Gigi Palsu Rumah Jamur Lansia

Gigi Palsu Bisa Jadi “Rumah” Jamur: Penelitian Ungkap Penyebab Peradangan Mulut pada Lansia
Bukan Sekadar Gigi Palsu, Ada Risiko Peradangan yang Mengintai
Penggunaan gigi tiruan lepasan atau gigi palsu penuh masih menjadi solusi utama bagi banyak lansia yang kehilangan seluruh giginya. Namun, di balik manfaatnya untuk mengembalikan fungsi mengunyah dan estetika, gigi palsu ternyata dapat menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan berbagai mikroorganisme, terutama jamur dari kelompok Candida.
Kondisi ini dapat memicu denture stomatitis, yaitu peradangan kronis pada jaringan mulut yang berada tepat di bawah gigi tiruan. Keluhan yang muncul bisa berupa kemerahan, rasa tidak nyaman, hingga sensasi terbakar pada langit-langit mulut.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Microorganisms mencoba menjawab pertanyaan penting: apakah tingkat keparahan peradangan ini dipengaruhi oleh jenis jamur tertentu, jumlah jamur yang ada, atau bahkan resistensi terhadap obat antijamur?
Mengapa Denture Stomatitis Sering Terjadi?
Peradangan pada pengguna gigi tiruan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Kebersihan gigi palsu yang kurang baik, pemakaian gigi tiruan terus-menerus, mulut kering, serta kondisi kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Jamur Candida sebenarnya merupakan bagian normal dari mikroorganisme di rongga mulut. Namun, ketika keseimbangan lingkungan mulut terganggu, jamur ini dapat berkembang berlebihan dan berubah menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan penyakit.
Karena infeksi sering kambuh, penggunaan obat antijamur berulang kali juga dikhawatirkan dapat memicu munculnya resistensi obat.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti dari Brasil melibatkan 100 pengguna gigi tiruan penuh, kemudian mengelompokkan mereka berdasarkan tingkat keparahan denture stomatitis, mulai dari tidak mengalami peradangan hingga peradangan berat.
Sampel biofilm diambil dari dua lokasi:
permukaan bagian dalam gigi tiruan; dan
langit-langit mulut.
Para peneliti kemudian mengidentifikasi spesies jamur yang ditemukan, menghitung jumlahnya, serta menguji sensitivitasnya terhadap beberapa obat antijamur, yaitu:
nistatin (nystatin);
mikonazol (miconazole);
flukonazol (fluconazole); dan
mikafungin (micafungin).