Skip to Content

Dampak Radang Gusi Ibu Hamil bagi Kualitas Hidup

August 3, 2026 by
Carigi Indonesia

Dampak Radang Gusi Ibu Hamil bagi Kualitas Hidup

Dampak Radang Gusi Ibu Hamil bagi Kualitas Hidup

Jangan Anggap Sepele Radang Gusi Saat Hamil: Dampaknya Tak Hanya pada Mulut, Tapi Juga Kualitas Hidup Ibu 

Bayangkan seorang ibu yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya. Ia rutin memeriksakan kandungan, menjaga pola makan, dan berusaha melakukan yang terbaik untuk sang bayi. Namun ada satu bagian tubuh yang kerap luput dari perhatian selama masa ini: mulut dan khususnya, gusi.

Padahal selama kehamilan, gusi justru menjadi salah satu bagian tubuh yang paling rentan. Sebuah penelitian terbaru dari Brasil menemukan bahwa kondisi gusi ibu hamil bukan sekadar urusan sakit gigi biasa. Semakin parah radang gusinya, semakin berat pula dampaknya pada kualitas hidup sehari-hari sang ibu. Dan yang lebih mengejutkan: sekadar "sudah pernah ke dokter gigi" ternyata belum tentu cukup untuk mencegahnya.

Ketika Kehamilan Diam - Diam Mengubah Kondisi Gusi

Kehamilan membawa gelombang perubahan hormon yang besar. Peningkatan hormon estrogen dan progesteron membuat respons peradangan pada gusi menjadi jauh lebih sensitif terhadap tumpukan plak dan bakteri di mulut. Akibatnya, gusi lebih mudah meradang, bengkak, dan berdarah bahkan pada ibu yang sebelumnya jarang bermasalah dengan giginya.

Perubahan ini membuat ibu hamil berisiko lebih tinggi mengalami penyakit gusi, mulai dari gingivitis (radang gusi tahap awal) hingga periodontitis (radang yang sudah merusak jaringan penyangga gigi). Menurut tinjauan ilmiah, sekitar 40% ibu hamil di dunia diperkirakan mengalami periodontitis.

Masalahnya tidak berhenti di mulut. Berbagai penelitian mengaitkan periodontitis pada masa kehamilan dengan sejumlah risiko yang lebih serius, seperti preeklamsia, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Dengan kata lain, kesehatan gusi ibu bisa ikut menyentuh kesehatan bayi yang dikandungnya.

"Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Mulut": Ukuran yang Sering Terlupakan

Selama ini, kesehatan mulut biasanya diukur dari hal-hal klinis: berapa banyak gigi berlubang, seberapa dalam kantong gusi, dan seterusnya. Namun ada sisi lain yang tak kalah penting, yaitu bagaimana kondisi mulut memengaruhi hidup seseorang secara nyata istilahnya kualitas hidup terkait kesehatan mulut (dalam bahasa Inggris disingkat OHRQoL).

Untuk mengukurnya, para peneliti menggunakan kuesioner bernama OHIP-14. Kuesioner ini menanyakan hal-hal yang sangat membumi: apakah gigi atau mulut membuat seseorang kesulitan mengunyah, merasakan nyeri, merasa canggung, terganggu secara emosional, atau bahkan enggan bersosialisasi. Semakin tinggi skornya, semakin besar beban yang dirasakan.

Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya bertanya "seberapa parah gusinya?", tetapi juga "seberapa besar kondisi mulut itu mengganggu hidup si ibu?"

Apa yang Dilakukan Para Peneliti

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Bauru, Universitas São Paulo, mengumpulkan data dari 104 ibu hamil yang menjalani perawatan di layanan kesehatan primer milik pemerintah Brasil (dikenal sebagai SUS sistem kesehatan publik gratis di sana). Data dikumpulkan dari sepuluh unit layanan kesehatan di Kota Bauru, antara Juli 2024 dan Agustus 2025.

Semua peserta adalah ibu hamil pada trimester ketiga (usia kehamilan minimal 27 minggu), berusia 18–40 tahun. Alasannya, pada tahap ini perubahan gusi akibat hormon biasanya sudah paling terlihat, dan kunjungan pemeriksaan kehamilan juga lebih sering sehingga wawancara dan pemeriksaan gigi bisa dilakukan bersamaan.

Untuk mempertajam perbandingan, peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok berdasarkan skor OHIP-14:

  • Kelompok 1 (56 ibu): merasakan dampak sedang hingga berat pada kualitas hidup (skor OHIP-14 di atas 9).

  • Kelompok 2 (48 ibu): sama sekali tidak merasakan dampak (skor OHIP-14 = 0).

Ibu dengan dampak ringan sengaja tidak dimasukkan, agar perbedaan antara "sangat terganggu" dan "tidak terganggu" terlihat jelas.

Setiap ibu kemudian diwawancarai secara terstandar dan menjalani pemeriksaan gusi menyeluruh (enam titik pada setiap gigi) oleh pemeriksa terlatih. Peneliti mencatat kedalaman kantong gusi, tingkat kerusakan jaringan penyangga gigi, pendarahan saat diperiksa, hingga banyaknya plak. Selain itu, dikumpulkan pula data pendidikan, penghasilan keluarga, kebiasaan menyikat gigi, serta apakah si ibu pernah mendapat pemeriksaan gigi selama kehamilan.

Tiga Faktor yang Paling Menentukan

Setelah semua data diolah secara statistik, muncul tiga faktor yang secara mandiri berkaitan dengan kualitas hidup yang lebih buruk artinya, ketiganya tetap berpengaruh bahkan setelah faktor-faktor lain diperhitungkan.

1. Tingkat pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seorang ibu, semakin kecil kemungkinan ia mengalami penurunan kualitas hidup yang berat. Setiap tambahan satu tahun sekolah dikaitkan dengan sedikit penurunan risiko dan efek ini terus terakumulasi seiring makin panjangnya masa pendidikan. Menariknya, yang berpengaruh di sini adalah pendidikan, bukan penghasilan; perbedaan pendapatan keluarga tidak terbukti signifikan.

2. Absennya perawatan gigi selama kehamilan. Ibu yang tidak pernah menjalani satu pun pemeriksaan gigi selama hamil memiliki kemungkinan sekitar 49% lebih tinggi mengalami penurunan kualitas hidup, dibandingkan ibu yang setidaknya pernah sekali diperiksa.

3. Tingkat keparahan radang gusi (periodontitis). Di sini muncul pola yang para ilmuwan sebut dose–response semakin parah penyakitnya, semakin besar dampaknya. Ibu dengan periodontitis tahap II memiliki kemungkinan sekitar 2,5 kali lebih tinggi mengalami penurunan kualitas hidup, sementara mereka dengan tahap III mencapai hampir 3 kali lebih tinggi, dibandingkan ibu tanpa periodontitis. (Tahap I yang paling ringan belum menunjukkan perbedaan yang meyakinkan.)

Gambaran ini diperkuat oleh data mentahnya: di Kelompok 1 (yang paling terganggu), sebanyak 71,4% ibu terdiagnosis periodontitis jauh lebih tinggi dibanding 25% pada Kelompok 2. Mereka juga cenderung lebih jarang menyikat gigi setiap hari. Dan bila ditanya sisi mana dari hidup yang paling terganggu, jawaban yang paling menonjol bukanlah rasa sakit fisik semata, melainkan ketidaknyamanan psikologis perasaan tertekan dan terganggu secara emosional akibat kondisi mulutnya.

Sudah ke Dokter Gigi, Tapi Belum Tentu Tertangani

Inilah bagian paling penting dari penelitian ini. Sekilas, angkanya terdengar menggembirakan: 75% dari seluruh peserta tercatat pernah menjalani setidaknya satu pemeriksaan gigi selama kehamilan. Brasil memang telah berinvestasi besar memperluas layanan kesehatan ibu dan anak, termasuk perawatan gigi, melalui program-program nasional mereka.

Namun para peneliti mengingatkan agar tidak terburu-buru merasa puas. Dalam data mereka, "pernah diperiksa" hanya berarti minimal satu kali kunjungan tanpa memastikan apa yang benar-benar terjadi di kunjungan itu. Dalam praktik, banyak kunjungan bersifat pencegahan saja dan tidak selalu mencakup diagnosis maupun pengobatan penyakit gusi.

Dengan kata lain, penyakit gusi bisa tetap dibiarkan tak tertangani meski aksesnya secara angka sudah tinggi. Peneliti bahkan menyoroti bahwa pendanaan layanan yang dikaitkan dengan target jumlah kunjungan berisiko mendorong "sekadar hadir" ketimbang benar-benar menyembuhkan. Pesannya jelas: memperbanyak jumlah kunjungan saja tidak cukup yang dibutuhkan adalah perawatan yang benar-benar menuntaskan masalah.


Apa Artinya bagi Kita

Meski penelitian ini dilakukan di Brasil, pesannya relevan di mana pun, termasuk di Indonesia. Kehamilan bukan alasan untuk menunda perawatan gigi. Sebaliknya, justru pada masa inilah gusi paling butuh perhatian.

Kabar baiknya, perawatan gigi selama kehamilan umumnya aman bila dilakukan sesuai indikasi termasuk pembersihan karang gigi dan penanganan radang gusi. Sayangnya, masih ada anggapan keliru, baik di kalangan ibu hamil maupun sebagian tenaga kesehatan, bahwa "lebih baik menunggu sampai melahirkan." Anggapan inilah yang justru bisa membuat masalah menumpuk.

Penelitian ini juga menyoroti sisi keadilan sosial: ibu dengan pendidikan lebih rendah cenderung lebih rentan. Karena itu, edukasi kesehatan mulut yang mudah dipahami bukan hanya penyediaan layanan menjadi bagian penting dari solusi.

Catatan Penting

Seperti semua penelitian, studi ini punya keterbatasan yang perlu dipahami. Karena desainnya bersifat potong-lintang (memotret satu titik waktu), hasilnya menunjukkan keterkaitan, bukan sebab-akibat. Ada kemungkinan hubungan berjalan dua arah: ibu yang merasa kualitas hidupnya buruk boleh jadi jadi kurang merawat diri, sehingga gusinya ikut memburuk.

Selain itu, jumlah peserta relatif kecil (104 ibu), hanya diambil dari layanan publik di satu kota, dan terbatas pada trimester ketiga sehingga hasilnya belum tentu bisa langsung digeneralisasi ke semua kelompok ibu hamil. Data kebiasaan seperti frekuensi menyikat gigi juga bersumber dari laporan pribadi, yang rentan bias. Para peneliti menyarankan studi lanjutan yang lebih besar dan mengikuti ibu sejak sebelum hamil hingga melahirkan untuk memperjelas gambaran ini.

Kesimpulan

Penelitian ini mengingatkan bahwa kesehatan mulut ibu hamil lebih dari sekadar urusan estetika atau rasa sakit sesaat. Tiga hal pendidikan yang lebih rendah, tidak adanya pemeriksaan gigi selama hamil, dan radang gusi yang lebih parah sama-sama berkaitan dengan menurunnya kualitas hidup ibu, bahkan menyentuh sisi emosionalnya.

Namun temuan yang paling menggugah justru soal kualitas layanan: sudah pernah ke dokter gigi ternyata belum menjamin masalah tertangani. Bagi ibu hamil, pesannya sederhana namun berharga jangan ragu memeriksakan dan merawat gigi selama kehamilan, dan pastikan perawatan itu benar-benar menyasar kesehatan gusi, bukan sekadar formalitas kunjungan. Merawat mulut, pada akhirnya, adalah bagian dari merawat ibu dan bayinya sekaligus.

Sumber Artikel Asli

Zinezi Y, Pirondi AB, Paranhos LR, Pucca Junior GA, Souza TM, Bastos RS, Buzalaf MAR, Foratori-Junior GA. Socioeconomic, access-related, and periodontal factors associated with oral health-related quality of life among pregnant women in primary health care: a cross-sectional study. BMC Pregnancy and Childbirth. 2026;26(1):519.

DOI: 10.1186/s12884-026-09009-0

Artikel jurnal ini bersifat akses terbuka (open access) dan dapat dibaca secara lengkap melalui tautan DOI di atas.

Carigi Indonesia August 3, 2026
Share this post
Tags
Archive
Bakteri Air Liur Penanda Karsinoma Sel Skuamosa Mulut