Dampak Gigi Susu Tanggal Dini pada Susunan Gigi Anak

Studi Klinis Berskala Besar Mengungkap Dampak Kehilangan Gigi Sulung Dini terhadap Maloklusi
Gigi susu sering dianggap tidak terlalu penting karena nantinya akan digantikan oleh gigi permanen. Padahal, peran gigi sulung sangat krusial dalam menjaga ruang, mengarahkan pertumbuhan rahang, dan memastikan susunan gigi tetap harmonis.
Sebuah penelitian klinis terbaru yang dipublikasikan di jurnal Current Health Sciences Journal menunjukkan bahwa kehilangan gigi sulung terlalu dini berhubungan erat dengan meningkatnya kejadian maloklusi (susunan gigi tidak normal) pada anak-anak.
Mengapa Kehilangan Gigi Susu Dini Menjadi Masalah?
Secara alami, gigi sulung berfungsi sebagai penjaga ruang bagi gigi permanen yang akan tumbuh. Jika gigi ini tanggal lebih awal—umumnya akibat karies—gigi di sekitarnya dapat bergeser ke ruang kosong tersebut.
Akibatnya, panjang lengkung gigi berkurang dan arah erupsi gigi permanen terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan:
gigi berjejal (crowding),
celah yang tidak normal,
serta gangguan hubungan gigitan rahang.
Maloklusi bukan hanya masalah estetika, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi mengunyah, bicara, pernapasan, hingga kepercayaan diri anak.
Apa yang Dilakukan Peneliti?
Penelitian ini merupakan studi epidemiologi potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 635 anak usia 6–12 tahun yang menjalani pemeriksaan di klinik kedokteran gigi anak dan praktik dokter gigi swasta di Iași, Rumania.
Peneliti melakukan:
pencatatan kasus kehilangan gigi sulung dini,
klasifikasi jenis maloklusi menggunakan klasifikasi Angle,
evaluasi disfungsi oro-dento-fasial, seperti gangguan mengunyah, bicara, pernapasan, dan posisi lidah,
analisis faktor demografis dan sosial, termasuk usia, jenis kelamin, lingkungan tempat tinggal (perkotaan atau pedesaan), struktur keluarga, dan tingkat pendidikan orang tua.
Anak dengan kelainan genetik, kelainan kraniofasial, atau riwayat perawatan ortodonti sebelumnya tidak disertakan dalam penelitian.
Temuan Utama Penelitian
Tingginya Gangguan Fungsi Mulut
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74,5% anak mengalami disfungsi oro-dento-fasial, meskipun sebagian besar tidak menyadari adanya gangguan tersebut. Hal ini menandakan bahwa masalah fungsi mulut dapat berkembang secara perlahan dan tidak selalu langsung terlihat.
Maloklusi Kelas II Paling Dominan
Pada anak dengan kehilangan gigi sulung dini, ditemukan bahwa:
Maloklusi Angle Kelas II, terutama Kelas II/2, merupakan jenis yang paling sering dijumpai,
Angle Kelas I dengan gigi berjejal juga banyak ditemukan,
Angle Kelas III hanya muncul pada sebagian kecil kasus.
Temuan ini menunjukkan bahwa kehilangan gigi sulung dini sangat berpengaruh terhadap ketidakseimbangan hubungan rahang dan kekurangan ruang gigi.
Faktor Sosial Ikut Berperan
Walaupun tidak ditemukan perbedaan bermakna antara anak laki-laki dan perempuan, maloklusi lebih sering dijumpai pada anak yang:
tinggal di lingkungan perkotaan,
berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan orang tua rendah hingga menengah,
berasal dari keluarga dengan satu orang tua.
Hal ini mengindikasikan bahwa akses perawatan gigi, kesadaran orang tua, dan upaya pencegahan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan gigi anak.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Penelitian ini menegaskan pesan penting bagi orang tua dan tenaga kesehatan gigi: gigi susu sebaiknya dipertahankan hingga waktu tanggal alaminya.
Kehilangan gigi sulung dini dapat memicu rangkaian masalah, mulai dari kehilangan ruang, gangguan erupsi gigi permanen, hingga kebiasaan oral yang tidak normal—semuanya berkontribusi terhadap meningkatnya kebutuhan perawatan ortodonti di masa depan.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, hasil ini juga menekankan pentingnya:
pencegahan karies sejak dini,
edukasi orang tua tentang peran gigi susu,
penggunaan space maintainer bila pencabutan dini tidak dapat dihindari.