Skip to Content

Efektivitas Pit and Fissure Sealant Gigi Anak

September 2, 2026 by
Carigi Indonesia

Efektivitas Pit and Fissure Sealant Gigi Anak

Efektivitas Pit and Fissure Sealant Gigi Anak

Melindungi Gigi Anak dari Lubang: Yang Sederhana Ternyata Tak Kalah Ampuh

Sebuah uji klinis pada 100 anak membandingkan dua jenis pelapis gigi dan dua teknik pengeringan mulut. Hasilnya melegakan sekaligus sedikit mengejutkan: pilihan yang lebih praktis dan nyaman ternyata sama efektifnya—bahkan bahan yang "lebih sederhana" justru lebih awet menempel.

Gigi berlubang (karies) masih menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum di dunia, dan anak-anak termasuk yang paling rentan. Biang keladinya sering kali ada pada gigi geraham: permukaan kunyahnya penuh lekuk dan alur sempit yang mudah menjebak sisa makanan dan bakteri, tetapi sulit dibersihkan dengan sikat gigi biasa.

Untuk mengatasinya, dokter gigi kerap menggunakan pelapis fisura (fissure sealant)—semacam cairan pelindung yang dioleskan ke permukaan kunyah, lalu mengeras membentuk lapisan penutup. Fungsinya seperti "jas hujan" bagi gigi: menutup celah-celah rawan agar bakteri tak bisa bersarang. Masalahnya, pelapis ini hanya bermanfaat selama ia tetap menempel. Jika cepat terkelupas, perlindungannya pun hilang.

Nah, apa yang membuat pelapis gigi bertahan lama? Dua faktor yang selama ini diyakini penting adalah jenis bahannya dan seberapa kering gigi dijaga saat pengolesan. Sekelompok peneliti dari Universitas Izmir Katip Celebi, Turki, menguji keduanya secara langsung lewat sebuah uji klinis, dan menerbitkan hasilnya di jurnal Scientific Reports terbitan Nature.

Konteks: Kenapa "Menempel" Itu Penting

Agar pelapis gigi menempel kuat, permukaan email gigi lebih dulu dikasari dengan cairan asam ringan. Bahan pelapis lalu meresap ke pori-pori mikro tersebut dan mengeras, mengunci dirinya secara mekanis ke gigi. Kunci keberhasilannya: area gigi harus benar-benar kering saat proses ini. Bila terkontaminasi air liur, daya rekatnya melemah dan pelapis mudah lepas.

Ada dua cara populer menjaga gigi tetap kering saat pengolesan:

  • Isolasi karet (rubber dam) — lembaran karet dipasang untuk mengisolasi gigi dalam kondisi kering total dan bebas kontaminasi. Metode ini dianggap sebagai "standar emas", tetapi tidak selalu nyaman bagi anak-anak dan kadang butuh bius lokal.

  • Isolasi kapas (cotton roll) — gulungan kapas diletakkan di sekitar gigi untuk menyerap air liur. Cara ini lebih sederhana, cepat, dan nyaman, meski secara teori tidak sekering metode karet.

Selain teknik pengeringan, jenis bahan juga diduga berpengaruh, terutama tingkat kekentalannya.

Apa yang Dilakukan Peneliti

Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol—jenis studi yang dianggap paling tepercaya karena membandingkan langsung pada pasien nyata dengan pembagian kelompok secara acak.

Sebanyak 100 anak berusia 6–12 tahun (total 200 gigi geraham bawah) dilibatkan. Uniknya, penelitian memakai desain "split-mouth": setiap anak menerima kedua jenis bahan sekaligus—satu di sisi kiri, satu di sisi kanan. Dengan begitu, setiap anak menjadi pembanding bagi dirinya sendiri, sehingga hasilnya lebih adil dan tidak bias oleh perbedaan antar individu.

Dua bahan pelapis yang diuji (keduanya mengandung fluoride, zat pencegah karies) adalah:

  • Fissurit FX (buatan Jerman) — pelapis berpengisi tinggi (highly filled), teksturnya lebih kental.

  • Teethmate F-1 (buatan Jepang) — pelapis tanpa pengisi (unfilled), teksturnya lebih encer.

Masing-masing bahan lalu dioleskan menggunakan salah satu dari dua teknik pengeringan tadi, sehingga terbentuk empat kombinasi kelompok. Kondisi gigi kemudian diperiksa pada bulan ke-6, ke-12, dan ke-18. Yang dinilai terutama adalah seberapa utuh pelapis masih menempel, serta apakah muncul gigi berlubang.

Hasilnya: Dua Kejutan yang Menyenangkan

Kejutan pertama: bahan yang lebih "sederhana" justru lebih awet. Setiap kali diperiksa, secara statistik kedua bahan tampak setara. Namun ketika para peneliti menganalisis daya tahannya sepanjang waktu secara menyeluruh, bahan tanpa pengisi (Teethmate F-1) terbukti bertahan menempel secara bermakna lebih lama. Pada bulan ke-18, sekitar 76% gigi yang dilapisi Teethmate F-1 masih utuh sempurna, dibandingkan sekitar 58% untuk Fissurit FX yang berpengisi.

Mengapa demikian? Justru karena teksturnya lebih encer. Bahan yang lebih cair dapat meresap lebih dalam ke lekuk dan alur gigi yang sempit, sehingga ikatannya ke gigi lebih kuat. Sebaliknya, bahan yang kental lebih sulit menembus celah-celah halus. (Sebagai catatan penyeimbang, bahan tanpa pengisi cenderung lebih cepat aus—sebuah kompromi yang tetap perlu dipertimbangkan.)

Kejutan kedua: metode kapas yang praktis sama baiknya dengan karet. Meski isolasi karet selama ini dianggap "standar emas", penelitian ini tidak menemukan perbedaan bermakna antara kedua teknik pengeringan. Bahkan, hasil dengan kapas sedikit lebih tinggi (walau selisihnya tidak signifikan secara statistik). Para peneliti menduga ini karena teknik kapas lebih akrab dan rutin digunakan pada pasien anak, lebih cepat, dan lebih nyaman—sementara pemasangan karet pada anak kecil justru bisa menimbulkan gangguan kecil yang memengaruhi kestabilan. Intinya: selama gigi berhasil dijaga kering, kedua cara memberi hasil yang sama baik.

Dan kabar paling penting: selama 18 bulan pemantauan, tidak ada satu pun gigi yang berlubang—bahkan pada gigi yang pelapisnya sudah terkelupas sebagian. Ini menunjukkan pelapis gigi tak hanya bekerja sebagai penghalang fisik, tetapi juga terus melindungi lewat pelepasan fluoride, serta sisa bahan yang tertinggal di dasar alur gigi.

Apa Artinya untuk Praktik Sehari-hari

Temuan ini membawa pesan yang melegakan bagi dokter gigi anak: kenyamanan dan kepraktisan tidak harus mengorbankan efektivitas. Karena kedua bahan dan kedua teknik terbukti memberikan perlindungan yang sebanding, dokter memiliki keleluasaan untuk memilih pendekatan yang paling sesuai dengan kondisi dan kenyamanan si anak—faktor yang sangat penting dalam menangani pasien cilik yang mudah rewel.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Seperti penelitian yang baik pada umumnya, para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Pemantauan selama 18 bulan memang informatif, tetapi belum cukup untuk menilai daya tahan jangka sangat panjang—idealnya perlu 2 hingga 5 tahun. Selain itu, seluruh prosedur dikerjakan oleh satu dokter berpengalaman (baik untuk konsistensi, tetapi hasilnya mungkin berbeda jika dikerjakan banyak operator dengan tingkat keahlian beragam). Penelitian juga hanya berfokus pada satu jenis gigi (geraham pertama bawah) dan anak-anak dengan risiko karies sedang, sehingga hasilnya belum tentu bisa langsung digeneralisasi ke semua kondisi.

Kesimpulan

Dalam batas penelitian ini, tidak ada perbedaan bermakna antara pelapis gigi berpengisi dan tanpa pengisi, maupun antara teknik pengeringan karet dan kapas, dalam hal daya rekat selama 18 bulan. Yang lebih penting, keempat kombinasi sama-sama berhasil mencegah gigi berlubang.

Pelajaran utamanya: pilihan bahan dan teknik pengaplikasian memang menentukan keberhasilan jangka panjang, tetapi opsi yang lebih sederhana dan nyaman ternyata sama andalnya. Bagi orang tua dan dokter gigi, ini kabar baik—melindungi gigi anak dari lubang tidak selalu membutuhkan cara yang paling rumit.

Referensi

Kucukyilmaz E, Savas S, Ozdemir T, Celik MN. Comparison of retention of resin-based filled and unfilled pit and fissure sealants using different isolation techniques. Scientific Reports. 2026;16:9055.DOI: https://doi.org/10.1038/s41598-026-40093-6

Carigi Indonesia September 2, 2026
Share this post
Tags
Archive
Efisiensi AI dalam Desain Mahkota Gigi (Dental Crown)