keparahan penyakit penyerta lainnya.
Temuan Utama: Ternyata Tidak Ada Hubungan yang Signifikan (Setelah Dikontrol)
1. Pada data mentah, orang dengan gigi lebih sedikit tampak berisiko lebih tinggi meninggal—tapi efek ini menghilang setelah faktor lain diperhitungkan
Sebelum memperhitungkan faktor-faktor lain, data awal menunjukkan bahwa kelompok dengan gigi tersisa sangat sedikit (STL) memiliki risiko kematian 1,40 kali lebih tinggi, dan kelompok gigi sedang (MTL) 1,29 kali lebih tinggi, dibandingkan kelompok dengan gigi lengkap.
Namun, setelah disesuaikan dengan faktor usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendapatan, pendidikan, dan tingkat keparahan penyakit penyerta, perbedaan risiko kematian ini tidak lagi bermakna secara statistik (rasio hazard 1,12 untuk kelompok STL dan 1,08 untuk kelompok MTL, dengan rentang kepercayaan yang mencakup angka 1 atau "tidak ada efek"). Artinya, faktor-faktor lain seperti usia yang lebih tua dan kondisi kesehatan secara umum tampaknya menjadi penjelas utama di balik hubungan yang tadinya terlihat pada data mentah, bukan jumlah gigi itu sendiri.
2. Penurunan fungsi kognitif terjadi sama saja pada semua kelompok
Seluruh kelompok—baik yang giginya banyak tanggal maupun yang giginya masih lengkap—sama-sama mengalami penurunan skor kognitif (MMSE) setiap tahunnya, berkisar antara 1,26 hingga 1,50 poin per tahun. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik antar kelompok, bahkan setelah memperhitungkan berbagai faktor lain. Dengan kata lain, laju penurunan daya ingat dan fungsi kognitif pada penderita demensia tampaknya tidak dipengaruhi oleh seberapa banyak gigi yang tersisa.
3. Analisis tambahan tetap menguatkan hasil "nol" ini
Peneliti melakukan sejumlah analisis tambahan untuk memastikan temuan ini bukan sekadar kebetulan atau bias statistik:
Mereka menghitung "usia harapan hidup yang hilang" (restricted mean survival time) dan menemukan bahwa kelompok dengan gigi paling sedikit memang kehilangan sekitar 3 bulan usia harapan hidup pada tahun ke-5 dan 7 bulan pada tahun ke-8 dibandingkan kelompok bergigi lengkap—namun perbedaan ini juga menghilang dan tidak lagi bermakna secara statistik setelah faktor-faktor lain diperhitungkan.
Mereka juga menghitung E-value, semacam ukuran seberapa kuat suatu faktor tersembunyi yang belum terukur perlu ada untuk bisa menjelaskan hasil awal yang terlihat. Hasilnya menunjukkan diperlukan faktor perancu yang cukup kuat (kekuatan asosiasi sekitar 1,30–1,38) untuk sepenuhnya "membatalkan" hasil awal tersebut—yang kemungkinan besar memang ada, mengingat orang dengan gigi lebih sedikit secara umum juga memiliki lebih banyak penyakit penyerta dan status sosial ekonomi yang lebih rendah dalam data penelitian ini.
Jadi, Apa Artinya? Bukan Berarti Kesehatan Gigi Tidak Penting
Penting untuk dipahami dengan tepat: hasil penelitian ini bukan berarti kesehatan gigi tidak penting bagi penderita demensia, maupun membantah penelitian-penelitian sebelumnya yang mengaitkan gigi tanggal dengan risiko munculnya demensia. Studi ini menjawab pertanyaan yang berbeda, yakni: pada orang yang sudah terdiagnosis demensia, apakah jumlah gigi yang tersisa saat itu bisa memprediksi seberapa cepat kondisinya memburuk atau risiko kematiannya? Jawabannya, berdasarkan data ini, tampaknya tidak—setidaknya tidak secara independen dari faktor-faktor lain seperti usia dan kondisi kesehatan secara umum.
Peneliti juga menjelaskan bahwa orang dengan gigi tersisa sangat sedikit pada kelompok STL dalam penelitian ini memang memiliki lebih banyak penyakit penyerta serta tingkat pendidikan dan pendapatan yang cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok bergigi lengkap—pola yang memang umum ditemukan di masyarakat, dan inilah yang kemungkinan menjelaskan mengapa hubungan awal (sebelum disesuaikan) tampak signifikan, namun menghilang setelah faktor-faktor tersebut diperhitungkan secara statistik.
Keterbatasan yang Diakui Peneliti
Peneliti secara terbuka menyebutkan beberapa keterbatasan penting dalam studi ini:
Tidak ada data soal kebiasaan merokok, padahal merokok adalah faktor risiko penting baik untuk kesehatan gigi maupun demensia, sehingga berpotensi menjadi faktor perancu yang belum terukur.
Data penggunaan gigi palsu masih terbatas, sehingga sulit memastikan seberapa besar pengaruh penggunaan gigi palsu terhadap fungsi mengunyah partisipan.
Data mengenai kehilangan perlekatan gusi (clinical attachment loss)—indikator penting penyakit periodontal—tidak tersedia dalam registri ini, sehingga penelitian ini hanya bisa menggunakan jumlah gigi sebagai penanda kesehatan mulut secara umum, bukan analisis spesifik penyakit periodontal.
Masa pengamatan mungkin belum cukup panjang untuk benar-benar menangkap hubungan jangka panjang antara kesehatan gigi dan perkembangan demensia yang kompleks.
Ada kemungkinan sebab-akibat terbalik (reverse causality)—yakni demensia itu sendiri yang menyebabkan perawatan gigi menjadi terabaikan, bukan sebaliknya. Namun, peneliti berupaya meminimalkan risiko ini dengan hanya memasukkan partisipan yang baru pertama kali terdiagnosis demensia.