Skip to Content

Efektivitas Splinting Gigi dalam Regenerasi Periodontal

March 10, 2026 by
Carigi Indonesia

Efektivitas Splinting Gigi dalam Regenerasi Periodontal

Efektivitas Splinting Gigi dalam Regenerasi Periodontal

Apakah Splinting Gigi Meningkatkan Keberhasilan Regenerasi Periodontal? Temuan Penelitian Terbaru

Pada kasus periodontitis lanjut, kerusakan jaringan penyangga gigi dapat menyebabkan mobilitas gigi. Kondisi ini tidak hanya mengganggu fungsi pengunyahan, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas gigi selama perawatan periodontal. Salah satu prosedur yang sering dilakukan oleh dokter gigi adalah splinting gigi, yaitu menghubungkan gigi yang mobile dengan gigi di sekitarnya untuk meningkatkan stabilitas.

Dalam terapi regenerasi periodontal, stabilitas gigi dianggap penting untuk menjaga kestabilan luka dan mendukung proses penyembuhan jaringan. Oleh karena itu, splinting sering digunakan sebagai tindakan tambahan selama perawatan regeneratif. Namun, hingga saat ini bukti ilmiah mengenai manfaat tambahan splinting dalam terapi ini masih terbatas.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Periodontology mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengevaluasi apakah splinting benar-benar memberikan manfaat klinis tambahan pada terapi regenerasi periodontal, khususnya pada gigi dengan mobilitas rendah (derajat 0 atau 1).

Mengapa Peran Splinting Masih Diperdebatkan?

Secara klinis, splinting dipercaya dapat membantu menstabilkan gigi yang mengalami mobilitas akibat penyakit periodontal. Dengan menghubungkan beberapa gigi menjadi satu unit, beban kunyah dapat didistribusikan lebih merata dan pergerakan gigi yang berlebihan dapat dikurangi.

Namun, beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Ada penelitian yang melaporkan bahwa splinting dapat meningkatkan hasil perawatan periodontal, tetapi ada juga tinjauan sistematis yang menemukan bahwa bukti ilmiah yang mendukung manfaat tersebut masih terbatas.

Karena itu, para peneliti ingin mengevaluasi secara lebih objektif apakah splinting benar-benar memberikan keuntungan tambahan ketika digunakan bersama terapi regenerasi periodontal menggunakan enamel matrix derivative (EMD), suatu biomaterial yang sering digunakan untuk merangsang regenerasi jaringan periodontal.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan data dari sebuah studi kohort prospektif yang dilakukan di Tokyo Medical and Dental University Hospital. Studi tersebut melibatkan pasien yang menjalani terapi regenerasi periodontal untuk menangani defek tulang intrabony, yaitu kehilangan tulang di sekitar gigi akibat periodontitis.

Awalnya terdapat 194 lokasi defek pada 126 pasien yang dianalisis. Untuk memastikan perbandingan yang lebih adil antara kelompok yang mendapatkan splinting dan yang tidak, peneliti menggunakan metode statistik yang disebut propensity score matching (PSM).

Metode ini membantu menyeimbangkan karakteristik awal pasien di kedua kelompok, seperti usia, jenis gigi, kedalaman poket periodontal, dan tingkat mobilitas gigi. Setelah proses pencocokan dilakukan, penelitian akhirnya menganalisis 74 lokasi defek dari 62 pasien, yang terdiri dari:

  • 37 lokasi dengan splinting

  • 37 lokasi tanpa splinting

Parameter klinis dievaluasi pada awal penelitian, serta 1 tahun dan 3 tahun setelah operasi.

Tiga parameter utama yang diukur meliputi:

  • Clinical Attachment Level (CAL) – menunjukkan perbaikan perlekatan jaringan periodontal

  • Probing Depth (PD) – kedalaman poket periodontal

  • Radiographic Bone Defect Depth (RBD) – kedalaman defek tulang pada radiografi

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami perbaikan klinis yang signifikan setelah terapi regenerasi periodontal. Hal ini berarti bahwa prosedur regenerasi periodontal secara umum efektif dalam memperbaiki kondisi jaringan periodontal.

Namun, ketika dibandingkan secara langsung antara kelompok dengan splinting dan tanpa splinting, para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada hasil klinis setelah 1 tahun maupun 3 tahun.

Dengan kata lain, penggunaan splinting tidak menunjukkan peningkatan yang bermakna pada:

  • peningkatan clinical attachment level (CAL)

  • penurunan probing depth (PD)

  • perbaikan defek tulang radiografis (RBD)

Walaupun pada beberapa analisis nilai rata-rata kelompok splinting terlihat sedikit lebih baik, perbedaan tersebut sangat kecil dan tidak cukup kuat secara statistik.

Implikasi bagi Praktik Klinis

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa splinting mungkin tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada terapi regenerasi periodontal untuk gigi dengan mobilitas ringan (derajat 0 atau 1).

Salah satu kemungkinan penjelasan adalah bahwa mobilitas ringan tidak cukup besar untuk mengganggu stabilitas luka atau proses penyembuhan setelah operasi periodontal. Oleh karena itu, stabilisasi tambahan melalui splinting mungkin tidak banyak memengaruhi hasil regenerasi.

Namun demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini tidak berarti splinting selalu tidak diperlukan. Pada kondisi tertentu, seperti:

  • mobilitas gigi yang tinggi

  • kehilangan tulang yang sangat luas

  • beban oklusal berlebih

splinting tetap dapat membantu menstabilkan gigi dan meningkatkan kenyamanan pasien selama proses penyembuhan.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Salah satunya adalah jumlah sampel yang relatif kecil setelah proses pencocokan statistik, sehingga kemungkinan adanya manfaat kecil dari splinting mungkin tidak terdeteksi secara signifikan.

Selain itu, penelitian ini hanya mengevaluasi gigi dengan mobilitas rendah, sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan pada gigi dengan mobilitas yang lebih tinggi.

Penelitian di masa depan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan melibatkan gigi dengan mobilitas yang lebih berat masih diperlukan untuk memahami secara lebih jelas peran splinting dalam terapi regenerasi periodontal.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan splinting gigi tidak memberikan perbedaan signifikan terhadap hasil klinis terapi regenerasi periodontal pada gigi dengan mobilitas derajat 0 atau 1 selama periode pemantauan tiga tahun.

Meskipun terapi regenerasi periodontal tetap efektif dalam memperbaiki kondisi jaringan periodontal, manfaat tambahan dari splinting pada kondisi mobilitas ringan tampaknya terbatas. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan apakah splinting memiliki peran yang lebih penting pada kasus dengan mobilitas gigi yang lebih berat.

Referensi Artikel Asli

Mikami, R., Ishimaru, M., Mizutani, K., Shioyama, H., Matsuura, T., Aoyama, N., Suda, T., Kusunoki, Y., Takeda, K., Anzai, T., Takahashi, K., Matsuo, K., Aida, J., Izumi, Y., Aoki, A., & Iwata, T. (2025). Effect of tooth splinting on clinical outcomes following periodontal regenerative therapy in teeth with mobility degree 1 or 0: A propensity score-matched analysis. Journal of Clinical Periodontology, 52, 1254–1262.

DOI: https://doi.org/10.1111/jcpe.14190

Carigi Indonesia March 10, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kaitan Bakteri di Mulut dengan Keguguran