
Bisakah Kamera Mendeteksi Radang Gusi?
Pelajaran Penting dari Studi Terbaru tentang AI dan Deteksi Gingivitis
Gingivitis, atau radang gusi, adalah salah satu masalah kesehatan mulut paling umum di dunia. Gusi yang tampak merah, bengkak, dan mudah berdarah sering dianggap sepele, padahal bila tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang lebih serius. Seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), muncul harapan baru: apakah foto gusi yang diambil dengan kamera bisa membantu mendeteksi gingivitis sejak dini?
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Clinical Medicine mencoba menjawab pertanyaan ini—dan hasilnya memberikan perspektif yang sangat penting.
Mengapa Deteksi Dini Gingivitis Itu Penting?
Gingivitis diperkirakan memengaruhi 50–100% populasi dewasa di seluruh dunia. Meski sering tidak menimbulkan rasa sakit, peradangan gusi yang dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan jaringan penyangga gigi dan berujung pada kehilangan gigi.
Dalam praktik klinis, diagnosis gingivitis mengandalkan pemeriksaan langsung oleh dokter gigi, terutama melalui perdarahan saat probing (bleeding on probing/BOP) yang menjadi standar emas. Masalahnya, tanda perdarahan ini tidak bisa dinilai hanya dari foto, sehingga deteksi mandiri oleh pasien sering kali tidak akurat.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Penelitian ini bertujuan menilai apakah gingivitis dapat dideteksi secara andal melalui foto intraoral standar yang dianalisis menggunakan aplikasi berbasis AI.
Sebanyak 110 partisipan dilibatkan, dengan total 320 area gusi yang dapat dievaluasi. Setiap partisipan menjalani:
Pemeriksaan klinis lengkap oleh dokter gigi, termasuk penilaian BOP
Pengambilan foto intraoral menggunakan kamera khusus
Analisis foto oleh aplikasi AI yang dirancang untuk mengidentifikasi tanda-tanda gingivitis
Sebagai pembanding, dokter gigi yang sama juga melakukan penilaian visual terhadap foto-foto tersebut tanpa mengetahui hasil pemeriksaan klinis.
Hasil dari ketiga metode ini kemudian dibandingkan secara statistik untuk melihat tingkat kesesuaiannya.
Hasil Utama Penelitian
Temuan penelitian ini cukup tegas:
Kesesuaian antara hasil AI dan diagnosis klinis sangat rendah
Penilaian visual dokter gigi dari foto juga menunjukkan kesesuaian yang rendah
Menariknya, AI dan dokter gigi lebih sering sepakat satu sama lain dibandingkan dengan hasil pemeriksaan klinis
Dengan kata lain, baik manusia maupun AI mengalami kesulitan dalam mendeteksi gingivitis hanya berdasarkan tampilan visual.
Apa Arti Temuan Ini?
Penelitian ini menegaskan bahwa gingivitis bukan kondisi yang mudah dikenali hanya dari penampilan gusi. Banyak kasus peradangan tidak menunjukkan perubahan visual yang jelas, sementara tanda kunci seperti perdarahan tidak dapat ditangkap oleh kamera.
Meski teknologi AI menjanjikan, hasil ini menunjukkan bahwa aplikasi berbasis foto belum siap menggantikan pemeriksaan klinis langsung. Untuk saat ini, perannya masih terbatas sebagai alat pendukung, bukan alat diagnosis utama.
AI dalam Kedokteran Gigi: Harapan dan Batasan
Studi ini memberikan pengingat penting bahwa tidak semua masalah kesehatan bisa “dibaca” oleh kamera. Pengembangan AI di bidang kesehatan mulut masih membutuhkan:
Data pelatihan yang lebih luas
Integrasi dengan parameter klinis lain
Pendekatan yang lebih hati-hati dalam penggunaannya