Skip to Content

Deteksi Penyakit Sistemik Lewat Manifestasi Oral

September 22, 2026 by
Carigi Indonesia

Deteksi Penyakit Sistemik Lewat Manifestasi Oral

Deteksi Penyakit Sistemik Lewat Manifestasi Oral

Mulut Sebagai "Jendela Tubuh": Seberapa Jauh Mahasiswa Kedokteran Gigi Mengenali Tanda Penyakit Sistemik di Rongga Mulut?

Banyak penyakit yang sebenarnya berasal dari organ dalam tubuh—mulai dari gangguan pencernaan, infeksi virus, hingga kelainan darah—ternyata bisa memberikan "sinyal" lebih dulu di dalam mulut, jauh sebelum penyakit itu terdiagnosis secara resmi. Sariawan yang tak kunjung sembuh, gusi yang mudah berdarah, atau bercak putih di pipi bagian dalam, bisa jadi bukan sekadar masalah gigi biasa, melainkan tanda awal penyakit yang lebih serius di tubuh.

Pertanyaannya: seberapa siap calon dokter gigi mengenali tanda-tanda ini? Sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Damaskus, Suriah, mencoba menjawabnya dengan mensurvei ratusan mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi yang baru lulus. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Medicine pada tahun 2026.

Mengapa Ini Penting?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa ada sekitar 200 manifestasi oral (tanda-tanda yang muncul di rongga mulut) yang berkaitan dengan berbagai penyakit sistemik. Bahkan, diperkirakan lebih dari 90% penyakit sistemik pertama kali terdeteksi lewat pemeriksaan mulut. Karena itu, mulut sering disebut sebagai "cermin" atau "jendela" kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Peran dokter gigi masa kini pun sudah bergeser—bukan hanya menangani gigi berlubang atau gusi bermasalah, tapi juga ikut berperan dalam skrining awal berbagai penyakit, termasuk kanker mulut dan penyakit sistemik yang bermanifestasi di rongga mulut. Sayangnya, penelitian mengenai seberapa siap mahasiswa kedokteran gigi mengenali tanda-tanda ini masih sangat terbatas, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Apa yang Dilakukan Peneliti?

Peneliti menyebarkan kuesioner secara daring dan luring kepada 244 responden di Universitas Damaskus, terdiri dari mahasiswa kedokteran gigi tingkat klinik (semester akhir) dan dokter gigi yang baru menyelesaikan masa magang (internship). Kuesioner ini dirancang oleh tim ahli kedokteran gigi dan telah melalui uji coba awal (pilot study) untuk memastikan pertanyaannya jelas dan mudah dipahami.

Kuesioner terbagi menjadi beberapa bagian utama, menguji pengetahuan responden tentang tanda-tanda oral dari:

  1. Penyakit saluran cerna, seperti penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) dan penyakit Crohn.

  2. Infeksi virus, meliputi human papillomavirus (HPV), virus Epstein-Barr (EBV), hepatitis B dan C, serta COVID-19.

  3. Kelainan darah (hematologi), seperti keganasan darah, leukemia, dan anemia akibat kekurangan zat besi, vitamin B6, atau vitamin B12.

Setiap jawaban benar diberi skor, lalu tingkat pengetahuan responden dikelompokkan menjadi empat kategori: sangat baik (skor di atas 90%), baik (60–90%), cukup/menengah (30–60%), dan kurang (di bawah 30%).

Apa Hasil Temuannya?

Secara umum, hasil survei menunjukkan gambaran yang beragam—ada area yang dikuasai cukup baik, tapi ada juga celah pengetahuan yang cukup mencolok.

Sudah cukup paham soal penyakit pencernaan dan kelainan darah tertentu

Sebagian besar responden (91,8%) menyadari bahwa penyakit sistemik memang umumnya disertai gejala di rongga mulut—jadi secara konsep, kesadaran mereka sudah cukup baik. Pengetahuan tentang tanda oral penyakit radang usus tergolong baik (71,3% menjawab benar), meski pemahaman tentang tanda spesifik penyakit Crohn (yaitu gambaran "batu kerikil" atau cobblestone appearance di rongga mulut) hanya masuk kategori cukup (55,7%).

Untuk kelainan darah, pengetahuan tentang kondisi yang menyebabkan gusi berdarah spontan tergolong baik (62,3%), begitu pula pemahaman tentang radang lidah atau glositis (70,5%) yang berkaitan dengan anemia defisiensi zat besi.

Celah besar terlihat pada pengetahuan tentang infeksi virus

Di sinilah letak temuan yang paling mengkhawatirkan. Pengetahuan responden tentang tanda oral infeksi virus hepatitis B dan C tergolong kurang, dengan hanya 11,5% yang menjawab benar. Padahal, infeksi hepatitis kronis bisa memicu gejala di mulut seperti mulut kering (xerostomia) hingga penyakit gusi tertentu.

Pengetahuan tentang tanda oral COVID-19 juga tergolong kurang (28,85%)—hanya 14,3% responden yang mengenali gejala berupa lepuhan (vesikel) di mulut, meski 43,4% cukup mengenali gejala sariawan yang berkaitan dengan infeksi tersebut. Sementara itu, pengetahuan tentang virus yang berkaitan dengan kanker nasofaring (EBV dan HPV) hanya masuk kategori cukup (39,55%)—kurang dari separuh responden yang bisa mengidentifikasi EBV (48,4%) dan hanya sekitar sepertiga yang mengenali HPV (30,7%) sebagai penyebabnya.

Pengetahuan tinggi, tapi jarang diterapkan di praktik klinis

Temuan lain yang menarik: meski mayoritas responden memahami secara teori bahwa penyakit sistemik bisa muncul lewat gejala mulut, hanya 11,1% yang pernah benar-benar mendiagnosis penyakit sistemik berdasarkan temuan di mulut pasiennya. Artinya, ada jarak cukup lebar antara pengetahuan di bangku kuliah dengan penerapannya di praktik klinis sehari-hari.

Kabar baiknya, ketika ditanya langkah pemeriksaan lanjutan yang tepat bila menemukan luka di mulut yang dicurigai berkaitan dengan penyakit sistemik, sebagian besar responden (79,9%) sudah tahu bahwa pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis, dan 74,6% memahami perlunya pemeriksaan darah. Namun, hanya 24,2% yang memikirkan perlunya biopsi—menunjukkan masih ada celah pemahaman soal prosedur diagnostik lanjutan.

Mengapa Bisa Terjadi Kesenjangan Ini?

Para peneliti membandingkan temuan ini dengan penelitian sejenis di negara lain. Menariknya, tingkat pengetahuan mahasiswa Suriah tentang penyakit pencernaan justru tercatat lebih tinggi dibanding penelitian serupa di negara lain yang melibatkan dokter gigi yang sudah praktik. Diduga, hal ini karena mahasiswa tingkat klinik sedang aktif mengikuti kurikulum yang membahas topik ini secara mendalam, sehingga ingatan mereka masih relatif segar.

Sebaliknya, minimnya pengetahuan soal manifestasi oral COVID-19 dan hepatitis diduga berkaitan dengan kurangnya materi atau kampanye edukasi khusus mengenai topik ini di kurikulum maupun media informasi yang diakses mahasiswa—yang sebagian besar (98%) memang masih mengandalkan kuliah di kampus sebagai sumber utama pengetahuan mereka, sementara pemanfaatan jurnal ilmiah untuk memperluas wawasan masih sangat rendah (hanya 3,7%).

Kesimpulan

Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun mahasiswa kedokteran gigi Suriah sudah mendapatkan materi tentang penyakit sistemik di bangku kuliah, tingkat pemahaman mereka secara keseluruhan masih berada di level cukup/menengah, dengan kekuatan pada topik penyakit radang usus dan glositis, namun kelemahan mencolok pada pengenalan tanda oral infeksi virus—terutama hepatitis B dan C.

Yang tak kalah penting, kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan penerapannya di praktik klinis nyata masih cukup lebar. Temuan ini menjadi sinyal bagi institusi pendidikan kedokteran gigi untuk memperkuat pelatihan klinis praktis, memperluas materi tentang manifestasi oral penyakit menular, serta mendorong kolaborasi lintas disiplin ilmu antara dokter gigi dan dokter umum—supaya di masa depan, dokter gigi bisa benar-benar berperan sebagai garda terdepan dalam mendeteksi penyakit sistemik sejak dini, bukan hanya sekadar menangani masalah gigi dan mulut.

Sumber asli:

Al Beesh, F. A., Shams Aldeen, T., AlAfghani, J., Alazbah, S., & Aljoujou, A. (2026). A survey to evaluate the knowledge of Syrian dental students about oral manifestation of systemic diseases: A cross-sectional study. Medicine, 105(8), e47653. 

DOI: https://doi.org/10.1097/MD.0000000000047653

Carigi Indonesia September 22, 2026
Share this post
Tags
Archive
Cara Terbaik Membersihkan Soft Liner Gigi Tiruan