Skip to Content

Gigi Palsu Rumah Jamur Lansia

July 7, 2026 by
Carigi Indonesia

Gigi Palsu Rumah Jamur Lansia

Gigi Palsu Rumah Jamur Lansia

Gigi Palsu Bisa Jadi “Rumah” Jamur: Penelitian Ungkap Penyebab Peradangan Mulut pada Lansia

Bukan Sekadar Gigi Palsu, Ada Risiko Peradangan yang Mengintai

Penggunaan gigi tiruan lepasan atau gigi palsu penuh masih menjadi solusi utama bagi banyak lansia yang kehilangan seluruh giginya. Namun, di balik manfaatnya untuk mengembalikan fungsi mengunyah dan estetika, gigi palsu ternyata dapat menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan berbagai mikroorganisme, terutama jamur dari kelompok Candida.

Kondisi ini dapat memicu denture stomatitis, yaitu peradangan kronis pada jaringan mulut yang berada tepat di bawah gigi tiruan. Keluhan yang muncul bisa berupa kemerahan, rasa tidak nyaman, hingga sensasi terbakar pada langit-langit mulut.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Microorganisms mencoba menjawab pertanyaan penting: apakah tingkat keparahan peradangan ini dipengaruhi oleh jenis jamur tertentu, jumlah jamur yang ada, atau bahkan resistensi terhadap obat antijamur?

Mengapa Denture Stomatitis Sering Terjadi?

Peradangan pada pengguna gigi tiruan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Kebersihan gigi palsu yang kurang baik, pemakaian gigi tiruan terus-menerus, mulut kering, serta kondisi kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Jamur Candida sebenarnya merupakan bagian normal dari mikroorganisme di rongga mulut. Namun, ketika keseimbangan lingkungan mulut terganggu, jamur ini dapat berkembang berlebihan dan berubah menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan penyakit.

Karena infeksi sering kambuh, penggunaan obat antijamur berulang kali juga dikhawatirkan dapat memicu munculnya resistensi obat.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Brasil melibatkan 100 pengguna gigi tiruan penuh, kemudian mengelompokkan mereka berdasarkan tingkat keparahan denture stomatitis, mulai dari tidak mengalami peradangan hingga peradangan berat.

Sampel biofilm diambil dari dua lokasi:

  • permukaan bagian dalam gigi tiruan; dan

  • langit-langit mulut.

Para peneliti kemudian mengidentifikasi spesies jamur yang ditemukan, menghitung jumlahnya, serta menguji sensitivitasnya terhadap beberapa obat antijamur, yaitu:

  • nistatin (nystatin);

  • mikonazol (miconazole);

  • flukonazol (fluconazole); dan

  • mikafungin (micafungin).

Candida albicans Masih Menjadi “Pemain Utama”

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candida albicans merupakan spesies jamur yang paling sering ditemukan, baik pada pengguna gigi tiruan yang mengalami peradangan maupun yang tidak.

Namun, ada temuan yang lebih menarik.

Ternyata, bukan sekadar keberadaan jamurnya yang penting, melainkan jumlahnya. Semakin berat peradangan yang dialami pasien, semakin tinggi jumlah Candida albicans yang ditemukan pada gigi tiruan dan langit-langit mulut.

Sebaliknya, spesies lain seperti Candida tropicalis dan Nakaseomyces glabratus tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan tingkat keparahan peradangan.

Peneliti juga menemukan bahwa permukaan gigi tiruan mengandung jumlah jamur yang jauh lebih tinggi dibandingkan jaringan langit-langit mulut. Temuan ini memperkuat anggapan bahwa gigi tiruan dapat menjadi “reservoir” atau tempat berkembang biaknya mikroorganisme.

Muncul Kekhawatiran terhadap Resistensi Obat

Salah satu fokus penelitian adalah melihat apakah jamur-jamur tersebut mulai kebal terhadap obat antijamur.

Kabar baiknya, seluruh isolat jamur yang ditemukan masih menunjukkan sensitivitas yang sangat baik terhadap nistatin dan mikonazol, dua obat yang sering digunakan dalam pengobatan kandidiasis mulut.

Namun, peneliti menemukan adanya peningkatan resistensi terhadap flukonazol, terutama pada spesies Candida tropicalis. Semakin berat tingkat peradangan, semakin banyak strain jamur yang menunjukkan resistensi terhadap obat tersebut.

Temuan ini penting karena flukonazol sering digunakan ketika terapi topikal tidak memberikan hasil yang memadai. Jika resistensi terus meningkat, pilihan pengobatan di masa depan dapat menjadi lebih terbatas.

Apa Artinya bagi Pengguna Gigi Tiruan?

Penelitian ini memberikan pesan yang cukup jelas: tingkat keparahan denture stomatitis tidak ditentukan oleh banyaknya jenis jamur yang ada, tetapi lebih dipengaruhi oleh tingginya jumlah Candida albicans.

Karena itu, menjaga kebersihan gigi tiruan menjadi langkah yang sangat penting untuk mencegah penumpukan biofilm dan pertumbuhan jamur berlebihan.

Selain itu, penggunaan obat antijamur juga perlu dilakukan secara bijak dan sesuai anjuran dokter gigi agar risiko resistensi obat dapat diminimalkan.

Kesimpulan

Denture stomatitis masih menjadi masalah kesehatan mulut yang cukup umum pada pengguna gigi tiruan, terutama pada lansia. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah Candida albicans berhubungan dengan peradangan yang lebih berat, sementara obat antijamur seperti nistatin dan mikonazol masih efektif digunakan sebagai terapi.

Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi mengenai kebersihan gigi tiruan dan pemantauan penggunaan obat antijamur untuk mencegah infeksi yang berulang dan semakin sulit diobati.

Referensi Artikel Asli

Fifolato MA, Clemente LM, Ribeiro AB, Oliveira VC, Salgado HC, Watanabe E, Silva CHL. Candida spp. in Denture Stomatitis: Prevalence, Microbial Load, and Antifungal Resistance Across Severity Levels. Microorganisms. 2025;13(9):2057.

DOI: https://doi.org/10.3390/microorganisms13092057

Carigi Indonesia July 7, 2026
Share this post
Tags
Archive
Pasta Gigi Enzim Kurangi Radang Gusi