Skip to Content

Faktor Risiko Sakit Gigi Terbesar

June 2, 2026 by
Carigi Indonesia

Faktor Risiko Sakit Gigi Terbesar

Faktor Risiko Sakit Gigi Terbesar

Sakit Gigi Masih Jadi Keluhan Utama Masyarakat: Studi pada Lebih dari 6.700 Pasien Ungkap Faktor Risikonya

Penelitian Terbaru Menunjukkan Bahwa Kebiasaan Menjaga Kebersihan Mulut dan Kondisi Sosial Ekonomi Berperan Besar terhadap Terjadinya Sakit Gigi

Sakit gigi sering dianggap sebagai masalah sepele yang akan hilang dengan sendirinya. Namun bagi banyak orang, rasa nyeri pada gigi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, bahkan memengaruhi kemampuan makan, tidur, dan bekerja.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di India mencoba mengungkap seberapa sering sakit gigi terjadi pada pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan gigi, sekaligus mencari faktor-faktor yang paling berperan dalam munculnya keluhan tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa sakit gigi masih menjadi masalah kesehatan yang sangat umum dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan menjaga kebersihan mulut hingga kondisi sosial ekonomi seseorang.

Mengapa Sakit Gigi Penting untuk Diteliti?

Sakit gigi bukanlah penyakit, melainkan gejala dari berbagai masalah kesehatan rongga mulut seperti karies gigi, peradangan pulpa, penyakit periodontal, maupun infeksi pada jaringan sekitar akar gigi.

Meski sering terjadi, data mengenai prevalensi sakit gigi dan faktor penyebabnya masih terbatas, terutama pada populasi pasien yang datang langsung ke klinik atau rumah sakit gigi.

Dengan memahami siapa yang paling berisiko mengalami sakit gigi dan apa penyebab utamanya, tenaga kesehatan dapat menyusun strategi pencegahan yang lebih efektif.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Penelitian dilakukan di sebuah rumah sakit pendidikan kedokteran gigi di India selama enam bulan.

Sebanyak 6.732 pasien yang datang ke poliklinik gigi dievaluasi melalui pemeriksaan klinis dan pengisian kuesioner terstruktur.

Peneliti mengumpulkan berbagai informasi, antara lain:

  • Usia dan jenis kelamin

  • Tingkat pendidikan

  • Pendapatan

  • Tempat tinggal (perkotaan atau pedesaan)

  • Kebiasaan menyikat gigi dan penggunaan benang gigi

  • Riwayat merokok, konsumsi tembakau, dan alkohol

  • Penyebab sakit gigi yang dialami pasien

Seluruh data kemudian dianalisis untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan keluhan sakit gigi.

Lebih dari Separuh Pasien Mengalami Sakit Gigi

Dari seluruh peserta penelitian, sebanyak 58% pasien melaporkan mengalami sakit gigi.

Angka ini menunjukkan bahwa nyeri gigi masih menjadi salah satu alasan utama seseorang mencari perawatan ke dokter gigi.

Kelompok usia produktif (17–60 tahun) menjadi kelompok yang paling banyak melaporkan sakit gigi. Selain itu, perempuan tercatat lebih sering mengalami atau melaporkan keluhan sakit gigi dibandingkan laki-laki.

Menurut peneliti, hal ini mungkin berkaitan dengan kecenderungan perempuan yang lebih aktif mencari pelayanan kesehatan dan lebih cepat melaporkan gejala yang dirasakan.

Kebersihan Mulut yang Kurang Baik Meningkatkan Risiko

Salah satu temuan paling konsisten dalam penelitian ini adalah hubungan antara kebiasaan menjaga kebersihan mulut dan kejadian sakit gigi.

Pasien yang hanya menyikat gigi satu kali sehari lebih sering mengalami sakit gigi dibandingkan mereka yang menyikat gigi dua kali sehari.

Begitu pula dengan penggunaan benang gigi (dental floss). Individu yang tidak menggunakan benang gigi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami nyeri gigi.

Temuan ini memperkuat pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut secara menyeluruh, tidak hanya dengan menyikat gigi tetapi juga membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau sikat gigi.

Karies Menjadi Penyebab Utama

Ketika penyebab sakit gigi dianalisis lebih lanjut, karies gigi atau gigi berlubang menjadi faktor yang paling dominan.

Sekitar seperempat hingga sepertiga kasus sakit gigi dalam penelitian ini berkaitan dengan karies.

Selain itu, beberapa penyebab lain yang cukup sering ditemukan meliputi:

  • Perikoronitis (radang jaringan sekitar gigi bungsu yang tumbuh sebagian)

  • Periodontitis apikal

  • Fraktur atau retak gigi

  • Trauma pada gigi

Hasil ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa gigi berlubang yang tidak segera dirawat dapat berkembang menjadi infeksi dan menyebabkan nyeri yang lebih berat.

Faktor Sosial Ekonomi Juga Berpengaruh

Penelitian ini menemukan bahwa pasien dengan pendapatan rendah dan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung lebih sering mengalami sakit gigi.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Akses terhadap layanan kesehatan gigi yang lebih terbatas

  • Kurangnya edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut

  • Keterlambatan mencari pengobatan saat masalah gigi mulai muncul

Selain itu, banyak pasien memilih melakukan pengobatan sendiri menggunakan obat pereda nyeri sebelum berkonsultasi ke dokter gigi.

Peneliti menemukan bahwa kebiasaan swamedikasi memiliki hubungan yang cukup kuat dengan berbagai penyebab sakit gigi, termasuk karies dan periodontitis.

Merokok, Alkohol, dan Tembakau Tetap Menjadi Perhatian

Kebiasaan merokok, penggunaan tembakau, dan konsumsi alkohol juga ditemukan memiliki hubungan dengan kejadian sakit gigi.

Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit periodontal, kerusakan jaringan rongga mulut, hingga kehilangan gigi.

Karena itu, upaya pencegahan sakit gigi tidak hanya berfokus pada kebersihan mulut, tetapi juga perlu disertai perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Apa Makna Temuan Ini bagi Masyarakat?

Penelitian ini menegaskan bahwa sakit gigi bukan sekadar masalah pada satu gigi yang berlubang. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kebersihan mulut, kebiasaan hidup, hingga kondisi sosial ekonomi.

Pencegahan sakit gigi dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana seperti:

  • Menyikat gigi minimal dua kali sehari

  • Membersihkan sela gigi secara rutin

  • Mengurangi konsumsi gula berlebih

  • Menghindari rokok dan produk tembakau

  • Melakukan pemeriksaan gigi secara berkala

  • Segera memeriksakan diri ketika muncul gejala awal kerusakan gigi

Semakin cepat masalah gigi ditemukan dan ditangani, semakin kecil kemungkinan berkembang menjadi nyeri yang lebih berat dan membutuhkan perawatan yang kompleks.

Kesimpulan

Penelitian terhadap lebih dari 6.700 pasien ini menunjukkan bahwa sakit gigi masih menjadi masalah kesehatan yang sangat umum, dengan prevalensi mencapai 58%.

Karies gigi tetap menjadi penyebab utama, sementara kebiasaan menjaga kebersihan mulut yang kurang baik, tingkat pendidikan yang rendah, pendapatan yang terbatas, serta faktor gaya hidup turut meningkatkan risiko terjadinya sakit gigi.

Temuan ini mengingatkan bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan dukungan edukasi dan akses pelayanan kesehatan yang memadai agar angka kejadian sakit gigi dapat terus ditekan.

Referensi

Gade LP, Khamkar HK, Kamble A, Choudhary RG, Patil PS, Rodge VM. (2025). A Cross-Sectional Analysis of Toothache Prevalence and Its Contributing Factors in Dental Outpatients. Cureus, 17(7): e87115.

DOI: 10.7759/cureus.87115


Carigi Indonesia June 2, 2026
Share this post
Tags
Archive
Dinamika Bakteri Gingivitis Plak