Skip to Content

Dosis Antibiotik Pasien Osteoporosis

June 4, 2026 by
Carigi Indonesia

Dosis Antibiotik Pasien Osteoporosis

Dosis Antibiotik Pasien Osteoporosis

Bisakah Satu Dosis Antibiotik Sebelum Cabut Gigi Sudah Cukup? Studi Baru Beri Kabar Baik bagi Pasien Osteoporosis

Mengurangi Antibiotik Tanpa Mengorbankan Keamanan Pasien

Antibiotik sering diberikan kepada pasien osteoporosis yang menjalani pencabutan gigi, terutama bagi mereka yang mengonsumsi obat golongan bisfosfonat. Tujuannya adalah mencegah terjadinya komplikasi serius yang dikenal sebagai Medication-Related Osteonecrosis of the Jaw (MRONJ), yaitu kondisi ketika tulang rahang gagal sembuh dengan baik dan menjadi terbuka setelah tindakan dental.

Namun, di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap resistensi antibiotik, para peneliti mulai mempertanyakan apakah penggunaan antibiotik selama beberapa hari setelah pencabutan gigi benar-benar diperlukan. Mungkinkah satu dosis antibiotik sebelum tindakan sudah cukup memberikan perlindungan?

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Bone and Mineral Metabolism mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa pada banyak pasien yang menggunakan bisfosfonat dosis rendah, pemberian satu dosis amoksisilin sebelum pencabutan gigi memberikan hasil yang sebanding dengan regimen antibiotik yang lebih lama.

Mengenal Risiko Osteonekrosis Rahang Akibat Obat

Bisfosfonat merupakan kelompok obat yang banyak digunakan untuk mengatasi osteoporosis. Obat ini bekerja dengan memperlambat proses pengeroposan tulang sehingga dapat menurunkan risiko patah tulang.

Meskipun manfaatnya besar, penggunaan bisfosfonat dalam jangka panjang dapat dikaitkan dengan risiko MRONJ, meskipun kasusnya tergolong jarang. Risiko ini menjadi perhatian khusus ketika pasien menjalani prosedur invasif di rongga mulut, seperti pencabutan gigi.

Karena alasan tersebut, banyak dokter gigi dan dokter bedah mulut memberikan antibiotik sebelum maupun sesudah tindakan. Namun hingga kini belum ada kesepakatan yang benar-benar pasti mengenai berapa lama antibiotik sebaiknya diberikan.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Penelitian ini melibatkan 160 pasien yang menjalani total 317 pencabutan gigi di empat rumah sakit di Jepang. Seluruh pasien sedang mengonsumsi bisfosfonat dosis rendah untuk pengobatan osteoporosis.

Peneliti membandingkan dua pendekatan pemberian antibiotik:

Kelompok Pertama (2019–2021)

Pasien menerima:

  • Amoksisilin 500 mg satu jam sebelum pencabutan.

  • Antibiotik tambahan selama dua hari setelah pencabutan.

Kelompok Kedua (2022–2024)

Pasien hanya menerima:

  • Amoksisilin 500 mg satu jam sebelum pencabutan.

  • Tidak ada antibiotik tambahan setelah tindakan.

Seluruh pasien mendapatkan prosedur pencabutan yang serupa, penanganan luka yang baik, serta pemantauan pascaoperasi selama minimal delapan minggu.

Hasilnya: Satu Dosis Ternyata Memberikan Perlindungan yang Sama

Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian MRONJ sangat rendah pada kedua kelompok.

Pada kelompok yang menerima antibiotik sebelum dan sesudah pencabutan, MRONJ terjadi pada 3 dari 170 gigi yang dicabut (1,76%).

Sementara itu, pada kelompok yang hanya menerima satu dosis antibiotik sebelum tindakan, MRONJ terjadi pada 2 dari 147 gigi yang dicabut (1,36%).

Perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik. Dengan kata lain, pemberian antibiotik tambahan setelah pencabutan tidak terbukti memberikan keuntungan yang signifikan dibandingkan satu dosis antibiotik sebelum tindakan.

Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang lebih singkat mungkin sudah cukup untuk banyak pasien osteoporosis yang menggunakan bisfosfonat dosis rendah.

Jika MRONJ Terjadi, Sebagian Besar Kasus Dapat Ditangani dengan Baik

Meskipun beberapa pasien mengalami MRONJ, seluruh kasus yang ditemukan berada pada tahap awal (Stadium 1).

Kabar baiknya, semua pasien berhasil sembuh sepenuhnya dalam waktu sekitar 12–16 minggu setelah mendapatkan perawatan.

Sebagian pasien hanya memerlukan irigasi atau pembersihan area luka secara rutin, sementara beberapa lainnya memerlukan tindakan sederhana untuk mengelola tulang yang terekspos sebelum akhirnya sembuh.

Hal ini menunjukkan bahwa deteksi dini dan pemantauan yang baik dapat membantu mengatasi komplikasi tersebut dengan efektif.

Temuan Menarik dari Foto Rontgen Gigi

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini berasal dari pemeriksaan radiografi sebelum pencabutan.

Peneliti menemukan bahwa sekitar 80% kasus MRONJ yang muncul setelah pencabutan sudah menunjukkan gambaran radiopak di sekitar akar gigi sebelum tindakan dilakukan.

Radiopak merupakan area yang tampak lebih padat atau lebih putih pada foto rontgen. Kondisi ini sering dikaitkan dengan peradangan kronis atau infeksi yang telah berlangsung lama pada jaringan tulang di sekitar gigi.

Pasien dengan gambaran radiopak tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami MRONJ dibandingkan pasien tanpa temuan tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa foto rontgen dapat membantu dokter mengidentifikasi pasien yang memerlukan pemantauan lebih ketat setelah pencabutan gigi.

Mengapa Pengurangan Penggunaan Antibiotik Penting?

Penggunaan antibiotik yang berlebihan merupakan salah satu penyebab utama munculnya resistensi antimikroba (antimicrobial resistance atau AMR), yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat yang sebelumnya efektif.

Karena penelitian ini tidak menemukan perbedaan risiko yang berarti antara regimen antibiotik pendek dan panjang, para peneliti menilai bahwa penggunaan antibiotik secara lebih bijaksana dapat menjadi pilihan yang lebih baik.

Selain mengurangi paparan antibiotik yang tidak diperlukan, pendekatan ini juga mendukung upaya global dalam menjaga efektivitas antibiotik untuk masa depan.

Keterbatasan Penelitian

Peneliti menekankan bahwa hasil studi ini tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati.

Penelitian dilakukan secara retrospektif, yaitu menggunakan data rekam medis yang sudah ada, bukan melalui uji klinis acak. Selain itu, masa pemantauan pasien relatif terbatas dan tidak semua faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mulut dapat dikendalikan sepenuhnya.

Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih kuat untuk mengonfirmasi hasil ini.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian satu dosis amoksisilin sebelum pencabutan gigi mungkin sudah cukup untuk mencegah terjadinya Medication-Related Osteonecrosis of the Jaw (MRONJ) pada pasien osteoporosis yang menggunakan bisfosfonat dosis rendah.

Risiko MRONJ tetap rendah dan tidak berbeda secara bermakna dibandingkan dengan pemberian antibiotik selama beberapa hari setelah tindakan. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa perubahan radiografis di sekitar akar gigi dapat menjadi tanda peringatan dini terhadap kemungkinan komplikasi pasca pencabutan.

Temuan ini mendukung upaya penggunaan antibiotik yang lebih rasional, sekaligus tetap menjaga keamanan pasien yang menjalani perawatan gigi.

Referensi

Iwata E, Ohori H, Susukida Y, Yatagai N, Kashin M, Matsui T, Takata N, Kobayashi M, Miyai D, Tachibana A, Akashi M. What is the appropriate antibiotic administration to prevent MRONJ development after tooth extraction? Journal of Bone and Mineral Metabolism. 2025;43:525–534. DOI: 10.1007/s00774-025-01617-8.


Carigi Indonesia June 4, 2026
Share this post
Tags
Archive
Pola Kecemasan Cabut Gigi Perioperatif