Cemas Menjelang Operasi Gigi Bungsu? Musik Ternyata Bisa Jadi Penenang
Peneliti dari Universitas Padjadjaran merangkum 11 studi dan menemukan bahwa cara-cara tanpa obat—terutama musik—dapat meredakan kecemasan pasien menjelang operasi gigi bungsu. Dan kini, ilmu saraf mulai menjelaskan mengapa alunan musik begitu menenangkan otak kita.
Operasi gigi bungsu adalah salah satu tindakan bedah mulut yang paling sering dilakukan—sekaligus salah satu yang paling ditakuti. Bayangan akan alat-alat bedah, suntikan bius, dan antisipasi rasa sakit membuat banyak orang gugup bahkan sebelum duduk di kursi operasi. Kecemasan ini bukan hal sepele: selain menyiksa secara emosional, ia juga bisa memengaruhi jalannya operasi dan pemulihan. Pertanyaannya, adakah cara menenangkan pasien tanpa harus selalu memberi obat penenang?
Menariknya, jawaban atas pertanyaan ini datang dari peneliti Indonesia sendiri. Sebuah tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (bersama kolega dari Universiti Malaya, Malaysia) merangkum seluruh bukti ilmiah yang tersedia. Hasil kajian mereka diterbitkan dalam Dentistry Journal (penerbit MDPI) pada 2026, dan menawarkan gambaran yang menjanjikan bagi siapa pun yang cemas menghadapi operasi gigi bungsu.
Konteks: Kecemasan Menjelang Operasi Gigi Bungsu Itu Nyata
Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dikutip dalam studi ini, sekitar 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, sementara hanya sebagian kecil yang mendapatkan perawatan yang semestinya. Salah satu masalah yang umum adalah gigi bungsu (geraham terakhir) yang tumbuh tidak sempurna atau terbenam, yang sering kali harus diatasi melalui operasi—yang dikenal sebagai odontektomi.
Masalahnya, tindakan ini kerap memicu kecemasan yang cukup berat. Studi ini menyebutkan bahwa sekitar 45,6% pasien yang dijadwalkan operasi gigi bungsu tergolong cemas (31%) hingga sangat cemas (14,6%). Dan kecemasan ini tidak berhenti di kepala: ia memicu berbagai reaksi tubuh seperti naiknya tekanan darah, detak jantung yang lebih cepat, dan kepekaan terhadap rasa sakit yang meningkat. Reaksi-reaksi ini dapat mempersulit jalannya operasi, memperpanjang waktu tindakan, dan memperlambat pemulihan. Bahkan, kecemasan yang dibiarkan bisa membuat seseorang menghindari atau menunda operasi—dan justru memperburuk kondisi giginya.
Selama ini, kecemasan berat sering diatasi dengan obat penenang seperti golongan benzodiazepin. Namun obat ini memiliki sederet efek samping—dari kantuk berlebihan, interaksi obat, hingga risiko ketergantungan. Karena itulah perhatian bergeser ke metode non-farmakologis, yakni cara-cara tanpa obat yang dianggap lebih aman, seperti terapi musik, tayangan audiovisual, dan realitas virtual (VR).
Apa yang Dilakukan Peneliti
Penelitian ini adalah sebuah tinjauan sistematis—metode yang secara ketat mengumpulkan, menyaring, dan merangkum hasil dari banyak penelitian yang sudah ada. Para peneliti menyisir berbagai basis data ilmiah besar (termasuk PubMed, Cochrane, EMBASE, Scopus, dan Web of Science) untuk studi yang terbit antara 2011 hingga 2026. Dari 28 studi yang ditemukan, setelah disaring dengan kriteria ketat, tersisa 11 studi yang layak dianalisis—delapan di antaranya berupa uji klinis acak terkontrol, jenis penelitian yang dianggap paling andal.
Peneliti kemudian mengelompokkan studi-studi tersebut berdasarkan jenis metode tanpa obat yang diuji, lalu menilai seberapa efektif masing-masing dalam meredakan kecemasan pasien menjelang operasi gigi bungsu—diukur baik lewat kuesioner kecemasan maupun penanda fisiologis seperti detak jantung, tekanan darah, dan kadar hormon stres (kortisol) dalam air liur.
Hasilnya: Musik Memimpin, Diikuti Cara-Cara Lain
Kabar baiknya, berbagai metode tanpa obat menunjukkan manfaat. Dan di antara semuanya, satu yang paling menonjol: terapi musik.
Musik adalah metode yang paling banyak diteliti (enam dari sebelas studi) sekaligus yang paling konsisten hasilnya. Mendengarkan musik—baik sebelum maupun selama tindakan—terbukti menurunkan skor kecemasan secara bermakna, dan sekaligus menenangkan tubuh dengan menurunkan detak jantung dan tekanan darah. Yang menarik, jenis musik pun berpengaruh: beberapa studi menemukan bahwa musik pilihan pasien sendiri dan musik klasik (terutama pada pasien muda) memberi efek menenangkan yang paling baik. Ini menunjukkan bahwa personalisasi—memilih musik yang sesuai selera pasien—dapat mengoptimalkan manfaatnya.
Metode lain juga menjanjikan. Tayangan audiovisual, seperti video yang menjelaskan prosedur operasi, terbukti meredakan kecemasan—terutama dengan cara meningkatkan pemahaman pasien dan rasa memegang kendali atas apa yang akan terjadi. Realitas virtual (VR), yang mengajak pasien "berpindah" ke lingkungan lain lewat headset selama tindakan, juga menurunkan kecemasan dan detak jantung, meski penerapannya masih terkendala biaya dan akses teknologi. Sementara itu, musik binaural—jenis nada khusus yang dirancang untuk memandu gelombang otak menuju relaksasi—menunjukkan potensi menurunkan kecemasan dan kadar kortisol, meski buktinya masih terbatas.
Mengapa Musik Bisa Menenangkan Otak Kita
Salah satu bagian paling menarik dari kajian ini adalah penjelasan tentang mengapa musik begitu efektif—dan jawabannya ada di dalam otak kita.
Berdasarkan studi pencitraan otak, musik ternyata bekerja pada amigdala, bagian otak yang menjadi "pusat rasa takut dan cemas". Musik membantu menenangkan aktivitas berlebih di area ini. Pada saat yang sama, musik mengaktifkan korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam pengendalian emosi dan pikiran. Ketika hubungan antara kedua area ini membaik, otak menjadi lebih mampu mengatur emosinya—rasa takut mereda, dan kendali diri menguat.
Selain itu, musik juga mengaktifkan sistem saraf parasimpatis—sistem yang membuat tubuh masuk ke mode "tenang dan istirahat"—serta menurunkan pelepasan hormon stres. Dengan kata lain, alunan musik bukan sekadar pengalih perhatian; ia menciptakan semacam "jaringan saraf yang menenangkan" secara alami, menawarkan alternatif yang aman dan tanpa efek samping dibandingkan obat penenang.
Apa Artinya untuk Kita
Bagi kita, temuan ini membawa pesan yang praktis dan menggembirakan: ada banyak cara sederhana, murah, dan aman untuk membantu pasien merasa lebih tenang menjelang operasi gigi bungsu—tanpa harus selalu bergantung pada obat penenang. Sesuatu yang sesederhana memutar lagu kesukaan pasien pun bisa membuat perbedaan.
Temuan ini terasa istimewa karena lahir dari tangan peneliti Indonesia, dan langsung menjawab persoalan yang relevan di negeri sendiri. Di tengah masih tingginya masalah kesehatan gigi dan rasa takut ke dokter gigi di Indonesia, menghadirkan suasana perawatan yang menenangkan—lewat musik atau cara komunikasi yang membuat pasien lebih paham dan tenang—berpotensi membuat pengalaman operasi terasa jauh lebih ramah. Pada akhirnya, ini bisa mendorong lebih banyak orang untuk tidak menunda perawatan gigi yang mereka butuhkan.
Catatan Penting: Batasan Penelitian
Seperti kajian ilmiah yang jujur, tinjauan ini juga terbuka soal keterbatasannya, dan ini penting agar kita tidak menarik kesimpulan berlebihan.
Pertama, penelitian-penelitian yang dirangkum sangat beragam—dalam jenis metode, durasi, waktu penerapan, maupun cara pengukurannya. Keberagaman ini membuat peneliti tidak dapat menggabungkan angka-angkanya menjadi satu analisis kuantitatif tunggal (meta-analisis), sehingga kesimpulannya bersifat naratif. Kedua, sebagian besar studi dilakukan di lingkungan klinis yang terkendali dengan peserta orang dewasa yang sehat, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk semua kelompok—bukti untuk anak-anak, lansia, dan pasien dengan kondisi medis tertentu masih sangat sedikit.
Ketiga, hanya sedikit studi yang mengamati dampak jangka panjang, seperti apakah metode ini benar-benar mengurangi kebiasaan menghindari dokter gigi. Keempat, metode seperti VR masih terganjal kendala biaya dan akses teknologi, terutama di tempat dengan sumber daya terbatas. Para peneliti pun menegaskan bahwa belum adanya protokol yang baku—misalnya jenis musik apa, berapa lama, dan kapan diberikan—menjadi tantangan tersendiri, sehingga dibutuhkan penelitian lanjutan yang lebih terstandar.
Kesimpulan
Tinjauan ini menyimpulkan bahwa metode non-farmakologis dapat membantu meredakan kecemasan pasien menjelang operasi gigi bungsu, dengan terapi musik sebagai pendekatan yang paling menjanjikan—didukung oleh penjelasan ilmu saraf tentang bagaimana musik menenangkan otak. Meski buktinya belum sepenuhnya baku dan efeknya bervariasi antar-orang, cara-cara ini menawarkan pelengkap yang aman dan mudah diterapkan.
Pesan yang bisa dibawa pulang: menenangkan pasien tak selalu membutuhkan obat. Sesuatu yang sederhana seperti alunan musik, video penjelasan yang menenangkan, atau sekadar suasana yang membuat pasien merasa lebih paham dan terkendali, bisa membuat perbedaan besar. Sebuah pengingat—dari peneliti Indonesia—bahwa kenyamanan pasien adalah bagian penting dari perawatan yang baik.
Referensi
Oktora S, Yusuf HY, Riyanti E, Hariri F. Non-Pharmacological Interventions for Managing Preoperative Anxiety in the Context of Odontectomy: A Systematic Review. Dentistry Journal (Dent. J.). 2026;14(7):428.