Dokter Gigi di Bangsal Stroke: Pasien Pulang Lebih Cepat

Dokter Gigi di Bangsal Stroke: Kerja Sama Tim Medis dan Gigi Bantu Pasien Pulih Lebih Cepat
Saat seseorang terserang stroke, perhatian biasanya tertuju pada otak, jantung, dan kemampuan bergerak. Kondisi mulut jarang masuk hitungan. Padahal, mulut yang kotor dan kemampuan menelan yang terganggu bisa memicu komplikasi serius. Sebuah penelitian besar di 17 rumah sakit di Jepang menguji protokol perawatan mulut yang melibatkan dokter, perawat, terapis wicara, dan tenaga kesehatan gigi sejak minggu pertama setelah stroke. Hasilnya: protokol ini tidak mengurangi angka pneumonia, tetapi pasien pulang hampir seminggu lebih cepat, dengan kebersihan mulut serta kemampuan makan dan menelan yang lebih baik.
Ancaman yang Datang dari Mulut
Stroke sering merusak bagian otak yang mengatur proses menelan. Akibatnya, banyak pasien mengalami disfagia, yaitu kesulitan menelan. Makanan, minuman, atau air liur yang seharusnya masuk ke kerongkongan bisa salah jalan ke saluran napas lalu ke paru-paru.
Bila air liur atau sisa makanan itu membawa bakteri dari mulut yang kotor, paru-paru bisa terinfeksi. Kondisi ini disebut pneumonia aspirasi. Pada pasien stroke yang mengalami gangguan menelan, risikonya diperkirakan mencapai 13–33%. Komplikasi ini bisa memperpanjang masa rawat, membuat pasien makin bergantung pada orang lain, bahkan berujung kematian.
Berbagai penelitian sudah menunjukkan bahwa perawatan mulut yang baik dapat menurunkan risiko pneumonia pada pasien stroke. Namun, masih sedikit bukti tentang manfaat perawatan mulut yang lebih menyeluruh dan terstruktur dibandingkan perawatan rutin biasa. Masih jarang pula yang meneliti manfaatnya di luar pencegahan pneumonia.
Protokol yang Menyatukan Tim Medis dan Tim Gigi
Sejak 2016, Tokyo Medical and Dental University, yang kini bernama Institute of Science Tokyo, mengembangkan protokol pengelolaan fungsi mulut khusus untuk pasien stroke akut. Ciri khasnya adalah kerja sama lintas profesi yang tertata sejak awal perawatan.
Dalam protokol ini, setiap anggota tim punya peran:
Dokter meminta keterlibatan tim gigi sejak pasien masuk rumah sakit, menilai kemampuan menelan, dan merancang rehabilitasi.
Perawat menilai kondisi mulut pasien dengan alat penilaian baku, melakukan perawatan mulut harian, dan membantu pasien makan.
Terapis wicara melatih kemampuan menelan dan menyesuaikan tekstur makanan.
Dokter gigi dan perawat/terapis gigi memeriksa mulut secara menyeluruh, membersihkan karang gigi, merawat gusi, menangani gigi goyang atau akar gigi yang tersisa, menambal sementara, serta memperbaiki atau menyesuaikan gigi tiruan yang tidak pas.
Seberapa sering tim gigi turun tangan disesuaikan dengan kondisi mulut pasien. Pasien dengan mulut yang kondisinya buruk mendapat perawatan dari tenaga kesehatan gigi minimal tiga kali seminggu, sementara yang kondisinya baik cukup sekali seminggu. Semua anggota tim berbagi informasi melalui lembar catatan bersama dan bertemu dalam konferensi mingguan.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Tim peneliti yang dipimpin Yu Yoshizumi dan Yoshiyuki Sasaki dari Institute of Science Tokyo ingin membuktikan apakah protokol ini bermanfaat bila diterapkan di banyak rumah sakit.
Penelitian berlangsung dari Juli 2017 hingga Januari 2021 di 17 rumah sakit di Jepang:
11 rumah sakit menerapkan protokol, dengan perawatan mulut dimulai paling lambat 7 hari setelah pasien masuk.
6 rumah sakit hanya memberikan perawatan mulut rutin seperti biasa, yang umumnya dilakukan oleh perawat.
Data dari 1.616 pasien stroke dikumpulkan. Karena pasien di kedua kelompok punya tingkat keparahan stroke yang cukup berbeda, peneliti memakai teknik statistik untuk memasangkan pasien yang kondisinya sebanding dari kedua kelompok, dengan memperhitungkan antara lain keparahan stroke, penyakit penyerta, dan tindakan medis yang diterima. Hasilnya, 313 pasangan pasien (626 orang) dibandingkan secara langsung.
Hasil utama yang dinilai adalah angka kejadian pneumonia. Peneliti juga menilai lama rawat inap dan perubahan fungsi mulut, termasuk kebersihan mulut, kemampuan menggerakkan lidah, dan kemampuan makan lewat mulut.
Hasilnya: Pneumonia Sama, tetapi Pemulihan Lebih Baik
1. Angka pneumonia tidak berbeda
Angka pneumonia di kedua kelompok ternyata hampir sama, sekitar 10,9% pada kelompok protokol dan 9,9% pada kelompok perawatan biasa. Begitu pula pneumonia aspirasi, sekitar 7,4% dibandingkan 8,0%. Perbedaan ini tidak bermakna secara statistik.
Peneliti melihat hasil ini justru sebagai kabar baik bagi perawatan rutin. Angka pneumonia di kelompok perawatan biasa sudah relatif rendah, yang menunjukkan bahwa perawatan mulut oleh perawat, yang makin disiplin dijalankan di Jepang selama dua dekade terakhir, memang sudah efektif mencegah pneumonia.
2. Masa rawat inap hampir seminggu lebih singkat
Perbedaan paling jelas terlihat pada lama perawatan. Pasien di kelompok protokol rata-rata dirawat sekitar 21 hari, sedangkan kelompok perawatan biasa sekitar 27 hari. Waktu sampai pasien siap dievaluasi untuk pulang juga lebih singkat, sekitar 18 hari dibandingkan 27 hari.
Peneliti menduga, perawatan mulut dan latihan menelan yang dimulai lebih awal dan dikerjakan bersama-sama membuat pasien lebih cepat kembali makan lewat mulut, sehingga pemulihannya pun lebih lancar.
3. Mulut lebih bersih, lidah lebih lincah, makan lebih lancar
Fungsi mulut pasien di kelompok protokol juga lebih baik:
Kebersihan mulut membaik pada sekitar 36% pasien kelompok protokol, dua kali lipat dibandingkan sekitar 19% pada kelompok perawatan biasa.
Kemampuan menggerakkan lidah lebih terjaga. Hanya sekitar 4% pasien kelompok protokol yang mengalami penurunan, dibandingkan 14% pada kelompok perawatan biasa.
Kemampuan makan lewat mulut membaik pada hampir separuh pasien kelompok protokol (sekitar 49%), dibandingkan sekitar 34% pada kelompok perawatan biasa.
Menariknya, saat masuk rumah sakit, pasien kelompok protokol justru rata-rata memiliki mulut yang lebih kotor dan lebih banyak yang sulit makan lewat mulut. Meski memulai dari kondisi yang lebih berat, mereka menunjukkan perbaikan yang lebih besar.
Peneliti mengaitkan hal ini dengan dua faktor. Pertama, tenaga kesehatan gigi ikut turun tangan sehingga perawatan mulut lebih sering dilakukan. Kedua, tim gigi tidak hanya membersihkan mulut, tetapi juga menangani masalah seperti gigi goyang dan gigi tiruan yang tidak pas, yang bisa mengganggu proses mengunyah dan menelan.
4. Kemandirian menyikat gigi belum berubah
Satu hal yang belum membaik adalah kemandirian pasien dalam menyikat gigi sendiri. Perubahannya tidak berbeda antara kedua kelompok. Peneliti menduga ini karena di kedua kelompok perawatan mulut sama-sama dilakukan oleh tenaga kesehatan, bukan oleh pasien. Mereka mengusulkan agar ke depan protokol ini dilengkapi latihan kemandirian bersama fisioterapis atau terapis okupasi.
Catatan tentang angka kematian
Selama dirawat, angka kematian di kelompok protokol tercatat lebih rendah, sekitar 2,6% dibandingkan 5,8%. Namun angka ini bukan fokus utama penelitian dan perlu ditafsirkan dengan hati-hati, karena desain penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan bahwa protokol tersebut menurunkan risiko kematian.
Catatan Penting dari Peneliti
Para peneliti secara terbuka menyebutkan sejumlah keterbatasan:
Pasien tidak dibagi secara acak. Kelompok pasien ditentukan oleh rumah sakit tempat mereka dirawat. Rumah sakit yang menerapkan protokol kebanyakan adalah rumah sakit universitas, sedangkan kelompok pembanding kebanyakan dari rumah sakit daerah. Perbedaan fasilitas ini bisa ikut memengaruhi hasil.
Masih ada perbedaan awal di antara kedua kelompok meski pasien sudah dipasangkan, misalnya jumlah gigi, pemakaian gigi tiruan, dan kebersihan mulut saat masuk.
Waktu dimulainya perawatan mulut berbeda-beda di tiap rumah sakit.
Ada data yang tidak lengkap karena sumber daya tiap rumah sakit berbeda.