Skip to Content

Disbiosis Mikrobioma Karies Gigi

June 7, 2026 by
Carigi Indonesia

Disbiosis Mikrobioma Karies Gigi

Disbiosis Mikrobioma Karies Gigi

Bukan Sekadar Gigi Berlubang: Penelitian Ungkap Peran Ketidakseimbangan Mikrobioma Mulut dalam Terjadinya Karies

Pemahaman baru tentang karies gigi menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya disebabkan oleh kerusakan gigi, tetapi juga oleh perubahan kompleks dalam ekosistem mikroorganisme di dalam mulut.

Karies Gigi: Masalah Lama dengan Pemahaman Baru

Karies gigi atau gigi berlubang merupakan salah satu penyakit yang paling umum dialami manusia. Selama bertahun-tahun, karies sering dipahami sebagai kerusakan pada jaringan gigi yang disebabkan oleh bakteri dan konsumsi gula berlebih.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa proses terjadinya karies jauh lebih kompleks daripada sekadar munculnya lubang pada gigi. Para peneliti kini memahami bahwa karies merupakan hasil interaksi antara tubuh manusia, lingkungan, pola makan, serta komunitas mikroorganisme yang hidup di dalam rongga mulut atau yang dikenal sebagai mikrobioma oral.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa banyak sistem klasifikasi penyakit yang digunakan saat ini belum sepenuhnya mampu menggambarkan peran penting mikrobioma mulut dalam proses terjadinya karies. Karena itu, para peneliti berupaya mengembangkan pendekatan baru yang lebih sesuai dengan pemahaman ilmiah modern.

Ketika Keseimbangan Mikrobioma Mulut Terganggu

Di dalam mulut manusia terdapat miliaran mikroorganisme yang hidup berdampingan dalam kondisi seimbang. Dalam keadaan normal, komunitas mikroba ini membantu menjaga kesehatan rongga mulut.

Masalah mulai muncul ketika keseimbangan tersebut terganggu, suatu kondisi yang disebut sebagai disbiosis mikroba (microbial dysbiosis).

Ketika seseorang sering mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula, beberapa jenis bakteri penghasil asam dapat berkembang lebih dominan dibandingkan mikroorganisme lainnya. Akibatnya, lingkungan mulut menjadi lebih asam.

Asam yang dihasilkan bakteri tersebut secara perlahan melarutkan mineral pada permukaan gigi melalui proses yang disebut demineralisasi. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, struktur gigi akan melemah dan akhirnya terbentuk lesi karies atau gigi berlubang.

Menurut para peneliti, proses ini tidak disebabkan oleh satu jenis bakteri saja. Sebaliknya, karies merupakan hasil perubahan dalam keseluruhan komunitas mikroba yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kondisi tubuh individu.

Mengapa Sistem Klasifikasi Penyakit Saat Ini Dinilai Belum Memadai?

Dalam penelitian ini, para ilmuwan meninjau berbagai sistem klasifikasi dan terminologi medis yang banyak digunakan di dunia, termasuk SNOMED CT, ICD-11, MeSH, NCI Thesaurus, Human Disease Ontology, dan Monarch Disease Ontology.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar sistem tersebut masih berfokus pada kerusakan fisik yang terlihat pada gigi, seperti adanya kavitas atau hilangnya struktur gigi.

Padahal, pendekatan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan penyebab biologis yang mendasari terjadinya karies. Banyak sistem yang mencampurkan antara penyakit karies itu sendiri, proses biologis yang menyebabkan kerusakan, dan lesi atau lubang yang muncul sebagai akibatnya.

Akibatnya, hubungan antara mikrobioma mulut, disbiosis, dan perkembangan karies belum tergambarkan secara jelas dalam berbagai sistem klasifikasi tersebut.

Mengembangkan Kerangka Baru untuk Memahami Karies

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim peneliti melakukan pengembangan pada Oral Health and Disease Ontology (OHD), sebuah sistem ontologi yang dirancang khusus untuk bidang kesehatan gigi dan mulut.

Dalam versi terbaru OHD, para peneliti menambahkan konsep-konsep yang secara eksplisit menghubungkan karies dengan ketidakseimbangan mikrobioma mulut.

Melalui pendekatan ini, karies tidak lagi dipandang hanya sebagai kerusakan jaringan gigi, melainkan sebagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan keseimbangan komunitas mikroorganisme dalam rongga mulut.

Peneliti juga membedakan secara jelas beberapa komponen penting yang sebelumnya sering tercampur dalam sistem klasifikasi, yaitu:

  • Disbiosis mikroba oral sebagai kondisi ketidakseimbangan mikroorganisme di dalam mulut.

  • Karies gigi sebagai proses penyakit yang berkembang akibat kondisi tersebut.

  • Proses demineralisasi yang terjadi karena produksi asam oleh bakteri.

  • Lesi karies atau gigi berlubang sebagai hasil akhir yang tampak secara klinis.

Dengan pemisahan ini, hubungan antara penyebab, proses penyakit, dan dampak yang ditimbulkan dapat dijelaskan dengan lebih akurat.

Perubahan Paradigma dalam Ilmu Karies

Penelitian ini mencerminkan perubahan besar dalam bidang kariologi, yaitu ilmu yang mempelajari karies gigi.

Pada masa lalu, penanganan karies lebih banyak berfokus pada tindakan restoratif, seperti membersihkan jaringan gigi yang rusak dan menambalnya. Saat ini, pendekatan tersebut mulai bergeser ke arah pencegahan dan pengendalian penyakit.

Para ilmuwan semakin melihat karies sebagai penyakit yang melibatkan interaksi kompleks antara mikroorganisme, pola makan, air liur, sistem kekebalan tubuh, dan berbagai faktor gaya hidup.

Pemahaman baru ini membuka peluang untuk mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif, termasuk penggunaan probiotik, terapi yang menargetkan bakteri tertentu, vaksin, maupun pendekatan lain yang bertujuan mengembalikan keseimbangan mikrobioma mulut.

Masih Banyak yang Perlu Dipelajari

Meskipun kerangka baru ini merupakan langkah penting, para peneliti mengakui bahwa masih banyak faktor yang perlu dimasukkan ke dalam model di masa depan.

Beberapa faktor seperti pola makan, kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, produksi air liur, hingga tingkat stres diketahui dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma mulut dan risiko terjadinya karies.

Selain itu, penelitian mendatang juga diharapkan mampu menggambarkan peran masing-masing spesies mikroba secara lebih rinci sehingga pemahaman tentang proses terjadinya karies menjadi semakin lengkap.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman modern mengenai karies telah berkembang jauh melampaui konsep “gigi berlubang” yang selama ini dikenal masyarakat.

Karies kini dipandang sebagai penyakit yang muncul akibat interaksi kompleks antara mikrobioma mulut, faktor lingkungan, dan kondisi tubuh manusia. Ketidakseimbangan komunitas mikroba di dalam rongga mulut memainkan peran penting dalam memicu proses yang akhirnya menyebabkan kerusakan gigi.

Dengan memperbarui Oral Health and Disease Ontology agar mampu merepresentasikan hubungan antara disbiosis mikroba dan karies, para peneliti berharap sistem ini dapat mendukung penelitian yang lebih baik, meningkatkan integrasi data kesehatan, serta membantu pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif di masa depan.

Referensi

Duncan WD, Sabharwal A, Diehl AD, Dutta N, Diller M, Joachimiak MP, Chandrasekharan GM. Representing Dental Caries and Dysbiosis within the Oral Microbiome in the Oral Health and Disease Ontology. Research Square Preprint. 2025. DOI: 10.21203/rs.3.rs-7265626/v1.

Carigi Indonesia June 7, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kesehatan Mulut Lansia Healthy Aging