Faktor Keputusan Perawatan Gigi Pasien

Mengapa Pasien Memilih atau Menolak Perawatan Gigi? Biaya Bukan Satu-satunya Pertimbangan
Keputusan ke dokter gigi ternyata dipengaruhi banyak hal
Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan perawatan gigi, keputusan tersebut tidak selalu sesederhana “perlu atau tidak perlu”. Di balik keputusan untuk datang ke dokter gigi, menjalani suatu tindakan, menunda, atau bahkan membatalkan perawatan, terdapat berbagai pertimbangan.
Biaya menjadi salah satu faktor yang paling sering muncul. Namun, penelitian menunjukkan bahwa keputusan pasien juga dipengaruhi oleh rasa takut terhadap perawatan gigi, kekhawatiran terhadap rasa sakit, hasil estetika, kepercayaan kepada dokter gigi, akses terhadap layanan, hingga karakteristik perawatan yang ditawarkan.
Hal ini penting karena kesehatan gigi dan mulut tidak hanya berkaitan dengan kondisi rongga mulut. Kesehatan gigi juga berhubungan dengan kualitas hidup, kesehatan secara umum, produktivitas, serta beban ekonomi akibat penyakit yang tidak tertangani.
Untuk memahami lebih jauh alasan di balik keputusan pasien tersebut, Felgner dan kolega melakukan sebuah systematic review yang merangkum penelitian dari berbagai negara mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pasien dalam memilih atau menolak perawatan gigi.
Peneliti menelaah ratusan penelitian dari berbagai negara
Penelitian ini merupakan systematic review, yaitu penelitian yang mengumpulkan dan menganalisis hasil dari berbagai penelitian sebelumnya secara sistematis.
Para peneliti melakukan pencarian literatur melalui tiga basis data utama, yaitu PubMed/MEDLINE, Cochrane Library, dan Web of Science. Pencarian dilakukan dalam dua tahap, mencakup publikasi periode 2007–2018 dan pembaruan hingga Januari 2021. Proses penelitian mengikuti pedoman PRISMA dan SWiM, sementara kualitas penelitian yang ditemukan dinilai menggunakan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT).
Dari ribuan publikasi yang ditemukan, sebanyak 233 artikel akhirnya dimasukkan dalam analisis. Artikel-artikel tersebut terdiri atas penelitian kualitatif, kuantitatif, dan mixed methods, dengan penelitian yang dilakukan di 49 negara.
Dengan cakupan tersebut, penelitian ini memberikan gambaran internasional mengenai berbagai alasan yang dapat memengaruhi keputusan pasien dalam mendapatkan perawatan gigi.
Ada 101 faktor yang memengaruhi keputusan pasien
Hasil analisis menemukan 101 faktor yang berkaitan dengan keputusan pasien terhadap perawatan gigi.
Para peneliti kemudian mengelompokkan faktor-faktor tersebut ke dalam tiga kelompok besar:
1. Dokter gigi dan institusi pelayanan
Kelompok pertama berkaitan dengan karakteristik dokter gigi serta tempat pasien mendapatkan pelayanan.
Faktor di dalamnya antara lain akses terhadap layanan, komunikasi, kualifikasi tenaga kesehatan, dan organisasi pelayanan. Lokasi klinik, transportasi, informasi yang mudah dipahami, fasilitas, hingga pelayanan kepada pasien termasuk dalam kelompok ini.
Artinya, keputusan pasien tidak hanya ditentukan oleh “tindakan apa yang akan dilakukan”, tetapi juga oleh pengalaman pasien ketika berinteraksi dengan dokter gigi dan fasilitas pelayanan.
Komunikasi yang jelas dan mudah dipahami menjadi penting karena pasien perlu mengetahui kondisi mereka, pilihan perawatan, manfaat, risiko, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil.
2. Faktor dari dalam diri pasien
Kelompok kedua berkaitan dengan karakteristik pasien.
Peneliti menemukan berbagai faktor, mulai dari kondisi medis, karakteristik sosial, hingga karakteristik individual. Di dalamnya termasuk rasa sakit, kebutuhan estetika, pengalaman sebelumnya, serta rasa takut terhadap perawatan gigi.
Dengan kata lain, dua pasien yang memiliki kondisi gigi yang serupa belum tentu mengambil keputusan yang sama. Pengalaman, kekhawatiran, kebutuhan, dan latar belakang masing-masing pasien dapat menghasilkan pilihan yang berbeda.
3. Karakteristik perawatan itu sendiri
Kelompok ketiga berkaitan langsung dengan tindakan atau perawatan yang ditawarkan.
Faktor yang ditemukan mencakup karakteristik perawatan, seperti tingkat kompleksitas dan daya tahan hasil perawatan, serta aspek biaya. Termasuk di dalamnya pembayaran langsung oleh pasien, second opinion, dan pilihan pembayaran secara bertahap.
Biaya menjadi faktor yang paling sering muncul
Dari seluruh faktor yang ditemukan, pembayaran yang harus ditanggung langsung oleh pasien (out-of-pocket payment) merupakan faktor yang paling sering dilaporkan.
Faktor ini ditemukan dalam 136 artikel, sedangkan rasa takut terhadap perawatan gigi (dental fear) ditemukan dalam 64 artikel. Dalam proses pengodean, frekuensi kemunculan out-of-pocket payment juga menjadi yang tertinggi, yaitu 151 kali, diikuti dental fear sebanyak 73 kali, estetika 64 kali, dan rasa sakit 61 kali.
Temuan ini menunjukkan bahwa biaya bukan sekadar persoalan harga sebuah tindakan. Bagi sebagian pasien, kemampuan untuk membayar dapat menentukan apakah mereka akan menjalani perawatan, menundanya, atau bahkan tidak mengakses layanan tersebut.
Penelitian yang dianalisis juga menunjukkan bahwa pasien dapat menunda atau membatalkan kunjungan ketika harus menanggung biaya perawatan secara langsung. Karena itu, keterjangkauan layanan menjadi salah satu persoalan penting dalam upaya meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan gigi.
Rasa takut terhadap perawatan juga menjadi penghalang besar
Selain biaya, rasa takut terhadap perawatan gigi menjadi salah satu faktor yang paling konsisten ditemukan.
Rasa takut tersebut dapat berkaitan dengan kekhawatiran terhadap jarum, rasa sakit, komplikasi, maupun pengalaman negatif sebelumnya. Frekuensi faktor ini berbeda-beda antarnegara. Dalam sejumlah penelitian dari India, Arab Saudi, dan Brasil, misalnya, dental fear cukup sering dilaporkan sebagai faktor yang memengaruhi keputusan pasien.
Menariknya, peneliti menekankan bahwa rasa takut dan biaya tidak selalu berdiri sendiri.
Pasien yang sudah merasa takut terhadap perawatan dapat menjadi semakin enggan berobat ketika pada saat yang sama menghadapi beban biaya. Sebaliknya, kepercayaan kepada dokter gigi dan staf dapat membantu mengurangi dampak negatif dari rasa takut maupun kekhawatiran terhadap biaya.
Hal ini memperlihatkan pentingnya membangun hubungan yang baik antara dokter gigi dan pasien.
Estetika dan rasa sakit juga memainkan peran
Estetika menjadi faktor yang cukup sering ditemukan dalam penelitian, terutama pada beberapa negara seperti Brasil dan Arab Saudi.
Namun, penting untuk memahami bahwa arti penting estetika tidak selalu sama di setiap tempat. Preferensi terhadap penampilan gigi dapat dipengaruhi oleh budaya, norma sosial, persepsi terhadap kecantikan, bahkan pandangan mengenai status sosial dan profesionalisme.
Di beberapa negara, pertimbangan estetika dapat menjadi faktor yang sangat penting. Sementara di wilayah lain, pasien mungkin lebih memprioritaskan fungsi atau biaya perawatan.
Sementara itu, rasa sakit ditemukan sebagai faktor yang memengaruhi keputusan dalam penelitian dari hampir seluruh negara yang dianalisis, yaitu 34 negara.
Peneliti menilai bahwa rasa sakit perlu dipahami secara lebih spesifik karena pengalaman nyeri dapat berbeda berdasarkan persepsi pasien maupun jenis perawatan yang dilakukan. Edukasi kesehatan gigi, perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, serta pengambilan keputusan bersama antara dokter dan pasien dapat menjadi pendekatan untuk mengurangi kekhawatiran terhadap rasa sakit.
Setiap negara memiliki pola pertimbangan yang berbeda
Meskipun biaya menjadi faktor yang paling sering ditemukan secara keseluruhan, penelitian ini juga memperlihatkan bahwa tidak ada satu faktor yang berlaku sama kuat di semua negara.
Dalam tujuh dari delapan negara dengan jumlah artikel terbanyak—Inggris, Arab Saudi, Amerika Serikat, India, Brasil, Turki, Jerman, dan Kanada—out-of-pocket payment menjadi faktor yang paling banyak ditemukan. Namun, faktor seperti rasa takut, estetika, dan rasa sakit menunjukkan variasi antarnegara.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keputusan pasien tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, serta sistem kesehatan di masing-masing negara.
Karena itu, pendekatan pelayanan yang sama belum tentu efektif untuk semua kelompok pasien.
Keputusan pasien merupakan kombinasi berbagai faktor
Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa keputusan pasien jarang disebabkan oleh satu faktor saja.
Biaya dapat berinteraksi dengan rasa takut. Pengalaman pasien dapat memengaruhi tingkat kepercayaan. Budaya dapat membentuk harapan terhadap hasil estetika. Sementara akses dan kualitas komunikasi dapat memengaruhi kesediaan pasien untuk mengikuti rekomendasi perawatan.
Dengan demikian, memahami pasien tidak cukup hanya dengan mengetahui apakah mereka mampu membayar sebuah perawatan.
Dokter gigi juga perlu memahami apa yang menjadi kekhawatiran pasien, seberapa jauh pasien memahami kondisi dan pilihan perawatannya, serta apa yang mereka harapkan dari hasil perawatan.
Apa artinya bagi praktik kedokteran gigi?
Temuan penelitian ini memperkuat pentingnya pendekatan patient-centered care dalam pelayanan kesehatan gigi.
Komunikasi yang terbuka, empatik, dan suportif dapat membantu membangun kepercayaan pasien. Kepercayaan tersebut dapat membuat pasien lebih yakin terhadap kebutuhan dan manfaat perawatan yang direkomendasikan.
Bagi tenaga kesehatan gigi, hal ini dapat diterjemahkan ke dalam beberapa pendekatan, seperti:
menjelaskan kondisi dan pilihan perawatan dengan bahasa yang mudah dipahami;
mendengarkan kekhawatiran pasien mengenai rasa sakit atau komplikasi;
mendiskusikan biaya dan pilihan perawatan secara transparan;
melibatkan pasien dalam proses pengambilan keputusan;
mempertimbangkan kebutuhan dan harapan individual pasien; serta
membangun hubungan yang konsisten dan penuh kepercayaan.