Skip to Content

Apakah Pasta Gigi Mengubah Bakteri di Bawah Gusi?

February 20, 2026 by
Carigi Indonesia

Apakah Pasta Gigi Mengubah Bakteri di Bawah Gusi?

Apakah Pasta Gigi Mengubah Bakteri di Bawah Gusi?

Studi klinis menunjukkan kebiasaan menyikat gigi aman bagi keseimbangan bakteri gusi

Menyikat gigi setiap hari adalah kebiasaan dasar untuk menjaga kesehatan mulut. Namun, masih banyak orang bertanya-tanya: apakah pasta gigi tertentu—terutama yang mengandung bahan antibakteri—dapat mengganggu bakteri alami di bawah gusi? Sebuah penelitian klinis terbaru memberikan jawaban yang menenangkan.

Studi ini dipublikasikan di jurnal BMC Oral Health dan meneliti dampak penggunaan pasta gigi terhadap mikrobioma subgingiva, yaitu kumpulan bakteri yang hidup di bawah garis gusi, pada pasien dengan radang gusi (gingivitis).

Mengapa Mikrobioma di Bawah Gusi Penting?

Gingivitis merupakan tahap awal penyakit gusi yang ditandai dengan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan plak dan respons peradangan tubuh. Jika tidak ditangani, gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis yang lebih serius.

Penelitian modern menunjukkan bahwa penyakit gusi bukan disebabkan oleh satu bakteri tertentu, melainkan oleh ketidakseimbangan komunitas bakteri di rongga mulut. Karena itu, penting untuk mengetahui apakah kebiasaan harian seperti menyikat gigi justru dapat mengganggu keseimbangan alami ini.

Apa yang Diteliti oleh Para Peneliti?

Penelitian ini dipimpin oleh Margarita Iniesta dari Complutense University of Madrid. Tim peneliti melakukan uji klinis acak tersamar ganda (double-blind) untuk membandingkan dua jenis pasta gigi, yaitu:

  • Pasta gigi dengan bahan antibakteri cetylpyridinium chloride (CPC) dan cymenol

  • Pasta gigi fluoride konvensional tanpa tambahan antibakteri khusus

Tujuan utamanya adalah menilai apakah kedua jenis pasta gigi ini memiliki dampak berbeda terhadap bakteri di bawah gusi, serta memastikan keamanannya bagi pasien dengan gingivitis.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Sebanyak 60 orang dewasa dengan peradangan gusi sedang mengikuti penelitian ini. Peserta dibagi secara acak untuk menggunakan salah satu dari dua pasta gigi tersebut selama enam minggu, dengan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari seperti biasa.

Selama penelitian:

  • Sampel plak di bawah gusi diambil sebelum dan sesudah periode enam minggu

  • Analisis dilakukan menggunakan teknologi sekuensing DNA untuk mengidentifikasi jenis dan jumlah bakteri

  • Peneliti mengevaluasi:

    • Keragaman bakteri

    • Perubahan jenis bakteri tertentu

    • Keseimbangan keseluruhan komunitas mikroba

Total 116 sampel subgingiva dianalisis dalam studi ini.

Hasil Utama: Keseimbangan Bakteri Tetap Terjaga

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup melegakan.

Tidak ada gangguan besar pada mikrobioma

Setelah enam minggu, tidak ditemukan perubahan signifikan pada keragaman bakteri di kedua kelompok. Artinya, penggunaan pasta gigi—baik yang mengandung antibakteri maupun yang konvensional—tidak merusak keseimbangan bakteri di bawah gusi.

Perubahan kecil dan terarah

  • Pasta gigi dengan CPC dan cymenol menunjukkan penurunan lebih besar pada beberapa bakteri yang sering dikaitkan dengan peradangan gusi, seperti Fusobacterium nucleatum

  • Kelompok pasta gigi fluoride mengalami sedikit peningkatan bakteri dari kelompok Firmicutes

Yang penting, bakteri patogen utama penyebab penyakit periodontal seperti Porphyromonas gingivalis tidak mengalami perubahan signifikan pada kedua kelompok.

Dampak terutama pada bakteri jumlah kecil

Perubahan yang terdeteksi sebagian besar terjadi pada bakteri dengan jumlah rendah, bukan pada bakteri dominan yang berperan besar dalam penyakit gusi.

Apa Artinya bagi Kebiasaan Menyikat Gigi Sehari-hari?

Studi ini menunjukkan bahwa menyikat gigi secara rutin aman bagi mikrobioma subgingiva, bahkan ketika menggunakan pasta gigi dengan kandungan antibakteri. Pasta gigi tersebut tidak mengganggu keseimbangan bakteri alami, tetapi justru dapat membantu menekan beberapa bakteri yang berkaitan dengan peradangan.

Bagi penderita gingivitis, pesan utamanya jelas:

  • Menyikat gigi tetap menjadi kunci utama pencegahan

  • Pasta gigi antibakteri dapat digunakan tanpa rasa khawatir merusak ekosistem bakteri gusi

Keterbatasan dan Arah Penelitian Selanjutnya

Penulis mencatat bahwa penelitian ini masih berskala kecil dan berlangsung relatif singkat. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar dan durasi lebih panjang untuk memastikan dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan periodontal.

Kesimpulan

Menyikat gigi dua kali sehari tidak hanya membersihkan permukaan gigi, tetapi juga menjaga keseimbangan dunia mikroba di bawah gusi. Penelitian ini menegaskan bahwa baik pasta gigi antibakteri maupun pasta gigi fluoride konvensional aman digunakan oleh penderita gingivitis, tanpa mengganggu mikrobioma subgingiva.

Referensi Artikel Asli

Iniesta M, Vasconcelos V, Laciar F, Matesanz P, Sanz M, Herrera D.

Impact of toothpaste use on the subgingival microbiome: a pilot randomized clinical trial.

BMC Oral Health. 2025;25:854.

DOI: 10.1186/s12903-025-06159-z

Carigi Indonesia February 20, 2026
Share this post
Tags
Archive
Mengapa Matcha Menarik untuk Kesehatan Gusi?