Skip to Content

Diabetes dan Penyakit Gusi: 27 Rekomendasi Memutus Lingkarannya

October 23, 2026 by
Carigi Indonesia

Diabetes dan Penyakit Gusi: 27 Rekomendasi Memutus Lingkarannya

Diabetes dan Penyakit Gusi: 27 Rekomendasi Memutus Lingkarannya

Diabetes dan Penyakit Gusi Saling Memperparah: 27 Rekomendasi Terbaik untuk Memutus Lingkaran Setan

Penyandang diabetes tipe 2 lebih rentan terkena penyakit gusi. Sebaliknya, penyakit gusi bisa membuat gula darah semakin sulit dikendalikan. Untuk membantu tenaga kesehatan memutus lingkaran ini, tim peneliti dari Jiangsu University, Tiongkok, merangkum bukti ilmiah terbaik dari 17 pedoman, konsensus ahli, dan tinjauan sistematis internasional. Hasilnya adalah 27 rekomendasi perawatan penyakit gusi tanpa operasi bagi penyandang diabetes tipe 2, mulai dari pemeriksaan, kebiasaan menyikat gigi, pola makan, hingga jadwal kontrol ke dokter gigi.

Hubungan Dua Arah antara Diabetes dan Gusi

Periodontitis adalah peradangan kronis pada jaringan penyangga gigi. Penyakit ini dipicu oleh ketidakseimbangan bakteri di mulut, dan bila dibiarkan dapat membuat gigi goyang, tanggal, bahkan mengganggu kemampuan bicara. Periodontitis termasuk komplikasi mulut yang paling sering dialami penyandang diabetes. Sebuah survei di Tiongkok mencatat bahwa sekitar 73% penyandang diabetes tipe 2 mengalami periodontitis.

Hubungan keduanya berjalan dua arah:

  • Gula darah tinggi memperparah peradangan gusi. Penyandang diabetes dengan gula darah yang tidak terkontrol memiliki risiko periodontitis sekitar 86% lebih tinggi dibandingkan mereka yang gula darahnya terkontrol atau tidak menyandang diabetes.

  • Peradangan gusi menaikkan gula darah. Periodontitis memicu peradangan di seluruh tubuh, yang membuat gula darah tetap tinggi dan meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah.

Penyakit gusi yang berat juga dikaitkan dengan komplikasi diabetes lainnya. Penyandang diabetes dengan periodontitis berat memiliki risiko sekitar tiga kali lipat lebih tinggi mengalami kebocoran protein dalam urine dalam jumlah besar, gagal ginjal tahap akhir, dan penyakit jantung koroner.

Masalahnya, perhatian terhadap kesehatan gusi penyandang diabetes masih rendah. Sebuah survei di Tiongkok menunjukkan bahwa hanya sekitar 13% dokter penyakit dalam yang menangani diabetes memperhatikan kondisi gusi pasiennya, dan hanya sekitar 4% yang menanyakannya. Dokter gigi pun jarang menilai komplikasi diabetes pasien sebelum perawatan. Belum ada jalur rujukan yang jelas antara kedua bidang ini.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Tim peneliti dari Departemen Endokrinologi, Rumah Sakit Afiliasi Jiangsu University, yang dipimpin Huiying Sha dan Qiaoyan Liu, melakukan ringkasan bukti (evidence summary), yaitu menelusuri, menilai, dan merangkum rekomendasi terbaik dari berbagai sumber terpercaya.

Mereka menelusuri lebih dari 20 basis data dan situs lembaga kesehatan internasional, termasuk NICE (Inggris), Joanna Briggs Institute, American Dental Association, World Dental Federation, Cochrane Library, dan PubMed, hingga Maret 2026. Dari hampir 2.000 dokumen yang ditemukan, 17 dokumen dinilai memenuhi syarat dan berkualitas baik, terdiri dari:

  • 3 dokumen keputusan klinis,

  • 5 pedoman praktik klinis,

  • 2 ringkasan bukti,

  • 3 konsensus ahli, termasuk dari Federasi Diabetes Internasional dan Federasi Periodontologi Eropa,

  • 4 tinjauan sistematis.

Bukti tersebut kemudian dirangkum dan didiskusikan bersama enam ahli, yaitu dokter spesialis endokrin, perawat spesialis diabetes, dokter gigi, dan perawat gigi. Setiap rekomendasi diberi tingkat kekuatan: A untuk rekomendasi kuat dan B untuk rekomendasi lemah.

Hasilnya: 27 Rekomendasi dalam 7 Kelompok

1. Pemeriksaan: semua penyandang diabetes perlu diperiksa gusinya

  • Semua penyandang diabetes dianjurkan menjalani pemeriksaan gusi dasar.

  • Tanda yang perlu diperhatikan antara lain gusi bengkak, merah, atau mudah berdarah, gigi goyang, gigi ngilu, gusi turun, bau mulut yang menetap, nyeri saat mengunyah, perubahan rasa, mulut kering, gigi berlubang, dan infeksi jamur di mulut.

  • Dokter gigi perlu mencatat riwayat diabetes secara lengkap: berapa lama menyandang diabetes, komplikasi yang sudah ada, obat yang dikonsumsi, serta riwayat penyakit gusi di keluarga.

  • Beberapa obat perlu diperhatikan. Obat antidepresan dan sebagian obat tekanan darah tinggi (golongan penghambat kanal kalsium) dapat menyebabkan mulut kering dan pembesaran gusi, terutama bila kebersihan mulut kurang baik.

2. Mengendalikan faktor risiko

  • Kadar HbA1c (rata-rata gula darah selama 2–3 bulan) dianjurkan dijaga pada 6,5% atau lebih rendah. HbA1c di atas 7% berkaitan dengan risiko periodontitis yang lebih tinggi dan hasil perawatan gusi yang kurang baik. Pada pasien dengan banyak penyakit penyerta, target ini dapat dilonggarkan oleh dokter. (Rekomendasi B)

  • Berhenti merokok, mengurangi stres, dan membatasi alkohol. (Rekomendasi A)

3. Kebiasaan merawat mulut sehari-hari

  • Sikat gigi: sikat gigi manual maupun elektrik sama-sama boleh dipakai. Pilih sikat berkepala kecil dengan bulu sedang, dan segera ganti bila bulunya rontok atau sudah mekar.

  • Frekuensi: sikat gigi dan garis gusi dua kali sehari, salah satunya sebelum tidur, masing-masing minimal 2 menit.

  • Bersihkan sela gigi sebelum menyikat gigi. Bagi penderita periodontitis, sikat sela gigi dengan ukuran yang sesuai celah gigi lebih dianjurkan. Benang gigi, tusuk gigi karet, tusuk gigi kayu, atau alat semprot air mulut (oral irrigator) juga bisa digunakan. Sebaiknya minta tenaga kesehatan gigi menunjukkan cara memakainya, karena pemakaian yang salah justru bisa melukai gusi.

  • Pasta gigi antibakteri, misalnya yang mengandung klorheksidin atau stannous fluoride, dianjurkan bagi penderita periodontitis yang sedang menjalani perawatan gusi lanjutan.

  • Obat kumur antibakteri, misalnya yang mengandung klorheksidin, minyak esensial, atau cetylpyridinium chloride, dianjurkan untuk penggunaan jangka pendek. Pemakaian klorheksidin jangka panjang dapat menyebabkan noda pada gigi, gangguan rasa, dan perubahan pada lapisan mulut.

  • Tim dokter gigi dianjurkan membangun hubungan baik dengan pasien, memahami kebutuhan dan kebiasaannya, serta menyusun rencana perawatan yang sesuai kemampuan pasien.

4. Pola makan

Rekomendasi pola makan ini diambil dari pedoman NICE Inggris untuk penyandang diabetes tipe 2. (Semuanya rekomendasi B)

  • Karbohidrat: utamakan sumber berserat, seperti kentang beserta kulitnya, roti gandum utuh, nasi, dan pasta.

  • Protein: konsumsi kacang-kacangan, ikan, telur, dan daging. Makan ikan minimal 280 gram per minggu, salah satunya ikan berlemak. Batasi daging olahan seperti sosis, bacon, dan daging asap. Pilih produk susu rendah lemak.

  • Lemak: kurangi minyak, mentega atau olesan, serta makanan tinggi lemak jenuh seperti keju, cokelat, kue, dan biskuit.

  • Buah dan sayur: minimal 5 porsi sehari, dengan satu porsi sekitar 80 gram. Jus buah atau smoothie dibatasi maksimal 150 ml per hari.

  • Minuman: ganti minuman manis dengan air putih, susu rendah lemak, atau teh dan kopi tanpa gula. Minum 6–8 gelas air per hari.

  • Garam: maksimal 6 gram per hari.

Penelitian menunjukkan bahwa penyandang diabetes dengan periodontitis cenderung lebih sedikit makan sayur, buah, produk susu, dan biji-bijian utuh, kemungkinan karena gusi yang sakit mengganggu kemampuan mengunyah dan merasakan makanan. Padahal serat dan zat aktif dalam buah, sayur, dan susu dapat membantu menekan peradangan gusi.

5. Perawatan pembersihan karang gigi dan akar gigi

Bagian ini terutama ditujukan bagi dokter gigi, tetapi penting dipahami pasien:

  • Gula darah harus cukup terkendali. Perawatan dapat dilakukan bila gula darah puasa sekitar 4,4–7,0 mmol/L dan HbA1c di bawah 7,5%. Bila HbA1c di atas 9%, perawatan gusi sebaiknya ditunda sampai gula darah lebih stabil.

  • Waktu terbaik adalah pagi menjelang siang, sekitar 1–3 jam setelah sarapan dan sekitar 1,5 jam setelah minum obat diabetes, untuk menghindari risiko gula darah turun terlalu rendah (hipoglikemia). Perawatan dilakukan selembut mungkin dan tidak lebih dari 2 jam.

  • Pembersihan karang gigi hingga ke bawah gusi dan penghalusan permukaan akar gigi dianjurkan diselesaikan dalam waktu 24 jam. Cara ini terbukti efektif mengendalikan peradangan gusi dan membantu memperbaiki kadar gula darah. (Rekomendasi A)

  • Setelah perawatan, gunakan obat kumur klorheksidin dua kali sehari sampai bisa kembali menyikat gigi seperti biasa (biasanya sekitar 2 minggu). Setelah itu, sikat gigi dua kali sehari, gunakan benang gigi sekali sehari, dan berhenti merokok.

  • Klinik gigi wajib siap siaga dengan perlengkapan darurat, termasuk alat ukur gula darah, insulin kerja cepat, suntikan glukagon, dan gula batu.

  • Dokter gigi juga dianjurkan menghindari obat bius lokal yang mengandung epinefrin (adrenalin) pada pasien yang mengonsumsi obat jantung atau tekanan darah tertentu dalam jangka panjang, karena dapat memicu kenaikan gula darah. Pada lansia dengan gangguan ginjal, fungsi ginjal perlu diperiksa terlebih dahulu.

6. Terapi tambahan

Beberapa terapi tambahan dapat dipertimbangkan bersama perawatan pembersihan karang gigi (semuanya rekomendasi B):

  • Terapi fotodinamik antimikroba, yaitu penggunaan sinar khusus untuk membunuh bakteri. Dalam satu penelitian, kombinasi terapi ini dengan pembersihan karang gigi menurunkan HbA1c dari 7,85% menjadi 7,24% setelah 3 bulan. Namun biayanya relatif mahal dan prosedurnya belum seragam.

  • Suplemen propolis. Satu penelitian menunjukkan HbA1c turun dari 8,73% menjadi 7,75% setelah 24 minggu. Namun peneliti menegaskan bahwa keamanan jangka panjang, dosis, dan lama pemakaiannya belum jelas.

  • Antibiotik lokal yang ditempatkan langsung di kantong gusi. Obat ini efektif dalam jangka pendek, tetapi manfaat jangka panjangnya terbatas.

Para peneliti menegaskan bahwa pembersihan karang gigi tetap menjadi perawatan utama, sedangkan terapi tambahan hanya pelengkap.

7. Jadwal kontrol

  • Penyandang diabetes tipe 2 yang baru terdiagnosis atau belum mengalami periodontitis dianjurkan menjalani pemeriksaan gusi dasar setiap tahun.

  • Bagi yang sudah menjalani perawatan periodontitis, jarak kontrol disesuaikan dengan kondisi gusi dan risiko masing-masing, yaitu setiap 3 hingga 12 bulan. Biasanya kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah perawatan. Bila kondisi gusi stabil, jarak kontrol dapat diperpanjang menjadi 4–6 bulan atau lebih.

  • Kadar HbA1c juga perlu dipantau selama masa kontrol, karena pengendalian gula darah sangat memengaruhi keberhasilan perawatan gusi.

Catatan Penting dari Peneliti

Para peneliti menyampaikan beberapa catatan:

  • Tidak semua rekomendasi sama kuatnya. Sebagian rekomendasi didukung bukti kuat dari tinjauan sistematis, tetapi banyak juga yang hanya berdasarkan pendapat ahli, termasuk rekomendasi pola makan yang diakui tingkat buktinya tidak tinggi.

  • Sebagian besar bukti berasal dari luar negeri. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan layanan kesehatan setempat.

  • Pertimbangkan pilihan pasien. Tenaga kesehatan diharapkan menerapkan rekomendasi ini sesuai situasi klinis dan keinginan pasien.

Kesimpulan

Ringkasan bukti ini menyediakan 27 rekomendasi praktis untuk mencegah dan menangani penyakit gusi pada penyandang diabetes tipe 2 tanpa operasi. Pesan utamanya adalah perlunya kerja sama erat antara dokter yang menangani diabetes dan dokter gigi: pemeriksaan gusi rutin bagi semua penyandang diabetes, pengendalian gula darah dan faktor risiko, kebiasaan membersihkan gigi dan sela gigi yang benar, pola makan sehat, perawatan gusi yang direncanakan dengan aman, serta kontrol berkala.

Bagi penyandang diabetes, pesannya: kesehatan gusi adalah bagian dari pengendalian diabetes. Periksakan gusi ke dokter gigi setidaknya setahun sekali, dan beri tahu dokter gigi bahwa Anda menyandang diabetes beserta obat-obat yang Anda konsumsi. Sikat gigi dua kali sehari, bersihkan sela gigi setiap hari, dan segera periksakan diri bila gusi mudah berdarah, bengkak, atau gigi terasa goyang. Jangan mengubah obat diabetes atau mengonsumsi suplemen seperti propolis tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Referensi

Sha H, Xu H, Zu H, Fan S, Shen X, Wang J, Yin W, Bu H, Liu Q. Summary of the best evidence for non-surgical intervention in periodontitis among patients with type 2 diabetes mellitus. Frontiers in Public Health. 2026;14:1792923. 

DOI: https://doi.org/10.3389/fpubh.2026.1792923

Carigi Indonesia October 23, 2026
Share this post
Tags
Archive
Cara Menyikat Gigi Seperti Sidik Jari: Unik dan Sulit Diubah