Skip to Content

Efek Pewarna Plak Terhadap Tambalan Komposit

September 29, 2026 by
Carigi Indonesia

Efek Pewarna Plak Terhadap Tambalan Komposit

Efek Pewarna Plak Terhadap Tambalan Komposit

Pewarna Pengungkap Plak Bisa Menodai Tambalan Gigi—tapi Tergantung Jenisnya

Zat pewarna yang mengungkap plak—sering dipakai untuk menunjukkan area gigi yang terlewat saat menyikat—ternyata dapat meninggalkan noda pada tambalan sewarna gigi. Sebuah studi laboratorium menemukan bahwa satu jenis pewarna menodai secara nyata, sementara jenis lain hampir tak berpengaruh. Temuan ini penting bagi siapa pun yang memiliki tambalan berwarna gigi.

Anda mungkin pernah melihat, atau bahkan menggunakan, tablet atau cairan pewarna plak—produk yang mewarnai plak di gigi agar terlihat jelas, sehingga kita tahu area mana yang terlewat saat menyikat gigi. Alat bantu ini sangat berguna, terutama untuk mengajari anak-anak menyikat gigi dengan benar. Namun muncul pertanyaan yang jarang terpikirkan: jika pewarna ini bisa menempel pada plak, mungkinkah ia juga meninggalkan noda pada tambalan gigi yang berwarna senada dengan gigi asli?

Untuk menjawabnya, dua peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Istanbul, Turki, melakukan sebuah studi laboratorium. Hasilnya diterbitkan dalam jurnal European Oral Research pada 2026, dan menawarkan temuan yang praktis bagi para pengguna tambalan gigi maupun dokter gigi.

Konteks: Apa Itu Pewarna Pengungkap Plak?

Plak gigi adalah lapisan lengket berisi bakteri yang terus menumpuk di permukaan gigi. Masalahnya, plak bersifat bening keputihan sehingga sulit dilihat dengan mata telanjang—padahal ia adalah penyebab utama penyakit gusi dan salah satu pemicu gigi berlubang. Di sinilah pewarna pengungkap plak berperan: zat ini mengandung pewarna yang menempel pada plak dan mewarnainya, sehingga area yang bermasalah menjadi terlihat jelas.

Alat ini—tersedia dalam bentuk tablet, gel, maupun cairan—sangat bermanfaat untuk memotivasi seseorang memperbaiki cara menyikat giginya. Namun, karena pewarna ini pada dasarnya adalah zat pewarna, muncul kekhawatiran yang wajar: apakah ia juga bisa menodai tambalan sewarna gigi (tambalan komposit) yang banyak digunakan untuk menambal gigi berlubang di area yang terlihat? Inilah yang ingin diuji oleh penelitian ini.

Apa yang Dilakukan Peneliti

Penelitian ini bersifat laboratorium (in vitro)—artinya diuji pada spesimen bahan di laboratorium, bukan langsung di dalam mulut. Peneliti menyiapkan sampel dari empat jenis bahan tambal gigi sewarna gigi yang berbeda (dari berbagai merek), lalu menguji efek dua jenis pewarna pengungkap plak terhadap warna bahan-bahan tersebut.

Kedua pewarna itu adalah sebuah larutan "dua warna" (bermerek Mira-2-Ton) dan sebuah gel berbahan pewarna eritrosin (bermerek ProPind). Pewarna dioleskan ke permukaan sampel selama sepuluh detik, lalu dibilas dan dikeringkan. Setelah itu, peneliti mengukur secara cermat seberapa besar perubahan warna yang terjadi pada masing-masing bahan, dan menilai apakah perubahan itu tergolong cukup mencolok untuk menjadi masalah secara klinis.

Hasilnya: Satu Jenis Menodai, Jenis Lain Tidak

Temuannya cukup jelas dan praktis: jenis pewarna yang digunakan sangat menentukan.

Larutan dua warna (Mira-2-Ton) ternyata meninggalkan perubahan warna yang cukup mencolok pada semua bahan tambal—cukup nyata untuk dianggap mengganggu secara klinis. Tingkat nodanya bervariasi antar-bahan: salah satu bahan tambal terkena noda paling parah, sementara bahan lain relatif paling tahan, meski tetap ternoda. Sebaliknya, gel berbahan eritrosin (ProPind) hanya menyebabkan perubahan warna yang sangat ringan—masih dalam batas yang dapat diterima secara klinis—dan hampir setara di semua bahan tambal.

Dengan kata lain, satu jenis pewarna dapat meninggalkan noda yang terlihat pada tambalan gigi, sementara jenis lainnya nyaris tak berpengaruh. Perbedaan ini menjadi informasi penting, terutama untuk tambalan yang berada di area gigi yang terlihat saat tersenyum.

Mengapa Bisa Berbeda?

Para peneliti menawarkan beberapa penjelasan menarik. Perbedaan antara kedua pewarna sebagian terletak pada jenis dan ukuran molekul pewarnanya. Pewarna eritrosin memiliki molekul yang lebih besar, sehingga lebih sulit meresap ke dalam bahan tambal—dan karenanya meninggalkan lebih sedikit noda. Sementara pewarna pada larutan dua warna memiliki sifat yang lebih mudah menempel pada komponen bahan tambal.

Selain itu, jenis bahan tambal itu sendiri juga berpengaruh. Beberapa bahan lebih mudah menyerap air dan cairan, sehingga lebih rentan ternoda, sementara bahan yang lebih "menolak air" cenderung lebih tahan. Faktor lain adalah kekasaran permukaan: bahan dengan permukaan yang lebih kasar (misalnya karena ukuran partikel penyusunnya yang lebih besar) cenderung lebih mudah menahan noda. Kombinasi faktor-faktor inilah yang menjelaskan mengapa tingkat noda berbeda-beda antar-bahan.

Apa Artinya untuk Kita

Bagi kita, penelitian ini membawa pesan yang praktis. Bagi para pengguna tambalan sewarna gigi—terutama di gigi depan—ada baiknya menyadari bahwa tidak semua produk pewarna plak "ramah" terhadap tambalan. Ini bukan berarti harus berhenti menggunakan pewarna plak, karena manfaatnya untuk menjaga kebersihan mulut tetap besar; melainkan agar kita lebih memperhatikan jenis produk yang digunakan.

Bagi para dokter gigi, temuan ini menjadi pengingat untuk memilih jenis pewarna pengungkap plak secara cermat—dengan memahami bentuk dan jenis pewarna yang terkandung di dalamnya—terutama saat menangani pasien dengan tambalan di area yang terlihat.

Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana pewarna pengungkap plak makin sering digunakan untuk edukasi kebersihan gigi, termasuk pada anak-anak. Kesadaran bahwa pilihan produk dapat memengaruhi tampilan tambalan gigi dapat membantu dokter gigi dan pasien membuat pilihan yang lebih tepat.

Catatan Penting: Batasan Penelitian

Seperti kajian ilmiah yang jujur, penelitian ini juga terbuka soal keterbatasannya—dan ini sangat penting untuk membacanya dengan tepat.

Keterbatasan terbesarnya adalah bahwa penelitian ini dilakukan di laboratorium, bukan di dalam mulut yang sebenarnya. Kondisi mulut nyata jauh lebih kompleks—ada air liur, lapisan alami pada permukaan gigi, serta kebiasaan menyikat gigi—yang semuanya dapat memengaruhi seberapa besar noda yang benar-benar terbentuk. Selain itu, pewarna dalam studi ini hanya dioleskan satu kali tanpa proses pemolesan setelahnya, sehingga belum menggambarkan efek penggunaan berulang dalam jangka panjang. Karena itu, para peneliti menegaskan perlunya penelitian lanjutan langsung pada pasien (in vivo) untuk memastikan seberapa besar dampaknya dalam kondisi nyata.

Kesimpulan

Studi laboratorium ini menemukan bahwa pewarna pengungkap plak dapat memengaruhi kestabilan warna tambalan gigi—dengan larutan dua warna meninggalkan noda yang cukup mencolok, sementara gel berbahan eritrosin hanya menyebabkan perubahan warna yang ringan dan dapat diterima. Perbedaan ini menegaskan pentingnya memahami kandungan dan jenis pewarna yang digunakan.

Pesan yang bisa dibawa pulang: alat sederhana yang membantu kita menjaga kebersihan gigi pun ternyata memiliki nuansa yang perlu diperhatikan. Dengan memilih produk secara cermat—idealnya dengan bimbingan dokter gigi—kita bisa tetap memperoleh manfaat pewarna plak tanpa mengorbankan tampilan tambalan gigi. Sebuah pengingat bahwa dalam perawatan gigi, detail kecil pun bisa berarti.

Referensi

Menekşe İ, Efes ÜB. Effect of plaque disclosing agents on the color stability of different restorative materials: in vitro study. European Oral Research (Eur Oral Res). 2026;60(1):260–266. 

DOI: https://doi.org/10.26650/eor.20261729238

Carigi Indonesia September 29, 2026
Share this post
Tags
Archive
Molar-Incisor Hypomineralisation (MIH) pada Gigi Anak