Skip to Content

Erosi Asam & Sikat Interdental

April 24, 2026 by
Carigi Indonesia

Erosi Asam & Sikat Interdental

Erosi Asam & Sikat Interdental

Sisi Tersembunyi di Balik Gigi Bersih: Saat Sikat Interdental Bertemu Asam di Mulut Anda

Kebiasaan baik bertemu asam jahat — studi laboratorium terbaru menunjukkan kombinasi keduanya dapat mengikis gigi lebih cepat dibanding masing-masing secara terpisah

Sikat interdental — alat mungil mirip pembersih pipa yang direkomendasikan dokter gigi untuk membersihkan sela-sela gigi — umumnya dianggap aman dan efektif. Di sisi lain, asam lambung, minuman sitrus, dan muntah berulang sudah lama dikenal sebagai musuh enamel. Namun, apa yang terjadi ketika keduanya bertemu di permukaan gigi yang sama, hari demi hari?

Sebuah studi laboratorium terbaru dari University of Zurich, yang diterbitkan di jurnal Oral Health and Preventive Dentistry, berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Hasilnya menjadi pengingat penting bagi siapa pun yang terbiasa menyikat gigi dengan keras setelah episode refluks atau segelas jus jeruk: kombinasi asam dan sikat interdental dapat mengikis enamel jauh lebih cepat dibanding hanya salah satunya saja.

Mengapa Pertanyaan Ini Penting

Erosi gigi — pelarutan enamel secara kimiawi oleh asam — bukan lagi masalah kecil. Para peneliti mencatat erosi dilaporkan terjadi pada hingga 30% orang dewasa dan 50% anak-anak, dipicu oleh meningkatnya konsumsi minuman asam, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), serta gangguan makan seperti bulimia.

Sementara itu, abrasi adalah keausan mekanis jaringan gigi, paling sering disebabkan oleh aktivitas menyikat itu sendiri. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketika asam terlebih dahulu melunakkan enamel, sikatan berikutnya dapat lebih mudah mengangkat lapisan yang sudah melemah — fenomena yang dalam ilmu kedokteran gigi disebut sinergi erosi-abrasi.

Sikat interdental (Interdental Brush/IDB) kini menjadi bagian penting dari kebersihan mulut modern, tetapi masih sangat sedikit yang diketahui tentang bagaimana alat ini bekerja pada enamel yang baru saja terpapar asam lambung. Studi ini adalah yang pertama kali meneliti kombinasi tersebut secara spesifik.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan

Tim peneliti — Lynn V. Etter, Andrea Gubler, Florian J. Wegehaupt, dan Patrick R. Schmidlin — menggunakan gigi sapi sebagai pengganti gigi manusia. Praktik ini sudah lazim dalam riset kedokteran gigi karena gigi sapi memiliki struktur yang mirip dengan gigi manusia dan lebih mudah didapat dalam ukuran yang seragam.

Mereka menyiapkan:

  • 24 sampel enamel dan 24 sampel dentin (dentin adalah lapisan lebih lunak di bawah enamel)

  • Setiap kelompok dibagi menjadi tiga sub-kelompok berisi 8 sampel:

    • Abrasi saja: disikat dua kali sehari dengan sikat interdental dan pasta gigi

    • Erosi saja: direndam dalam asam klorida (pH 2,3) selama 2 menit, 10 kali sehari — mensimulasikan episode refluks berulang

    • Kombinasi: disikat, lalu dipapar asam, kemudian disikat lagi — meniru kebiasaan orang yang menyikat gigi di sekitar waktu terjadinya refluks atau konsumsi minuman asam

Percobaan berlangsung selama 10 hari, dengan pengukuran dilakukan pada awal, hari ke-5, dan hari ke-10 menggunakan profilometer kontak (untuk mengukur seberapa banyak permukaan gigi yang hilang), alat pengukur kekasaran, dan mikroskop elektron pemindai/SEM untuk pencitraan permukaan perbesaran tinggi.

Apa yang Ditemukan Peneliti

Enamel: kombinasi adalah yang terburuk

Pada enamel, hasilnya sangat jelas:

  • Abrasi saja hampir tidak menimbulkan kerusakan yang terukur — temuan yang melegakan bagi pengguna sikat interdental yang menggunakan alat ini dengan benar.

  • Erosi saja mengikis sekitar 9 mikrometer enamel setelah 5 hari, dan 14,6 mikrometer setelah 10 hari.

  • Kelompok kombinasi mengalami kehilangan paling besar, rata-rata 10,7 mikrometer setelah 5 hari dan 18,9 mikrometer setelah 10 hari — sekitar 30% lebih banyak dibanding asam saja.

Dengan kata lain, ketika asam melunakkan enamel, sikat interdental yang lembut sekalipun dapat mengikis lapisan yang sudah lemah. Gambar SEM memperlihatkan alur paralel yang dalam pada kelompok kombinasi, jelas mengikuti arah sikatan.

Dentin: sebuah kejutan

Dentin justru menunjukkan cerita yang berbeda. Karena dentin lebih lunak dan mengandung lebih banyak bahan organik (sebagian besar kolagen), para peneliti menduga kelompok kombinasi juga akan paling parah di sini. Namun ternyata:

  • Abrasi saja menyebabkan keausan minimal namun terukur (~0,4 μm).

  • Erosi saja menyebabkan kehilangan substansi terbesar — sekitar 8 mikrometer setelah 10 hari.

  • Kelompok kombinasi justru kehilangan dentin lebih sedikit dibanding kelompok erosi saja (~6,8 μm).

Penjelasan yang paling mungkin sangat menarik. Ketika asam melarutkan bagian mineral dentin, tersisa lapisan kolagen yang terpapar. Sikatan tidak mengangkat kolagen ini — justru tampaknya memampatkan kolagen menjadi lapisan pelindung yang melindungi jaringan di bawahnya dari serangan asam lebih lanjut. Pada kelompok erosi saja, tanpa sikatan yang memampatkan kolagen, asam dapat terus menggerogoti struktur lebih dalam.

Kekasaran dan tampilan permukaan

Di bawah mikroskop elektron, perbedaannya terlihat mencolok. Sampel awal tampak halus. Enamel kelompok abrasi saja tetap relatif utuh. Dentin kelompok erosi saja memperlihatkan tubulus dentin yang terbuka lebar — saluran-saluran mikroskopis yang dapat menyebabkan gigi sensitif. Kelompok kombinasi menunjukkan kerusakan paling dramatis pada enamel, dengan permukaan kasar, tidak beraturan, dan bekas sikatan yang terlihat jelas.

Apa Artinya untuk Perawatan Gigi Sehari-hari

Para peneliti tidak sedang menganjurkan orang berhenti menggunakan sikat interdental — teknik ini tetap penting untuk kesehatan gusi dan mencegah karies di antara gigi. Namun, studi ini memberikan beberapa pelajaran praktis:

  1. Menyikat gigi tepat setelah paparan asam berisiko tinggi. Baik asam berasal dari refluks, buah sitrus, soda, atau muntah, enamel berada dalam kondisi paling rentan dalam menit-menit setelahnya. Menunggu memberi waktu bagi air liur untuk meremineralisasi permukaan yang melunak sebelum disikat.

  2. Dentin berperilaku berbeda dari enamel. Ketika gusi turun dan dentin terpapar, asam — bukan sikatan — tampaknya menjadi ancaman yang lebih besar.

  3. Tingkat abrasivitas pasta gigi penting. Pasta gigi yang digunakan dalam studi ini memiliki nilai Relative Dentin Abrasion (RDA) 100, yang tergolong tinggi. Menggunakan pasta gigi dengan abrasivitas lebih rendah dapat membantu mengurangi keausan dentin saat menyikat interdental.

  4. Edukasi pasien sangat penting. Peneliti menegaskan tidak ada satu produk pun — baik pasta gigi anti-erosi maupun bulu sikat yang lembut — yang sepenuhnya mencegah kerusakan semacam ini. Perilaku dan pola perawatanlah yang menentukan.

Salah satu usulan dari studi ini: gunakan sikat interdental sebelum pasta gigi diaplikasikan, agar sikat tidak menjadi alat pengantar pasta abrasif pada enamel yang sedang melunak.

Keterbatasan yang Perlu Diketahui

Sebagai studi in-vitro (laboratorium), percobaan ini memiliki keterbatasan nyata. Tidak ada pelikel saliva — lapisan protein pelindung yang terbentuk alami pada gigi sungguhan — sehingga studi ini kemungkinan menunjukkan kerusakan yang lebih besar dibanding kondisi sebenarnya. Asam yang digunakan adalah asam klorida murni tanpa enzim (pepsin, tripsin) yang terdapat dalam cairan lambung asli. Selain itu, gigi sapi, meskipun merupakan pengganti yang memadai, tidak sepenuhnya identik dengan gigi manusia.

Meski begitu, arah temuan — bahwa erosi dan sikatan dapat saling memperburuk pada enamel, dan bahwa dentin justru paling rentan terhadap asam saja — konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya, dan menambahkan nuansa penting dalam cara kita memandang alat kebersihan mulut.

Intinya

Sikat interdental aman digunakan pada enamel yang sehat. Alat ini baru menjadi masalah saat bertemu dengan asam — dan di situlah kerusakan dapat berkembang cepat. Bagi pasien dengan refluks, gangguan makan, atau pola makan tinggi asam, pesan utamanya bukanlah berhenti membersihkan sela gigi, tetapi bersikap cermat tentang kapan melakukannya. Bilas dengan air, tunggu beberapa saat, dan biarkan air liur menjalankan fungsi perlindungannya lebih dulu.

Kedokteran gigi modern, menurut para peneliti, perlu bergerak melampaui pendekatan "sikat lebih keras, sikat lebih sering" menuju strategi yang lebih bijak — yang memahami bahwa mulut adalah lingkungan kimiawi, tidak semata-mata mekanis.

Referensi

Etter LV, Gubler A, Wegehaupt FJ, Schmidlin PR. The Influence of Erosive and Abrasive Effects of Interdental Brushing on Bovine Enamel and Dentine In Vitro. Oral Health and Preventive Dentistry. 2025;23:635–643.

DOI: 10.3290/j.ohpd.c_2302


Carigi Indonesia April 24, 2026
Share this post
Tags
Archive
AI & ChatGPT dalam Kedokteran Gigi Anak