Dampak Vape dan Rokok Tembakau pada Gusi

Tak Hanya Rokok Biasa, Vape Juga Berkaitan dengan Kerusakan Gusi
Bayangkan seseorang memutuskan berhenti dari rokok biasa dan beralih ke rokok elektrik atau perangkat "rokok yang dipanaskan". Alasannya masuk akal: produk-produk ini kerap dipasarkan sebagai pilihan yang lebih bersih dan tidak sekotor asap rokok konvensional. Tanpa bara, tanpa abu, aromanya pun lebih samar. Wajar bila banyak orang menganggapnya sebagai jalan tengah yang lebih aman termasuk untuk kesehatan mulut.
Namun sebuah penelitian terbaru dari Jepang menyodorkan kabar yang perlu dicerna dengan tenang: ketika bicara soal gusi dan jumlah gigi yang tersisa, produk-produk "modern" ini ternyata tidak benar-benar bebas risiko. Bahkan, dalam sejumlah ukuran, jejak yang ditinggalkannya di gusi tampak setara atau sedikit lebih dalam dibandingkan rokok biasa.
Konteks: Mengapa Rokok dan Gusi Selalu Berkaitan
Bahwa rokok konvensional buruk untuk kesehatan sudah jadi pengetahuan umum. Ia terkait dengan kanker, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan, dan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merenggut sekitar 8 juta nyawa setiap tahun di seluruh dunia.
Yang lebih jarang disadari adalah dampaknya pada mulut. Rokok merupakan salah satu faktor risiko utama periodontitis penyakit radang kronis pada jaringan penyangga gigi (gusi dan tulang di sekitarnya). Pada perokok, "kantong" di antara gusi dan gigi cenderung lebih dalam, tulang penyangga gigi lebih banyak terkikis, dan gigi lebih mudah tanggal. Semakin lama dan semakin banyak seseorang merokok, umumnya semakin parah pula kerusakan gusinya. Perokok juga cenderung memberi respons yang lebih lambat terhadap perawatan gusi dibandingkan bukan perokok.
Masalahnya, dalam satu-dua dekade terakhir muncul "pemain baru": rokok elektrik (yang memanaskan dan menguapkan cairan untuk dihirup) dan rokok yang dipanaskan atau heated tobacco (yang memanaskan daun tembakau tanpa membakarnya). Keduanya dipromosikan sebagai alternatif yang berpotensi lebih sedikit membahayakan. Tetapi karena masih relatif baru, bukti tentang efeknya pada gusi dan kehilangan gigi masih sangat terbatas dan itulah celah yang ingin diisi oleh penelitian ini.
Satu konteks penting: di Jepang, rokok elektrik yang mengandung nikotin dilarang dijual dan diproduksi. Karena itu, "rokok elektrik" di sana umumnya berisi cairan tanpa nikotin (terutama propilen glikol, gliserol, dan berbagai perisa), sedangkan "rokok yang dipanaskan" tetap menggunakan daun tembakau asli dan menghasilkan nikotin.
Apa yang Dilakukan Peneliti
Tim dari Sekolah Kedokteran Gigi Universitas Aichi Gakuin, bekerja sama dengan Asosiasi Dokter Gigi Aichi dan cabang Aichi dari Asosiasi Asuransi Kesehatan Jepang, mengumpulkan data dari para pekerja kantoran sebuah kelompok yang menarik karena mewakili orang dewasa usia produktif dalam kesehariannya.
Peserta awalnya berjumlah 512 karyawan dari 20 kantor milik 19 perusahaan. Antara Desember 2019 dan Maret 2020, mereka menjalani pemeriksaan gigi langsung oleh lima dokter gigi (yang sebelumnya sudah disamakan standar penilaiannya) sekaligus mengisi kuesioner mandiri. Data pemeriksaan kesehatan umum, termasuk indeks massa tubuh (BMI), diambil dari catatan asuransi kesehatan. Setelah menyisihkan peserta dengan data tidak lengkap atau yang sudah tidak bergigi, 473 orang dianalisis.
Apa saja yang dicatat? Secara sederhana, ada tiga hal utama:
Jumlah gigi yang masih tersisa (tidak termasuk gigi bungsu dan sisa akar).
Kondisi gusi, diukur dengan alat standar WHO. Dua ukuran utamanya adalah kedalaman "kantong" gusi (probing depth/PD) dan seberapa jauh jaringan penyangga gigi telah lepas dari posisi seharusnya (attachment loss/AL). Angka 4 mm atau lebih dipakai sebagai penanda kondisi yang sudah bermasalah.
Perilaku dan kebiasaan peserta lewat kuesioner: seberapa peduli mereka pada kesehatan mulut, punya dokter gigi langganan atau tidak, frekuensi menyikat gigi, pemakaian benang gigi atau sikat sela-gigi, rutinitas kontrol ke dokter gigi, kebiasaan minum alkohol, dan tentu saja status merokok.
Status merokok dibagi menjadi empat kelompok: bukan perokok, perokok rokok biasa, pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan, dan pengguna keduanya sekaligus.
Untuk mengurai keterkaitan antarfaktor, peneliti tidak berhenti pada perbandingan sederhana. Mereka menggunakan analisis statistik berlapis (multivariable linear regression) untuk menimbang banyak faktor sekaligus usia, jenis kelamin, kebiasaan kebersihan mulut, dan lainnya lalu pemodelan persamaan struktural (structural equation modelling) untuk memetakan bagaimana faktor-faktor itu saling memengaruhi, bukan sekadar apakah mereka berkaitan.
Temuan Utama: Semua Jenis Rokok Meninggalkan Jejak di Gusi
Setelah semua faktor lain diperhitungkan, polanya cukup konsisten: apa pun jenis rokoknya, gusi dan gigi ikut jadi korban.
Soal jumlah gigi, para perokok rata-rata memiliki 1,38 gigi lebih sedikit dibandingkan bukan perokok. Sebagai pembanding, setiap pertambahan satu tahun usia dikaitkan dengan berkurangnya sekitar 0,12 gigi jadi selisih akibat merokok itu setara dengan menua lebih dari satu dekade lebih cepat, khusus dari sisi kehilangan gigi.
Soal kondisi gusi, inilah bagian yang paling menyita perhatian. Dibandingkan bukan perokok, proporsi gigi dengan kantong gusi dalam (PD ≥ 4 mm) lebih tinggi pada:
pengguna rokok biasa: +15,4%
pengguna rokok elektrik/rokok yang dipanaskan: +17,9%
pengguna keduanya: +12,1%