Skip to Content

Saat Mulut Kering Mengubah Dunia Mikroba

February 10, 2026 by
Carigi Indonesia

mulut kering

Saat Mulut Kering Mengubah Dunia Mikroba

Dampak Pengobatan Xerostomia pada Mikrobioma Mulut pada Sindrom Sjögren

Penyakit autoimun yang dampaknya terasa setiap hari

Sindrom Sjögren adalah penyakit autoimun kronis yang sering kali luput dari perhatian, meskipun dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar penghasil cairan, terutama kelenjar ludah dan air mata. Akibatnya, penderita mengalami mulut dan mata kering secara menetap.

Keluhan mulut kering atau xerostomia bukan sekadar rasa tidak nyaman. Kondisi ini meningkatkan risiko gigi berlubang, radang gusi, infeksi jamur mulut, serta kesulitan makan dan berbicara. Di balik gejala tersebut, terjadi perubahan penting pada mikrobioma mulut—komunitas mikroorganisme yang secara normal hidup seimbang di rongga mulut.

Sebuah artikel ulasan yang dipublikasikan di Frontiers in Cellular and Infection Microbiology membahas pertanyaan penting: bagaimana pengobatan xerostomia pada sindrom Sjögren memengaruhi mikrobioma mulut?

Peran saliva: lebih dari sekadar cairan

Saliva memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan mulut. Selain membantu proses makan dan berbicara, saliva membersihkan sisa makanan, menetralkan asam, serta menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.

Pada sindrom Sjögren, produksi saliva menurun drastis. Kondisi ini membuat sisa makanan dan bakteri bertahan lebih lama di rongga mulut, menciptakan lingkungan yang lebih asam dan mendukung pertumbuhan mikroba penyebab penyakit. Berbagai penelitian menunjukkan peningkatan bakteri yang berkaitan dengan karies dan penyakit periodontal, seperti Streptococcus mutans, Lactobacillus, Porphyromonas gingivalis, dan Fusobacterium nucleatum. Jamur Candida albicans juga lebih sering ditemukan, meningkatkan risiko kandidiasis oral.

Apa yang dikaji oleh para peneliti?

Artikel ini merupakan tinjauan pustaka, bukan penelitian tunggal. Penulis merangkum dan menganalisis berbagai studi klinis dan eksperimental yang membahas hubungan antara:

  • xerostomia pada sindrom Sjögren,

  • perubahan mikrobioma mulut, dan

  • efek berbagai terapi yang digunakan untuk mengatasi mulut kering.

Fokus utama diarahkan pada terapi yang umum digunakan, baik obat-obatan maupun pendekatan non-farmakologis.

Obat perangsang saliva: meredakan gejala, dampak mikroba terbatas

Pilocarpine dan cevimeline adalah obat yang paling sering diresepkan untuk merangsang produksi saliva. Keduanya bekerja dengan menstimulasi reseptor muskarinik pada kelenjar ludah.

Ulasan ini menunjukkan bahwa pilocarpine efektif mengurangi keluhan mulut kering, tetapi tidak terbukti secara signifikan mengubah risiko gigi berlubang, penyakit gusi, maupun infeksi jamur. Dengan kata lain, obat ini membantu mengurangi gejala, namun tidak banyak menggeser komposisi utama mikrobioma mulut.

Untuk cevimeline, data yang tersedia masih terbatas. Meski mekanisme kerjanya mirip dengan pilocarpine, bukti langsung mengenai dampaknya terhadap mikrobioma mulut masih minim. Penulis menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk memahami efek jangka panjang obat ini.

Permen karet bebas gula dan saliva buatan

Selain obat, pendekatan sederhana juga sering digunakan. Permen karet bebas gula, terutama yang mengandung xylitol, dapat merangsang aliran saliva dan membantu menetralkan asam. Beberapa studi menunjukkan xylitol berpotensi menekan bakteri penyebab karies dan penyakit periodontal, meskipun dampaknya terhadap keseluruhan mikrobioma relatif kecil.

Saliva buatan dirancang untuk meniru sifat saliva alami. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada komposisi bahan. Beberapa produk mampu menekan pertumbuhan mikroorganisme tertentu, seperti Candida albicans, sementara yang lain hampir tidak menunjukkan efek antimikroba. Secara umum, saliva buatan membantu meredakan keluhan, tetapi belum mampu menggantikan fungsi biologis saliva secara utuh.

Implikasi bagi pasien dan tenaga kesehatan

Pesan utama dari ulasan ini jelas: terapi xerostomia terutama bersifat simptomatik. Perbaikan kelembapan mulut memang penting, tetapi belum tentu cukup untuk mengembalikan keseimbangan mikrobioma yang telah terganggu.

Penulis menyoroti pentingnya:

  • penelitian lebih lanjut tentang dampak tiap terapi terhadap mikrobioma mulut,

  • identifikasi mikroorganisme yang berpotensi menjadi penanda (biomarker) sindrom Sjögren, dan

  • pengembangan pendekatan baru, termasuk terapi berbasis mikrobioma, untuk menjaga kesehatan mulut jangka panjang.

Kesimpulan

Xerostomia pada sindrom Sjögren bukan sekadar gejala ringan, melainkan kondisi yang berkaitan erat dengan perubahan mikrobioma mulut dan risiko penyakit oral. Pengobatan yang ada saat ini efektif meredakan keluhan, tetapi dampaknya terhadap keseimbangan mikroorganisme masih terbatas dan belum sepenuhnya dipahami.

Pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara saliva, mikrobioma, dan terapi diharapkan dapat membuka jalan menuju perawatan yang lebih menyeluruh dan personal bagi penderita sindrom Sjögren di masa depan.

Referensi Artikel Asli

Muszyński D, Kucharski R, Marek-Trzonkowska N, dkk.

Treatment of xerostomia in Sjögren’s syndrome – what effect does it have on the oral microbiome?

Frontiers in Cellular and Infection Microbiology. 2025;15:1484951.

DOI: 10.3389/fcimb.2025.1484951 



Carigi Indonesia February 10, 2026
Share this post
Tags
Archive
Kecerdasan Buatan dan Foto Gigi: Cara Baru Memetakan Masalah Gigi Berlubang