Skip to Content

Efek Samping Obat Kumur Pada Enamel

June 10, 2026 by
Carigi Indonesia

Efek Samping Obat Kumur Pada Enamel

Efek Samping Obat Kumur Pada Enamel

Benarkah Obat Kumur Selalu Aman? Penelitian Ungkap Dampaknya pada Permukaan Gigi

Kebiasaan Sehari-hari yang Jarang Dipertanyakan

Obat kumur telah menjadi bagian dari rutinitas kebersihan mulut banyak orang. Selain memberikan sensasi segar, produk ini sering digunakan untuk membantu mengurangi plak, mengendalikan bakteri, dan menjaga kesehatan rongga mulut.

Karena mudah diperoleh di apotek, minimarket, hingga platform belanja daring, banyak orang menganggap obat kumur sebagai produk yang aman digunakan setiap hari tanpa batasan tertentu. Namun, apakah penggunaan obat kumur dalam jangka waktu lama benar-benar tidak berdampak pada gigi?

Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan meneliti pengaruh berbagai jenis obat kumur terhadap enamel dan sementum gigi permanen. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun bermanfaat bagi kesehatan mulut, beberapa jenis obat kumur dapat menyebabkan perubahan mikroskopis pada permukaan gigi.

Mengapa Enamel dan Sementum Penting?

Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari kerusakan akibat makanan, minuman, maupun aktivitas mengunyah. Sementara itu, sementum adalah lapisan yang menutupi akar gigi dan berperan penting dalam menjaga perlekatan gigi pada jaringan pendukungnya.

Perubahan pada kedua lapisan ini, meskipun sangat kecil, dapat memengaruhi kekuatan, tekstur, dan penampilan gigi dalam jangka panjang.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa obat kumur tertentu memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Kondisi asam diketahui dapat memicu proses demineralisasi, yaitu hilangnya mineral dari permukaan gigi yang berpotensi melemahkan struktur gigi.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Penelitian ini menggunakan 50 gigi permanen yang telah dicabut dan dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok direndam dalam salah satu larutan berikut:

  • Colgate Plax

  • Listerine

  • Chlorhexidine

  • Himalaya HiOra-K

  • Air garam hangat

Sebelum perlakuan, peneliti mengukur tiga parameter utama pada gigi, yaitu:

  • Kekerasan permukaan gigi

  • Kekasaran permukaan gigi

  • Perubahan warna gigi

Setelah itu, sampel direndam sesuai petunjuk penggunaan masing-masing produk. Pengukuran dilakukan kembali setelah 7 hari dan 15 hari untuk melihat perubahan yang terjadi seiring waktu.

Hasil Penelitian: Ada Perubahan pada Struktur Mikroskopis Gigi

Beberapa Obat Kumur Menurunkan Kekerasan Enamel

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah adanya penurunan kekerasan enamel setelah paparan beberapa jenis obat kumur.

Penurunan terbesar ditemukan pada kelompok chlorhexidine, diikuti oleh obat kumur herbal Himalaya, air garam hangat, dan Listerine. Sementara itu, Colgate Plax tidak menunjukkan penurunan kekerasan enamel yang berarti pada minggu pertama penggunaan.

Kekerasan enamel yang menurun dapat mengindikasikan berkurangnya ketahanan gigi terhadap proses keausan atau erosi.

Permukaan Gigi Menjadi Lebih Kasar

Selain memengaruhi kekerasan, beberapa larutan juga menyebabkan peningkatan kekasaran permukaan gigi.

Peningkatan kekasaran terbesar ditemukan pada kelompok air garam hangat, diikuti oleh obat kumur Himalaya dan Listerine. Permukaan gigi yang lebih kasar berpotensi mempermudah penumpukan plak dan pewarna dari makanan maupun minuman.

Sebaliknya, chlorhexidine dan Colgate Plax justru menunjukkan sedikit penurunan tingkat kekasaran pada permukaan enamel selama periode penelitian.

Warna Gigi Juga Mengalami Perubahan

Penelitian ini juga mengevaluasi perubahan warna enamel setelah penggunaan berbagai jenis obat kumur.

Setelah 15 hari, Listerine menunjukkan perubahan warna paling besar dibandingkan kelompok lainnya. Pada pengamatan hari ketujuh, chlorhexidine menghasilkan perubahan warna yang lebih menonjol dibandingkan produk lain.

Meski perubahan tersebut diamati dalam kondisi laboratorium dan belum tentu langsung terlihat secara klinis, hasil ini mendukung laporan sebelumnya bahwa penggunaan obat kumur tertentu dapat berkontribusi terhadap perubahan warna gigi.

Apakah Tingkat Keasaman Menjadi Penyebabnya?

Para peneliti menemukan bahwa hampir semua obat kumur yang diuji memiliki pH yang cenderung asam.

Listerine memiliki pH paling rendah, sehingga menjadi produk yang paling asam di antara seluruh kelompok yang diteliti. Lingkungan yang asam dapat mempercepat pelepasan mineral dari enamel dan berpotensi memengaruhi kekerasan maupun tekstur permukaan gigi.

Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat keasaman kemungkinan berperan penting dalam perubahan yang diamati selama penelitian.

Haruskah Kita Berhenti Menggunakan Obat Kumur?

Jawabannya tidak.

Peneliti menegaskan bahwa obat kumur tetap memiliki manfaat penting dalam membantu mengendalikan plak, mengurangi peradangan gusi, dan mendukung kebersihan rongga mulut, terutama ketika digunakan sesuai anjuran dokter gigi.

Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan yang berlebihan atau terlalu lama tanpa indikasi yang jelas. Karena sebagian besar produk dapat dibeli bebas tanpa resep, masyarakat sering kali menggunakan obat kumur secara terus-menerus tanpa mengetahui potensi dampaknya terhadap struktur gigi.

Obat kumur sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti menyikat gigi dan membersihkan sela gigi.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di laboratorium (in vitro), bukan di dalam rongga mulut manusia secara langsung.

Dalam kondisi nyata, saliva memiliki kemampuan alami untuk menetralkan asam, menyediakan mineral untuk remineralisasi, dan membantu melindungi permukaan gigi dari kerusakan. Faktor-faktor tersebut tidak dapat sepenuhnya ditiru dalam penelitian laboratorium.

Oleh karena itu, perubahan yang ditemukan dalam penelitian ini mungkin lebih besar dibandingkan kondisi yang terjadi di dalam mulut sehari-hari.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai jenis obat kumur dapat menyebabkan perubahan mikroskopis pada enamel dan sementum, termasuk penurunan kekerasan permukaan, peningkatan kekasaran, serta perubahan warna gigi. Meskipun tidak ditemukan kerusakan yang terlihat secara nyata setelah penggunaan selama 15 hari sesuai petunjuk, hasil penelitian mengindikasikan bahwa penggunaan jangka panjang atau berlebihan perlu mendapat perhatian.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa obat kumur bukanlah produk yang harus digunakan secara sembarangan. Seperti halnya produk kesehatan lainnya, manfaatnya akan lebih optimal jika digunakan sesuai kebutuhan dan berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan gigi.

Referensi 

Shanbhag M, Lewis AJ, Srikant N. Evaluation of the Effects of Various Types of Mouthwash on Enamel and Cementum of Permanent Teeth: An In Vitro Study. The Scientific World Journal. 2026;2026:5583978. DOI: 10.1155/TSWJ/5583978.

Carigi Indonesia June 10, 2026
Share this post
Tags
Archive
Gigi Tiruan Cetak 3D vs Konvensional