Skip to Content

Formulir Informed Consent Berbasis AI

June 22, 2026 by
Carigi Indonesia

Formulir Informed Consent Berbasis AI

Formulir Informed Consent Berbasis AI

Bisakah Kecerdasan Buatan Menulis Formulir Persetujuan Operasi yang Lebih Baik?

Studi Terbaru Menunjukkan AI Unggul dalam Kualitas dan Keterbacaan Dokumen Persetujuan Bedah Mulut

Sebelum menjalani tindakan bedah, pasien biasanya diminta membaca dan menandatangani formulir informed consent atau persetujuan tindakan medis. Dokumen ini memiliki peran penting karena berisi informasi mengenai prosedur yang akan dilakukan, manfaat, risiko, serta pilihan terapi yang tersedia.

Namun, dalam praktiknya, banyak formulir persetujuan medis ditulis menggunakan bahasa yang terlalu rumit sehingga sulit dipahami oleh masyarakat umum. Akibatnya, tujuan utama informed consent—yaitu membantu pasien membuat keputusan yang benar-benar berdasarkan pemahaman yang baik—tidak selalu tercapai.

Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), muncul pertanyaan menarik: apakah AI mampu membantu membuat formulir persetujuan yang lebih baik dan lebih mudah dipahami dibandingkan dokumen yang selama ini tersedia di internet?

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Medical Internet Research mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan membandingkan kualitas formulir persetujuan bedah mulut konvensional dengan formulir yang dibuat menggunakan teknologi AI.

Mengapa Formulir Persetujuan Sangat Penting?

Persetujuan tindakan medis bukan sekadar formalitas administratif. Dokumen ini merupakan bagian penting dari etika dan hukum kedokteran yang memastikan pasien memahami apa yang akan terjadi selama perawatan.

Dalam bidang bedah mulut, prosedur seperti pencabutan gigi bungsu, pemasangan implan, operasi gusi, atau biopsi sering kali melibatkan berbagai risiko dan pilihan terapi yang perlu dijelaskan secara jelas kepada pasien.

Idealnya, informasi tersebut ditulis dengan bahasa sederhana sehingga dapat dipahami oleh orang dengan tingkat pendidikan umum. Sayangnya, banyak penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dokumen persetujuan medis sering kali menggunakan bahasa yang terlalu kompleks.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Peneliti memilih sepuluh prosedur bedah mulut yang umum dilakukan, antara lain:

  • Pencabutan gigi

  • Operasi gigi bungsu

  • Pemasangan implan gigi

  • Biopsi rongga mulut

  • Operasi periodontal (gusi)

  • Augmentasi tulang

  • Anestesi lokal

  • Insisi dan drainase abses

  • Apikoektomi

  • Kistektomi

Untuk setiap prosedur, peneliti mengumpulkan formulir persetujuan yang tersedia secara daring melalui pencarian internet. Selain itu, mereka juga meminta empat model AI populer saat itu—ChatGPT, Claude, Google Bard, dan Bing Chat—untuk membuat formulir persetujuan untuk prosedur yang sama.

Secara keseluruhan, sebanyak 380 dokumen disaring dan 213 formulir memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 136 formulir berbasis web dan 77 formulir yang dihasilkan AI.

Kualitas dokumen kemudian dinilai menggunakan instrumen khusus yang dikembangkan peneliti, yaitu Graz Assessment Tool for Written Informed Consent Keypoints (GATWICK). Selain itu, tingkat keterbacaan juga dianalisis menggunakan berbagai metode standar yang umum digunakan dalam penelitian komunikasi kesehatan.

Hasil: Formulir Buatan AI Dinilai Lebih Berkualitas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulir persetujuan yang dibuat oleh AI memperoleh skor kualitas yang lebih tinggi dibandingkan formulir konvensional yang ditemukan di internet.

Keunggulan utama AI terlihat pada beberapa aspek penting, seperti:

Menjelaskan Alternatif Perawatan

Dokumen yang dibuat AI lebih sering menyebutkan pilihan terapi lain yang tersedia bagi pasien. Informasi ini penting karena memungkinkan pasien memahami bahwa suatu tindakan bukan satu-satunya pilihan yang ada.

Menjelaskan Alasan Tindakan Direkomendasikan

AI juga lebih konsisten menjelaskan mengapa suatu prosedur dianjurkan oleh dokter dan apa manfaat yang diharapkan dari tindakan tersebut.

Mendukung Pengambilan Keputusan Pasien

Formulir AI cenderung memberikan informasi yang lebih lengkap untuk membantu pasien mempertimbangkan berbagai pilihan sebelum mengambil keputusan.

Sebaliknya, formulir konvensional lebih unggul dalam memberikan instruksi terkait perilaku pasien sebelum dan sesudah operasi.

Lebih Mudah Dibaca, Tetapi Masih Belum Ideal

Selain kualitas isi, keterbacaan menjadi aspek penting yang dianalisis dalam penelitian ini.

Hasilnya menunjukkan bahwa formulir yang dibuat AI lebih mudah dibaca dibandingkan formulir konvensional. Dokumen AI menggunakan bahasa yang relatif lebih sederhana dan lebih ringkas.

Meski demikian, baik formulir AI maupun formulir konvensional masih belum mencapai tingkat keterbacaan yang direkomendasikan untuk masyarakat umum. Dengan kata lain, sebagian besar dokumen masih terlalu sulit dipahami oleh banyak pasien.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun AI telah membantu menyederhanakan bahasa, masih diperlukan upaya lebih lanjut agar informasi medis benar-benar mudah dipahami oleh semua kalangan.

Dokumen AI Juga Lebih Ringkas

Peneliti menemukan bahwa formulir konvensional rata-rata berisi hampir dua kali lebih banyak kata dibandingkan formulir yang dibuat AI.

Dokumen yang lebih pendek berpotensi meningkatkan kemungkinan pasien membaca seluruh isi formulir. Namun demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa dokumen yang lebih panjang terkadang memiliki kualitas informasi yang lebih baik karena memuat penjelasan yang lebih lengkap.

Oleh karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar membuat dokumen lebih singkat, tetapi menyeimbangkan antara kelengkapan informasi dan kemudahan pemahaman.

Tidak Semua AI Memberikan Hasil yang Sama

Menariknya, kualitas formulir berbeda-beda tergantung model AI yang digunakan.

Dalam penelitian ini, Claude dan ChatGPT menghasilkan skor kualitas tertinggi dibandingkan model AI lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa performa sistem AI dapat bervariasi, sehingga pemilihan platform juga memengaruhi hasil akhir dokumen yang dihasilkan.

AI Menjanjikan, Tetapi Tetap Memerlukan Pengawasan Ahli

Meskipun menunjukkan hasil yang mengesankan, peneliti mengingatkan bahwa AI belum dapat bekerja secara mandiri tanpa pengawasan profesional kesehatan.

Model AI masih berpotensi menghasilkan informasi yang kurang akurat, melewatkan detail penting, atau memberikan penjelasan yang tidak sesuai dengan kondisi klinis tertentu. Oleh karena itu, setiap dokumen yang dibuat AI tetap perlu ditinjau oleh dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten sebelum digunakan kepada pasien.

Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang mempercepat penyusunan dokumen edukasi pasien sekaligus meningkatkan kualitas komunikasi antara dokter dan pasien.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa formulir persetujuan tindakan bedah mulut yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan memiliki kualitas informasi yang lebih baik dan lebih mudah dibaca dibandingkan formulir konvensional yang tersedia di internet.

Walaupun demikian, kedua jenis dokumen masih belum mencapai tingkat keterbacaan ideal bagi masyarakat umum. Karena itu, pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan agar informasi medis menjadi semakin jelas, mudah dipahami, dan mendukung pengambilan keputusan pasien secara optimal.

Ke depan, kombinasi antara kemampuan AI dan pengawasan tenaga kesehatan berpotensi menghasilkan formulir persetujuan yang lebih informatif, lebih ramah pasien, dan lebih efektif dalam mendukung pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien.

Referensi

Gaessler J, Remschmidt B, Jopp AK, Arefnia B, Franke A, Rieder M. Quality of Conventional versus Artificial Intelligence Oral Surgery Consent Forms: Comparative Analysis. Journal of Medical Internet Research. 2026;28:e59851. DOI: https://doi.org/10.2196/59851

Carigi Indonesia June 22, 2026
Share this post
Tags
Archive
Model Rahang Cetak 3D Bedah Mulut