Skip to Content

Faktor Erupsi Gigi Bungsu

May 20, 2026 by
Carigi Indonesia

Faktor Erupsi Gigi Bungsu

Faktor Erupsi Gigi Bungsu

Waktu Tumbuh Gigi Bungsu Dipengaruhi Jenis Kelamin, Nutrisi, dan Lingkungan Tempat Tinggal, Studi dari India Temukan Fakta Menarik

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa status gizi dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kapan gigi bungsu mulai tumbuh

Gigi bungsu atau molar ketiga sering dikaitkan dengan rasa nyeri, impaksi, atau prosedur pencabutan saat usia remaja akhir. Namun ternyata, waktu tumbuhnya gigi bungsu tidak hanya penting dalam dunia kedokteran gigi, tetapi juga berperan besar dalam ilmu forensik dan penentuan usia seseorang.

Sebuah penelitian terbaru dari India Timur Laut menemukan bahwa pertumbuhan gigi bungsu dipengaruhi oleh berbagai faktor sosiodemografis, termasuk jenis kelamin, status gizi, serta apakah seseorang tinggal di daerah pedesaan atau perkotaan. Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan gigi manusia dapat berbeda-beda pada setiap populasi dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar.

Mengapa Gigi Bungsu Penting Selain untuk Kedokteran Gigi?

Gigi bungsu merupakan gigi permanen terakhir yang tumbuh, biasanya muncul pada usia akhir remaja hingga awal dewasa. Karena sebagian besar gigi lain sudah selesai berkembang pada masa remaja, pertumbuhan gigi bungsu sering digunakan dalam ilmu forensik untuk memperkirakan usia seseorang, terutama ketika dokumen identitas tidak tersedia atau diragukan keasliannya.

Namun, waktu erupsi gigi bungsu ternyata sangat bervariasi antarindividu maupun antar populasi. Peneliti menjelaskan bahwa faktor genetik, nutrisi, etnis, hingga lingkungan dapat memengaruhi kapan gigi bungsu mulai muncul di rongga mulut.

Untuk memahami perbedaan tersebut, peneliti mempelajari pola pertumbuhan gigi bungsu pada masyarakat Assam di India Timur Laut.

Melibatkan Lebih dari 750 Partisipan

Penelitian ini melibatkan 753 partisipan sehat berusia 14–26 tahun dari wilayah Assam, India, yang terdiri dari masyarakat pedesaan dan perkotaan. Peneliti melakukan pemeriksaan klinis untuk menentukan apakah gigi bungsu belum tumbuh, tumbuh sebagian, atau sudah tumbuh sempurna.

Selain pemeriksaan gigi, peneliti juga mengukur tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh (Body Mass Index / BMI) partisipan. Individu dengan kondisi tertentu yang dapat memengaruhi perkembangan gigi, seperti kelainan bawaan atau impaksi berat, tidak dimasukkan dalam penelitian.

Tujuan penelitian ini bukan hanya menentukan rata-rata usia tumbuhnya gigi bungsu, tetapi juga mencari faktor-faktor yang berkaitan dengan percepatan atau keterlambatan pertumbuhannya.

Sebagian Besar Partisipan Belum Mengalami Erupsi Gigi Bungsu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60% partisipan belum mengalami pertumbuhan gigi bungsu saat pemeriksaan dilakukan, sedangkan sekitar 40% lainnya sudah mengalami erupsi sebagian atau lengkap.

Usia menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan gigi bungsu. Tidak ada partisipan usia 14 tahun yang memiliki gigi bungsu tumbuh. Namun, jumlah erupsi meningkat secara bertahap seiring bertambahnya usia. Pada usia 23–25 tahun, sebagian besar partisipan sudah mengalami pertumbuhan gigi bungsu lengkap.

Penelitian ini juga menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Secara umum, laki-laki menunjukkan pertumbuhan gigi bungsu lebih awal dibandingkan perempuan.

Menariknya, laki-laki cenderung mengalami pertumbuhan lebih cepat pada rahang bawah (mandibula), sedangkan perempuan menunjukkan pertumbuhan sedikit lebih cepat pada rahang atas (maksila).

Status Gizi dan Berat Badan Berpengaruh terhadap Pertumbuhan Gigi

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah hubungan antara status gizi dan pertumbuhan gigi bungsu.

Partisipan dengan berat badan kurang (underweight) menunjukkan keterlambatan pertumbuhan gigi bungsu dibandingkan individu dengan BMI normal atau lebih tinggi.

Pada partisipan perempuan, keterlambatan ini terlihat lebih jelas. Lebih dari 80% perempuan underweight belum mengalami erupsi gigi bungsu.

Peneliti menjelaskan bahwa kekurangan nutrisi dapat memperlambat perkembangan dan pertumbuhan gigi. Malnutrisi sebelumnya juga diketahui berkaitan dengan keterlambatan erupsi gigi, ukuran gigi yang lebih kecil, serta kualitas enamel yang kurang baik.

Sebaliknya, partisipan dengan BMI lebih tinggi cenderung mengalami pertumbuhan gigi lebih cepat, mendukung penelitian sebelumnya bahwa nutrisi yang lebih baik dapat mempercepat perkembangan biologis tubuh.

Ada Perbedaan antara Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Penelitian ini juga menemukan perbedaan menarik antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.

Pertumbuhan gigi bungsu lebih sering ditemukan pada partisipan dari daerah pedesaan dibandingkan perkotaan. Laki-laki perkotaan secara khusus menunjukkan angka keterlambatan erupsi yang lebih tinggi.

Peneliti menduga pola makan dan perkembangan rahang berperan dalam perbedaan ini. Masyarakat pedesaan umumnya mengonsumsi makanan yang lebih berserat dan kurang diproses, sehingga membantu perkembangan rahang yang lebih baik dan menyediakan ruang lebih cukup bagi gigi bungsu untuk tumbuh normal.

Sebaliknya, pola makan modern yang lebih lunak dan banyak ditemukan di perkotaan diduga dapat mengurangi perkembangan rahang dari generasi ke generasi, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan erupsi maupun impaksi gigi bungsu.

Penting bagi Kedokteran Gigi dan Ilmu Forensik

Temuan penelitian ini memiliki manfaat penting dalam bidang kedokteran gigi maupun forensik.

Bagi dokter gigi, pemahaman mengenai waktu pertumbuhan gigi bungsu dapat membantu pemantauan dan penanganan lebih dini pada pasien yang berisiko mengalami impaksi atau keterlambatan pertumbuhan.

Sementara itu, bagi ahli forensik, penelitian ini menegaskan pentingnya penggunaan data spesifik populasi dalam memperkirakan usia seseorang. Karena pola pertumbuhan gigi dapat berbeda antar wilayah dan etnis, penggunaan data dari populasi lain bisa menghasilkan estimasi usia yang kurang akurat.

Peneliti juga mengingatkan bahwa penelitian ini hanya menggunakan pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan radiografi, sehingga tahap perkembangan gigi yang masih tersembunyi di dalam tulang belum dapat dinilai sepenuhnya.

Kesimpulan

Penelitian dari India Timur Laut ini menunjukkan bahwa pertumbuhan gigi bungsu dipengaruhi bukan hanya oleh usia, tetapi juga oleh jenis kelamin, status gizi, dan lingkungan tempat tinggal. Individu dengan berat badan kurang cenderung mengalami keterlambatan pertumbuhan gigi, sementara masyarakat pedesaan dan individu dengan BMI lebih tinggi menunjukkan erupsi yang lebih cepat.

Temuan ini memperkuat bahwa perkembangan gigi sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan umum, nutrisi, dan lingkungan hidup seseorang. Penelitian ini juga menekankan pentingnya standar lokal dalam penilaian usia berbasis perkembangan gigi dan pemeriksaan kesehatan rongga mulut.

Referensi

Mahanta P, Ronya R, Sumpi S, Bora N, Rajbangshi MC, Kashyap K, Pratim KP. Factors Associated With Third Molar Eruption in the Assamese Inhabitants of Northeast India. Cureus. 2025;17(9):e93165. https://doi.org/10.7759/cureus.93165


Carigi Indonesia May 20, 2026
Share this post
Tags
Archive
Obesitas & Erupsi Gigi Anak