"Gigi di Dalam Gigi": Kelainan Langka yang Bisa Menghalangi Gigi Anak Tumbuh
Seorang anak perempuan berusia 12 tahun memiliki benjolan kecil di rahang bawahnya dan satu gigi taring permanen yang tak kunjung tumbuh. Penyebabnya adalah sebuah kelainan perkembangan langka yang dijuluki "gigi di dalam gigi". Kisah ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk memperhatikan pola tumbuhnya gigi anak.
Salah satu momen yang ditunggu orang tua adalah melihat gigi permanen anak mulai tumbuh menggantikan gigi susu. Namun, apa yang terjadi jika sebuah gigi permanen tak kunjung muncul? Terkadang, penyebabnya adalah sesuatu yang tersembunyi dan tak terduga—seperti yang dialami seorang anak perempuan berusia 12 tahun dalam sebuah laporan kasus yang menarik.
Kisah ini didokumentasikan oleh sekelompok dokter dari Shahid Beheshti University of Medical Sciences, Iran, dan diterbitkan dalam Journal of Dentistry, Shiraz University of Medical Sciences pada 2026. Ini adalah sebuah laporan kasus—catatan rinci tentang satu pasien—yang mengangkat sebuah kelainan langka dengan julukan yang cukup memikat: "gigi di dalam gigi".
Konteks: Apa Itu "Gigi di Dalam Gigi"?
Istilah medis "gigi di dalam gigi" (dens invaginatus atau dens in dente) merujuk pada sebuah kelainan yang terjadi saat gigi sedang terbentuk. Pada kondisi ini, sebagian jaringan pembentuk gigi melipat ke dalam sebelum gigi mengeras, sehingga terbentuklah struktur yang tidak normal—seolah ada "gigi" di dalam gigi.
Kelainan ini memiliki beberapa tingkat keparahan. Bentuk yang dialami pasien dalam laporan ini adalah yang paling parah, disebut odontoma dilatasi. Pada bentuk ini, jaringan gigi membentuk sebuah massa keras berbentuk cincin—mirip donat bila dilihat pada foto rontgen. Kondisi ini sangat langka; hingga kini hanya sekitar 20 kasus yang pernah dilaporkan dalam literatur ilmiah, dan lokasinya di rahang bawah bagian depan—seperti pada pasien ini—termasuk yang paling jarang ditemukan.
Yang penting untuk dipahami: kelainan ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit dan sering kali tidak disadari, hingga akhirnya ia mengganggu proses tumbuhnya gigi permanen. Karena itu, ia kerap ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan rontgen rutin, atau justru ketika dokter mencari tahu penyebab gigi yang tak kunjung tumbuh.
Kisah Pasien
Anak perempuan berusia 12 tahun ini datang dengan keluhan benjolan ringan di sisi kiri rahang bawah bagian depan. Benjolan itu terasa keras seperti tulang, namun tidak nyeri, dan berada di dekat gigi taring susunya. Ketika diperiksa, ditemukan bahwa gigi taring permanen di sisi tersebut belum tumbuh, sementara gigi-gigi permanen lainnya sudah muncul secara normal.
Pemeriksaan rontgen dan pemindaian tiga dimensi (CBCT) mengungkap sebuah massa berbentuk cincin (seperti donat) yang menyerupai struktur gigi—dan di bawahnya, gigi taring permanen yang terjebak dalam posisi yang tidak semestinya. Massa inilah yang menghalangi gigi taring untuk tumbuh. Para dokter kemudian mengangkat kelainan tersebut melalui operasi, dan pemeriksaan jaringan di bawah mikroskop memastikan diagnosisnya sebagai odontoma dilatasi.
Mengapa Perlu Diperhatikan?
Meski langka dan pada dasarnya jinak (bukan kanker), kelainan seperti ini perlu diperhatikan karena dapat menghalangi gigi permanen untuk tumbuh. Akibatnya, gigi bisa terjebak atau tumbuh di posisi yang salah, yang pada gilirannya dapat menyebabkan susunan gigi yang tidak rapi dan masalah tampilan.
Kabar baiknya, kelainan ini umumnya dapat ditangani dengan baik. Penanganannya berupa pengangkatan melalui operasi, dengan peluang kesembuhan yang sangat baik. Tantangan utamanya justru terletak pada mengenalinya, karena sifatnya yang sering "diam-diam" tanpa gejala hingga mengganggu tumbuhnya gigi. Di sinilah pentingnya kejelian dokter dalam membaca foto rontgen—dan kewaspadaan orang tua terhadap pola tumbuhnya gigi anak.
Apa Artinya untuk Orang Tua
Bagi para orang tua, pesan dari laporan ini sederhana namun berharga: perhatikan urutan dan waktu tumbuhnya gigi anak. Masa kanak-kanak—terutama saat gigi susu dan gigi permanen bercampur—adalah periode penting untuk memantau perkembangan gigi.
Jika ada gigi permanen yang tak kunjung tumbuh padahal gigi-gigi lain di sekitarnya sudah muncul, atau jika ditemukan benjolan di rahang anak (meski tidak terasa sakit), sebaiknya jangan diabaikan. Memeriksakannya ke dokter gigi—yang dapat melakukan pemeriksaan rontgen bila diperlukan—memungkinkan kelainan seperti ini terdeteksi lebih awal. Dan semakin dini terdeteksi, semakin sederhana penanganannya, sehingga perkembangan gigi anak dapat kembali berjalan normal. Para peneliti pun menekankan pentingnya kerja sama antara berbagai ahli—dokter gigi, dokter bedah mulut, dan dokter ortodonti—untuk penanganan yang menyeluruh.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana kunjungan rutin anak ke dokter gigi masih perlu digalakkan. Kesadaran bahwa masalah seperti "gigi yang tak kunjung tumbuh" bisa memiliki penyebab yang perlu ditangani dapat mendorong orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan gigi anak sejak dini.
Catatan Penting: Ini Kasus Langka
Seperti kajian ilmiah yang jujur, penting untuk membaca kisah ini dengan tepat.
Perlu ditegaskan bahwa ini adalah sebuah laporan kasus—catatan tentang satu orang pasien dengan kondisi yang sangat langka. Laporan kasus sangat berharga untuk meningkatkan kewaspadaan dokter terhadap kondisi yang jarang, tetapi ia bukanlah gambaran umum yang berlaku untuk semua anak. Kelainan "gigi di dalam gigi" dalam bentuk separah ini jarang sekali terjadi, jadi orang tua tidak perlu cemas berlebihan—melainkan cukup memperhatikan pola tumbuhnya gigi anak sebagai bagian dari perawatan biasa.
Selain itu, mendiagnosis kondisi seperti ini memerlukan pemeriksaan oleh tenaga profesional, termasuk pencitraan dan pemeriksaan jaringan di bawah mikroskop. Tampilan pada rontgen pun bisa menyerupai beberapa kelainan lain, sehingga diagnosisnya membutuhkan ketelitian dokter.
Kesimpulan
Laporan kasus ini menyoroti sebuah kelainan langka—odontoma dilatasi, bentuk paling parah dari "gigi di dalam gigi"—yang muncul di lokasi yang sangat jarang, yaitu rahang bawah bagian depan, dan menghalangi gigi permanen anak untuk tumbuh. Para peneliti menekankan pentingnya mengevaluasi urutan tumbuhnya gigi pada anak-anak di masa gigi bercampur.
Pesan yang bisa dibawa pulang: gigi permanen yang tak kunjung tumbuh atau benjolan yang tak terjelaskan pada rahang anak bukanlah sesuatu yang selalu bisa diabaikan. Dengan memperhatikan perkembangan gigi anak dan memeriksakannya secara rutin, orang tua dapat membantu memastikan setiap masalah terdeteksi dan tertangani sejak dini—demi senyum sehat si kecil di masa depan.
Referensi
Atarbashi-Moghadam S, Lotfi A, Foroozandehfar N, Eftekhari Moghadam P. Dilated Odontoma of the Mandible: A Rare Case Report with Discussion about the Differential Diagnosis. Journal of Dentistry, Shiraz University of Medical Sciences (J Dent Shiraz Univ Med Sci). 2026;27(2):176–180.