Efektivitas Splinting Gigi dalam Regenerasi Periodontal

Apakah Splinting Gigi Meningkatkan Keberhasilan Regenerasi Periodontal? Temuan Penelitian Terbaru
Pada kasus periodontitis lanjut, kerusakan jaringan penyangga gigi dapat menyebabkan mobilitas gigi. Kondisi ini tidak hanya mengganggu fungsi pengunyahan, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas gigi selama perawatan periodontal. Salah satu prosedur yang sering dilakukan oleh dokter gigi adalah splinting gigi, yaitu menghubungkan gigi yang mobile dengan gigi di sekitarnya untuk meningkatkan stabilitas.
Dalam terapi regenerasi periodontal, stabilitas gigi dianggap penting untuk menjaga kestabilan luka dan mendukung proses penyembuhan jaringan. Oleh karena itu, splinting sering digunakan sebagai tindakan tambahan selama perawatan regeneratif. Namun, hingga saat ini bukti ilmiah mengenai manfaat tambahan splinting dalam terapi ini masih terbatas.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Periodontology mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengevaluasi apakah splinting benar-benar memberikan manfaat klinis tambahan pada terapi regenerasi periodontal, khususnya pada gigi dengan mobilitas rendah (derajat 0 atau 1).
Mengapa Peran Splinting Masih Diperdebatkan?
Secara klinis, splinting dipercaya dapat membantu menstabilkan gigi yang mengalami mobilitas akibat penyakit periodontal. Dengan menghubungkan beberapa gigi menjadi satu unit, beban kunyah dapat didistribusikan lebih merata dan pergerakan gigi yang berlebihan dapat dikurangi.
Namun, beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Ada penelitian yang melaporkan bahwa splinting dapat meningkatkan hasil perawatan periodontal, tetapi ada juga tinjauan sistematis yang menemukan bahwa bukti ilmiah yang mendukung manfaat tersebut masih terbatas.
Karena itu, para peneliti ingin mengevaluasi secara lebih objektif apakah splinting benar-benar memberikan keuntungan tambahan ketika digunakan bersama terapi regenerasi periodontal menggunakan enamel matrix derivative (EMD), suatu biomaterial yang sering digunakan untuk merangsang regenerasi jaringan periodontal.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan data dari sebuah studi kohort prospektif yang dilakukan di Tokyo Medical and Dental University Hospital. Studi tersebut melibatkan pasien yang menjalani terapi regenerasi periodontal untuk menangani defek tulang intrabony, yaitu kehilangan tulang di sekitar gigi akibat periodontitis.
Awalnya terdapat 194 lokasi defek pada 126 pasien yang dianalisis. Untuk memastikan perbandingan yang lebih adil antara kelompok yang mendapatkan splinting dan yang tidak, peneliti menggunakan metode statistik yang disebut propensity score matching (PSM).
Metode ini membantu menyeimbangkan karakteristik awal pasien di kedua kelompok, seperti usia, jenis gigi, kedalaman poket periodontal, dan tingkat mobilitas gigi. Setelah proses pencocokan dilakukan, penelitian akhirnya menganalisis 74 lokasi defek dari 62 pasien, yang terdiri dari:
37 lokasi dengan splinting
37 lokasi tanpa splinting
Parameter klinis dievaluasi pada awal penelitian, serta 1 tahun dan 3 tahun setelah operasi.
Tiga parameter utama yang diukur meliputi:
Clinical Attachment Level (CAL) – menunjukkan perbaikan perlekatan jaringan periodontal
Probing Depth (PD) – kedalaman poket periodontal
Radiographic Bone Defect Depth (RBD) – kedalaman defek tulang pada radiografi
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami perbaikan klinis yang signifikan setelah terapi regenerasi periodontal. Hal ini berarti bahwa prosedur regenerasi periodontal secara umum efektif dalam memperbaiki kondisi jaringan periodontal.
Namun, ketika dibandingkan secara langsung antara kelompok dengan splinting dan tanpa splinting, para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada hasil klinis setelah 1 tahun maupun 3 tahun.
Dengan kata lain, penggunaan splinting tidak menunjukkan peningkatan yang bermakna pada:
peningkatan clinical attachment level (CAL)
penurunan probing depth (PD)
perbaikan defek tulang radiografis (RBD)
Walaupun pada beberapa analisis nilai rata-rata kelompok splinting terlihat sedikit lebih baik, perbedaan tersebut sangat kecil dan tidak cukup kuat secara statistik.
Implikasi bagi Praktik Klinis
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa splinting mungkin tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada terapi regenerasi periodontal untuk gigi dengan mobilitas ringan (derajat 0 atau 1).
Salah satu kemungkinan penjelasan adalah bahwa mobilitas ringan tidak cukup besar untuk mengganggu stabilitas luka atau proses penyembuhan setelah operasi periodontal. Oleh karena itu, stabilisasi tambahan melalui splinting mungkin tidak banyak memengaruhi hasil regenerasi.
Namun demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini tidak berarti splinting selalu tidak diperlukan. Pada kondisi tertentu, seperti:
mobilitas gigi yang tinggi
kehilangan tulang yang sangat luas
beban oklusal berlebih