Skip to Content

Edukasi Sikat Gigi Ibu Hamil Kurangi Plak, Gusi Tetap Perlu Dijaga

October 27, 2026 by
Carigi Indonesia

Edukasi Sikat Gigi Ibu Hamil Kurangi Plak, Gusi Tetap Perlu Dijaga

Edukasi Sikat Gigi Ibu Hamil Kurangi Plak, Gusi Tetap Perlu Dijaga

Edukasi Sikat Gigi untuk Ibu Hamil: Plak Berkurang dalam 3 Bulan, tetapi Gusi Tetap Perlu Perhatian

Kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh, termasuk di dalam mulut. Gusi lebih mudah merah, bengkak, dan berdarah. Sebuah penelitian di Polandia mengikuti 50 ibu hamil dari trimester kedua hingga persalinan. Separuh di antaranya mendapat edukasi cara merawat mulut yang benar. Hasilnya, ibu hamil yang mendapat edukasi memiliki plak dan karang gigi yang jauh lebih sedikit tiga bulan kemudian. Namun peradangan gusi tidak banyak berubah, dan peneliti juga mencatat bahwa semakin berat radang gusi, persalinan cenderung terjadi lebih awal, meski tidak ada perbedaan kelahiran prematur atau berat bayi lahir antara kedua kelompok.

Mulut Ibu Hamil yang Lebih Rentan

Selama kehamilan, kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat tajam. Hormon-hormon ini memengaruhi gusi dengan berbagai cara:

  • pembuluh darah di gusi melebar dan lebih mudah bocor, sehingga gusi lebih mudah bengkak dan berdarah,

  • jenis bakteri di sekitar gusi berubah, termasuk meningkatnya bakteri tertentu yang berkaitan dengan radang gusi,

  • dan daya tahan jaringan gusi terhadap bakteri ikut berubah.

Akibatnya, radang gusi kehamilan (gingivitis gravidarum) sangat umum terjadi. Angkanya dilaporkan berkisar 35% hingga 100% ibu hamil, dengan keluhan paling berat sekitar minggu ke-14 hingga ke-30 kehamilan. Sebagian kecil ibu hamil (0,5–5%) juga bisa mengalami benjolan pada gusi yang mudah berdarah, yang dikenal sebagai epulis kehamilan.

Kehamilan juga meningkatkan risiko gigi berlubang. Perubahan pola makan, ngemil makanan manis, serta mual, muntah, dan naiknya asam lambung membuat gigi lebih sering terpapar asam. Air liur ibu hamil juga cenderung lebih asam dan lebih kental.

Sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan peradangan di mulut ibu hamil dengan risiko kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah, dan preeklamsia.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Departemen Konservasi Gigi dan Endodontik, Medical University of Silesia, Polandia, yang dipimpin Marta Katarzyńska-Konwa dan Agata Trzcionka, meneliti 50 ibu hamil di wilayah bekas kawasan industri Silesia Atas, Polandia.

Para ibu hamil dibagi secara acak menjadi dua kelompok, masing-masing 25 orang:

  • Kelompok edukasi: menjalani pemeriksaan gigi dan mendapat edukasi cara merawat mulut, termasuk cara menyikat gigi yang benar yang diperagakan pada model gigi. Mereka juga dianjurkan memakai benang gigi, sikat sela gigi, dan obat kumur tanpa alkohol, serta diberi panduan tertulis.

  • Kelompok pembanding: hanya menjalani pemeriksaan gigi tanpa edukasi.

Pemeriksaan dilakukan dua kali:

  1. Pemeriksaan pertama pada usia kehamilan 14–17 minggu (awal trimester kedua).

  2. Pemeriksaan kedua pada usia kehamilan 27–30 minggu (awal trimester ketiga), sekitar tiga bulan kemudian.

Dokter gigi menilai jumlah plak, karang gigi, perdarahan gusi, serta kerusakan jaringan penyangga gigi. Setelah perkiraan tanggal persalinan, peneliti menghubungi para ibu untuk menanyakan usia kehamilan saat melahirkan, cara persalinan (normal atau caesar), serta berat badan bayi.

Hasilnya

1. Kebersihan mulut ibu hamil masih kurang

Pada pemeriksaan pertama, kebersihan mulut ibu hamil di kedua kelompok tergolong kurang memadai. Plak ditemukan pada sekitar 40–60% permukaan sela gigi. Sebagian besar ibu hamil memiliki karang gigi atau kantong gusi sedalam 3,5–5,5 mm, dan sebagian besar membutuhkan pembersihan karang gigi oleh dokter gigi.

2. Edukasi menurunkan plak dan karang gigi

Tiga bulan setelah edukasi, ibu hamil di kelompok edukasi menunjukkan perbaikan yang jelas:

  • Plak di sela gigi turun dari sekitar 56% menjadi 46% permukaan.

  • Ketebalan plak di garis gusi turun sekitar sepertiga.

  • Skor kebersihan mulut keseluruhan turun hampir separuh, dari sekitar 1,7 menjadi 0,98, sehingga tergolong baik.

  • Skor karang gigi turun dari sekitar 0,57 menjadi 0,12.

Sebaliknya, pada kelompok pembanding yang tidak mendapat edukasi, kebersihan mulut tidak membaik. Jumlah sisa makanan dan plak di permukaan gigi bahkan sedikit meningkat.

3. Radang gusi tetap ada

Meski plak berkurang, perdarahan gusi pada kelompok edukasi tidak banyak berubah, tetap di kisaran radang gusi sedang. Pada kelompok pembanding, perdarahan gusi justru bertambah seiring bertambahnya usia kehamilan.

Peneliti menyimpulkan bahwa semakin tua usia kehamilan, peradangan gusi cenderung semakin berat. Edukasi tampaknya membantu menahan perburukan tersebut, tetapi tidak sampai menghilangkan peradangan. Tidak ada satu pun ibu hamil pada pemeriksaan kedua yang memiliki gusi yang benar-benar sehat.

Kerusakan jaringan penyangga gigi tidak berubah selama tiga bulan pada kedua kelompok.

4. Radang gusi dan waktu persalinan

Usia kehamilan saat melahirkan, cara persalinan, dan berat badan bayi tidak berbeda antara kelompok edukasi dan kelompok pembanding. Rata-rata berat bayi sekitar 3.200 gram di kedua kelompok, dan tidak ada bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

Namun, ketika peneliti melihat seluruh ibu hamil, ada pola yang menarik: semakin berat perdarahan gusi dan kerusakan jaringan penyangga gigi, persalinan cenderung terjadi lebih awal dari perkiraan. Tujuh ibu hamil melahirkan pada usia kehamilan 36–37 minggu, dan 6 di antaranya mengalami radang gusi sedang hingga berat.

Pada kelompok edukasi, radang gusi yang lebih berat juga berkaitan dengan persalinan caesar, tetapi pola ini tidak terlihat pada kelompok pembanding.

Catatan Penting

Para peneliti mengakui bahwa jumlah peserta kecil dan banyak ibu hamil yang sulit hadir untuk pemeriksaan lanjutan. Mereka menekankan perlunya penelitian lebih besar.

Ada pula beberapa hal yang patut dicermati pembaca (catatan redaksi):

  • Hubungan dengan waktu persalinan hanya berupa kaitan, bukan sebab-akibat. Perbedaan waktu persalinan juga hanya hitungan hari hingga minggu, dan hampir semua ibu melahirkan cukup bulan. Penelitian ini tidak menemukan hubungan antara radang gusi dengan kelahiran prematur maupun berat bayi lahir rendah.

  • Edukasi tidak mengubah waktu persalinan. Meski kebersihan mulut membaik pada kelompok edukasi, waktu persalinan dan berat bayi tetap sama dengan kelompok pembanding.

  • Data kehadiran tidak konsisten. Jurnal menyebut hanya sekitar separuh ibu di kelompok edukasi hadir pada pemeriksaan kedua, tetapi hasil analisis tetap dilaporkan untuk 25 orang per kelompok.

  • Penelitian ini terbit tahun 2020, lebih lama dibandingkan sebagian besar jurnal lain yang kami ulas.

  • Edukasi diberikan tanpa pembersihan karang gigi. Padahal sebagian besar ibu hamil dalam penelitian ini membutuhkan perawatan tersebut. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa radang gusi tidak membaik meski plak berkurang.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa radang gusi sangat umum pada ibu hamil dan cenderung memburuk seiring bertambahnya usia kehamilan. Edukasi cara merawat mulut yang diberikan oleh dokter gigi terbukti membantu menurunkan plak dan karang gigi dalam waktu tiga bulan. Namun edukasi saja belum cukup untuk menghilangkan radang gusi.

Para peneliti menekankan bahwa ibu hamil masih kurang mendapat perhatian dalam perawatan gigi, dan menyarankan kerja sama antara dokter kandungan, bidan, dan dokter gigi dalam merawat ibu hamil.

Bagi ibu hamil, pesannya: periksakan gigi dan gusi Anda selama kehamilan, terutama di trimester kedua. Sikat gigi dua kali sehari dengan teknik yang benar, bersihkan sela gigi dengan benang gigi atau sikat sela gigi, dan mintalah dokter gigi menunjukkan cara yang tepat. Bila gusi sering berdarah atau bengkak, jangan berhenti menyikat gigi. Justru itu tanda gusi perlu dibersihkan lebih baik dan mungkin membutuhkan pembersihan karang gigi oleh dokter gigi. Sampaikan kepada dokter gigi bahwa Anda sedang hamil beserta usia kehamilan Anda agar perawatan bisa disesuaikan.

Referensi

Katarzyńska-Konwa M, Obersztyn I, Trzcionka A, Mocny-Pachońska K, Mosler B, Tanasiewicz M. Oral Status in Pregnant Women from Post-Industrial Areas of Upper Silesia in Reference to Occurrence of: Preterm Labors, Low Birth Weight and Type of Labor. Healthcare. 2020;8(4):528. DOI: https://doi.org/10.3390/healthcare8040528

Carigi Indonesia October 27, 2026
Share this post
Tags
Archive
Gusi Berdarah Saat Haid? Hormon Bisa Memengaruhi Kesehatan Gusi