Skip to Content

Dampak Vape dan Rokok Tembakau pada Gusi

July 31, 2026 by
Carigi Indonesia

Dampak Vape dan Rokok Tembakau pada Gusi

Dampak Vape dan Rokok Tembakau pada Gusi

Tak Hanya Rokok Biasa, Vape Juga Berkaitan dengan Kerusakan Gusi

Bayangkan seseorang memutuskan berhenti dari rokok biasa dan beralih ke rokok elektrik atau perangkat "rokok yang dipanaskan". Alasannya masuk akal: produk-produk ini kerap dipasarkan sebagai pilihan yang lebih bersih dan tidak sekotor asap rokok konvensional. Tanpa bara, tanpa abu, aromanya pun lebih samar. Wajar bila banyak orang menganggapnya sebagai jalan tengah yang lebih aman termasuk untuk kesehatan mulut.

Namun sebuah penelitian terbaru dari Jepang menyodorkan kabar yang perlu dicerna dengan tenang: ketika bicara soal gusi dan jumlah gigi yang tersisa, produk-produk "modern" ini ternyata tidak benar-benar bebas risiko. Bahkan, dalam sejumlah ukuran, jejak yang ditinggalkannya di gusi tampak setara atau sedikit lebih dalam dibandingkan rokok biasa.

Konteks: Mengapa Rokok dan Gusi Selalu Berkaitan

Bahwa rokok konvensional buruk untuk kesehatan sudah jadi pengetahuan umum. Ia terkait dengan kanker, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan, dan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merenggut sekitar 8 juta nyawa setiap tahun di seluruh dunia.

Yang lebih jarang disadari adalah dampaknya pada mulut. Rokok merupakan salah satu faktor risiko utama periodontitis penyakit radang kronis pada jaringan penyangga gigi (gusi dan tulang di sekitarnya). Pada perokok, "kantong" di antara gusi dan gigi cenderung lebih dalam, tulang penyangga gigi lebih banyak terkikis, dan gigi lebih mudah tanggal. Semakin lama dan semakin banyak seseorang merokok, umumnya semakin parah pula kerusakan gusinya. Perokok juga cenderung memberi respons yang lebih lambat terhadap perawatan gusi dibandingkan bukan perokok.

Masalahnya, dalam satu-dua dekade terakhir muncul "pemain baru": rokok elektrik (yang memanaskan dan menguapkan cairan untuk dihirup) dan rokok yang dipanaskan atau heated tobacco (yang memanaskan daun tembakau tanpa membakarnya). Keduanya dipromosikan sebagai alternatif yang berpotensi lebih sedikit membahayakan. Tetapi karena masih relatif baru, bukti tentang efeknya pada gusi dan kehilangan gigi masih sangat terbatas dan itulah celah yang ingin diisi oleh penelitian ini.

Satu konteks penting: di Jepang, rokok elektrik yang mengandung nikotin dilarang dijual dan diproduksi. Karena itu, "rokok elektrik" di sana umumnya berisi cairan tanpa nikotin (terutama propilen glikol, gliserol, dan berbagai perisa), sedangkan "rokok yang dipanaskan" tetap menggunakan daun tembakau asli dan menghasilkan nikotin.

Apa yang Dilakukan Peneliti

Tim dari Sekolah Kedokteran Gigi Universitas Aichi Gakuin, bekerja sama dengan Asosiasi Dokter Gigi Aichi dan cabang Aichi dari Asosiasi Asuransi Kesehatan Jepang, mengumpulkan data dari para pekerja kantoran sebuah kelompok yang menarik karena mewakili orang dewasa usia produktif dalam kesehariannya.

Peserta awalnya berjumlah 512 karyawan dari 20 kantor milik 19 perusahaan. Antara Desember 2019 dan Maret 2020, mereka menjalani pemeriksaan gigi langsung oleh lima dokter gigi (yang sebelumnya sudah disamakan standar penilaiannya) sekaligus mengisi kuesioner mandiri. Data pemeriksaan kesehatan umum, termasuk indeks massa tubuh (BMI), diambil dari catatan asuransi kesehatan. Setelah menyisihkan peserta dengan data tidak lengkap atau yang sudah tidak bergigi, 473 orang dianalisis.

Apa saja yang dicatat? Secara sederhana, ada tiga hal utama:

  • Jumlah gigi yang masih tersisa (tidak termasuk gigi bungsu dan sisa akar).

  • Kondisi gusi, diukur dengan alat standar WHO. Dua ukuran utamanya adalah kedalaman "kantong" gusi (probing depth/PD) dan seberapa jauh jaringan penyangga gigi telah lepas dari posisi seharusnya (attachment loss/AL). Angka 4 mm atau lebih dipakai sebagai penanda kondisi yang sudah bermasalah.

  • Perilaku dan kebiasaan peserta lewat kuesioner: seberapa peduli mereka pada kesehatan mulut, punya dokter gigi langganan atau tidak, frekuensi menyikat gigi, pemakaian benang gigi atau sikat sela-gigi, rutinitas kontrol ke dokter gigi, kebiasaan minum alkohol, dan tentu saja status merokok.

Status merokok dibagi menjadi empat kelompok: bukan perokok, perokok rokok biasa, pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan, dan pengguna keduanya sekaligus.

Untuk mengurai keterkaitan antarfaktor, peneliti tidak berhenti pada perbandingan sederhana. Mereka menggunakan analisis statistik berlapis (multivariable linear regression) untuk menimbang banyak faktor sekaligus usia, jenis kelamin, kebiasaan kebersihan mulut, dan lainnya lalu pemodelan persamaan struktural (structural equation modelling) untuk memetakan bagaimana faktor-faktor itu saling memengaruhi, bukan sekadar apakah mereka berkaitan.

Temuan Utama: Semua Jenis Rokok Meninggalkan Jejak di Gusi

Setelah semua faktor lain diperhitungkan, polanya cukup konsisten: apa pun jenis rokoknya, gusi dan gigi ikut jadi korban.

Soal jumlah gigi, para perokok rata-rata memiliki 1,38 gigi lebih sedikit dibandingkan bukan perokok. Sebagai pembanding, setiap pertambahan satu tahun usia dikaitkan dengan berkurangnya sekitar 0,12 gigi jadi selisih akibat merokok itu setara dengan menua lebih dari satu dekade lebih cepat, khusus dari sisi kehilangan gigi.

Soal kondisi gusi, inilah bagian yang paling menyita perhatian. Dibandingkan bukan perokok, proporsi gigi dengan kantong gusi dalam (PD ≥ 4 mm) lebih tinggi pada:

  • pengguna rokok biasa: +15,4%

  • pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan: +17,9%

  • pengguna keduanya: +12,1%

Pola serupa muncul pada ukuran kerusakan penyangga gigi (AL ≥ 4 mm), dengan selisih dibandingkan bukan perokok sebesar +16,6% (rokok biasa), +19,2% (rokok elektrik/dipanaskan), dan +9,99% (keduanya).

Sebagai catatan yang menenangkan sekaligus penting: kebiasaan baik tetap terbukti melindungi. Mereka yang rutin memakai benang gigi atau sikat sela-gigi memiliki proporsi gigi bermasalah yang jauh lebih rendah sekitar 8% lebih sedikit untuk kantong gusi dalam, dan sekitar 7% lebih sedikit untuk kerusakan penyangga. Perempuan dan orang yang lebih muda juga cenderung memiliki kondisi gusi yang lebih baik.

"Efek Ganda": Rokok Merusak Gusi Sekaligus Menurunkan Kepedulian pada Mulut

Di sinilah letak temuan yang paling berharga dari penelitian ini. Lewat pemodelan struktural, peneliti menemukan bahwa rokok tampaknya bekerja lewat dua jalur sekaligus.

Jalur pertama bersifat langsung. Merokok dikaitkan dengan gusi yang lebih buruk terlepas dari seberapa rajin seseorang merawat mulutnya. Artinya, meski seorang perokok tekun menyikat gigi, zat-zat dalam rokok tetap tampak memberi tekanan tersendiri pada jaringan gusi.

Jalur kedua bersifat tidak langsung. Orang yang kurang peduli pada kesehatan mulut cenderung menjadi perokok dan orang yang kurang peduli itu juga cenderung memiliki kebiasaan kebersihan mulut yang buruk, yang pada gilirannya memperparah kondisi gusi. Dalam data ini, para perokok memang lebih jarang menyikat gigi, lebih jarang memakai alat bantu sela-gigi, dan lebih jarang kontrol rutin ke dokter gigi dibandingkan bukan perokok.

Dengan kata lain, merokok bukan hanya "menyerang" gusi secara biologis, tetapi juga kerap datang satu paket dengan gaya hidup yang kurang memperhatikan mulut. Kombinasi keduanya lah yang membuat kerusakan menumpuk. Kabar baiknya, pola ini juga menunjukkan titik ungkit yang jelas: menumbuhkan minat perokok terhadap kesehatan mulut misalnya lewat edukasi dan instruksi menyikat gigi berpotensi menjadi salah satu cara efektif menjaga gigi mereka.

Kejutan Kecil: Yang "Katanya Lebih Aman" Tak Selalu Lebih Ringan

Bila Anda memperhatikan angka-angka di atas, ada satu hal yang mungkin mengejutkan: dalam ukuran kantong gusi dalam dan kerusakan penyangga, pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan tidak tampak lebih baik daripada pengguna rokok biasa bahkan angkanya sedikit lebih tinggi.

Bagaimana ini bisa terjadi jika produk-produk itu menghasilkan lebih sedikit zat beracun? Peneliti menawarkan beberapa penjelasan yang masuk akal. Rokok yang dipanaskan memang menghasilkan lebih sedikit sebagian zat berbahaya (seperti karbon monoksida dan senyawa karsinogenik tertentu dari pembakaran), tetapi kadar nikotinnya serupa dengan rokok biasa dan nikotin sendiri berdampak pada jaringan gusi. Sementara itu, uap dari cairan rokok elektrik beraroma, dalam studi laboratorium, terbukti memicu peradangan dan stres oksidatif pada sel-sel jaringan penyangga gigi. Jadi, "lebih sedikit asap" tidak otomatis berarti "aman untuk gusi".

Namun dan ini penting angka yang tampak lebih tinggi ini belum bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa vape atau rokok panas lebih merusak daripada rokok biasa. Alasannya ada di bagian berikut.

Catatan Penting: Ini Kaitan, Belum Tentu Sebab-Akibat

Sebelum menarik kesimpulan terlalu jauh, ada beberapa hal yang perlu ditempatkan secara jujur dan peneliti sendiri sangat terbuka soal ini.

Pertama, studi ini bersifat potong-lintang (cross-sectional): ia memotret kondisi pada satu titik waktu. Karena itu, ia hanya bisa menunjukkan adanya kaitan, bukan membuktikan bahwa rokok menyebabkan kerusakan gusi, apalagi arah sebab-akibatnya. Untuk itu diperlukan studi jangka panjang yang mengikuti orang dari waktu ke waktu.

Kedua, dan ini kunci untuk memahami "kejutan" tadi: kuesioner hanya menanyakan status merokok saat ini, tanpa mendata riwayat merokok di masa lalu. Sangat mungkin banyak pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan adalah mantan perokok rokok biasa. Jika demikian, kerusakan gusi yang terlihat bisa jadi merupakan warisan dari kebiasaan merokok lama mereka, bukan murni akibat produk barunya. Karena itu, tidak bisa disimpulkan bahwa gusi memburuk semata-mata karena rokok elektrik atau rokok yang dipanaskan.

Ketiga, jumlah pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan dalam studi ini relatif kecil, sehingga sebagian estimasinya memiliki rentang ketidakpastian yang lebar. Kuesioner juga tidak merinci apakah perangkat yang dipakai mengandung cairan, daun tembakau, atau nikotin padahal komponennya bisa berbeda-beda dampaknya.

Selain itu, ada keterbatasan yang lazim ditemui: pesertanya terbatas pada pekerja di satu wilayah dan sejumlah perusahaan tertentu, sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh masyarakat. Pemeriksaan gusi memakai metode indeks WHO yang praktis tetapi tidak sedetail pemeriksaan lengkap, tanpa foto rontgen. Sejumlah faktor lain yang bisa memengaruhi seperti status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, pola makan, dan status diabetes tidak dikumpulkan dalam studi ini.

Meski begitu, temuannya selaras dengan banyak penelitian sebelumnya yang mengaitkan merokok dengan gusi yang lebih buruk dan gigi yang lebih cepat tanggal, dan studi ini memperkaya bukti tersebut dengan menyorot produk-produk tembakau generasi baru pada populasi pekerja Jepang.

Apa Artinya untuk Kita

Dilucuti dari istilah teknisnya, pesan penelitian ini cukup lugas dan tidak berlebihan.

Yang pertama: jangan buru-buru menganggap rokok elektrik atau rokok yang dipanaskan sebagai pilihan yang aman untuk mulut. Label "lebih bersih" atau "lebih sedikit asap" tidak dengan sendirinya berarti ramah untuk gusi dan gigi. Bila tujuannya benar-benar menjaga kesehatan mulut (dan tubuh secara keseluruhan), berhenti sepenuhnya tetap menjadi pilihan yang paling didukung bukti.

Yang kedua: kebiasaan kecil sehari-hari terbukti berarti. Rutin menyikat gigi, memakai benang gigi atau sikat sela-gigi, serta kontrol berkala ke dokter gigi konsisten dikaitkan dengan gusi yang lebih sehat dan ini berlaku untuk siapa pun, perokok maupun bukan.

Yang ketiga, ini pesan bagi tempat kerja dan layanan kesehatan: karena para peneliti menemukan bahwa banyak perokok datang "satu paket" dengan kepedulian yang rendah terhadap mulut, dukungan berhenti merokok dan edukasi kesehatan mulut di lingkungan kerja maupun klinik gigi bisa menjadi cara yang efektif untuk menjaga gigi orang dewasa usia produktif. Kolaborasi antara dokter gigi dan tenaga ahli berhenti merokok termasuk pemanfaatan alat bantu seperti permen karet atau koyo nikotin disebut sebagai salah satu jalan yang menjanjikan.

Intinya, menjaga gusi dan gigi bukan sekadar soal rajin menyikat. Apa yang kita hirup pun ikut menentukan dan dalam hal ini, tidak ada versi rokok yang benar-benar "gratis" bagi senyum kita. Tentu saja, temuan ini tidak menggantikan pemeriksaan langsung ke dokter gigi; bila Anda memiliki keluhan pada gusi atau ingin berhenti merokok, konsultasi langsung tetap menjadi langkah terbaik.

Sumber Artikel Asli & Referensi

Judul: Associations among smoking status, including the use of cigarettes, electronic cigarettes, and heated cigarettes, periodontal condition, and tooth loss in employed Japanese adults: a cross-sectional study

Penulis: Hiroko Hashimoto, Yoshihiro Shimazaki, Toshiya Nonoyama, Hisanao Kito, Nobuhiro Segawa, Makoto Okai, Noriyasu Uchibori, Sayuri Tomaru, Misako Kawahara

Institusi: Sekolah Kedokteran Gigi, Universitas Aichi Gakuin (Nagoya, Jepang); Asosiasi Dokter Gigi Aichi; dan Asosiasi Asuransi Kesehatan Jepang Cabang Aichi

Jurnal: BMC Oral Health, Vol. 25, Artikel 1590 (2025) — akses terbuka (open access), terbit 10 Oktober 2025

DOI: 10.1186/s12903-025-07003-0

Pendanaan: Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) KAKENHI, nomor hibah 22K10353.

Catatan: Studi ini bersifat observasional (potong-lintang) sehingga menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat. Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari dokter gigi maupun tenaga medis profesional.

Carigi Indonesia July 31, 2026
Share this post
Tags
Archive
Urutan Flossing dan Sikat Gigi Efektif