Efek Cabut Gigi Bungsu Pasca Behel Riset

Cabut Gigi Bungsu Agar Gigi Tetap Rapi Setelah Behel? Penelitian Terbaru Menunjukkan Jawabannya
Gigi Berjejal Setelah Lepas Behel, Benarkah Salah Gigi Bungsu?
Banyak orang yang telah menyelesaikan perawatan ortodonti (behel) berharap susunan giginya akan tetap rapi selamanya. Namun, tidak sedikit yang mengalami kondisi gigi depan kembali berjejal beberapa tahun setelah behel dilepas. Fenomena ini dikenal sebagai tertiary crowding atau berjejal yang muncul pada masa remaja hingga dewasa muda.
Selama bertahun-tahun, gigi bungsu sering dianggap sebagai penyebab utama kondisi tersebut. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang disarankan mencabut gigi bungsu sebagai langkah pencegahan agar gigi depan tidak kembali berantakan.
Namun, apakah anggapan tersebut benar-benar didukung oleh bukti ilmiah?
Sebuah systematic review terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2026 mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan mengumpulkan dan menganalisis seluruh penelitian terbaik yang tersedia mengenai hubungan antara pencabutan gigi bungsu dan kestabilan susunan gigi setelah perawatan ortodonti.
Mengapa Gigi Bisa Kembali Berjejal?
Gigi berjejal merupakan kondisi ketika ukuran gigi tidak sebanding dengan ruang yang tersedia di lengkung rahang. Setelah perawatan ortodonti selesai, susunan gigi memang dapat berubah seiring waktu.
Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pertumbuhan rahang, pergeseran alami gigi ke arah depan, perubahan jaringan lunak, hingga proses penuaan. Selama ini, tekanan dari gigi bungsu yang sedang tumbuh juga diduga menjadi salah satu penyebab, tetapi berbagai penelitian menghasilkan kesimpulan yang saling bertentangan.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Peneliti melakukan pencarian literatur secara sistematis di empat basis data ilmiah, yaitu PubMed, Embase, Cochrane Library, dan Google Scholar.
Mereka hanya memasukkan penelitian yang melibatkan pasien yang telah menyelesaikan perawatan ortodonti, tidak lagi menggunakan retainer, serta memiliki masa tindak lanjut minimal satu tahun setelah fase retensi selesai. Kelompok pasien yang gigi bungsunya dicabut dibandingkan dengan kelompok yang masih mempertahankan gigi bungsunya.
Dari lebih dari 1.100 publikasi yang ditemukan, hanya empat penelitian yang memenuhi seluruh kriteria kualitas untuk dianalisis lebih lanjut. Secara keseluruhan, penelitian tersebut melibatkan 468 pasien, terdiri atas satu uji klinis acak dan tiga studi kohort jangka panjang.
Hasilnya: Gigi Tetap Bisa Berjejal, Baik Gigi Bungsu Dicabut Maupun Tidak
Hasil yang paling menarik dari tinjauan sistematis ini adalah bahwa seluruh penelitian menunjukkan adanya peningkatan sedikit demi sedikit pada gigi depan yang kembali berjejal seiring waktu, baik pada pasien yang telah mencabut gigi bungsu maupun pada mereka yang masih memilikinya.
Yang terpenting, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok tersebut. Dengan kata lain, pencabutan gigi bungsu tidak terbukti memberikan perlindungan terhadap kekambuhan susunan gigi depan setelah perawatan ortodonti.
Bagaimana dengan Bentuk Lengkung Rahang?
Selain melihat posisi gigi depan, peneliti juga mengevaluasi beberapa parameter lain, seperti:
panjang lengkung rahang,
jarak antar gigi taring,
overbite,
overjet,
serta posisi gigi depan dan geraham.
Sebagian besar parameter tersebut juga tidak menunjukkan perbedaan berarti antara pasien yang mencabut maupun mempertahankan gigi bungsu.
Hanya satu penelitian yang menemukan bahwa kelompok pencabutan mengalami penurunan panjang lengkung rahang yang sedikit lebih kecil. Namun, temuan tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah kesimpulan keseluruhan karena kualitas bukti yang masih rendah dan hasil penelitian lain tidak menunjukkan pola yang sama.
Mengapa Bukti Ilmiahnya Masih Lemah?
Walaupun hasil penelitian cenderung konsisten, para penulis menilai tingkat kepastian bukti masih sangat rendah (very low certainty of evidence).
Hal ini disebabkan oleh beberapa keterbatasan, antara lain:
jumlah penelitian yang masih sedikit;
metode penelitian yang berbeda-beda;
variasi jenis perawatan ortodonti dan penggunaan retainer;
lama pemantauan yang tidak seragam;
serta adanya risiko bias pada sebagian penelitian.